Your Officemate

Your Officemate
43. Berbohonglah Yang Pintar


__ADS_3

Aku merasakan lengan kokoh itu menarikku mendekat padanya, lalu mendekapku erat. Dekapan yang dulu selalu memberiku rasa hangat dan nyaman. Tapi, hari ini semua terasa berbeda.


Sedari awal aku bertemu dengan Clara, ada rasa tak nyaman di hatiku. Berkali - kali perasaanku terombang - ambing. Sesaat tingkah Clara membakarku, disaat yang sama perlakuan kak Hans memadamkan bara yang ada di hatiku. Perasaan antara ya dan tidak selalu menghantuiku.


Tapi, ada yang aneh dengan hatiku. Sikap kak Hans yang baik terhadapku itu tak juga membuatku merasa nyaman setiap melihat interaksinya dengan Clara. Makin hari justru terasa makin tak nyaman.


Hingga hari itu, aku menemukan nomerku diblokir. Aku sangat marah. Tapi lagi - lagi, aku terbentur pada kenyataan kalau semua ini hanyalah dugaan. Tak ada bukti nyata yang menunjukkan hubungan mereka.


Setulus apapun aku mencintainya, ada rasa tak rela membaginya dengan siapapun. Akhirnya aku memutuskan untuk menyelidiki ponselnya. Hasilnya? NOL....


Berharap dia akan berhenti sebelum aku menemukan buktinya, lalu aku terang - terangan menunjukkan kecurigaanku. Aku berjanji akan merelakan semua ini berlalu andaikata tak menemukan apapun.


Aku akan melupakan semua "tingkahmu" ini, anggap saja aku yang berprasangka.


Namun tak ada kejahatan yang sempurna, lagi - lagi sebuah bukti tak kasat mata disodorkan di hadapanku.


Kemarin tiba - tiba Vania muncul lagi, disaat aku hampir melupakan soal ceritanya mengenai Mama Clara. Dan kedatangannya kali ini sungguh membuat jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya.


"Apa benar kamu bertengkar dengan Clara?" Vania membuka percakapannya dengan pertanyaan itu.


"Kenapa setiap kali kamu datang selalu membicarakan tentang dia?" Enggan menjawab, aku balik bertanya.


"Terus terang, Mama Clara yang menyuruhku datang menemuimu..." Vania menggantung ucapannya.


"Untuk?"


"Yaaah...untuk berdiskusi denganmu." Vania berkata sambil menghembuskan napas.


"Soal apa?"


"Soal Clara, siapa lagi?" sahutnya kemudian, sambil mengangkat bahu.


Benar juga, tak mungkin Mama Clara punya kepentingan denganku selain soal anaknya. Perasaanku langsung tak enak, pening dan mual mendadak menyerangku. Andai saja bisa memilih, aku akan skip bagian ini. Aku sedang tak ingin mengetahui apapun, apalagi soal Clara.

__ADS_1


Sayangnya, Vania masih terus melanjutkan ceritanya.


"Mama Clara ingin aku memohon maaf darimu. Tolong, jangan diperpanjang lagi masalah kalian. Bukankah Clara sudah dipecat. Lagipula dia juga sudah bekerja ditempat lain. Apa kamu belum puas bermusuhan dengannya?"


Mataku terbelalak lebar, kenapa disini seolah - olah dia korbannya, dan bukan aku. Clara benar - benar pintar memutar balikkan fakta.


"Maksudmu masalah apa? Dari dulu aku tak punya masalah dengan Clara. Dia yang bertingkah, eeeh dia juga yang merasa - rasa sendiri." Aku benar - benar tak tahan untuk tidak membantah omongan Vania.


"Mmm... yaaaa...maaf, aku hanya menyampaikan saja." Vania merasa tak enak.


"Kalau ini pertanyaanku pribadi, terus terang aku tak percaya kamu akan bertindak sejauh ini." Vania melanjutkan.


