
Game terakhir, setelah makan siang. Mereka dibagi menjadi beberapa tim, dan sialnya Hans lagi - lagi satu tim dengan Clara. Setiap tim akan mendapatkan peta sederhana supaya tidak tersesat. Tugas mereka adalah menemukan sandi sebanyak - banyaknya yang sudah disebar di beberapa tempat.
"Target kita adalah menang kak Hans. Aku tak suka kalah." cetus Clara.
Dari sepak terjang Clara, Hans sudah bisa menilai Clara. Dibalik wajah cantiknya, tersimpan jiwa kompetitif yang luar biasa. Dia bukan tipe wanita yang mudah ditundukkan. Dan semua orang harus tunduk padanya.
Abbey dan Amanda tak mau berbicara sepatah katapun. Jelas tergambar di wajah mereka, bagaimana mereka muak dengan tingkah Clara.
"Pertama kita harus menentukan arah" Clara membuka peta.
"Kesini kak Hans!" Clara menarik tangan Hans masuk menuju hutan.
Hans tak mau anak - anaknya berpikiran buruk. Dia mengibaskan tangannya supaya Clara menjauh. Hans belum lupa kata - kata Abbey saat Clara jatuh tadi. Abbey bahkan mengancam Clara supaya tidak jatuh cinta pada Daddy-nya. Apakah sejelas itu kelakuan Clara sampai anaknya yang masih "kecil" bisa merasakannya.
Tapi Clara tak peduli, dia terus menempelkan tubuhnya kepada Hans. Jarak yang hampir tak ada diantara mereka, membuat Hans bisa merasakan bagaimana hangat tubuh Clara dari balik kain yang menutupi tubuh mereka. Harumnya yang lembut mengusik indera penciumannya.
"Banyak ranting, aku takut tersandung dan jatuh. Manatau ada jurang, bagaimana kalau aku terperosok?" rengeknya.
"Lain kali, ga usah ikut outbond Tante. Merepotkan saja." Abbey menyahut ketus.
"Kak Hans, kalau kearah sana pasti gelap. Aku kuatir kita tersesat." Clara tak mempedulikan Abbey.
Padahal tadi dia bilang harus menang, sekarang takut masuk hutan. Dasar Clara!
"Daddy, aku mau kita pulang sekarang." Abbey terdengar sangat marah. Abbey sudah tak tahan melihat kelakuan Clara yang terus menempel pada Daddy-nya. Sungguh menjijikkan.
"Kak Hans, anakmu yang itu terus memusuhiku" Clara mengadu dengan tampang sedih
"Tante, lawanmu adalah aku. Jangan goda Daddy. Mommy terlalu baik untuk melawanmu. Lagian ga level kalau Mommy harus melawan orang sepertimu" Kata - kata Abbey pedas menusuk, baik Hans maupun Clara.
Hans merasa mendapat peringatan juga dari anaknya. Abbey yang kritis dan sudah pra remaja, begitu pintar membaca situasi dihadapannya. Berbeda dengan Amanda yang pendiam.
"Maaf Daddy, aku tak mau menang di game ini. I want to win you for my Moms. Let's go home." tegas Abbey memandang lurus ke mata Hans. Matanya bulat penuh tekat.
Hans tahu benar anaknya sedang marah.
"Tapi kak Hans, kita belum selesai. Aku tak mau kalah." rengekan Clara terdengar lagi.
Hans bimbang. Di satu sisi, dia tahu kenapa Abbey tak menyukai Clara. Disisi lain, apakah baik meninggalkan outbond setengah jalan. Belum lagi rengekan Clara.
__ADS_1
Namun, jantungnya serasa digedor oleh kata - kata Abbey. Anaknya seakan memperingatkannya untuk tak jatuh dalam godaan Clara.
"Maaf, aku pulang." akhirnya Hans memutuskan meski ada rasa tak tega melihat wajah memelas Clara.
*****
Berkali - kali chanel TV diganti, tak ada yang benar - benar ditonton oleh Hans. Hanya duduk di sofa, tangannya sibuk mengganti chanel TV. Entah acara TV apa yang dicarinya.
Hans sudah mengambil cuti dan memutuskan work from home beberapa waktu ke depan.
"Mau kupijit kepalamu kak Hans?"
