
Memaafkan suatu kesalahan sangat mudah untuk diucapkan, tapi untuk melakukannya membutuhkan banyak keikhlasan dan hati seluas samudera. Setelah memaafkan, kita harus melupakan, sayangnya membutuhkan waktu seumur hidup untuk menghapus ingatan akan sesuatu yang menyakitkan. Memaafkan kemudian melupakan adalah hal yang sulit bagiku.
"Kalau sesuatu itu bisa diperbaiki, cobalah perbaiki." kata - kata Kak Merry kembali terngiang di pikiranku.
"Jangan membuat keputusan yang kelak akan kamu sesali." Kak Johan dengan lembut ikut berbicara.
"Aku tahu." Aku menjawab entah untuk pernyataan yang mana.
Aku benar - benar bingung dalam menentukan sikap, seandainya saja tak ada anak - anak diantara kak Hans dan aku, semua akan lebih mudah. Yang membuatku makin bimbang adalah kak Merry dan kak Johan seolah - olah tak berada dipihakku.
Oh, kumohon siapapun itu berikan aku alasan yang terbaik untuk memaafkan sebuah pengkhianatan.
"Aku memang tidak pernah berada diposisimu, jadi mudah saja bagiku untuk memintamu memaafkan Hans. Tapi percayalah, akan lebih sulit membesarkan anak tanpa seorang ayah." lagi - lagi Kak Merry memintaku untuk mengalah.
"Aku punya cukup uang Kak. When a woman has money, she needs no man." jawabku dengan nada tak yakin.
(Saat seorang wanita memiliki uang, dia tak butuh pria.)
"Kamu tidak membutuhkan Hans tapi anak - anakmu membutuhkan sosok Ayah. Dan juga Ibu." Kak Johan menggenggam tanganku.
"Tidak ada yang lebih baik bagi anak - anak selain keluarga yang utuh. Mereka butuh ketegasan Ayah dan kelembutan Ibu." Kak Merry kembali menasehatiku.
"Tapi kak, bukan aku yang membuatnya tidak utuh. Dia yang bermain - main, dia yang merusak semua kepercayaannku. Andaikata aku kembali pun, semua sudah tak sama lagi." Hatiku masih terus menolak.
"Kamu boleh membenci kesalahannya, tapi jangan jiwanya. Kasihani Hans. Hidupnya akan kacau tanpamu, lalu bagaimana anak - anakmu kalau kamu memilih berpisah. Apakah Abbey tidak bertanya kenapa kalian berpisah? Bagaimana kamu menjelaskan pada Abbey dan Manda? Lalu apa yang akan kamu katakan pada Aaron saat dia besar nanti?"
Ah, aku jadi teringat bagaimana Abbey yang berapi - api bercerita mengenai kelakuan Clara saat outbond. Bagaimana bencinya Abbey pada Clara setiap kali mengingat genitnya wanita itu pada Hans. Belum lagi Manda yang ikut menimpali kalau dia tak suka Clara mendekati Daddy-nya. Apakah kelak mereka akan membenci Daddy-nya? Ataukah akan lebih parah dengan membenci kaum pria? Selama ini mereka mengidolakan Kak Hans. Bagi mereka, kak Hans adalah cinta pertama mereka.
Apakah aku akan tega membiarkan rasa cinta itu berubah menjadi kebencian dan membiarkan perasaan itu tumbuh di hati kedua anak gadisku? Terlebih lagi Manda sangat pendiam, kita tidak akan pernah tahu sakit hati macam apa yang akan disimpan oleh seorang introvert.
__ADS_1
OH!!! Dan Aaron? Dia masih terlalu kecil untuk mengerti. Kenapa makin kesini, rasanya aku seperti dipaksa untuk kembali dan memaafkan kak Hans. Bagaimana dengan hatiku sendiri? Adakah yang memikirkannya? Air mata kembali meleleh dipipiku, aku menutup mulutku dan terisak.
Jangan tanya apakah aku merindukan anak - anakku atau tidak. Mereka adalah pusat kehidupanku dan hari - hariku. Saat ini saja aku sedang memikirkan bagaimana kabar anak - anakku? Apakah mereka makan teratur? Apakah mereka baik - baik saja atau mencariku? Apakah mereka sudah mengerjakan tugas sekolah mereka dengan baik? Adakah mereka menemui kesulitan hari ini? Lalu bagaimana Aaron? Apakah dia tidur nyenyak hari ini? Apa dia menangis? Siapa yang mendengarkan Abbey dan Manda bercerita tentang kegiatan mereka di sekolah?
