
Hans mengetuk - ngetukkan jari dimeja kerjanya, otaknya sedang berpikir. Setelah percintaan mereka semalam, dia baru menyadari ada yang berbeda dengan tubuh Erika.
Hans berdehem dalam hati karena sejak pagi pikirannya tidak fokus ke pekerjaannya.
Hans tak tahu apa yang salah. Yang jelas ada perubahan - perubahan ukuran pada bagian tertentu tubuh Erika. Apakah ini karena Erika yang akhir - akhir ini rajin senam pembentukan tubuh. Ataukah kecurigaannya benar? Tapi kenapa Erika tak berkata apa - apa padanya? Ataukah Erika tak menyadarinya seperti yang lalu - lalu.
Hans teringat bagaimana saat dia meremas dada dan tubuh bagian belakang Erika tadi malam. Terasa dua kali lipat lebih besar dan berisi.
"Lagi mikirin siapa? Mikirin aku ya?" tanya Clara dengan penuh percaya diri sambil berdiri di depan meja Hans.
"Sudah kubilang ketuk pintu sebelum masuk!" Hans mengomel karena merasa tertangkap basah sedang melamun.
"Aku sudah mengetuk pintu, tapi kamu saja yang tidak mendengar. Aku melihatmu tidak sedang melakukan apapun. Hanya memandangi tanganmu, apa tanganmu kram? Mau kupijit?" Clara menawarkan bantuan sambil menunjuk tangan Hans yang seperti sedang memegang bola. Tapi tak ada benda apapun ditangannya.
"Eh?"
Hans sedikit gelagapan, melihat ke tangannya. Lalu matanya kembali ke arah Clara, tak lupa memasang wajah sok cuek. Betapa malunya, kalau ada yang mengetahui isi kepalanya. Membayangkan tubuh istrinya, dan mengira - ngira size-nya. Bisa - bisa dirinya mendapat julukan Atasan Mesum.
"Ada perlu apa?" tanya Hans begitu bisa menguasai dirinya.
"Nanti sore kamu ikut dinner rame - rame kan?"
"Tidak." jawab Hans singkat tanpa memberikan penjelasan apapun.
"Aaah...tak seru kalau tak ada kamu. Ayolaaah kak Hans, sekali kali tak apalah."
Hans tak menjawab, matanya sudah menatap tulisan yang tertera di dokumen yang ada di mejanya. Menyibukkan diri.
"Apa perlu aku mintakan ijin pada kak Rika?" Clara tak mau menyerah begitu saja.
"Kubilang tidak artinya tidak. NO!"
"Apaan sih? Memang kak Rika masih cemburu sama aku? Aku ini kan cuma anak kecil." kata Clara lagi.
"Anak kecil kok punya dada sebesar itu." Hans terkejut sendiri mendengar suara hatinya yang begitu kurang ajar memprotes Clara.
"Aku tak mau membuat istriku berpikiran jelek tentangmu. Jadi jaga sikapmu. Tidak usah berlebihan." Hans mendadak teringat kalau semalam dia berniat untuk menegur Clara.
"Siapa yang berlebihan? Tak salah? Bukannya istrimu yang berlebihan? Kita ini hanya teman, kenapa negative thinking? TE...MAN, not more." Clara berkilah, dia tak mau disalahkan.
Hans menghela napas. Memang benar mereka hanya teman dan rekan kerja. Apakah memang Erika yang berlebihan? Ataukah dirinya yang terlalu menuruti Erika? Sejujurnya, Hans hanya tak suka Erika merasa tersakiti.
"Intinya jaga sikapmu. Biar bagaimanapun antara pria dan wanita harus ada batasan. Kalau sudah tak ada keperluan lagi, kamu bisa keluar." Hans menyudahi karena malas berdebat.
"Lagipula, aku menyuruh Erika mampir kesini. Dan sebentar lagi dia datang. Aku tak mau dia melihatmu disini." lanjut Hans saat melihat Clara hendak membuka mulut.
__ADS_1
Ingin rasanya Clara menghentakkan kaki keras - keras karena lagi - lagi ERIKA. Tapi harga dirinya mengatakan untuk segera keluar dari ruangan itu. Terlebih karena Hans sudah mengusirnya tadi. Dia bertekad akan menunjukkan bahwa tak ada Hans pun, semua akan baik - baik saja.
"Baiklah, ini tanda terima kasih karena sudah support aku selama ini." Clara berusaha menutupi kekesalannya dengan senyum palsu.
Diletakkannya sebuah kotak yang sudah disiapkannya tadi. Kotak itu terbungkus rapi dengan kertas kado berwarna soft. Kemudian, dia langsung melangkah keluar dari ruangan Hans.
Ups... apa yang ditakuti Hans terjadi juga. Erika berpapasan dengan Clara yang hendak keluar ruangan. Seperti biasa, Erika begitu pandai menyembunyikan perasaannya. Dia hanya tersenyum sopan dan tak menampakkan ekspresi apapun.