"Apa itu?" Aku bertanya setenang mungkin.


"Apa benar kamu mengatakan pada Clara, kalau kamu menyatakan perang dengannya."


OH!!! Rasanya dunia berhenti, hatiku hancur. Saat itu juga, aku yakin kak Hans sudah berkhianat.


Aku tahu pasti, Vania tak akan berbohong. Pernyataan perang itu hanya aku ungkapkan didepan kak Hans. Antara aku dan dia. Bagaimana mungkin ada orang luar yang mengetahuinya? Jawabannya, sudah pasti mereka masih berhubungan.


"Vania bohong." jawabnya pendek.


Hanya dua kata itu yang aku dapatkan saat meminta penjelasan darinya.


"Tak mungkin Vania bohong, karena dia tak tahu menahu kalau aku mengenal Clara sebelumnya." desakku pada kak Hans yang sedang berbaring ditempat tidur.


Aku ingin semua ini segera menyelesaikan kekalutanku.


"Aku tak pernah berhubungan dengan Clara sejak dia keluar dari perusahaan." Kak Hans menjawab sambil memejamkan matanya.


Sekali lagi, ada yang rontok dari dalam hatiku. Tanganku terasa dingin, kenapa bohong kalau memang tak ada sesuatu yang disembunyikan.


Aku ingin sekali bisa memaksa kak Hans untuk membuka mulutnya, dan bercerita lebih banyak. Tapi aku tak berdaya.

__ADS_1


Sambil memejamkan matanya, dia menarikku untuk rebah kedalam pelukannya. Diusapnya lembut punggungku, diciumnya kening dan pipiku.


Pelukan dan ciuman saat itu rasanya seperti mencekik leherku, aku tak bisa bernapas.


"Orang bilang, detak jantung orang yang berbohong akan lebih cepat dari biasanya." kataku lirih, sambil menempelkan telingaku didadanya.


Tak ada jawaban. Matanya terpejam makin erat, tapi aku tahu dia tidak tidur.


Sekali lagi, aku memandangi wajah kak Hans lekat - lekat, berusaha menerka apa yang ada didalam pikiran dan hatinya.


Dulu aku mencuri dengar saat kak Johan menceritakan tentangmu pada Papa, perasaan pertama yang terbersit hanya satu yaitu kasihan. Kemudian hatiku terenyuh membayangkan hidupmu yang seorang diri sebagai yatim piatu. Aku bahkan memikirkan, siapa yang akan mengurusmu kelak. Ternyata perasaan itu tumbuh menjadi cinta.


Tanpa sadar, tanganku terulur menyentuh pipi dan rahangnya.


Aku memang sangat mencintai dia. Tapi memohon untuk dicintai, itu bukan aku. Cinta itu tentang perasaan dan datangnya dari hati. Aku tak akan bisa memaksamu untuk terus mencintaiku. Lebih tepatnya, aku tak mau memaksamu mencintaiku.


Meski hatiku pedih, aku menunduk dan mencium kening serta kedua pipi kak Hans.


"Kak Hans, hanya satu yang aku mohon pasamu. Berbohonglah yang pintar, supaya aku tak pernah tahu apapun. Dengan tak mengetahui apapun, aku tak akan merasa sakit hati. Dan aku akan lebih mudah memaafkanmu." kataku padanya sebelum keluar dari ruangan itu.


Tak ada reaksi apapun darinya, tapi aku tahu dia mendengarku. Bagiku, sudah cukup.


Tak usah marah - marah atau memakinya. Tak perlu ada teriakan, tak perlu juga bersitegang ataupun bertindak barbar. Harga diriku melarangku melakukan semua itu. Karena kalau memang cinta itu untukku, maka dia akan menemukan jalannya untuk kembali.


Sampai jumpa di episode selanjutnya


Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara


Like


Comment


Vote

__ADS_1


Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.


__ADS_2