
Detik terus berjalan, menit pun berlalu. Mata Erika melihat berulang - ulang pada gambar batere dipojok kanan layar ponsel. Diingatnya lagi kata - kata Hans tadi dimobil. Apakah dirinya salah ingat? Ataukah salah dengar. Sepertinya tadi Hans bilang kalau ponselnya kehabisan batere. Tapi, dilayar tertulis 48% dan angka itu tak berubah dari tadi.
Saat Hans dan anak - anak sedang berlatih, Erika duduk menunggu. Ah, salahkan saja tangan Erika yang sudah iseng membuka HP Hans. Akibatnya, sekarang dirinya jadi serba salah. Mau bertanya, takut dituduh tak percaya pada suami. Tak bertanya, ada yang mengganjal dihati.
Akhirnya, Erika hanya bisa melihat baik - baik wajah Hans yang sedang berlatih bersama anak - anaknya. Berharap menemukan sesuatu dari mata dan ekspresi Hans.
"Apa apa dengan kak Hans?" batin Erika terus bertanya. Otaknya terus meruntut, mulai dari kejadian Hans baru sampai dirumah tadi, lalu membentak anak - anak hingga adegan fast and furious dijalanan tadi.
Ups!! Baru saja layar ponsel di genggaman Erika meredup, tahu - tahu sebuah notifikasi muncul. Pemberitahuan dari sebuah aplikasi media sosial milik Hans.
"Clara tagged a photo of you"
Reflex jari Erika menyentuh notifikasi itu.
Astaga! Nampak foto Hans dan Clara di sebuah ruangan rumah makan tertentu. Tidak, jangan salah sangka dulu. Foto itu bukan foto berdua saja, tapi berempat. Ada Hans, Mr Lee, Clara dan seorang lagi yang tak dikenal oleh Erika.
Seharusnya tak ada yang perlu dicurigai dari foto itu. Hanya sebuah foto usai makan bersama. Posenya pun biasa, hanya berdiri. Lalu, apa yang membuatnya terasa janggal?
Mungkinkah karena tanggal serta jam yang tertera di foto itu adalah hari ini? Ataukah ada hal lain yang Erika tak tahu?
"Apakah ini ada hubungannya dengan sikap Kak Hans pulang kerja tadi?" (Erika)
Erika menghembuskan napas pelan, sambil mengamati foto yang terpampang di halaman aplikasi itu. Baju yang dipakai Hans di foto itu sama dengan yang dipakai Hans saat ini. Lalu....
"Apa ini!" Ingin rasanya Erika berteriak sambil menghentakkan kaki.
Caption yang tertera dibawah foto adalah "It's not a good bye. It's a beginning" disertai emoticon cium. Tulisan itu terasa seperti menari - nari dan mengejeknya.
Erika hanya bisa menertawakan dirinya sendiri. Bisa saja dirinya yang baper. Jangan - jangan dirinya sudah gila. Sebentar merasa begini, sebentar merasa tak mungkin begitu.
Malangnya, tangannya tak bisa berhenti mengutak utik ponsel Hans. Lalu dilihatnya list history pemberitahuan.
"Clara sent you a friend request"
Buru - buru Erika membuka list pertemanan. Dan, benar ada nama Clara disana. Rasanya ada yang menonjok ulu hatinya, mual.
__ADS_1
Bahu Erika meluruh, dan energinya menguap. Mendadak dirinya merasa lelah. Tapi, suara hatinya terus bertalu - talu dan memaksanya untuk berpikir.
Sepanjang dia mengenal Hans, sekali dia membenci seseorang. Tak mungkin dia mau bertemu atau melihatnya. Bahkan menghirup udara di ruang yang sama pun dia enggan. Belum lama Hans bilang benci Clara, eeh...sekarang malah dia berteman dengan Clara. Meski hanya di media sosial, ini sungguh bukan Hans.
Yang terpenting dari semua itu adalah Hans tak memberitahunya sedikit pun. Baik soal makan malam, atau bersama siapa dia hari ini.
"Mommy..." sapa Hans usai berlatih.
Wajah Hans sudah kembali seperti biasa. Dia berjalan kearah Erika dan kedua tangannya direntangkan. Berharap Erika menghambur kepelukannya seperti biasa.
