
"Kamu hamil?" tanya Erika tenang.
Wajah - wajah shock dihadapannya memberi kepuasan tersendiri dihati Erika. Hans dan Clara sama - sama terlihat shock mendengar pertanyaan Erika. Hans sampai hampir tersedak air liurnya sendiri, dia tak menyangka pikiran Erika menuduhnya sampai sejauh itu.
"Apa? Enak saja! Memangnya aku wanita murahan?" Clara berkata gusar.
Erika mengulum senyum sambil memandang Clara dalam - dalam. Fix! Benar - benar ada yang tak beres dengan otak wanita ini. Mungkin semua ini karena Clara terbiasa bertingkah laku seperti itu kepada para pria, sehingga menganggap yang dilakukannya adalah hal biasa dan normal.
"Kalau kamu tidak hamil, kenapa tidak bisa kalau tanpa kak Hans?"
Clara tertegun, mulutnya terbuka hendak menjawab tapi tak jadi. Kemudian Clara menutup mulutnya kembali, dia bingung tak tahu harus berkata apa. Mereka memang pernah berciuman tapi setelah hari itu, Hans tak pernah mau ditemui. Mereka hanya berbicara di telepon berjam - jam atau berkirim pesan tiap hari.
"Apa dia menyentuhmu? Aku tak mau berebut. Dengan senang hati, aku berikan dia padamu. Ambillah, kalau dia mau." ujar Erika lagi sambil tetap mengulas senyum.
Erika berbicara tentang Hans seperti membicarakan sebuah barang yang akan disedekahkan.
Hati Hans seperti diremas, diam - diam dia merasa sakit. Mau bagaimana lagi, Hans sedang menerima konsekuensi dari perbuatannya. Biar bagaimanapun, dia sudah bersalah terhadap istrinya.
"Kamu tahu Clara? Aku kasihan padamu, ternyata kemampuanmu cuma segitu." Erika ingin sedikit membalas sakit hatinya pada Clara.
"Hah?" Clara tercengang.
"Ternyata kamu hanya mampu mendapatkan kak Hans yang sudah setengah tua, dia tidak setampan yang kamu puji - puji, tidak juga kaya raya seperti pacar - pacarmu yang lain, dan yang paling parah adalah dia sudah beristri dan memiliki anak tiga." Erika tersenyum miring.
"Wanita single, muda, dan cantik seperti kamu, hanya mampu mendapatkan barang bekas." cibir Erika.
Telak! Menghujam hingga ke ulu hati Clara dan Hans. Clara tak terima, dia berdiri dengan kasar lalu berkacak pinggang. Tapi ternyata Clara tak bisa mengatakan apapun, dia tak menemukan kata - kata yang tepat untuk membalas Erika. Da-danya terlihat naik turun dengan cepat karena emosi.
Hans nampak siaga karena kuatir Clara tahu - tahu menjambak Erika. Tak seorang pun bisa menebak bagaimana kelakuan Clara berikutnya. Disisi lain, dia tak berani menghentikan Erika untuk terus menyerang sisi psikologi Clara.
__ADS_1
Sebaliknya, Erika tetap tenang dan malah memencet tombol intercom untuk meminta pelayan mengantarkan minuman.
"Duduk dan minumlah! Tak ada racun didalamnya." kata Erika dengan tegas saat pelayan datang sambil membawa minum.
"Lalu kak Hans, apa yang sudah kamu lakukan padanya hingga dia sedemikian emosi dan mencariku?" ternyata Erika belum selesai dengan serangannya.
DEG! Tersirat nada ancaman didalamnya, sedikit saja dia salah menjawab bisa - bisa hubungannya dengan Erika makin runyam.
"Aku sudah memblokir nomernya disemua aplikasi yang aku miliki, Moms. Facebook, instagram, whatsapp, phone book, dan juga telegram. Kalau perlu, kamu boleh melihatnya sendiri. Proyek berikutnya akan ditangani oleh Jenifer, aku sudah menutup semua aksesku darinya" Hans menjelaskannya.
