Your Officemate

Your Officemate
54. Jungkir Balik Karena Clara


__ADS_3

"Aku menyukaimu hanya sebatas staf marketing. Tidak lebih. Mengenai kelakuanku semalam, aku benar - benar minta maaf. Aku lepas kendali."


Akhirnya aku memutuskan untuk memberinya batasan, terlepas dari apapun kesalahan yang aku lakukan padanya.


"Aku tahu kamu bohong kak Hans. Tak mungkin kamu tak memiliki perasaan apapun padaku." Clara tak mau percaya.


"Apa yang kamu cari dari pria sepertiku? Aku lebih tua 12 tahun darimu, punya anak tiga dan beristri. Hubungan macam apa yang kamu harapkan?"


"Aku tak peduli, asalkan aku senang dan kamu suka aku. Aku tak peduli." kata Clara lantang.


"Mulai sekarang kamu adalah kekasihku. Panggil aku sayang." lanjutnya tak mau mendengarkanku yang berusaha menyela.


"Bye kak Hans. Sampai ketemu nanti." katanya dan langsung mematikan ponselnya.


Tak kusangka, semuanya akan serumit ini hanya karena sebuah ciuman. Mengingat kelakuan Clara yang tak mempedulikan konsekuensi, hari itu berakhir dengan aku harus melayani semua chat yang dikirimkannya untukku.


Sungguh aku tak sanggup membagi fokusku dengan baik. Clara benar - benar membuatku kalang kabut, setiap kali seolah - olah dia tahu aktivitasku. Dan bisa sewaktu - waktu datang menemuiku, tak peduli dimana dan apa yang aku lakukan. Hanya kalau aku mau melayani telpon dan chat, maka dia akan berhenti merengek untuk bertemu.


Yang aku takutkan adalah Erika mengetahui perbuatanku. Ketakutanku yang lain adalah reaksi anak - anakku saat tak sengaja mendengar cerita ini entah dari siapapun itu. Semua ini tak seperti yang dia bayangkan, aku tak pernah dan tidak akan mau menggantikan Erika dengan wanita manapun. Terlebih lagi dengan Clara. Kemudian, aku mulai bermain petak umpet dengan istriku.


Beberapa hari disibukkan dengan telepon dan chat dengan Clara, ternyata aku merindukan keluargaku. Terutama istriku. Rasanya sudah lama sekali kami tak berdekatan. Ingin menghabiskan waktu hanya bersamanya, aku memutuskan untuk mengajaknya kencan.


Dasar Clara! Dia mengatakan kalau dia juga ada di mall yang sama denganku. Tidak bisa tidak, dia harus bertemu. Aku melupakan kencanku dengan Erika. Yang aku inginkan adalah segera pulang kerumah, tapi istriku belum juga selesai memilih makanan yang ingin dimakannya. Aku bingung. Berikutnya pesan - pesan dari Clara berdatangan tanpa jeda.


"Kamu pergi ke mall dengannya?" (Clara)


"Aku kencan dengan istriku." (Hans)


"Seharusnya kamu kencan denganku, bukan dia." (Clara)


"Aku akan menemuimu sekarang." (Clara)


Lalu Clara yang mengirimkan fotonya sedang berada di salah satu toko di mall yang sama. Hatiku bergetar. Sekali saja Erika melihatku bersama Clara, dan hanya dengan membaca bahasa tubuhku, aku pastikan Erika langsung tahu ada yang tidak beres denganku dan Clara.

__ADS_1


Tak menunggu lama, jariku langsung men-dial nomer Clara.


"Kamu dimana, Kak Hans?


"Food court? Resto apa?"


"Dia makan apa?"


"Belanja apa saja dia?"


"Enak sekali dia menghabiskan uangmu."


"Aku ketempatmu sekarang juga!"


Dia memberondongku dengan pertanyaan yang semuanya bernada tinggi. Nada suaranya terasa mengintimidasi, seakan - akan aku sedang pergi dengan selingkuhanku.


"Mau apa kamu kesini?" tanyaku panik. Aku benar - benar mengelus dada. Bukannya bersikap tegas, aku malah panik.


"Apa yang aku berikan pada istriku bukan urusanmu. Itu hak dia." Aku menyayangi Erika, tak akan kubiarkan seorang pun Clara mengganggunya.


"Jangan begitu. Bukankah kamu juga wanita. Apa kamu mau diperlakukan seperti ini?" Aku mencoba menyentuh hatinya.


"Aku hanya tak suka kalau waktunya bersamamu lebih banyak daripada waktuku bersamamu." lirih Clara.


"Bukannya dia yang lebih berhak atas aku? Dia itu istriku." kataku spontan, aku merasa geli dengan jawabannya.


Tak ada jawaban. Aku pun melanjutkan.


"Ayolah Clara. Carilah laki - laki single, muda serta kaya supaya bisa memenuhi gaya hidupmu."


"Tapi aku nyaman bersamamu, Kak Hans." keluhnya.


"Tapi aku tidak merasa sejahtera. Apalagi akhir - akhir ini, aku terus dikejar rasa bersalah."

__ADS_1


Dia terdiam.


"Kalau begitu, bolehkah aku belanja kak Hans?"


"OK!" kujawab pertanyaan itu dengan cepat.


Tanpa menunggu hitungan menit, sudah kukirimkan sejumlah uang ke rekeningnya. Setidaknya uang itu bisa meringankan perasaan bersalahku padanya. Yang lebih penting, untuk sementara dia akan tenang dan tak menggangguku.




Manusia berubah biasanya karena dua hal, yaitu karena pikirannya terbuka atau hatinya tersakiti. Demikian pula dengan Erika, dia marah besar.


Selama hampir dua puluh tahun bersamanya, baru pertama kalinya aku melihat sisi lain seorang Erika.


Langkahnya berderap cepat memasuki ruanganku, matanya tajam, bibirnya menipis. Tak bisa dibantah ataupun dilawan. Dia marah besar mengetahui nomernya diblokir olehku. Aku tau, dia tak mengada - ada. Seorang Erika tak pernah bicara tanpa bukti. Tanpa banyak kata ditunjukkanya semua bukti. Gerakannya begitu cepat seperti sudah menanti saat seperti hari ini.


Setelah itu dia meraung dan menggeram kepadaku, lalu menutupnya dengan pernyataan perang terhadap Clara. Erikaku yang lembut sudah hilang.


Sudah kubilang Erika sangatlah pintar, dia berhasil memancing ular keluar dari sarangnya. Mengetahui Clara bakal marah, Erika sengaja memasang foto kami lengkap dengan caption yang menusuk.


Clara marah dan protes bukan masalah besar bagiku. Tapi Erika yang berkata akan melepasku untuk menikah lagi, membuat hatiku hancur.


Aku menyadari, istriku menyerah.


Sampai jumpa di episode selanjutnya


Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara


Like


Comment

__ADS_1


Vote


Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.


__ADS_2