Your Officemate

Your Officemate
18. Outbond


__ADS_3

Lagi - lagi masalah Clara menggosip tentang Erika menguap begitu saja. Erika tak lagi menyinggungnya. Hans juga tak menceritakan tindakan apa yang dilakukannya pada Clara.


Seiring bertambahnya usia kehamilan Erika, kesibukan pun makin padat. Persiapan - persiapan dimana dia harus sejenak meninggalkan olshop pasca melahirkan. Mulai dari serah terima nota, stock, tagihan pada Kirana, bahkan impor aksesories yang terlanjur Erika pesan.


Belum lagi persiapan perlengkapan bayi, menyisihkan waktu untuk sekedar berbincang dengan anak - anak yang beranjak remaja. Semuanya benar - benar menyita waktu, pikiran dan tenaga. Tak ada waktu untuk berasumsi soal Clara.


Dikantor pun, Clara sedikit berkurang tingkat kegenitannya karena intesitas pertemuannya dengan Hans pun jauh berkurang. Hans sengaja menyuruhnya untuk mengurus berbagai macam proyek bersama Jennifer. Berkali - kali, Hans mengirimnya untuk pergi keluar kota dan luar pulau. Dengan siapa lagi? Yes. Dengan Jennifer.


Jennifer berhasil menjadi teman dekat Clara, mereka berbagi omset dan menghabiskan waktu bersama di saat - saat senggang.


Setidaknya Hans aman sementara.


Tibalah outbond tahunan disaat Erika sedang menghitung mundur tanggal persalinannya. Tanggal operasi pun sudah ditentukan. Untuk memberi contoh pada karyawan, Hans sebagai pimpinan mau tak mau harus ikut. Apalagi Abbey dan Amanda terus mendesaknya untuk berangkat. Mereka sangat menyukai aktivitas di alam terbuka.


Erika tak keberatan dirumah hanya ditemani asisten rumah tangga. Tapi Hans begitu kuatir. Setelah perdebatan alot, akhirnya Hans menyetujui berangkat dengan perjanjian hanya menginap satu malam dari yang seharusnya dua malam. Demi menyenangkan kedua anak gadisnya.


Alasan sebenarnya Hans malas adalah kemungkinan bertemu Clara tak mungkin terelakkan. Tapi setidaknya, dia membawa kedua anaknya. Hans hanya berharap Clara tidak bertingkah dihadapan Abbey dan Amanda.


Pagi itu mereka berkumpul disebuah lapangan yang cukup luas. Semua peserta outbond mengenakan kaos yang sama, hanya berbeda di warna celana saja. Tapi herannya, mata Clara begitu tajam menemukan sosok Hans. diantara puluhan orang yang berkerumun. Dalam sekejap Clara sudah mendekat.


"Kak Hans, penampilanmu begitu menonjol, dari jauh pun aku sudah langsung tahu dimana kamu" kata Clara. Dan hanya dijawab dengan sebuah gumaman.


"Hmmm..."


Alasan sebenarnya Hans malas adalah kemungkinan bertemu Clara tak mungkin terelakkan. Tapi setidaknya, dia membawa kedua anaknya. Hans hanya berharap Clara tidak bertingkah dihadapan Abbey dan Amanda.


Pagi itu mereka berkumpul disebuah lapangan yang cukup luas. Semua peserta outbond mengenakan kaos yang sama, hanya berbeda di warna celana saja. Tapi herannya, mata Clara begitu tajam menemukan sosok Hans. diantara puluhan orang yang berkerumun. Dalam sekejap Clara sudah mendekat.


"Kak Hans, penampilanmu begitu menonjol, dari jauh pun aku sudah langsung tahu dimana kamu" kata Clara. Dan yang disapa tak menjawab, pura - pura menyibukkan diri dengan anak - anaknya.


"Game ini bertujuan untuk mengasah team work, kecepatan, kreatifitas dan kebersamaan. Nah sekarang waktunya membuat lingkaran besar." suara panitia menyelamatkan Hans.


Peserta outbond sudah membentuk lingkaran besar sesuai permintaan panitia. Hans berdiri dengan Abbey dan Amanda dikanan kirinya.


"Ingat - ingat partner disebelah kanan kiri kalian. Mungkin saja mereka akan menjadi partner kalian di game berikutnya. Peserta yang kalah akan mendapat hukuman. Caranya cukup mudah, kalian cukup mematuhi perintahku. Apa kalian siap?"suara panitia menggema.

