
"Dengan memblokir nomorku, berarti dia mengajakku perang. Sampaikan ke dia. Ki-ta pe-rang." tambah Erika.
Erika sengaja mengeja dua kata terakhir lambat - lambat, sambil meninggalkan ruangan Hans.
Hans memandang bayangan Erika menghilang dari balik pintu dengan pandangan frustasi.
Istrinya yang sabar dan penyayang sedang menyimpan petir dihatinya. Pilihannya adalah membiarkan petir itu menyambarnya, atau menyelesaikan semuanya baik - baik sebelum semua makin runyam.
Hans tahu dan sadar bagaimana tingkah lakunya begitu meresahkan. Hanya saja, dia belum sanggup menghentikannya.
•
•
POV Hans
Hidup sebagai yatim piatu bukanlah hal yang mudah. Memang aku mendapatkan bea siswa, tapi ada beberapa pengeluaran yang masih harus kupenuhi. Ditengah kesulitan memenuhi kebutuhanku, aku bertemu Johan yang mengenalkanku pada Papanya.
Sejak saat itu, aku tak pernah lagi kesulitan makan ataupun membayar biaya - biaya tambahan untuk kuliahku. Cukup dengan bekerja dengan sungguh - sungguh di tempat Om Harris, semua kebutuhan sudah dipenuhi. Perlakuannya padaku pun tak berbeda jauh dengan perlakuannya pada Johan.
Suatu hari, Johan bercerita pada Om Harris tentang keinginannya mengimpor beberapa jenis barang. Johan ingin usaha papanya yang konvesional kalah saingsaing dengan para pengusaha muda yang lebih inovatif. Tak pernah kusangka, Om Harris malah menyuruhku mengelola usaha itu bersama Johan.
Kejutan berikutnya adalah Om Harris mempercayakan anak gadis kesayangannya padaku di saat - saat terakhir hidupnya. Rasanya impianku satu demi satu terkabul.
*Aku bahagia, tapi juga sedih. Sedih karena orang yang kuanggap ayah pergi untuk selamanya. Darinya aku belajar banyak hal. Dia mengajariku berdagang, menasehatiku dan memberiku banyak nilai - nilai kehidupan.
Yang paling aku kagumi adalah dia begitu setia pada istrinya. Meski istrinya telah lama berpulang, dia memilih untuk tidak menikah lagi. Alasannya karena ingin fokus untuk membesarkan Johan dan Erika*.
*Namun tak bisa kusangkal, diam - diam aku bahagia karena restu itu ternyata kudapat dengan mudah. Aku semula tak berharap apapun pada Erika. Memandang dan menyukainya dari jauh sudahlah cukup. Aku tak yakin sanggup membahagiakannya, bila dia hidup bersamaku.
Aku bahkan pernah berjanji pada diriku sendiri akan menjaga Erika seumur hidupku. Tak perlu menjadi pasangannya. Aku rela hanya dianggap saudara, teman atau kakak terbaiknya. Asalkan bahagia, dia boleh hidup bersama siapapun*.
__ADS_1
Tuhan berpihak padaku, Papa Erika dengan mudah memberikan anaknya padaku yang tak punya apa - apa. Bisa lulus kuliah dan langsung bekerja pun, karena bantuan darinya.
Disaat terakhir Om Harris, dengan sepenuh hati aku berjanji padanya untuk mendampingj dan menjaga putri kesayangannya. Bukan hanya karena ingin balas budi, tapi karena aku memang mencintainya.
Bersama Erika adalah keputusan yang tepat, dan tak pernah aku sesali. Selama merintis usaha bersama Johan, aku mendedikasikan seluruh waktu, tenaga dan pikiran kepada perusahaan. Tidak hanya hari kerja, bahkan akhir pekan dan hari libur pun kadang - kadang kami harus bekerja. Mulai dari membongkar muatan, mengirim barang, hingga berangkat keluar kota dan luar pulau, semua kami kerjakan sendiri.
Untungnya, Erika sangat cerdas dan rajin. Disaat kami belum mampu membayar pegawai, dia bersedia membantu apapun yang bisa dia kerjakan. Baik menjadi telemarketing, mencatat pembukuan, stock, atau apapun yang Johan minta.
Walaupun waktu itu telah hadir dua anak, dan perhatiannya mulai terbagi antara anak dan usaha kami. Luar biasa. Dia masih tetap bisa mengurus semuanya dengan baik, pekerjaan rumah maupun beberapa urusan kantor masih sanggup dikerjakannya.