"Permisi." kata Erika dengan tenang.
Tak disangka, satu kata permisi itu justru memancing Clara untuk meluapkan uneg - unegnya.
"Kak Rika, kenapa kamu tak menyukaiku? Aku dan kak Hans ini hanya teman dan rekan kerja. Jangan berprasangka dan mengira - ngira yang belum pasti." Clara langsung mengajukan protesnya ke Erika.
Erika tersenyum manis, dan tak berkata - kata. Namun senyum itu justru makin menyulut bara dikepala Clara.
"Kumpul - kumpul bersama teman atau nongkrong adalah hal yang wajar, Kak. Kenapa sih kamu terus mencurigai kami?"
"CLARA!!"
Mendengar suara Clara yang kian tinggi, Hans langsung keluar ruangan. Matanya seperti ingin menelan Clara hidup - hidup, padahal baru saja dirinya menegur Clara untuk menjaga sikapnya. Dan sekarang, tahu - tahu dia sudah nyolot didepan Erika.
Melihat Erika yang diam dan hanya tersenyum, membuat Hans merasa sungkan pada Erika. Dia merasa gagal mengatur staff-nya.
"Ayo Moms" Hans menggandeng tangan Erika.
Clara benar - benar ingin marah, tapi tak tahu apa yang harus dikatakannya. Kepalanya terasa panas dan beruap.
"Dasar tak sopan! Pasti kak Hans tak bahagia hidup bersamanya." omel Clara dalam hati sambil melangkah kembali ke ruangannya.
*****
Sementara itu di dalam ruangan Hans.
"Ada apa kamu menyuruhku kemari? Aku sibuk loh..." Erika pura - pura merajuk.
Erika berusaha mengabaikan kejadian barusan dengan Clara. Dia ingin membuat Hans terus merasa nyaman bersamanya. Lebih baik tak usah menyebut nama Clara daripada berbuntut sebuah perdebatan.
"Kemarilah!" perintah Hans sambil memberi kode kepada Erika untuk duduk di pangkuannya.
Erika mendekat dengan langkah tak yakin. Mungkinkah dia salah paham? Sejak kapan mereka bermesra - mesra dikantor?
"Kunci pintu, lalu duduklah" kata Hans lagi sambil menepuk pahanya.
Meski bertanya - tanya, Erika tetap melakukan perintah Hans.
__ADS_1
"Aku hanya ingin memastikan kecurigaanku" Hans memeluk Erika sambil tangannya berkelana kemana - mana, membuat Erika sedikit kegelian.
"Curiga apa?"
"Besar dan berisi", gumam Hans pada dirinya sendiri tapi terdengar sangat jelas karena Erika sedang duduk di pangkuannya.
BRAAKKKk!!!
Erika langsung berdiri sampai lututnya terantuk meja Hans.
"Hati - hati, Moms"
"Maksudnya aku gemuk? Jangan pernah bandingkan body emak - emak beranak dua dengan perawan, kak Hans. It's not fair." Erika langsung sewot tanpa mau mendengar penjelasan Hans.
Susah payah exercise dan perawatan membuat Erika sensitif terhadap kata gemuk. Apalagi dalam hati kecilnya, dia merasa insecure dengan Clara.
"Aku balik ke ruko saja, sampai ketemu nanti malam" omelan itu berakhir dengan Erika yang ngambek. Dia lebih memilih kembali ke ruko untuk mengurus beberapa pekerjaan di olshopnya.
"Eeeh....tunggu, aku antar saja." Hans merasa lebih baik mengalah dulu. Dia menunda untuk mengatakan kecurigaannya. Kuatir kalau kecurigaannya tak terbukti, bisa - bisa Erika makin ngambek berkepanjangan.
"Tidak perlu. Selesaikan saja urusanmu bersama Clara yang cantik dan langsing itu"
Rupanya Erika masih tersinggung dengan perkataan Hans.
"Clara cuma kasih souvenir Moms. Tak ada urusan apapun lagi." Hans berusaha menjelaskan, sambil menunjuk kearah bungkusan kado dimeja.
Wanita kalau sudah marah, akan selalu benar.
"Aku mau tau isinya." saking kesalnya, Erika langsung mengambil kado dan membukanya. Dalam hati, Erika berniat membakarnya tanpa sepengetahuan Hans.
Wow!!!
Begitu kado dibuka. Erika shock. Beda halnya dengan Hans. Kepalanya serasa mau meledak menahan amarah melihat selembar kain warna hitam tergeletak manis di dalam kotak hadiah itu.
"SURUH CLARA KESINI!!!!" Hans memencet extension ruang marketing dan langsung melempar amarahnya.
Sudah gagal rencana untuk memastikan kecurigaannya pada Erika, ditambah istrinya ngambek. Belum selesai urusan dengan Erika eeeh... ada kasus souvenir!
Biang kerok semua ini hanya satu, yaitu CLARA.
Sampai jumpa di episode berikutnya.
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
__ADS_1
Comment
Favorite