Your Officemate

Your Officemate
20. Halusinasi


__ADS_3

"Aku tak menyukainya, apalagi mencintainya. Kalau suatu hari aku bersamanya, itu pasti karena nafsu."


Rasanya bahagia dan juga sedih. Itulah yang terasa di hati Erika. Bahagia karena suaminya berkata tak mencintai wanita itu. Tapi, Erika juga sedih. Sebagai sesama wanita, serendah itukah Hans memandang Clara.


"Kalau begitu, cepat - cepat saja pindahkan dia. Sebelum terjadi hal - hal yang kalian inginkan" Erika berusaha berkata sesantai mungkin


"Aku pasti akan memindahkannya secepat mungkin."


"Kapan?" tanya Erika.


"Mungkin 1-2 bulan setelah anak kita lahir. Aku masih membutuhkannya untuk membantu Jennifer saat aku work from home nanti." janji Hans.


*****


Menjadi istri sekaligus sahabat dan ibu bagi pasangan kita adalah hal yang tak mudah. Kerapkali kita harus mengesampingkan segala ego dan rasa yang ada demi kelangsungan bersama.


Erika tak mau terlarut dalam rasa bimbangnya terhadap Hans. Ada Abbey dan Manda yang masih butuh dirinya untuk mendampingi. Dan ada calon bayi mereka yang membutuhkan perhatian dan tenaga extra untuk mengasuhnya saat dia sudah lahir nanti. Saat ini yang bisa dilakukan adalah menunggu realisasi janji Hans. Sabar, tinggal sebentar lagi.


Disinilah Erika, mencium aroma rumah sakit yang khas. Usia Erika yang sudah 35 tahun dan faktor placenta previa membuat Hans dan Erika memutuskan dari awal untuk melakukan operasi. Dengan ijin khusus dari Dokter, Hans diperbolehkan untuk masuk dan mendampingi Erika hingga anak mereka lahir.


Erika terbaring diatas meja operasi, berbagai macam alat sudah terpasang ditubuhnya.


Saat Dokter tengah bersiap - siap berdoa sebelum menjalankan operasi, terdengar suara getaran. Hans merejectnya, tak lama ponsel lagi - lagi berbunyi.


"Maaf Pak, kalau penting bisa diangkat diluar Kami akan segera menjalankan prosedur." tegur salah seorang suster.


"Tak apa. Silahkan dilanjut." Hans memencet tombol power dan mematikan ponselnya.


Begitu bayi lahir, entah karena tak terbiasa dengan obat bius atau memang demikian prosedurnya. Erika terlelap cukup lama. Dia bahkan melewatkan proses inisiasi dini. Hal terakhir yang diingatnya adalah Hans tersenyum bahagia dan mencium keningnya.


"Bobok Moms, Aroon sudah lahir"


Diruang pemulihan, mata Erika masih begitu berat. Erika harus memaksakan diri untuk membuka mata saat seorang suster datang untuk mengukur tekanan darah dan menempelkan plester penghilang rasa sakit.


Dari balik kaca ruang pemulihan, samar - samar mata Erika melihat sosok Hans sedang melihat kearah dimana dirinya sedang terbaring. Tak tahu syndrom apa yang menyerang Erika saat itu. Rasanya Hans begitu jauh, padahal jarak mereka hanyalah sekian meter. Dan masih bisa saling melihat satu sama lain dari balik kaca. Entahlah, rasa rindu menyergap Erika. Ingin rasanya bermanja dan memeluk suaminya saat itu juga.


Eh? Sesosok wanita berambut panjang warna coklat nampak sedang bergelanyut manja di lengan Hans. Erika memicingkan matanya supaya dapat melihatnya lebih jelas. Sayangnya, obat bius sialan itu kembali membawa Erika ke alam mimpi.


Beberapa jam tertidur, kesadaran Erika mulai pulih. Hal pertama yang terlintas dipikirannya adalah Hans dan wanita itu. Dipencetnya tombol nurse call dan seorang suster datang menawarkan bantuan.

__ADS_1


"Tolong cari suamiku, dan suruh dia memberikan ponselku. Lalu kapan aku bisa ke kamarku?"


Ternyata ponsel yang Erika tunggu tak kunjung datang karena Hans tak ditemukan di sekitar ruangan itu. Ponselnya pun tak diangkat.


Dengan dalih ingin segera menemui anaknya, Erika meminta segera dibawa keruang perawatan. Hatinya gelisah. Kenapa Hans tak stand by di dekatnya. Bagaimana cara menghubungi Hans? Karena telpon dari suster rumah sakit pun tak diangkat.


