
"Apa kamu tidak merindukan anak - anakmu?" tanya Kak Johan padaku.
Tahu kemana arah pembicaraan kak Johan malam itu, aku bergeming. Kak Johan menghampiriku, dia memeluk bahkan mencium keningku seolah ingin menyalurkan kekuatan.
"Kamu boleh menangis, marah bahkan memaki sekalipun. Lampiaskan semuanya. Tak perlu selalu terlihat semua baik - baik saja. Setelah itu kembalilah kepada anak - anakmu. Mereka merindukanmu. Apalagi Aaron, dia sangat membutuhkanmu." Kak Johan menasehatiku.
Pelupuk mataku terasa memanas, aku tak ingin menangis tapi aku mengakui kalau seharian tubuhku terasa berat dan perasaanku sesak. Aku bahkan merasa ling lung.
"Bukan untuk Hans, tapi demi anak - anakmu. Berbesar hatilah." lanjut kak Johan saat melihatku tak menjawab.
"Kak Johan tak suka aku ada disini?" tanyaku pelan.
Padahal aku tahu pasti, tak ada yang lebih mengharapkanku untuk tinggal dirumahnya selain kak Johan. Tapi, kali ini perasaanku masih terlalu sensitif.
"Oooo... bukan seperti itu. Kamu tahu bagaimana aku menyayangimu. Aku tak pernah keberatan. Bahkan kalau kamu mau, kamu bisa bersamaku selama yang kamu inginkan. Tapi aku akan lebih senang kalau kamu bersama anak - anakmu." Kak Johan berkata lembut sambil mengelus kepalaku. Umur berapapun dan setua apapun diriku, baginya aku tetaplah adik kecilnya.
Memang aku selalu tampak baik dan tegar dari luar sana, tapi ada badai yang terus mengamuk didalam hatiku. Ada rasa tak puas yang diam - diam terus memberontak.
Jujur didalam lubuk hatiku yang paling dalam, ada perasaan tak terima karena tak ada hukuman apapun untuk Clara. Dia jelas - jelas bersalah dengan menggoda suami orang tapi dia menyelesaikan semuanya hanya dengan satu kata yaitu maaf. Cih... bahkan aku tak yakin kalau maafnya itu tulus dari hatinya. Kalau hanya dengan kata maaf semua masalah bisa diselesaikan, apa gunanya polisi?
Setidaknya aku ingin dia mendapat sanksi sosial, aku tak mau hidupnya baik - baik saja setelah ini.
__ADS_1
Bagiku semua ini sangat tak adil. Dia melenggang dan melanjutkan hidupnya seolah tak terjadi apa - apa. Sedangkan aku? Seharian ini aku menyimpan bara di dalam hati, yang kututup dengan bersikap baik - baik saja.
Tak seorang pun mengerti bagaimana rasanya melalui hari - hari dimana aku hidup antara ya dan tidak. Sebentar merasa lega dan berikutnya berubah menjadi curiga.
Ada rasa tak nyaman yang selalu menghantui sehingga aku merasa harus waspada. Tak ada lagi rasa tenang, apalagi percaya pada suamiku. Aku berperang melawan bayangan dan kekuatiranku.
Waktu itu yang ada di dalam angan - anganku adalah mendapatkan bukti lalu melemparkan semua bukti itu ke wajah suamiku. Selanjutnya akan kupermalukan wanita itu didepan semua orang hingga dia tak sanggup menghadapi dunia.
Insting seorang istri biasanya benar, bukti yang aku tunggu - tunggu muncul begitu saja didepan mataku. Seharusnya aku merasa menang dan bersorak atas keberhasilanku dalam membuktikan perseling***an suamiku. Yes, he is cheating!
Oh, ternyata yang terjadi sebaliknya. Tak ada kepuasan dan tepuk tangan. Aku tak merasa menang sedikit pun, sebaliknya aku hancur.
Rencanaku semula adalah aku akan menyeret kedua orang itu ke hadapan Kakakku. Dia yang pernah berkata bisa menjamin kesetiaan suamiku, dia pula orang pertama yang harus tahu. Biarlah kakak kesayanganku menghajar suamiku yang tak tahu diri itu. Selain itu, aku tahu kakakku akan dengan senang hati menghancurkan hidup wanita tak tahu malu itu dengan membuatnya tak bisa bekerja dimanapun.