Tak cukup sampai disitu, diam - diam dia menyisihkan uang yang aku berikan untuk membeli beberapa barang secara grosir dan menjualnya lagi secara online.
"Uang darimu lebih dari cukup, Kak. Hanya saja aku tak suka melihatmu bekerja terlalu keras untuk kami, sementara aku bersantai dirumah. Melihatmu pulang kelelahan, membuatku tak tega menghamburkan uangmu." katanya saat aku menegurnya, karena mencari tambahan penghasilan.
"*Saat anak - anak bersekolah, aku akan mengurus online shop. Aku berjanji, anak - anak dan kamu akan tetap menjadi yang utama. Jangan kuatir, aku akan beristirahat kalau merasa lelah. Lagipula, sekarang urusan kantor sudah banyak ditangani oleh karyawan. Tak ada lagi yang aku kerjakan." tambahnya lagi sambil bergelanyut manja padaku.
Kalau sudah begitu, aku tak akan sanggup menolak permintaannya. Senyumnya adalah bahagiaku, dan cerianya adalah semangatku*.
Yang membuatku khawatir adalah, dia mengerjakan sendiri semua pekerjaan dirumah.
"Aku menikmati semua ini. Apalagi saat - saat kita berbagi pekerjaan rumah, dan kamu membantuku. Itu adalah waktu dimana aku merasa kamu mencintaiku." jawabnya saat pertama kali, aku menawarkan seorang ART untuk membantunya.
So sweet! Tingkah laku dan kata - katanya membuatku meleleh.
Oleh karenanya, sebisa mungkin aku membantunya saat aku dirumah. Disaat Johan melakukan ekspansi perusahaan, mau tak mau pekerjaanku ikut bertambah. Waktuku untuk membantunya semakin berkurang. Namun dia tetap saja tak pernah mengeluh ataupun protes.
Cium hangat dan peluk erat, menyambut lelahku di sore atau malam hari sepulang kerja. Seolah - olah, kami lama tak bertemu. Perlakuannya membuatku selalu merasa dibutuhkan. Dia adalah alasan yang membuatku ingin segera pulang kerumah.
Sambil makan malam, telinganya siap mendengar segala penatku dikantor. Dia tak selalu bisa menanggapi permasalahanku. Tapi ternyata bukan solusi yang kubutuhkan, melainkan senyumnya. Aku memang aneh, hanya dengan senyumnya aku merasa lega dan yakin kalau besok semua masalah akan teratasi.
Apalagi kalau dia sudah membawakan aku satu mug coklat hangat atau secangkir teh herbal, saat aku bergadang. Lalu dia akan duduk sebentar disebelahku, sebelum kembali ke kamar. Semua beban pun menghilang. Hal sederhana namun perhatiannya itu sangat berarti. I feel home.
__ADS_1
Begitu usaha kami berjalan lancar, hal pertama yang ingin kulakukan adalah menyenangkan hatinya.
"Hadiah apa yang kamu minta untuk ulang tahunmu kali ini?" tanyaku.
"Kak Hans." katanya cepat sambil mengulum senyum.
"Hah?" Aku tak bisa menyembunyikan keherananku. Dia tertawa melihat raut wajahku yang katanya lucu.
*Aku pikir, dia akan memintaku sebuah tas, pakaian, perhiasan atau hadiah lainnya yang biasa disukai wanita. Saat ini, uang sudah bukan masalah untukku. Mintalah apapun, akan kuberikan.
Tapi, apa katanya tadi*?
"Iya. Aku mau kamu, Kak. Aku mau Hans Sanjaya untuk hadiah ulang tahunku tahun ini, tahun depan dan tahun - tahun selanjutnya." matanya berbinar, senyumnya mengembang. My heart is full.
Dia tak meminta apapun. Hanya diriku yang dia mau. Aku, Hans Sanjaya.
Kemudian tangannya menarik kepalaku mendekat, lalu diciumnya dengan lembut. Dahiku, pipi kiri dan pipi kananku. Terakhir dia memelukku erat, sambil telapak tangannya menepuk lembut bahuku. Aku merasakan cintanya yang luar biasa padaku.
Dia adalah adikku, temanku, sahabatku, partnerku, pengganti ibuku, dan istriku. Rumah tempatku pulang dan melepas segala lelahku. Separo jiwaku.
Tumbuh bersama dari seorang pemuda dan pemudi, hingga kini menjadi wanita dan pria dewasa. Bagaimana bisa aku tak mencintainya? Apakah aku sanggup hidup tanpa dia? Bagaimana nanti kalau aku tanpa dia?
Sampai jumpa di episode selanjutnya
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
Vote
__ADS_1
Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.