
Hans berdecih dalam hati, rasanya seperti kena prank. Dia merasa dirinya sangat bodoh.
Melihat bagaimana interaksi Mr. Lim dengan Clara, membuat Hans menyadari kalau mereka tidak sedang membicarakan bisnis hari ini.
Nampaknya, Mr. Lim tertarik pada Clara.
Pikiran Hans kembali ke istrinya, teringat bagaimana dia sudah bersusah payah memasak untuknya. Erika pasti sedih.
"Sabar ya Moms, sebentar lagi aku pulang." Hans mengirimkan pesan singkat pada Erika.
Hans tadi memang sempat memberitahu Erika mengenai dinner dadakan ini. Seperti biasa, Erika mengijinkan tanpa banyak protes. Tapi, tetap saja perasaan Hans tak tenang.
"It's okay. Take your time."
Tak sampai 30 detik, sebuah pesan balasan sudah masuk ke ponsel Hans. Pesan yang disertai dengan emoticon peluk dan cium.
Namun Hans sadar betul, balasan dari Erika begitu cepat. Itu menandakan Erika sedang menunggunya.
"Aku makan dirumah. Tunggu ya Moms..." Hans mengetik dengan perasaan bersalah.
"Kak Hans, Mr. Lim bertanya padamu." Clara menyenggol lengan Hans untuk menjeda aktivitasnya.
"Eh ya? Maaf, Mr. Lim." jawab Hans sedikit tergagap karena fokusnya sedang berada ditempat lain.
"iiisssh... kak Hans, Mr. Lim tuh nanya kenapa kamu cuma pesan minum? Kamu ga makan?" Clara menampakkan wajah kesalnya.
Bukan apa - apa, Clara sebenarnya tahu kalau Hans malah berkirim pesan pada Erika.
Yang menjengkelkan adalah Hans terlihat tidak menikmati dinner bersamanya, lebih tepatnya adalah dinner bersama Mr. Lim dan dirinya.
"Maaf, Mr. Lim. Saya tadi berjanji mau makan dirumah. Istri saya sudah memasak." Hans berkata jujur karena dari awal dia memang tak berniat makan.
"Kalau tak ada pembicaraan penting lain, apa bisa saya pulang duluan? Take your time with Clara." Hans seperti bertanya, namun dari kata - kata dan nada bicaranya terlihat jelas dia berpamitan.
Sesuai dugaan Hans, gayung bersambut. Mr. Lim dengan cepat mengiyakan, bahkan tampak senang saat tau Hans berpamitan.
Tanpa banyak bicara lagi, Hans langsung melangkah keluar dari restaurant mahal itu.
Satu langkah...
Dua langkah....
Tiga langkah...
Hans berjalan sambil menerka - nerka apa yang akan terjadi selanjutnya.
Nah! Benar kan? Apa yang terjadi berikutnya sesuai dengan apa yang ada dipikiran Hans.
__ADS_1
"Kak Hans!" belum genap sepuluh langkah, Clara sudah menyusul dan memanggilnya.
"Kak Hans, aku mau bicara sebentar." Clara buru - buru mengikuti Hans yang terus melangkah menuju pintu keluar.
Begitu sampai diluar restaurant, Hans berbalik. Sorot matanya nampak tajam dan menusuk. Clara sampai bergidik melihatnya.
"Aku yang mau bicara!! Dengarkan baik - baik! Jangan sekali - kali kamu ulang appointment "receh" seperti ini. Apalagi tanpa ijin dariku!"
"Kenapa kamu takut sekali sama istrimu? Sedikit - sedikit chat, sebentar - sebentar telpon. Bersenang - senanglah sedikit, Kak Hans..." keluh Clara seolah - olah semua ini adalah salah Hans.
Pupus sudah niatnya untuk protes pada Hans karena meninggalkannya. Mau bagaimana lagi, Pak Boss sudah lebih dulu menyemburkan amarahnya.
Entahlah, istilah apa yang cocok untuk orang seperti Clara. Begitu percaya diri dan tak pernah merasa bersalah.
"Kamu itu cuma anak kecil. Tak tau apa - apa soal pernikahan." suara Hans pelan tapi terdengar ketus.
Dia tak suka dianggap takut istri. Apapun perlakuannya pada Erika adalah bentuk apresiasi terhadap seorang istri, bukan rasa takut. Tapi Hans terlalu malas untuk menjelaskannya pada Clara.
