Your Officemate

Your Officemate
38. Aku Juga Bisa


__ADS_3

Mengingat kemarahan Erika, membuat Hans tak ingin cepat sampai rumah. Mobilnya melaju dengan kecepatan rendah. Hans merasa semakin lama sampai rumah semakin baik.


Dia tak tahu bagaimana caranya menghadapi istrinya dirumah nanti. Masih terbayang kilatan tajam di mata Erika, terlihat jelas Erika curiga, marah dan kecewa padanya. Meski di hatinya yang paling dalam, Hans sama sekali tak menyalahkan Erika.


Semua terasa lebih cepat, saat kita ingin menghindar. Begitupun dengan Hans, perjalanan pulang dari kantor yang macet terasa sangat lancar. Hans mengusap rambutnya kasar, menyiapkan hati untuk masuk kerumah.


Bayangan suasana rumah yang tak menyenangkan sudah menghantui. Begitu masuk rumah, setidaknya Hans harus menghadapi wajah dingin istrinya. Dan kemungkinan terburuk adalah Erika akan melanjutkan pembicaraan siang tadi. Tak ada satu pun alasan logis yang bisa membenarkannya.


Astaga! Kenapa dirinya sebodoh itu sampai tak tahu nomer Erika terblokir.




"Daddy, kapan kita latihan musik lagi?" Abbey dengan ceria menyambutnya. Seperti biasa Manda mengekor dibelakangnya, dan kali ini sambil menggendong Aaron.


Hans tak mendengar pertanyaan Abbey, matanya terlalu fokus memindai ruangan didepannya. Ada rasa lega karena tak harus langsung berkonfrontasi dengan istrinya. Tapi juga sedih, sepertinya Erika menghindari dirinya.


"Mommy istirahat dikamar, katanya capek habis belanja sama Aunty Merry." Manda menjelaskan seolah - olah tahu apa yang dicari oleh Daddy-nya.


Oh, Hans merutuki kekonyolannya. Perasaan bersalah membuat Hans merasa - rasa sendiri. Dia lupa, tak pernah ada drama kekerasan dalam rumah tangga mereka selama ini. Apapun perselisihan mereka, istrinya itu tak akan membiarkan anak - anak mengetahui. Semua akan berjalan normal bagi anak - anak.


"Kalau gitu, kita makan malam dulu saja. Biar nanti Daddy bawakan makan malam buat Mommy." Hans memilih makan malam dulu, baru nanti menemui Erika.


"Lho kenapa Daddy tidak mandi dulu?" gumam Manda pelan. Tapi kali ini malah Hans mendengarnya.


"Eeeemm...nanti saja, kasihan Mommy kalau terbangun karena Daddy keluar masuk kamar." Hans beralasan.


Sementara otaknya langsung merancang - rancang bagaimana nanti dia harus bersikap saat bertemu Erika. Pertama - tama, sudah pasti dia akan minta maaf. Tapi pertanyaannya adalah apa yang akan dilakukannya kalau Erika masih tak menerima maafnya? Hans begitu pusing memikirkannya.


Usai makan malam, mau tak mau Hans harus segera masuk ke kamar mereka dan membersihkan diri. Dan, betapa leganya Hans Lampu tidur sudah menyala artinya Erika sudah tidur. Lupa sudah semua niat Hans untuk meminta maaf. Bergegas Hans membersihkan diri dan menyusul naik ke atas tempat tidur.


Sementara itu, dibalik selimut Erika terbangun karena merasa ada yang naik di sisi sebelahnya. Diam - diam Erika mengintip, dan yang ada malah semakin kecewa. Seharusnya Hans meminta maaf atau sedikit membujuknya. Tapi lihatlah, apa yang dilakukannya? Lagi - lagi sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


Hatinya panas. Ingin rasanya Erika langsung bangun, merampas ponsel itu, membantingnya atau melakukan hal yang lebih barbar lainnya. Sekarang juga!


PLUK!


Tangan Erika tiba - tiba mendarat di ponsel Hans. Dengan cepat Hans, menyingkirkan ponselnya dan segera menyilang aplikasi yang sedang dibuka. Lalu menoleh ke Erika yang matanya masih terpejam.