Ponsel tak ditangan, sedangkan untuk berdiri rasanya Erika tak sanggup. Bekas operasinya masih terasa sakit kalau digunakan untuk bergerak. Mungkin kalau plester penghilang rasa sakit itu dicabut. Erika tak akan bisa menahan rasa sakit pasca operasi.


Putus asa dan tak berdaya, hanya berbaring dan menunggu.


Akhirnya Erika dipindah keruang perawatan. Atas permintaan Hans sebelum operasi tadi, anak mereka akan diletakkan di kamar Erika. Hans yakin kalau anaknya akan lebih aman bersama istrinya. Apalagi dokter mengatakan berat mereka cukup dan semua organ berfungsi dengan baik.


Anak mereka diantar tak lama setelah Erika selesai dipindahkan ke ruang perawatannya. Tak lama suster meninggalkannya.


Tapi yang dicari tak muncul juga. Sepanjang mata Erika memandang, Hans tak ada. Kalau dihitung rasanya sudah lima atau enam. jam sejak terakhir Erika melihatnya dikamar operasi. Dan entah jam berapa saat Erika melihatnya dari kaca ruang pemulihan.


Tidakkah Hans kuatir padanya?


Padahal setelah proses kelahiran Abbey dan Manda dulu, Hans langsung menggendong mereka. Dia setia menunggu Erika di ruang perawatan. Tak sedetik pun, Erika dibiarkan sendiri. Setiap saat selalu bertanya kalau - kalau ada yang dibutuhkan oleh istrinya.


Oh, Baby Aroon menangis. Erika ingin menggendong. Sedihnya, untuk duduk saja Erika butuh usaha keras. Hans tak ada. Terpaksa Erika memencet tombol nurse call. Hatinya ingin menangis.


Ah, ternyata Erika salah. Bersamaan dengan suster datang, Hans muncul dengan wajah sumringah.


"Mommy, bagaimana kondisimu? Apa yang kamu rasakan?" tanya Hans penuh perhatian.


"Baby Aroon tampan sekali. Aku jatuh cinta padanya." ujar Hans lagi.


Terlihat jelas kebahagiaan di wajah Hans saat menimang Baby Aaron. Erika merasa konyol karena menuruti pikiran buruknya. Mungkin saja tadi halusinasi karena efek bius.


"Lama sekali kamu sadar, Moms. Aku bosan menunggumu" Hans mendekat dan mengelus kepala Erika lembut


"Suster mencarimu kemana - mana, telponmu aktif tapi tidak diangkat. Aku sampai kebingungan. Rasanya seperti sendiri dan kesepian." protes Erika.


"Aku sudah disini Moms. Apa kamu mau makan?" Hans mencium kening Erika lembut.


"Belum boleh, katanya suruh tunggu kentut."


"Kenapa begitu? Sini aku suapin." Hans mengembalikan Aaron ke baby infant. Lalu membuka termos berisi sup dan bersiap hendak menyuapi Erika.

__ADS_1


"Jangan sembarangan. Lebih baik tanya suster dulu sana. Seingatku tadi Dokter bilang aku harus kentut dulu."


"Ooooo..." Hans hanya ber-O lalu duduk di sofa di pojok ruang VIP Erika.


Drrrrt....


Erika mendengar suara getaran ponsel, dan Hans langsung berdiri dan melangkah menuju ke pintu.


"Kak Hans... "


DEG! Suara Clara. Tak mungkin Erika salah dengar, dia hafal betul suara manja wanita itu. Astaga! Pikiran Erika mulai berkelana lagi ke arah negatif.


"Mommy, mereka semua mau menengokmu" Hans masuk diikuti rombongan karyawan kantor. Duh! Erika merasa malu karena telah negatif thinking.


Tapi, kenapa pakaian yang dipakai Clara sama dengan yang dipakai saat Erika berhalusinasi? Erika memang tak mengingatnya dengan jelas. Tapi bertemu langsung begini membuatnya kembali teringat "halusinasinya" tadi.


"Kalian sudah lama datang?" tanya Erika.


"Tidak. Clara bilang Ibu Erika belum sadar dan masih diruang perawatan. Jadi kami ramai ramai dinner dulu sebelum kemari"


"Clara yang memberitahu?"


"O'ya Clara. Ini makanan pesananmu. Tadi kaubilang sudah lapar sekali." Salah seorang staff menyodorkan sebuah kotak makanan dengan nama restaurant tertentu.


"Bukankah Clara makan bersama mereka sebelum kemari?"


Hati Erika mencelos.


Bersambung...


Sampai jumpa di episode selanjutnya


Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara


Like


Comment


Vote

__ADS_1


Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.


__ADS_2