
"Young and Dangerous"
Kata - kata itu seperti alarm dikepala Erika, berulang - ulang dan terus berdering untuk mengingatkan akan sesuatu. Sesuatu yang Erika sendiri tak mengerti apa itu.
Apakah ini karena Erika terbiasa berdagang sehingga dia tak suka dengan kekalahan? Ataukah karena ada sebab yang lainya?
Entahlah, yang jelas inilah yang dilakukan Erika saat ini.
Dia mematut dirinya di depan cermin. Lalu dia menyemprotkan face mist di wajah sebagai sentuhan akhir dari make up yang digunakannya. Penampilannya hari ini sangatlah sempurna.
Dia tak mau kalah dengan Clara di acara tahunan kantor malam nanti.
Sengaja dibelinya gaun dari salah satu butik ternama. Gaun warna navy polos dengan model sederhana tanpa banyak aksen, tapi sangat elegan dan cocok dikenakan Erika.
Erika pun tak segan mengeluarkan uang untuk sepasang sepatu yang cantik dan mahal. Meski memiliki heels, sepatu itu akan tetap nyaman digunakan untuk berdiri berjam - jam di acara nanti.
Sebenarnya Erika tak terlalu suka dengan barang - barang mahal. Tapi, bayangan rekan kerja suaminya yang cantik dengan outfit full branded from top to toe membuatnya berani membayar mahal demi menunjang penampilannya. Erika tak mau kalah dari Clara.
Hari ini dia harus tampil sebaik mungkin agar Clara tahu kalau tak ada celah untuk menggoda Hans.
Bahkan seharian tadi Erika sudah melakukan perawatan dari ujung rambut hingga ujung kuku di sebuah tempat perawatan ternama. Bahan - bahan yang digunakan adalah bahan yang berkualitas dan mahal. Inilah yang sering disebut - sebut sebagai ada harga, ada kualitas. Hasilnya sangat memuaskan, Erika nampak lebih berseri dari sebelumnya.
Erika bahkan sudah memutuskan untuk rutin melakukan perawatan disana, supaya nantinya masih terlihat cantik apabila usianya tidak muda lagi. Sungguh usaha yang tidak murah untuk terlihat terus cantik. Tapi selama tak mengganggu keuangan rumah tangga, why not?
Lagipula, penghasilan pribadinya lebih dari cukup kalau hanya untuk membiayai perawatan dan penampilannya. Biar bagaimanapun, pria adalah makhluk visual. Mereka biasa menilai wanita pertama kali dari penampilan fisik.
*****
Setelah selesai, Erika turun kebawah untuk menunggu mobil jemputan dari kantor. Diruang keluarga sudah ada Abigail dan Amanda sedang duduk manis dan siap untuk pergi ke acara tahunan perusahaan.
Erika mengeluarkan ponsel dan menghubungi Hans untuk memberitahu bahwa mereka sudah siap dan sebentar lagi akan berangkat ke tempat acara. Tidak lama, mobil jemputan dan sopir datang. Setelah berpamitan dengan asisten rumah tangga, mereka pun masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Anak - anak, jangan menyapa Uncle Johan dan Aunty Merry. Jaga sopan santun. Dan jangan bertengkar dengan anak - anak mereka." nasehat Erika pada anak - anaknya saat mereka sudah ada didalam mobil.
"Don't worry Moms." jawab Abigail sambil tersenyum manis.
"Oke, Mommy" Amanda mengangguk dengan patuh.
Erika tersenyum puas dengan jawaban anak - anaknya.
Tanpa terasa, mobil yang membawa Erika dan anak - anaknya telah sampai tujuan. Acara diadakan di gedung utama JM Group.
Erika dan anak - anaknya memasuki lobby. Tampak beberapa kenalan menyapa dan menggangguk sopan saat berpapasan dengan mereka.
"Abbey, Manda..." suara Hans terdengar mendekat.
Begitu sampai, Hans langsung memeluk serta mencium kening kedua puterinya. Senyum Erika mengembang, Hans sudah menghampiri dan menyambut hangat mereka. Sosok tinggi dan gagah itu memang masih tampan di usianya yang mendekati empat puluh tahun. Setelan informal warna navy dan rambut disisir rapi, membuatnya nampak beberapa tahun lebih muda.
