Your Officemate

Your Officemate
62. Apakah Yang Terbaik Untuk Kami?


__ADS_3

"Jam dinding itu ada dikamar tamu Uncle Johan, Moms. Tak mungkin aku salah mengenalinya, karena aku sangat menyukai modelnya." Abbey menjelaskan analisanya, rupanya dia tahu apa yang ada didalam pikiranku.


Ya ampun! Abbey benar - benar membuatku malu karena ketahuan berbohong, dan juga terpojok hingga tak bisa lagi mengelak. Padahal sebisa mungkin aku mencari dinding berwarna putih supaya Abbey tak bisa menebak keberadaanku saat ini.


Sialnya, mata Abbey yang tajam menemukan jam dinding unik di atas kepalaku, yang tak sengaja tersorot kamera. Jam dinding yang terbuat dari kombinasi kayu dan kuningan, dengan siluet burung terbang sehingga seperti menggambarkan suasana sore yang indah.


Aku bingung harus beralasan apa lagi pada mereka.


"Jadi benar Mommy bertengkar sama Daddy?" Abbey masih menuntut jawaban dariku.


"Kami... , hanya ada sedikit salah paham. Mommy butuh waktu untuk berpikir dengan tenang. Itulah kenapa Mommy di tempat Uncle Johan sementara waktu." Aku memutuskan berterus terang sambil berharap mereka cukup paham dengan jawabanku yang tak terlalu gamblang.


"Kalian berangkat sekolah dul, Okay? Pulang sekolah kita bisa membicarakannya lagi." Aku berusaha membujuk mereka.


"Manda mau sama Mommy today." kali ini air mata Manda sudah meleleh.


Mataku ikut menghangat, leherku terasa sakit menahan tangis.


"Nanti kita ke rumah Uncle Johan saja setelah pulang dari sekolah. Ya?" bujuk Abbey pada Manda yang mulai terisak.


Aku tak menjawab apapun, takut kalau - kalau tangisku akan pecah. Lagipula, fokusku juga sudah terpecah karena lagi - lagi suara tangisan Aaron terdengar begitu kencang. Tak biasanya Aaron seperti itu. Apakah dia sakit?


Selanjutnya wajah - wajah yang penuh harap itu mengucapkan I love you sebelum mengakhiri video call kami. Sekarang tinggal aku seorang diri bersama hatiku yang makin terluka. Aku merindukan anak - anakku.


__ADS_1



Tak tahu sudah berapa lama aku disini, menikmati guyuran air dingin dibawah shower kamar mandi sambil menangis sepuasnya. Semoga saja air shower ini bisa mendinginkan otakku yang sudah bekerja keras beberapa hari terakhir ini. Dan juga, semoga semua rasa sakit hatiku mengalir bersama air dan menghilang.


Lama kelamaan, rasa dingin mulai menjalar berawal dari ujung kakiku dan terus merayap naik keatas. Tapi aku tak mempedulikannya. Bahkan saat bibir dan tubuhku yang mulai gemetar pun, tetap tak kupedulikan.


Kupeluk tubuhku dan meringkuk dibawah shower. Aku enggan bergerak dan kembali memikirkan anak - anakku sambil terus merasakan dingin yang kian merambat keseluruh tubuhku hingga rasanya seperti merasuk ke dalam tulang - tulangku.


Yang kuingat berikutnya adalah sebuah ketukan terdengar dari pintu bathroom. Aku mendengarnya tapi tubuhku tak bisa bergerak, tak tahu apakah karena aku kedinginan atau mungkin saja aku masih enggan berdiri karena aku memang sedang tak ingin bertemu siapa pun.


"Siapa?"


Aku mencoba bersuara, tapi aku tak bisa mendengar suaraku sendiri. Tenggorokanku terasa kering, rongga perutku seperti terisi air es. Berikutnya seperti ada banyak jarum - jarum es menusuk tulang dan bagian dalam dadaku. Rasanya dingin sekali.




Oh! Kenapa dia ada disini? Dan apa yang dilakukanya disini? Aku tak merasa bertemu dengannya tadi pagi setelah aku selesai mandi. Apakah dia menungguiku saat aku tertidur tadi?