Buru - buru Erika memencet tombol back dan menyilang aplikasi facebook yang tadi dibukanya. Dia tak mau Hans merasa dicurigai. Lagipula, foto makan malam bersama bukanlah sebuah bukti apapun. Dan soal caption, belum tentu caption itu ditujukan untuknya kan?
"Sudah selesai Kak?" Meski perasaannya belum lega sepenuhnya Erika berusaha tersenyum seperti biasa. Dipeluknya Hans sekilas.
"Sebentar lagi, Moms. Tunggu anak - anak. Kamu capek?" suara Hans begitu lembut. Berbeda sekali dengan tadi saat mereka berangkat kemari.
"Aku tak masalah, Kak. Tapi tadi kak Hans langsung kesini, dan belum makan malam. Apa kak Hans tidak lapar?" Erika bertanya, berharap Hans tadi hanya tak sempat bercerita.
"Aku tak lapar. Ayo pulang, Moms." Hans berdiri dan langsung menggandeng Abbey dan Manda keluar studio.
Dan, untuk kesekian kalinya, Erika berdoa semoga Hans mau menjelaskan sesuatu.
"Belum makan, Moms. Tapi perutku terasa full hari ini."
"O'ya??" teriak Erika dalam hati.
Hans melihat perubahan raut wajah Erika. Disingkirkannya rasa bersalah yang sempat hinggap di hati.
Sama seperti perjalanan menuju studio tadi, perjalanan pulang kali ini pun suasananya kembali sunyi. Bedanya, situasi sudah tak tegang seperti tadi. Hans pun mengendarai mobil dengan kecepatan normal.
Sampai dirumah, Erika bertanya sekali lagi.
"Kak Hans, kamu sudah makan malam? Kalau belum, ayo aku temani."
"Tak usah, Moms. Aku belum makan, tapi perutku lagi tak enak. Mau langsung tidur saja."
__ADS_1
Kecewa? Jelas! Semua itu tergambar jelas diwajah Erika. Kecewa karena merasa dibohongi.
Erika diam, berjalan menuju kamar. Ekspresinya berubah menjadi dingin.
Hans menyusul Erika kekamar, sejenak matanya mengamati Erika yang sedang memakai skincare setelah membersihkan badan. Tapi hanya sampai situ. Selanjutnya, dia duduk di tepi tempat tidur. Tangannya malah sibuk mengutak atik ponsel. Tak tahulah apa yang dilakukannya. Erika melihat semua kelakuan Hans dari cermin besar dihadapannya.
Setelah menyelesaikan rutinitas malamnya, Erika langsung merebahkan badannya di tempat tidur. Aktivitas hari ini sama seperti hari - hari sebelumya, tapi rasanya dua kali lipat lebih lelah dari biasanya.
Baru saja Erika terlelap, pelan - pelan ada sebuah tangan kokoh menyusup dipinggangnya. Erika terbangun, tapi tetap memejamkan mata. Enggan bersuara, apalagi bertanya.
"Mommy..." bisik Hans sambil mengguncang lembut tubuh Erika. Hans tahu Erika terbangun.
"Mommy, aku mau cerita." Hans menarik tubuh Erika merapat. Dipeluk dan diciumnya tengkuk Erika, menghirup aroma tubuh Erika yang disukainya.
Akhirnya, Hans bercerita bagaimana menyebalkannya hari ini. Mulai dari Clara "sabotase" customer. Menelpon semua customer diluar kota dan luar pulau. Dan juga tentang Clara yang bekerja ditempat Mr. Lim saat ini. Semua diceritakan oleh Hans. Tapi cerita yang ditunggu - tunggu oleh Erika tak muncul juga. Tidak ada cerita soal pertemuan dengan Mr. Lee, apalagi acara dinner.
"Jadi, kamu hari ini kamu bertemu dengan Mr. Lim untuk menyelesaikan masalah?" Pertanyaan yang tadi sempat ditahan, meluncur juga dari mulut Erika.
"Tidak. Aku belum bertemu Mr. Lim."
Nyeri! Itulah yang terasa.
"Kamu benar, Clara. It's a beginning" kata Erika dalam hati.
Hans... Hans, taukah kamu? Saat seorang istri bertanya, bisa jadi sebenarnya dia sudah tahu faktanya....
Sampai jumpa di episode selanjutnya
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
Vote
__ADS_1
Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.