Tapi sejurus kemudian, senyum Erika memudar. Ternyata ada seorang wanita muda dan berbahaya berdiri disebelah Hans. Dia adalah Clara. Seperti biasa, tampil cantik dengan balutan gaun warna navy indah yang sangat pas membalut tubuhnya.
Erika tahu, jika ini adalah acara tahunan dan siapapun bisa hadir asalkan memperoleh undangan. Warna baju yang senada pun bisa saja hanya kebetulan, bukan karena mereka berdua sengaja memakai pakaian couple.
Tapi, melihat mereka berdiri bersebelahan saat ini membuat hatinya merasa tak nyaman. Perlahan ada semacam api yang tersulut di dalam diri Erika dan membuatnya merasa panas.
Melihat perubahan raut wajah Erika, Hans segera menghampiri, dan berbisik lembut di dekat teling Erika. Dia tak mau merusak mood istrinya.
"You're perfect, Moms."
Selanjutnya, sebuah lengan kekar langsung melingkar dipinggang ramping Erika, menariknya mendekat dan sebuah kecupan ringan mendarat di dahi Erika.
Tak lupa Hans menggandeng Erika masuk kedalam menuju deretan kursi VIP. Erika melirik kearah jemarinya yang digandeng Hans, bibirnya membuat garis lengkung. Api yang tadi sempat memercik pun sedikit padam.
Tak seorang pun menyadari ada seorang Clara yang menatap dengan rasa iri dari belakang. Otaknya mereka - reka berapa banyak uang Hans yang dihabiskan oleh Erika untuk penampilannya malam ini. Sedangkan dirinya harus bersusah payah bekerja untuk semua yang menempel di tubuhnya sekarang.
__ADS_1
Kemudian datanglah pemilik perusahaan dan istrinya yang datang menghampiri Erika dan anak - anaknya. Mereka memperlakukan Erika begitu ramah dan hangat, terlihat seperti kerabat dekat. Semua ini tak luput dari perhatian Clara.
Bagi Clara, Erika adalah benalu. Baik harta maupun kehormatan yang didapatnya sekarang adalah karena Hans. Beruntungnya Erika, bisa mengenal Hans lebih dulu darinya. Andai saja, dirinya bertemu Hans lebih cepat, sudah pasti dia yang akan berdiri disana. Dikelilingi kehangatan dan dilimpahi "kesenangan".
*****
Hari makin larut, akhirnya sampai juga pada penghujung acara yaitu penghargaan kepada karyawan terbaik.
Clara termasuk salah satu calon penerima penghargaan, dan benar saja dia berhasil mendapatkan penghargaan karyawan berprestasi.
Tibalah saatnya Clara untuk menyampaikan pesan dan kesan, lalu akan diakhiri dengan session foto.
"Terima kasih kepada partnerku, Kak Hans Sanjaya, yang selalu ada bersamaku, mensupport aku susah maupun senang. Dan sebagai bentuk apresiasi, saya berharap beliau mau maju untuk menerima penghargaan dan berfoto bersama. Karena penghargaan ini bukan milik saya saja. Tapi milik kami karena kita adalah team work."
Dada Erika bergemuruh saat mendengar permintaan Clara. Ia sangat berharap Hans menolak permintaan Clara. Tapi sepanjang Erika mengenal Hans, tak mungkin Hans mempermalukan orang lain dengan menolaknya didepan umum. Apalagi jelas - jelas permintaan ini dikaitkan dengan konteks pekerjaan.
Erika hanya berdoa memohon dan berharap Hans memahami perasaannya. Seandainya saja, Hans menerima ajakan untuk foto berdua dengan Clara, maka bisa dipastikan Erika marah besar.
Bersambung...
Sampai jumpa di Bab 8
Owalaaaa... Clara, modusmu banyak banget 🤕😖
Tolong terus dukung Author supaya terus bersemangat menulis dengan cara
Like
Comment
Vote
__ADS_1
Dan jangan lupa favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap kali update.