Your Officemate

Your Officemate
14. Istriku Hamil


__ADS_3

"Kucing lapar selalu mengincar sesuatu disaat pemiliknya lengah. Disaat aku sibuk mengurus baby, dia akan menggunakan kesempatan itu untuk mendekatimu. Bukankah waktumu bersamanya lebih panjang dari pada waktumu bersamaku?" sembur Erika tanpa jeda.


"What? Kucing lapar?" kali ini Hans tak bisa menghentikan tawanya.


Perut Hans rasanya seperti digelitik. Entah kenapa sebutan kucing liar terdengar begitu lucu di telinganya. Lagipula, Hans paham benar siapa kucing lapar yang dimaksud oleh Erika.


"HADUUUUuuuuuh!!! teriak Hans. Ada rasa panas dipahanya, yang kian lama kian terasa menyakitkan.


Erika mencubitnya keras - keras karena Hans tak juga berhenti menertawakannya.


"Ampun Moms..., ampun. Kamu mau kita kecelakaan?" tanya Hans sambil menahan sakit dan berusaha tetap fokus menyetir.


Erika langsung melepaskan cubitannya, lalu bersedekap, mulutnya cemberut dan langsung melengos ke sembarang arah.


Dia pura - pura tak peduli, meski dalam hati merasa kasihan melihat Hans kesakitan karena ulahnya. Ingin hati mengusap bekas cubitan tadi, tapi gengsi. Mau bagaimana lagi? Ditertawakan saat sedang bercerita rasanya sungguh menyebalkan.


Baru saja Hans akan membuka mulut untuk membujuk istrinya, tiba - tiba Erika sudah menoleh kearah Hans. Wajahnya sudah tak semarah tadi. Benar - benar swing mood ibu hamil yang memusingkan. Untunglah, Hans termasuk suami yang sabar.


"Kalau aku sudah tua, tidak cantik, tidak menawan, apakah kamu masih akan tetap menyayangi dan mencintaiku seperti ini?" tanya Erika penasaran.


"Sudah pasti tidak. Karena itu bukan kamu," jawab Hans cepat. Erika kembali cemberut.


"Kak Hans, aku serius."


"Aku juga serius," ucapnya. "Andai sesuatu terjadi kepadamu sekarang, tidak peduli bagaimana perubahan wajah dan penampilanmu, bagiku kamu cantik. Tapi, please, jangan lakukan hal - hal aneh hanya untuk mengujiku".


Erika mulai tersenyum.


"Dan dugaanku sejak awal kita bertemu ternyata benar semua. Kamu sekarang sudah menjadi istri dan ibu yang sabar. Juga tak pernah berhenti belajar demi kebaikan anak - anak dan keluarga ini. Tanpa bantuan orang tua, kamu berhasil mengurus rumah tangga, anak - anak bahkan membantuku mencari nafkah saat kita tak punya apa - apa. Bagaimana mungkin aku berhenti mencintaimu?"


Ooh... wajah Erika rasanya seperti terbakar. Tapi dia menutupinya dengan pura - pura tertawa.


"Baiklah, kamu mau terus disini atau turun?" tanya Hans. Tak sadar mereka sudah sampai dirumah. Hans memarkir mobilnya, lalu berjalan memutar dan membukakan pintu untuk Erika.


"Baby boy, sehat dan pinter ya. Jangan rewel dan ngambekan kaya Mommy" bisik Hans sambil langsung melesat menghindar dari cubitan Erika.


****


Keesokan paginya, Hans berangkat kerja dengan perasaan meluap - luap. Mengetahui kenyataan Erika hamil dan calon anaknya adalah laki - laki, membuatnya seperti mendapat semangat baru.

__ADS_1


Senyumnya begitu lebar, dia menyapa siapapun yang berpapasan dengannya. Sampai - sampai Hans lupa untuk menjaga jarak dengan Clara. Hans tersenyum lebar saat Clara menyapanya di lobby.


"Wow!! Senyum sejuta dollar kak Hans!!" teriak Clara dalam hati. Clara lalu cepat - cepat menyusul Hans ke ruangannya.


"Kak Hans..." Clara langsung nyelonong karena penasaran dengan Hans hari ini.


"Ya? Ada apa Clara?" Hans tersenyum ramah, dan lupa menegur Clara yang main selonong.


"S**t!!! Sekian lama memasang wajah juteknya, ternyata senyumnya mampu membuat jantungku tak aman" umpat Clara dalam hati.


Padahal baru kemarin Clara berkata tak akan terpesona. Ternyata hari ini hatinya berkata lain. Dasar plin plan!