Beruntung Hans cepat tanggap untuk diajak bekerja sama. Dari awal Erika memang berniat ingin menyakiti hati Clara. Rasanya akan sangat menyakitkan ketika mendengar sendiri kalau akses terhadap orang yang disukai tertutup. Ditambah lagi Clara selama ini memasang tinggi gengsinya, dengan mengatakan kalau Erika yang cemburu.
Clara tak tahan lagi, tangannya sudah melayang hendak menyerang Erika. Untung saja Hans cepat tanggap dan segera menghalanginya.
Apakah memang begini cara marah orang sabar? Hans sampai terkesima melihat Erika yang terkesan tidak takut sedikitpun. Dia bahkan tak terkejut atau pun menghindar.
"Ck! Padahal aku menunggumu memukulku supaya laporanku ke pihak kepolisian bisa berlapis - lapis." Erika memasang wajah menyesal. Dia menyandarkan punggungnya di sofa, tangannya dilipat didepan da-da sedangkan kakinya yang kiri disilangkan ke kaki kanan.
Clara menciut mendengar ancaman Erika.
"Keinginanku sebenarnya gampang. Aku tak mau melihatmu lagi, bahkan mendengar namamu pun aku tak sudi. Mengenai hubunganmu dengan Kak Hans, aku serahkan sepenuhnya kepada dia. Aku hanya kasihan pada Mamamu kalau tahu semua ini. Hati Ibu mana yang tak sedih kalau tahu kelakuan busuk anaknya. Atau kamu mau Mamamu jatuh sakit mendengar kelakuanmu?" kata - kata Erika terasa dingin dan menusuk.
Erika mengambil ponselnya, membuka video - video seronok Clara dan memutarnya dihadapan Clara. Mata Clara terbelalak, dia benar - benar lupa tentang video itu. Tak lama dia menundukkan kepala, tangannya memeluk tas tangan miliknya lalu memasang ekspresi sedih.
"Tapi Kak Rika, apa kakak tahu? Semua ini bukan salahku. Kenapa Kak Rika tidak berdandan cantik seperti aku? Kak Hans itu sukanya sama yang cantik seperti aku? Berdandanlah, supaya kak Hans tak tertarik lagi padaku." Clara malah melimpahkan kesalahan kepada Erika.
"Tidak berdandan saja, kak Hans sudah memohon supaya aku tak meninggalkannya." Erika bermonolog.
"Clara, sudah cukup. Aku rasa sebaiknya kamu pulang." sela Hans.
__ADS_1
"Tapi kak Hans, aku masih boleh kan berteman denganmu?"
"Tidak, Clara. Kita selesai, tak ada hubungan apapun, baik teman, saudara ataupun rekan kerja."
"Meski kak Rika membuangmu?"
"Meski Erika membuangku, aku tetap tak akan mau bersamamu." jawab Hans tegas.
"Kamu bodoh Kak Hans. Semua salahmu! Gara - gara kebodohanmu, dia jadi tahu." desis Clara masih tak terima.
PLOK... PLOK... PLOK....
Erika bertepuk tangan, dan berdiri dari duduknya.
"Selesaikan urusan kalian. Aku tak mau pusing. Dan untukmu Clara, jangan ganggu aku. Atau aku akan mengirim video ini ke Mamamu." Erika mengangkat ponselnya.
"Akan kubuktikan kalau aku bisa mendapatkan pria dengan mudah. Jangan menuduhku macam - macam dan mengadu yang tidak - tidak. Kami tak melakukan apapun. Kami hanya berteman." jawab Clara dengan emosi yang meletup - letup.
Erika tersenyum dan meninggalkan ruangan tanpa menoleh.
Sampai jumpa di episode selanjutnya
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
Vote
__ADS_1
Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.