"O'ya, aku tidak main - main dan kuanggap kamu sudah paham karena aku memperingatkanmu cuma satu kali." lanjut Hans, sambil menambahkan penekanan pada dua kata terakhir.
"Dan satu lagi, kembalikan blazerku kepada Lusi. Biar dia yang mengurusnya. Aku tak mau Erika berpikir yang bukan - bukan"
Hans berlalu meninggalkan Clara yang memandangnya dengan ekspresi shock bercampur sedih.
Sebuah janji dinner dengan client membuat Hans membentaknya. Hal yang sama sekali tak pernah dilakukan Hans sejak pertama kali Clara bekerja. Hans adalah atasan yang mengayomi, dan low profile. Bersamanya, Clara merasa nyaman dan terlindungi.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Clara menyesal lahir 12 tahun lebih lama dari Hans. Andai saja bisa memilih, dia akan meminta pada Tuhan supaya bisa mengenal Hans lebih cepat. Dan pastinya, saat ini istri Hans adalah dirinya dan bukan Erika.
*****
Flashback
"Ayooo...." Clara begitu santai menyelipkan tangannya ke lengan Hans dan bergelanyut seperti anak kecil.
Hans menelan ludah, saat dia menyadari tubuh Clara menempel padanya. Hangat dan lembut. Aroma parfum sensual yang menyeruak dari tubuh Clara membuainya. Pikiran Hans kembali melayang pada kejadian siang tadi. Belahan gunung terhampar begitu indah, menantang dan sexy.
Sexy?!!
Kata - kata itu menyentak Hans kembali kepada kenyataan. Ditariknya lengannya cepat - cepat.
"Pakai blazermu! Aku tak mau Mr. Lim berpikiran jelek tentang perusahaan kita", perintah Hans.
"Tapi Kak Hans, aku tak membawa blazer today." Clara mengerjapkan matanya dengan polos.
Dalam hati Hans menghela napas, berusaha menenangkan perasaannya yang terombang ambing berkat ulah Clara.
"Come on... Mr Lim pasti sudah sampai. Aku pakai ini saja." Clara dengan cepat berjalan sambil menyambar blazer Hans yang tersampir di kursi , lalu langsung memakainya.
__ADS_1
"Haaaaah!?? TER...SE... RAH" suara hati Hans menjerit merasa putus asa dengan kelakuan Clara dan dirinya sendiri.
Kejadian selanjutnya, benar - benar klise yaitu mereka berdua pergi bersama ke tempat Mr. Lim menunggu.
Yang berbeda adalah Hans. Suasana dimobil terkesan hening, meski Clara beberapa kali berusaha mengajak Hans ngobrol.
Wajah Hans nampak serius, dan pikirannya penuh dengan rentetan kelakuan Clara.
*****
Pulang dinner, Hans memacu mobilnya dengan kencang menuju rumah. Perasaannya campur aduk. Satu - satunya yang dia inginkan saat ini adalah pulang kerumah dan memeluk Erika.
Eh....Erika?
Ya. Hanya dengan mengingat namanya saja, perasaan Hans menjadi lebih tenang. Diturunkannya kecepatan mobil, lalu diambilnya ponsel. Segera disentuhnya nomer favorite teratas. Baru sekali nada sambung terdengar, Erika langsung menjawab.
"Ya...Kak Hans?" suara ceria menyambutnya.
Suara Erika membuat segala lelah dan sumpek dikepala Hans menguap entah kemana.
"Aku pulang Moms..." suara Hans terdengar seperti anak kecil yang mengadu ke Mamanya.
"Hahaha.... ada cerita apa today?" tanya Erika lembut.
Pertanyaan yang membuat Hans langsung meluapkan kekesalannya.
Hans menceritakan semuanya pada Erika. Mulai dari ajakan lunch, lalu baju yang dipakai Clara hari ini, sampai dinner dadakan. Tak lupa pula diceritakannya, bagaimana Clara bergelanyutan padanya.
Meski ada perasaan aneh menyelip didalam hatinya, Erika tetap setia mendengarkan dan tak berkomentar hingga Hans selesai menumpahkan uneg - uneg.
"Trus, next bagaimana Kak Hans?" akhirnya Erika bersuara.
"She's young and dangerous, Moms..." jawaban Hans terdengar seperti sebuah keluhan.
Hmmmmmm??????
Young and dangerous? Maksudmu apa Haaaanns? (Author)
Sampai jumpa di episode selanjutnya.
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
Vote
__ADS_1
Jangan lupa pilih favorite untuk terus mendapatkan notifikasi update baru.