"Kak Hans, kamu lebih keren kalau tersenyum." kata - kata itu meluncur lancang dari mulut Clara.


"Mana? Apa ada berkas yang perlu aku tanda tangani?"


Kali ini Hans tak lupa akan janjinya untuk tak mau membahas hal - hal diluar pekerjaan. Tapi senyum masih juga belum terhapus dari wajahnya.


"Begini kan wajahmu lebih enak dilihat kak Hans. Cuaca ikut cerah. Ada kabar apa? Menang tender apalagi?" Clara masih melanjutkan godaannya.


"Kabar baik ini lebih dari sekedar menang tender." Hans terdengar bersemangat. Makin membuat Clara semakin penasaran.


"Tiga bulan lagi, aku akan mendapatkan baby boy."


"Baby boy? Anak siapa?" tanya Clara konyol, karena sepertinya Erika tidak nampak seperti sedang hamil.


"Anak siapa? Apa maksudmu? Tentu saja anakku dan istriku."


Memang susah berbicara dengan Clara karena pikirannya selalu "out of the box".


"jadi kak Rika hamil?" kata Clara pelan tak jelas ditujukan kepada siapa.


"Oke. Apa keperluanmu? Aku banyak pekerjaan, dan harus kuselesaikan cepat - cepat. Aku harus pulang cepat karena istriku sedang hamil".


"No, nothing... kak Hans" Clara susah payah mengeluarkan suaranya.


POV Clara


Hai hati....

__ADS_1


Kenapa kamu begitu buta? Padahal kamu tahu kalau dia sudah berkeluarga. Kedua anak - anaknya sudah hampir menginjak usia remaja, dan sekarang malah ada sebuah calon bayi dirahim istrinya. Mengapa kamu menaruh harapan besar kepadanya?


Dikantor memang dia teramat kaku dan SOP banget. (SOP \= Standard Operasional Prosedure)


Namun...melihat dari caranya memperlakukan istri dan anak - anaknya, aku tau dia sosok yang lebih hangat dari penampakannya.


Berkali - kali aku mengajaknya dinner, dia menolak. Jangankan dinner berdua, beramai - ramai pun dia tak pernah mau kecuali istrinya mau ikut. Lalu, dia begitu marah waktu aku sengaja mengatur pertemuan dengan Mr. Lim demi ingin bersamanya lebih lama. Lagi - lagi alasannya yang itu itu saja karena tak mau membuat istrinya menunggu. Istrinya, istrinya dan sekali lagi istrinya. Menyebalkan!!


Aku menyadari, tak ada celah untukku dihatinya. Dia adalah pria baik - baik. Tapi kenapa pria baik - baik seperti dia tidak Tuhan berikan saja padaku?


Pak Hans,... tidak. Aku tak mau memanggilnya Bapak, karena terkesan begitu formal dan kaku. Aku ingin lebih dekat dengannya, oleh karenanya kupanggil dia dengan panggilan kak Hans. Sama seperti cara istrinya memanggil dia.


Kak Hans tak pernah memandangiku dengan mata penuh napsu seperti pria lain yang mengejarku. Dia bahkan marah saat aku memakai baju tipis ketika datang ke ruangannya.


Dasar kolot!! Begitu pikiranku. Namun ternyata sikapnya yang seperti itu justru membuatkj merasa aman.


Awalnya aku pikir kehidupan sepertinya akan membosankan. Hari - harinya hanya diisi kerja dan pulang ke rumah. Pernah kutanya, apa kegiatanmu di saat senggang. Dia jawab menghabiskan waktu bersama keluarga.


Nyatanya? Aku memimpikan kehidupan seperti Erika? Begitu dicintai dan disayangi oleh suami. Andai Evan masih hidup, sudah pasti kehidupanku sama seperti Erika.


Dan hari ini? Dia berkata istrinya hamil. Matanya berbinar saat menyampaikan kabar itu padaku. Hatiku sakit. Dia benar - benar tak menyadari ada yang berharap sedikit perhatian darinya. Sedikit saja, tak banyak. Aku pun tak pernah memintanya untuk menikahiku.


Memang aku sesumbar berkata dia bukan kriteriaku. Tapi hati tak bisa memilih kepada siapa dia berlabuh.


Haruskah aku hapus harapan untuk mencintai dan dicintai pria itu? Hati tak bisa berpaling, terlanjur terbuai rasa nyaman dan bercokol terlalu dalam.


Aku tak rela membuang perasaan ini. Semuanya hanya karena kami terlambat bertemu.


Bersambung...


Sampai jumpa di episode selanjutnya


Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara


Like


Comment


Vote

__ADS_1


Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.


__ADS_2