Your Officemate

Your Officemate
41. Aku Harus Bagaimana?


__ADS_3

Hans tak bisa menyembunyikan kekagetannya saat mengetahui apa yang tengah Erika lakukan. Ternyata Erika mengunggah foto mereka di akun media sosial milik Hans. Slide pertama adalah foto bersama Erika saat Hans lulus universitas bertahun - tahun silam. Lalu, slide kedua berisi hasil photo booth saat di pesta tadi, dimana mereka berpose naik sepeda. Ya, foto dengan Hans bertuliskan SOLD OUT.


Dan yang lebih mengejutkan adalah caption bertuliskan, "karena yang menemanimu mulai dari nol, itulah yang patut diperjuangkan." disertai emoticon peluk dan cium.


Tag Clara Adelia....artinya sudah pasti Clara yang dituju oleh Erika.


Hans mengusap pelipisnya, dilihatnya Erika sudah kembali asyik dengan ponselnya. Wajahnya begitu senang seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.


"Mommy, kenapa kamu pakai akun milikku?"


"Karena aku tak punya akun media sosial pribadi, Kak. Milikku semua milik Mai Shop." jawab Erika santai.


"Tak baik pamer di medsos, Moms."


"Aku tidak pamer, Kak. Aku langsung ke sasaran. Ya maaaaf....kalau kak Hans keberatan. Aku bisa hapus tag-nya." Erika memasang wajah menyesal, padahal tidak dengan hatinya.


Semua yang dilakukannya sudah pasti ada maksud dan tujuan tertentu. Erika bukan tipe wanita yang suka mengumbar hal - hal pribadi di media sosial.


Dengan cepat dihapus tag Clara Adelia. Dalam hati Erika terkekeh, tak masalah menghapus tag itu. Toh, Clara tadi sudah melihatnya bahkan dia like foto mereka.


"Kenapa kamu tidak unfollow saja si Clara itu Moms? Bukannya kamu tak suka Clara folllow akunku?" tanya Hans, sambil memberi kode kepada pelayan untuk mulai menyajikan appetizer.


"Tidak. Nanti aku tak bisa stalking dia lagi." Erika menyampaikannya dengan ringan dan tanpa beban.


Mempunyai suami yang gaptek terhadap media sosial ternyata sangat menguntungkan disituasi seperti ini. Berhubung fokus Hans selama ini hanya pada pekerjaan, Hans tak pernah menyentuh media sosialnya selama ini. Dan yang membuat akun milik Hans adalah Erika. Maka dari itu, sangatlah mudah bagi Erika untuk membuka akun milik Hans.


"Dia tahu kamu disini, Kak." suara Erika mendadak berubah serius.


"Hah?" Hans benar - benar angkat tangan dengan tingkah Erika hari ini.


"Kak Hans, dia stalking kamu. Belum sedetik aku memasang story eeh...dia langsung melihat. Dia menunggumu." wajah Erika nampak bersungguh - sungguh menganalisa.


Erika membuka list viewer story dan menunjukkannya pada Hans. Nama Clara Adelia ada pada bagian yang teratas.


Astaga! Lagi - lagi Hans dikejutkan dengan apa yang diunggah Erika. Ingin rasanya Hans menepuk jidatnya keras - keras. Kali ini Erika menunjukkan foto instagramable mereka di restaurant XXX, yang tadi diambil sebelum mereka masuk.


Ya ampun! Gambar yang diunggah dilengkapi tulisan "The one who supports during my bad times deserves to be with me in my good times."


"Aah, melihat pertama tidak berarti apa - apa kan Moms?" Hans sedikit tergagap.


Erika meletakkan ponselnya, lalu mulai melanjutkan makannya yang tertunda. Wajahnya masih nampak berpikir.

__ADS_1


"Let's count down. Seberapa kuat Clara menahan emosinya. Kalau melihat sikap barbarnya, seharusnya sebentar lagi ponsel kak Hans akan bereaksi."


Ah, benar - benar tepat sesuai dugaan Erika. Tak berapa lama, Hans berkata.


"Moms, aku ke toilet sebentar...."


Lenyap sudah kesenangan yang dirasakan Erika. Senyumnya memudar, wajah menjadi tak bersemangat. Erika tak menjawab apapun ke Hans, hanya bisa menatap sendu suaminya. Berharap suaminya tahu ada luka dihati sang istri.




