
Kesal? Sudah pasti!
Cemburu? Sebut saja begitu...
Erika tak mau membela diri dengan mengatakan dirinya tidak cemburu. Pada kenyataannya, dirinya sungguh kesal pada Clara. Sangat kesal.
Mulai dari pertemuan saat pemakaman Evan, dan berlanjut hingga hari ini. Tuduhan cemburu terus dilontarkan padanya.
Herannya, semua orang selalu bertanya apakah Erika cemburu. Pernahkah mereka sekali waktu balik bertanya? "Hei Clara, apa yang sudah kamu lakukan? Sampai - sampai ada seorang istri cemburu padamu?"
Semua ini sungguh tak adil bagi Erika.
Pernahkah mendengar kalimat bahwa kekesalan dipagi hari, akan disusul dengan kekesalan - kekesalan berikutnya? Dan, kekesalan Erika selanjutnya ditujukan pada suaminya, Hans.
"Ck!" Erika berdecak sebal. Dipandangnya ponsel lekat - lekat seolah ponsel itu telah melakukan kesalahan besar padanya.
Hans yang dihubunginya, tak kunjung menjawab panggilannya. Bagaimana mau menjawab? Ponselnya saja tidak aktif.
Padahal Erika sudah tak sabar ingin secepatnya mencurahkan isi hatinya pada Hans. Pesan yang dikirimkan pun belum berubah sedari tadi, masih centang satu.
Mencoba melupakan cerita Vania, akhirnya Erika memutuskan untuk menyerahkan semua pekerjaan pada Kirana. Dan, Erika akan menunggu Hans dengan menghabiskan waktu bersama anak - anaknya.
Menunggu memang tak enak. Waktu akan terasa begitu lambat. Berkali - kali matanya melirik jam dinding, dan hampir setiap menit dia melihat ponselnya.
Sebenarnya, Erika bisa saja menghubungi salah satu karyawan di kantor. Namun, Erika tak mau mempermalukan Hans. Mana ada seorang istri mencari keberadaan suami dari karyawannya.
Satu - satunya yang bisa dilakukan adalah menunggu, dengan mood yang berantakan. Tubuhnya memang bersama anak - anak, tapi tidak dengan pikiran dan jiwanya.
"Kenapa ponselnya tak aktif?"
"Sedang apa dia?"
"Apa dia tak sadar kalau ponselnya mati?"
Pertanyaan - pertanyaan terus berputar di kepala Erika.
TIN!!
"Lho? Kak Hans sudah pulang?"
__ADS_1
Erika melonjak senang. Digendongnya Aaron, dan kakinya langsung terayun cepat untuk menyambut sang suami.
"Daddy, apa mau dengarkan rekaman latihanku hari ini?" Abbey dengan bersemangat menyambut Hans pulang, mendahului Erika. Dia ingin memamerkan skill permainan drum terbarunya. Di belakang Abby, Manda yang sangat pendiam mengekor kakaknya.
Aaroon pun tak kalah senang, dia melonjak - lonjak di gendongan Erika. Seolah - olah tahu Daddynya sudah datang. Erika menghela napas, nampaknya session curhatnya akan tertunda kali ini. Demi anak - anak, Mommy harus mengalah.
Srettt!!
"Eh?"
Hans berjalan cepat, masuk kedalam rumah. Tak menjawab pertanyaan Abbey, tak ada sapaan, apalagi menoleh ke mereka. Bahkan Aaron kesayangannya pun tak dihiraukannya. Bingung dengan sikap Daddynya, Abbey dan Manda saling berpandangan sambil mengangkat bahu.
Erika yang lebih cepat pulih dari rasa heran, langsung menyusul Hans kedalam rumah.
"Mom, ambilkan makan!" perintah Hans yang ternyata sudah duduk dimeja makan. Tak sedikitpun matanya melihat kearah Erika. Hans benar - benar fokus pada ponselnya.