Sesaat aku merasa jantungku berhenti berdetak. Sungguh konyol! Tak mungkin hidupku berakhir hanya karena hal seperti ini. Benar saja, detik berikutnya kurasakan jantungku berdentam tak beraturan, dan tanganku bergetar hebat.
Seketika semua rencana buruk yang ada di kepalaku sirna, menguap, luruh bersama tubuh dan tenagaku. Untunglah, sisa - sisa kesadaranku mengingatkan ada anak - anakku sedang menungguku di ruang makan. Dan mungkin saja si kecil Aaron menungguku untuk menemaninya tidur.
Semoga saja, apa yang aku lihat barusan hanya halusinasiku saja. Begitu sampai bawah, Aaron menyambutku meminta gendong. Pelukan jagoan kecilku terasa hangat dan nyata. Aku langsung sedih, semua percakapan dan video yang aku lihat tadi adalah nyata. Aku gagal menipu diriku sendiri.
Selanjutnya, celotehan Abbey dan Manda terasa bagai dengungan lebah ditelingaku. Pikiranku terus mencari keputusan terbaik yang harus aku lakukan. Tapi semuanya terasa rumit. Hanya satu yang aku putuskan sementara itu, yaitu tidak ada yang boleh berubah dalam kehidupan anak - anakku. Mereka harus bahagia.
__ADS_1
Mempermalukan Clara sama artinya dengan membongkar aib Ayah dari anak - anakku. Nama baik anak - anakku pun akan ikut tercoreng.
Melihat anak - anakku masuk ke kamar masing - masing, hatiku kembali memberontak. Kali ini aku menyalahkan diriku yang terlalu lamban.
Andai saja dari awal aku sudah menyuruh kak Hans untuk memecat Clara, semua akan baik - baik saja.
Kenapa tidak dari awal aku bersikap terang - terangan membenci Clara? Dan bukankah aku berhak untuk melarang kak Hans melakukan apapun yang berkaitan dengan Clara Seharusnya aku langsung menghajar kak Hans dan Clara saat tahu nomorku diblokir? Mengapa aku tidak melarang kak Hans mengerjakan proyek Mr. Lim? Tak peduli dia customer VIP, toh menolaknya tak akan membuat kami miskin.
Yang membuatku paling menyesal adalah aku tidak pernah sungguh - sungguh melarang kak Hans. Mungkin saja kalau aku lebih menekan dan sedikit mengancamnya, semua ini tak akan terjadi.
Pada akhirnya, aku merasa Tuhan tak adil. Setelah dua dekade tumbuh dewasa bersama suamiku, setia melayani, menghormati dan mencintainya dengan segenap hatiku, ternyata Tuhan malah mengijinkan semua ini terjadi pada keluargaku.
Aku tak pernah berdoa dan memohon untuk menjadi orang kaya dengan harta berlimpah. Bagiku, cukup keluarga yang sehat dan bahagia. Lalu kami akan menua bersama. Apa permintaanku terlalu banyak?
Kesalahan sebesar apapun itu, dengan mudah bisa kumaafkan. Tapi sebuah pengkhianatan?
Kalau menuruti harga diri dan perasaanku, sudah tentu jawabannya, aku tak akan pernah mau lagi bersamanya. Lagipula, melihatnya akan selalu mengingatkanku pada Clara dan kesalahannya.
Mengenai anak - anakku, kalau boleh sombong, tanpa suami pun, aku masih sanggup membesarkan anak - anakku.
Tapi sekali lagi kak Johan mengingatkan padaku, "Percayalah, Rika. Dalam kehidupan nyata, reputasi adalah segalanya. Apalagi hubungan Hans dan Clara tak sampai sejauh itu."
__ADS_1
Disaat hati ingin memaki dan mulut ingin mengumpat, tapi ada hati anak - anak yang harus dijaga. Aku memilih menjauh sebelum aku membuat keputusan yang salah.
Sampai jumpa di episode selanjutnya....