"Mommy?" Hans menggeser duduknya dan menepuk tempat kosong disebelahnya. Erika mendekat, Hans langsung memeluk sambil tangannya mengelus lembut perut Erika.
"Baby, beberapa hari lagi kita ketemu." bisik Hans sambil menepuk pelan perut Erika dan disambut dengan gerakan - gerakan yang sangat aktif.
Mulut Hans memang tertawa saat bermain - main dengan perutnya, tapi matanya tak ikut tersenyum. Membuat Erika merasa ada yang sedang dipikirkan oleh Hans. Apakah dia tertawa karena senang bermain dengan anaknya? Ataukah tertawa untuk menutupi apa yang ada didalam otaknya?
Lalu Hans merebahkan kepalanya di paha Erika, menciumi perutnya sambil mengajak bicara calon bayi mereka.
"Kau tidak apa - apa?" tanya Erika.
"Tentu saja aku tak kenapa - napa. Kenapa pertanyaanmu begitu?"
"Maksudku, apa ada yang ingin kau ceritakan? Ada sesuatu yang membebani pikiranmu?"
Erika merasa Hans memilih work from home setelah outbond karena ingin menghindar dari Clara. Abbey dan Manda sudah menceritakan semuanya pada Mommy mereka.
"Apa dia menyukaiku?" tanya Hans setelah hening beberapa saat.
DEG! Apakah pertanyaan ini menyiratkan harapan? Ataukah hanya sekedar penasaran? Ada rasa tak enak menyelusup dihati Erika.
"Aku tak tahu, kak Hans."
Leher Erika terasa kering, rasanya menyesal mengajukan pertanyaan tadi. Kalau saja bisa diputar ulang, mungkin Erika tak akan menanyakannya apa isi pikiran Hans.
Terlanjur bertanya, apa boleh buat. Terpaksa Erika mengaktifkan mode sahabat demi suaminya. Ya. Itu adalah pilihan yang terbaik saat ini. Sebagai sahabat, bukankah kita tak akan sakit hati saat mendengar teman kita bercerita kalau dia menyukai orang lain?
"Ups... menyukai orang lain?" Lancang sekali otakku ini. Maki Erika dalam hati.
__ADS_1
"Menurutmu bagaimana kak Hans?" ditepisnya jauh - jauh rasa nyeri yang sempat hinggap.
Sekarang adalah waktunya menyiapkan hati untuk mendengar apapun itu. Erika berulang kali memperingatkan telinganya untuk lebih banyak mendengar, dan mulutnya untuk lebih sedikit berbicara.
"Tak mungkin Clara menyukaiku Moms. Kamu tahu? Banyak pengusaha muda dan kaya rela antre untuk sekedar kencan dengannya. Gaya hidupnya glamour. Tak mungkin dia memilihku yang hanya seorang Asisten Direktur. Aku tak akan mampu memenuhi gaya hidupnya."
Malangnya, suara Hans terdengar tak bersemangat. Dan lebih mirip dengan keluhan.
"Dia bahkan terang - terangan ngomong tak mungkin jatuh cinta padaku yang tua dan kolot." lanjut Hans. Dia duduk di sofa dengan bahu melorot.
Bayangkanlah, orang yang kamu cintai justru sedang bercerita tentang orang lain. Dan sepertinya dia menyukai orang dalam cerita itu.
"Apa kamu menyukainya kak Hans?"
Wow!! Ingin rasanya Erika berdiri dan bertepuk tangan untuk dirinya sendiri. Tak pernah membayangkan kalau dirinya akan mengajukan pertanyaan seperti itu kepada suaminya.
"Haha... aku tak menyukainya, apalagi mencintainya." jawab Hans sambil tertawa sumbang.
"Kalau suatu hari aku mau bersamanya, bisa kupastikan itu hanyalah nafsu." Hans menengadahkan kepalanya sambil menghembuskan napas.
Erika tak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Haruskah dia lega, marah, sedih, kecewa atau bahagia?
Yang pasti, ada bahagia dan juga sedih. Bahagia karena suaminya berkata kalau dia tak mencintai wanita itu. Tapi, Erika juga sedih. Sebagai sesama wanita apakah serendah itu memandang Clara.
"Apakah kak Hans mulai tertarik pada Clara?"
******
Bersambung...
Sampai jumpa di episode selanjutnya
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
Vote
__ADS_1
Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.