Erika meletakkan Aaron di baby chair, dan meminta Kakak - kakaknya untuk mengawasi. Tangan Erika menyiapkan makanan, tapi matanya berkali - kali melirik kearah Hans. Tak biasanya Hans sibuk di meja makan.
Makanan sudah siap dihadapan Hans, tapi dia tak juga meletakkan ponselnya. Erika memandangnya dengan penuh tanya. Bahkan saat makanan anak - anak sudah hampir habis, Hans masih belum menyentuh makanannya.
"Daddy, katanya no gadgets in the dining room." tegur Abbey lebih dahulu, sesaat sebelum Erika menegur Hans.
"Oh..., ini ada pekerjaan. Urgent." jawab Hans sekenanya.
Tangan kanannya langsung menyendok makanan, sedangkan tangan kiri tetap memegang ponselnya. Tak dipedulikannya tatapan penuh tanya dari anak dan istrinya. Hans menelan makanannya dengan sangat cepat.
"Done! Aku kekamar dulu."
Tak sampai lima menit, Hans sudah menyelesaikan makannya. Diciumnya kening Erika sekilas, diacaknya rambut Aaron. Tanpa menunggu reaksi siapapun, Hans langsung menghilang dari ruang makan.
Erika menyentuh dahinya, ada sedih terselip dihati. Ada yang hilang dari kecupan itu. Benar, tak ada rasa hangat seperti yang sudah - sudah. Terasa hanya sekedar rutinitas atau formalitas atau apapun namanya.
•
•
Anak - anak sudah masuk dikamar masing - masing dan Aaron sudah terlelap di boxnya.
Setelah rutinitas skincare malamnya, Erika merayap naik keatas tempat tidur. Diciumnya Hans dengan lembut, kepalanya menyusup ke dada Hans dengan harapan bisa sedikit melihat apa yang sedang dikerjakan Hans dengan ponselnya.
__ADS_1
Menyadari Erika mendekat, Hans langsung meletakkan ponselnya diatas nakas. Diraihnya tengkuk Erika, dan dilahapnya bibir istrinya dengan rakus. Sementara tangan satunya sudah menyusup kedalam dress satin tipis yang dikenakan Erika. Dengan cepat, tangan Hans melucuti pakaian Erika. Terasa sekali Hans ingin segera sampai ke hidangan utama. Semua dilakukan dengan terburu - buru.
Erika merasa sesak dan tak bisa bernapas. Tak ada kelembutan dan hangat disana. Bukan cinta yang terasa, namun hanya sekedar rasa yang begitu menggebu, ingin segera sampai ke penghujung acara.
"It's like a lu-st. Not love." gumam hati Erika.
•
•
Mata Erika memicing ke arah cahaya yang berasal dari sisi dimana Hans berbaring, dengan posisi memunggunginya.
"Lampu ponselkah itu?"
Erika tadi memang sempat tertidur setelah pertempuran dengan suaminya. Tak tahu apa yang menyebabkan dirinya terbangun tiba - tiba. Yang jelas, saat ini Erika terbangun.
"Kak Hans, tidak tidur?' dengan suara serak Erika bertanya.
"Loh, kamu belum tidur?" yang ditanya malah balik bertanya.
"Aku bangun karena ada cahaya menyala dari tempatmu."kata Erika lugas.
"Ayo tidur!" Hans mematikan ponselnya dan menarik Erika masuk kedalam pelukannya.
Biasanya, tidur di pelukan Hans merupakan posisi favorite Erika. Rasanya begitu aman dan nyaman. Selain itu, biasanya aroma tubuh Hans selalu. berhasil menenangkannya. Namun, ada yang berbeda dengan hari ini. Erika merasa jauh, meski dirinya ada didalam dekapan Hans.
Erika memaksakan diri supaya matanya kembali terpejam, sambil diam - diam menyelipkan seutas doa untuk sang suami.
Sedih itu, saat merasa asing dengan orang yang kamu cintai, belahan jiwamu. Ada rasa kehilangan, tapi tak tahu apa yang hilang. (Erika)
Sampai jumpa di episode selanjutnya
*Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
Vote
__ADS_1
Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru*.