Semua pertanyaan itu memenuhi kepalaku. Tetapi aku tetap tidak mau menghubungi kak Hans untuk bertanya. Aku juga tidak menghubungi langsung Abbey dan Manda karena alasan yang berbeda, aku tak punya keberanian untuk menghadapi mereka, terutama Abbey. Sekali aku berbicara pada mereka, maka Abbey akan tahu kalau aku tak baik - baik saja. Dia sangat peka dan cerdas.
Serapat apapun kita menyembunyikan suatu masalah, selalu saja ada celah untuk mengetahuinya.
Sebelum berangkat sekolah, anak - anak menelponku lebih dahulu. Tak mau mengecewakan mereka, aku menerimanya.
"Hallo?" kataku setelah berdehem sebentar untuk melonggarkan tenggorokanku.
Suaraku sedikit serak karena beberapa hari tidak bisa tidur nyenyak dan semalam aku sering menangis mengingat anak - anakku. Aku hanya berharap, semoga siapapun yang diseberang sana tak menyadari perubahan suaraku.
"Mommy?" suara Abbey menyapaku.
"Apa kabar Mommy? Kami berhasil bangun pagi tanpa omelan Mommy, dan sebentar lagi mau berangkat ke sekolah." lanjut Abbey.
"Mommy baik - baik saja. Apa kalian sudah sarapan?" aku berusaha bicara dengan nada biasa.
"Wait, Mommy. Apa Mommy sakit?" tanya Abbey begitu mendengar suaraku.
Detik berikutnya, panggilan telepon itu berubah menjadi video call.
Ya ampun! Inilah yang aku takutkan kalau sampai aku menghubungi mereka, panggilan telepon saja tak akan mungkin cukup. Dan aku tak yakin bisa membohongi Abbey, kalau sudah bicara melalui video call.
"Mommy, kami merindukanmu. Please, nyalakan videonya." pinta Abbey dengan nada memaksa.
Aku mencari posisi yang lebih aman, biar bagaimanapun aku mengatakan pada mereka kalau sedang ada keperluan diluar kota. Lalu kunyalakan video.
__ADS_1
"Mommy! Lama sekali.... "
Wajah Abbey muncul diikuti Manda yang tersenyum disebelahnya.
"Mommy...." Suara Manda yang kalem menyapaku, membuatku semakin merindukan mereka. Ingin rasanya aku masuk kedalam layar ponselku, lalu memeluk dan mencium mereka.
"Mana Aaron?" tanyaku.
"Wait, Mommy! Mommy harus pulang hari ini, biar Daddy yang jemput Mommy. Okay?" Abbey tak menjawab, dia menyela dengan nada seperti memerintah dan bukan meminta.
Aku mengerutkan keningku dan tak menjawabnya karena aku tak mau berjanji apapun pada mereka.
"Mommy... , kami merindukanmu. Setelah mengantar sekolah, Daddy akan menjemput Mommy dari tempat Uncle Johan." Abbey berkata dengan nada yakin.
"Mommy tidak ada dirumah Uncle Johan, Nak." kataku berbohong.
"Mommy bilang kita tidak boleh bohong, kenapa Mommy bohong? Mommy sedang bertengkar sama Daddy?"
Deg! Kata - kata Abbey selalu mematikan lawan bicaranya. Aku semakin tak tahu harus berkata apa.
"Ayolah Moms, pulanglah. Kami merindukanmu, apalagi Aaron. Dia menangis semalaman." bujuk Abbey lagi.
"Mommy, Manda mau sama Mommy."
Oh! Hatiku ngilu dan pedih mendengar permintaan Manda. Anak gadisku ini hampir tak pernah meminta apapun. Dia terlalu pendiam dan penurut, semua kendali ada ditangan Abbey. Dan sekarang, dia memintaku pulang dengan mata berkaca - kaca. Sayup - sayup aku juga mendengar suara Aaron menangis seperti tantrum. Hatiku makin teriris.
"Jam dinding itu ada dikamar tamu Uncle Johan, Moms. Tak mungkin aku salah mengenalinya, karena aku sangat menyukai modelnya." Abbey menjelaskan seolah tahu apa yang ada dipikiranku.
Ya ampun!...
__ADS_1
Sampai jumpa di episode selanjutnya....