Hans terkejut, lalu mendekatkan kepalanya kearah Erika. Dia ingin memastikan apakah istrinya benar - benar tidur atau hanya berpura - pura.


CUP!!


Ada benda kenyal menempel lembut di bibirnya, sementara dilehernya ada sepasang lengan yang bergelantung di lehernya. Menarik Hans kian mendekat. Jantung Hans serasa berhenti. Ternyata Erika belum tidur.


Cup...cup...


Kali ini ciuman kecil beruntun mendarar di bibir Hans, disertai lu-matan - lu-matan singkat dan lembut. Belum hilang rasa terkejut Hans, dirasakannya tangan Erika mendorongnya ke belakang hingga Hans terlentang.


"Moms?" bisik Hans tak percaya saat Erika tahu - tahu sudah duduk diatas perutnya.


Hati Hans bersiul, rasanya sudah lama sejak terakhir dia melihat penampilan Erika seperti ini.


Tak peduli dengan pandangan Hans yang mulai berkabut. Erika terus bermain - main dengan bibir Hans. Menghi-sap dan menggigitnya lembut.


"So gummy..." bisik Erika sensual, membuat Hans meremang.


"I...want....you." kata Erika lagi disela - sela aktifitasnya menggoda Hans. Sekarang tangannya bahkan mulai berkelana titik - titik sensitif Hans. Mengelus dan memijatnya lembut.


Semakin cepat napas Hans, semakin Erika bersemangat. Tangannya menyentuh apapun yang harus disentuh, bibir dan lidahnya menjelajah ke setiap area yang harus dijelajahi dengan li-ar.


Hans menggeram, digulingkannya tubuh Erika. Dia tak sanggup menahannya lebih lama. Sekarang giliran dirinya yang memimpin.



__ADS_1


"Thanks, Moms." bisik Hans begitu mencapai garis finish. Dikecupnya kening Erika, matanya menatap sayang kearah istrinya.


"You're so wi-ld tonight." kata Hans pelan. Heran, kagum dan mungkin juga ada kepuasan tersendiri.


"Aku hanya mencoba menolongmu supaya tak jatuh ke dalam godaan, Kak." ujar Erika. Mulutnya tersenyum tapi matanya sendu.


Hans tertegun, serasa ditampar oleh istrinya. Kata - kata Erika terdengar halus tapi menusuk dihati.




Setelah membersihkan tubuhnya, Erika langsung menuju nakas. Tanpa permisi, Erika mengambil ponsel Hans dan memasukkannya ke lemari. Kemudian mengunci pintu lemari itu.


Hans hanya bisa menatap Erika dengan pandangan yang tak terbaca. Terbuai dengan godaan Erika, membuatnya lupa sejenak dengan ponselnya


"Dalam radius 100 meter, kamu adalah milikku. Lewat dari 100 meter, kamu milik Tuhan. Jadi no ponsel kalau kamu didekatku." masih dengan senyum manis, dan dengan santai menyimpan kunci lemari itu didalam bantal yang dipakainya tidur.


Erika yakin tak akan menemukan apapun di ponsel Hans. Sementara cukup begini. Andaikata benar Hans "cheating", biar saja yang disana marah - marah menanti kabar, pesan atau apapun dari Hans. Malam ini, Erika bisa tidur nyenyak tanpa curiga Hans melakukan sesuatu diam - diam.


"Kak Hans, kalau dia menggo-damu. Jangan lupa, aku juga bisa." gumam Erika dengan mata terpejam.


Ya. Sore tadi, Erika memang berencana memberi kejutan dengan ling-erie-nya malam ini. Hanya saja Hans langsung menuju ponselnya. Oleh karenanya, Erika memutuskan untuk berinisiatif lebih dulu.


Haha.... benar kata Erika. God*lah suamimu, sebelum dia digod* wanita lain. 😆😆😆


Sampai jumpa di episode selanjutnya


Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara


Like


Comment

__ADS_1


Vote


Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.


__ADS_2