Your Officemate

Your Officemate
42. Dia Tahu


__ADS_3

Dia bertanya padaku, "Apa yang harus dia lakukan kalau suaminya berkhianat?"


Aku sungguh tak menyangka, hatiku pilu mendengar pertanyaan itu. Aku bergeming, kehilangan kata - kata. Kalau saja aku menuruti ego-ku, aku pasti sudah menjawabnya, "Maafkanlah suamimu, jangan tinggalkan dia. Berbesar hatilah, ikhlaslah..."


Ah, tapi aku tahu kalau itu tak adil untuknya. Biar bagaimanapun, kami berawal dari teman dan sahabat baik. Kami dulu bergandengan tangan, berbagi mimpi, lalu mengejarnya bersama. Tak mungkin, aku menempatkan seorang teman terbaikku di situasi yang membuatnya tak nyaman.


Saat tadi aku melihat dia termenung sambil mengaduk - aduk makanan di meja restaurant, hatiku langsung terenyuh. Rasa berdosa menyergapku. Aku ingin memeluknya saat itu juga. Sayangnya, aku terlalu pengecut. Langkahku hanya berhenti di dekat tempat duduknya. Aku tak berani bertanya ada apa dengan dirinya.


Aku begitu terkejut saat dia mengangkat wajahnya dan berkata, "Aku mau pulang".


Matanya begitu sendu dan suaranya pun terdengar seperti orang yang kalah perang.


Detik itu juga aku menyadari jika dia sudah tahu apa yang telah aku lakukan tadi. Namun dia memilih diam, daripada bertanya padaku.


Hatiku seperti terhimpit batu besar. Dan yang bisa kulakukan adalah menurutinya untuk pulang ke rumah.


Sampai dirumah, aku lihat dia menyandarkan punggungnya disandaran tempat tidur. Matanya menatap langit - langit kamar dengan tatapan nyalang. Lalu, dia menundukkan kepala. Kemudian berbaring dengan mata masih menatap langit - langit. Lama kelamaan dia memejamkan mata dan tertidur.


Tinggalah aku mematung, memikirkan banyak hal yang akhir - akhir ini telah terjadi. Hatiku tersayat melihat wajahnya yang sedang tertidur. Pelan - pelan aku meraih tubuhnya dan mendekapnya erat.


G*sh! Bagaimana bisa aku sekeji itu. Aku telah menusuk sahabat terbaikku, teman hidupku. Orang yang begitu setia menemaniku, berkali - kali jatuh bangun bersamaku.

__ADS_1


Yang membuatku semakin sedih adalah dia tidak menangis. Dia kecewa padaku, tapi tak sekalipun memakiku. Kalau saja dia marah dan memakiku, mungkin perasaanku akan terasa lebih baik.


Akhirnya, aku tahu makna dari sebuah kalimat bentuk ketulusan yang terbaik adalah tetap bersikap lembut dan baik pada orang yang pernah menyakitimu.


Setelah hari itu, dia tetap melayani semua kebutuhanku dengan baik. Benar - benar tak ada yang berubah dari perlakuannya terhadapku.


Oh, tidak, tidak. Aku keliru. Ada yang berubah dari sahabat wanita kesayanganku itu. Dia tak lagi cerewet dan tidak pula merajuk.


Dari Abbey, aku tahu Erika membeli obat. Hanya saja, Abbey tak tahu Mommy sakit apa. Aku kuatir? Tentu saja. Aku sangat mencintainya.


"Kamu sakit apa?" tanyaku saat melihatnya tidur saat aku pulang dari kantor.


"Aku sehat." jawabnya singkat.


Akhirnya, aku tahu makna dari sebuah kalimat bentuk ketulusan yang terbaik adalah dia yang tetap bersikap lembut dan baik pada orang yang pernah menyakitimu.


Setelah hari itu, dia tetap melayani semua kebutuhanku dengan baik. Benar - benar tak ada yang berubah dari perlakuannya terhadapku.


Oh, tidak, tidak. Aku keliru. Ada yang berubah dari sahabat wanita kesayanganku itu. Dia tak lagi cerewet dan tidak pula merajuk.


Dari Abbey, aku tahu Erika membeli obat. Hanya saja, Abbey tak tahu Mommy sakit apa. Aku kuatir? Tentu saja. Aku sangat mencintainya.

__ADS_1


"Kamu sakit apa?" tanyaku saat melihatnya tidur saat aku pulang dari kantor.


Aku mengelus kepalanya lembut, tak biasanya dia tidur di jam aku pulang kerja. Beberapa hari ini tak ada peluk dan ciuman menyambut pulang kerja darinya. Sekalipun ada, semua terasa dingin.


"Aku baik - baik saja." jawabnya singkat.


Lalu langsung berdiri dan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam untukku. Hatiku tercubit. Aku tahu dia bohong, ada beberapa obat maag di laci meja riasnya. Asam lambungnya naik, pasti dia terlalu stress karena memikirkanku.


Selain itu ada yang hilang dari hari - hariku, tak ada lagi pesan - pesan menggoda dari istriku. Aku merasa diabaikan.


Oh? Ya ampun! Jangan katakan padaku, kalau istriku menyerah....


Bingung sama Hans. Katanya cinta, tak mau Erika merasa tak nyaman. Tapi kenapa sikapnya begituuuu?😔😔😔


Sampai jumpa di episode selanjutnya


Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara


Like


Comment

__ADS_1


Vote


Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.


__ADS_2