Tidak, aku salah. Aku sekarang ingat kalau tadi aku sedang mandi, tapi kenapa aku sudah ada ditempat tidur. Dan bajuku? Aku melihat ke bawah selimut yang menutupi tubuhku, ternyata dress kimono kesayanganku sudah membalut tubuhku dengan baik.


Pandanganku menoleh pada pria yang sudah membuatku merasa dikhianati. Dia diam, duduk di kursi di dekat tempatku berbaring. Kedua tangannya menutupi wajahnya. Kedua sikunya dia letakkan di atas lututnya. Saat aku tak tahu harus melakukan apa, dia mengangkat wajahnya.


"Mommy, kamu sudah bangun?" tanyanya dengan wajah cemas dan kuatir.

__ADS_1


"Kenapa kak Hans disini?" tanyaku heran, karena aku tak merasa memanggil kak Hans untuk menemuiku.


"Apa kamu masih tak mau menemuiku Moms?' Dia bertanya lagi dengan nada suara yang terdengar sedih.


Aku tak menjawab, otakku berputar berusaha untuk mengingat apa yang sedang terjadi.


"Johan menghubungiku, karena kamu tak juga keluar kamar sejak pagi. Saat dia mencarimu dikamar, dia mendapatimu ada dikamar mandi. Hampir satu jam dia menunggu, tapi kamu tak kunjung keluar. Saat aku datang, aku melihatmu sedang terbaring dibawah shower. Sekujur tubuhmu dingin, dan bibirmu pun biru. Terlambat sedikit saja, bisa - bisa kamu terkena hipotermia." Kak Hans menjelaskan dengan suara seperti menahan tangis.


"Aku mengerti kalau kamu tak mau melihatku, dan ini bukan saat yang tepat untuk memintamu pulang." Dia berhenti sesaat.


"Aku juga tahu, berat bagimu untuk pulang. Tapi aku juga yakin kalau kamu merasa tersiksa berjauhan dengan anak - anakmu. Aku berjanji, apapun keinginanmu kelak akan aku turuti. Bahkan ketika anak - anak sudah mengerti, aku bersedia berpisah denganmu. Kalau kamu memang menginginkannya."


Tanganku meremas selimut yang ada dipangkuanku, menahan semua sesak yang kembali menyeruak masuk di hatiku.


"Mommy, saat ini sulit sekali untuk membuat mereka mengerti. Abbey juga terus bertanya dan menuntut jawaban. Dia bahkan mengancamku akan menjadi pemberontak kalau kamu tak kembali. Aku mengkhawatirkan Abbey, bukan diriku. Manda tidak mau makan dan minum pagi ini, dia bilang, dia hanya mau Mommy. Lalu Aaron, dia menangis sepanjang hari dan juga tak bisa tidur dengan nyenyak. Sepertinya dia merindukanmu. Dia juga menolak semua susu formula yang aku berikan, dan hanya tertidur setelah dia kelelahan karena menangis." Kak Hans kembali menelungkup wajah dengan tangannya.


Aku tahu dia diam - diam menangis memikirkan anak - anaknya. Perasaan kami sama, yaitu kasihan anak - anak. Tidak ada yang lebih memberatkan hati dan pikiran orang tua selain anak - anak. Kak Hans diam. Aku juga diam. Keheningan di dalam kamar ini terasa panjang saat aku kembali sibuk dengan pikiranku sendiri.


"Mommy, apa kamu mendengarku?" ucapnya lagi setelah beberapa lama kami saling terdiam.


"Kamu setuju kalau kita menunggu sampai anak - anak cukup besar? Atau setidaknya, sampai aku bisa memberi pengertian kepada mereka. Aku tak mau meninggalkan kepahitan dihati anak - anak gadisku." Kak Hans menatapku dengan memelas.


"Atau... setidaknya tunggulah sampai Aaron bisa disapih. Saat itu kalau kamu masih ingin pergi dariku, aku akan merelakanmu."


Wajahnya begitu frustasi saat mengajukan beberapa alternatif penawaran padaku. Kumis dan jenggot yang belum dicukur membuat penampilannya lebih tua dari biasanya. Lalu cekungan dan lingkaran hitam dibawah mata menandakan dia juga tidak cukup tidur akhir - akhir ini.

__ADS_1


Aku menghembuskan napas dengan berat, harus kujawab apakah semua pertanyaaannya ini?


Sampai jumpa di episode selanjutnya....


__ADS_2