--- Erika ---


Niat awalku ingin membuktikan kecurigaanku pada kak Hans, tapi aku sendiri yang terjebak. Aku terjebak dalam ketakutanku sendiri.


Rencanaku berjalan lancar, tujuanku adalah membuat mereka bertengkar. Mengingat kelakuan Clara yang barbar, sudah pasti dia akan marah dan langsung komplain pada kak Hans. Itu kalau "kecurigaanku" benar.


Ah tapi sepertinya yang aku pikirkan benar. Aku mendengar bunyi getaran ponsel di saku kak Hans, tapi aku pura - pura tak tahu. Hatiku berkata itu Clara, karena kak Hans langsung berpamitan ke toilet.


Meski semua sudah berjalan sesuai rencanaku, yang terjadi justru kebalikannya. Tak ada suka cita atas keberhasilanku. Mendadak bibirku kelu, leherku rasanya sakit. Berikutnya, ketegaranku menguap. Benar, nyaliku ciut. Aku tak berani bertanya pada kak Hans, siapa yang menelpon.


Ada suara dihatiku yang membela kak Hans, dan berkata "Bisa saja bukan Clara yang menelpon kan? Tak ada bukti nyata kalau itu Clara."


Sementara sisi hatiku yang lainnya menyahut, "Ya itu Clara. Jangan naif!"


Padahal bisa saja aku mengikutinya, lalu memastikannya sendiri. Sayangnya, tubuhku tak mau bekerja sama. Rasanya kakiku tak mampu menopang tubuhku, tak ada tenaga untuk melangkah menyusul kak Hans.


Aku kecewa pada diriku sendiri. Ya. Aku takut menerima kenyataan. Bagaimana kalau ternyata dugaanku benar. Clara yang menelpon. Lebih takut lagi, karena aku tak tahu apa yang harus aku lakukan kalau ternyata semua kecurigaanku itu benar.


Bagaimana aku bersikap pada kak Hans kalau kecurigaanku ternyata benar? Melempar ponsel ke wajahnya? Memakinya? Puaskah aku hanya dengan memaki kak Hans? Ataukah lebih baik kalau aku mendatangi Clara lalu menghajarnya? Lalu, apa yang harus aku katakan kepada anak - anakku nantinya?


Bodohnya aku!! Aku tak merencanakan apapun untuk diriku sendiri.


Tak berani dan tak sanggup menerima kenyataan, akhirnya aku memilih diam, tak bertanya dan menelan pahit ini didalam hati.


Menyesal sekali, ternyata aku tak setegar itu....



__ADS_1


Bahu Erika meluruh, tangannya mengaduk makanan dihadapannya. Sepuluh menit dia termenung, dan selama itu pula Hans belum kembali dari toilet.


"Aku mau pulang." pinta Erika begitu Hans kembali ke meja. Padahal bisa dibilang makanan yang dipesannya masih utuh.


"Kenapa tidak dimakan Moms?" Hans sedikit menunduk dan mengusap kepala Erika.


Usapan yang justru membuat mata Erika terasa memanas.


"Aku...kenyang..." suara Erika sedikit serak menahan tangis.


Hans memperhatikan ekapresi Erika baik - baik, lalu menghembuskan napas.


"Apapun asal kamu merasa senang, Moms."




"Kak Hans, i really need someone to talk to." Erika menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil. Erika diam sesaat untuk menyusun kata.


"Biasanya teman - temanmu konsultasi soal pernikahan ke kamu. Aku juga mau."


"Of course. Kamu juga temanku, sahabatku, istriku..." suara Hans sedikit bergetar.


Tak mungkin Hans tak menyadari apa yang berkecamuk di pikiran Erika. Mereka sudah terlalu lama bersama, tak ada satupun bisa disembunyikan.


"Andaikata suamiku menyukai wanita lain, apa yang harus aku lakukan? Andaikata, aku menemukan bukti, suamiku tak setia.....apakah aku harus pergi?.... Atau bagaimana?"


Lambat - lambat, Erika mengucapkan kata demi kata, matanya menerawang lurus ke jalanan yang masih ramai.


"Sebagai teman terbaikku, kakakku, sahabatku, menurutmu apa yang terbaik bagiku? Dan anak - anakku..."


Sampai Jumpa Di Episode Selanjutnya


Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara:


Like


Comment


Vote

__ADS_1


__ADS_2