__ADS_1


"Siap." jawab seluruh peserta dengan kompak. Terasa semangat dan kegembiraan.


"Oke. Bentuk tim lima orang! Mulai!


Semua bergerak begitu cepat. Hans sudah erat merangkul tangan Abbey dan Manda dengan satu tangannya. Mereka hanya butuh dua orang lagi. Sebelum sempat bergerak lagi, seseorang sudah menarik tangan Hans.


"Tiga, dua, satu!! Selesai!!" Suara panitia terdengar bahagia, sepertinya ada kesenangan tersendiri saat memberi hukuman nanti.


Lalu Hans? Hans merasa ada sebuah tangan terus memeganginya dengan erat. Tangan yang putih, mulus dan halus. Tangan yang dia kenalkah?


Ah, feeling Hans rasanya tak enak. Hans diam - diam berdoa, semoga bukan tangan Clara. Sayangnya, doa Hans tak terkabul. Saat Hans menundukkan kepalanya, terlihat rambut coklat keemasan, bibir yang tersenyum lebar dan sorot mata bahagia.


Siapa lagi pemilik tangan itu kalau bukan Clara Adelia.


"Clara, singkirkan tanganmu." perintah Hans, tak ingin berbuat kasar.


Bukannya, langsung melepas tapi Clara hanya melirik sekilas dan semakin merapatkan lengan Hans ke dadanya.


Baru saja Hans menarik paksa tangannya, panitia sudah menggulirkan permainan kedua.


Sialnya, Hans, Clara, Abbey dan Amanda masih tetap satu tim. Karena teman mereka entah ditarik oleh siapa.


"Peraturan game kali ini cukup mudah. Dua peserta saling menggendong dan kemudian berlari ke ujung sana. Tim tercepat adalah pemenangnya. Apa kalian semua siap?"


"60 detik untuk persiapan." sambung panitia.


Tanpa diskusi apapun, Hans langsung menarik tangan Amanda.


"Naik punggung Daddy, Sayang."


"Loh kak Hans, dua peserta saling menggendong. Kenapa kamu pilih yang ringan?" Clara ketakutan, jangan - jangan dia yang disuruh menggendong anak Hans.


"Kalau mau, kamu gendong saja Abbey. Kalau tak mau aku akan kembali untuk Abbey."


Tanpa banyak kata, Hans langsung menggendong Abbey di punggungnya yang kokoh itu hingga sampai garis finish. Dia bermaksud menggendong kedua anaknya kalau Clara tak mau.

__ADS_1


"Jadi nanti kamu kembali lagi tiga kali untuk menggendongku juga kan kak Hans?" Clara nampak berharap, matanya memandang lengan kokoh Hans.


"Daddy, biar aku yang menggendongnya. Kulihat badannya lebih kecil dariku." Memang kalau dilihat badan Abbey sangat bongsor, sedikit lebih tinggi dari Clara.


"Abbey!!"


Ucapan Hans seperti angin lalu. Tau - tau Abbey sudah membungkuk dan memanggul Clara seperti karung beras dan langsung berlari.


SRETTT.... BUKKK!!


Belum ada lima meter, terdengar suara benda jatuh.


Waduuh! Abbey dan Clara jatuh, dengan posisi Clara tertindih Abbey. Hans buru - buru lari dan langsung menghampiri Abbey dan Clara.


"Haduuh... apa kata Mommy kalau kamu sampai terluka Abbey? Tingkahmu seperti anak cowok, Abbeyyyy....." Hans menarik tangan Abbey untuk membantunya berdiri.


"Jatuh itu rasanya sakit kan Tante Clara? Apalagi kalau jatuh cinta sama Daddyku. Sudah pasti bakal lebih sakit." Abbey yang sedikit tomboy berkata santai sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Kak Hans, anakmu sengaja...." Clara merintih kesakitan.


"Yaaa... maaaaaf, namanya juga anak kecil gendong Tante Tante." Abbey malah bergelanyut di bahu Hans.


Hans tak tahu harus tertawa atau marah dengan tingkah Abbey.


Bersambung...


Sampai jumpa di episode selanjutnya


Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara


Like


Comment


Vote

__ADS_1


Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.


__ADS_2