
"Please, Moms. Aku lapar sekali." bujuk Hans memelas.
Merasa diusir, Erika melangkah ke dapur dengan berat hati. Suasana pagi yang seharusnya bersemangat, berubah menjadi suram.
Selain menyiapkan roti isi smoke beef dan keju, Erika juga membuat secangkir teh herbal. Makanan siap, dan minuman pun sudah tersedia. Seharusnya, tak ada lagi alasan bagi Hans untuk mengusirnya.
Saking penasarannya, Erika berencana akan duduk manis menunggu Hans diruang kerja. Dia akan melihat sendiri kesibukan Hans pagi ini. Biarkan ART dan Suster Mimi yang mengurus rumah dan anak - anaknya.
Kalau dihitung - hitung, hampir 20 tahun Erika mengenal Hans. Tak mungkin Erika tidak menyadari ada yang lain dalam diri Hans. Sedikit saja perbedaan, Erika pasti langsung merasakannya.
Mulai dari Hans yang semakin sibuk dengan dirinya sendiri dan ponselnya, hingga caranya berbelanja. Dia sama sekali bukan Hans. Dalam hati, Erika bertekad untuk menyelidiki penyebab perubahan Hans.
Sayangnya, ekspektasi tak selalu sejalan dengan realita. Tak ada siapapun di ruang kerja Hans, dan meja kerja juga sudah bersih. Erika berdecak sebal. Perasaan tak sampai setengah jam dia mempersiapkan permintaan Hans. Sepertinya Hans memang mengajak main petak umpet.
Erika termenung di kursi Hans, dengan nampan dan makanan dihadapannya. Tak tahu harus bersikap bagaimana.
Klik...
Kondisi rumah yang masih sepi, membuat suara - suara terdengar lebih jelas. Dan, sepertinya suara itu berasal dari pintu utama.
Erika bergegas keluar dari ruangan Hans, ternyata seorang ART baru saja menutup pintu utama. Tak ingin menunjukkan kegalauannya, Erika segera menyuruh ARTnya menyingkir.
"Mbak, tolong ambil nampan berisi makanan diruang kerja Bapak. Letakkan saja dimeja makan. Saya panggil Bapak turun dulu."
"Lho, bukannya bapak sudah berangkat barusan? Saya barusan membuka dan menutup pintu untuk bapak."
Jantung Erika serasa meluncur masuk ke perut. Perutnya seperti diaduk. Hebat!! Hans pergi tanpa pamitan. Mungkin ini bisa dijadikan sejarah terbesar dalam pahit manis hubungan mereka.
"Eh, maksudku tolong panggilkan anak - anak untuk bersiap sekolah. Hari ini Mommy yang antar." Erika berusaha bersikap setenang mungkin.
•
•
"Mommy, kenapa bukan Daddy yang antar? Apa keluar kota? Kenapa tidak bilang - bilang?" tanya Abbey beruntun saat anak - anak sarapan. Benar sekali. Selama ini, Hans absen mengantar sekolah hanya saat dia ada perjalanan bisnis diluar kota.
Nyeri! Itu yang dirasakan oleh Erika, hingga tak menjawab pertanyaan Abbey. Melihat Mommynya enggan menjawab, Abbey mengangkat bahu, lalu melanjutkan sarapannya.
Sambil menunggu anak - anak sarapan, Erika mengambil foto roti isi smoke beef dan teh herbal buatannya tadi. Lalu, langsung mengirim foto itu ke Hans disertai emoticon sedih.
"Centang satu lagi?"
Dengan emosi, Erika langsung mendial nomer Hans. Sesaat kemudian Erika langsung merasa kalau dirinya bodoh. Pesan saja tak terkirim, bagaimana mungkin panggilannya akan tersambung.
Perjalanan mengantar sekolah dilalui dengan suasana senyap. Otak Erika terasa buntu, topik pembicaraan yang biasanya mengalir lancar seakan ikut berhenti.
__ADS_1
Kegundahan Erika terlihat begitu jelas, hingga Abbey dan Manda saling memberi kode. Mereka saling menyuruh yang lainnya untuk mengajak Mommynya bicara.
Kasihan anak - anak. Hingga mereka tiba di sekolah, Erika tak bicara sepatah katapun. Mereka langsung berpisah setelah mencium pipi Erika.
•
•
"Biar bagaimanapun, istri sah Hans adalah kamu. Mengingat bagaimana Hans selalu menjaga nama baiknya, tak mungkin dia berani membawa wanita manapun selain istrinya di depan umum."
"Kasihan sekali wanita itu, harus sembunyi - sembunyi saat bersama kak Hans."
"Kamu tau? Tak ada wanita yang suka disembunyikan."
"Biarkan dia menikmati hidup sebagai simpanan.'
Suara - suara berseliweran sahut menyahut di kepala Erika. Bahkan dia membayangkan bagaimana Hans menolak mengajak "wanita itu" ke pesta atau acara apapun. Sedangkan dirinya melenggang, menggandeng tangan Hans.
"Baiklah, mari kita bertahan siapa yang lebih kuat untuk menahan semua ini. Kamu yang disembunyikan ataukah aku yang tersakiti?"
Sambil menyetir menuju rumah, tanpa sadar Erika tertawa sendiri. Tawa ironi bercampur resah.
Sungguh ironi, alam bawah sadarnya berpikir kalau ada seorang rival diluar sana. Tapi juga resah karena tak ada bukti apapun yang bisa menunjukkan adanya seorang rival. Hanya curiga tapi tanpa fakta.
Hanya teman, rekan kerja, dan partner bisnis. Tak pernah sekalipun, Erika memergoki mereka hanya pergi berduaan. Selain itu, gossip yang didengar pun menceritakan bagaimana Hans menolak setiap ajakan.
Erika melonjak kaget mendengar getaran di dashboard mobilnya. Erika langsung mengambil ponselnya sambil matanya terus fokus kejalanan.
"Pasti kak Hans mau minta maaf soal tadi pagi."
Dengan cepat digesernya tombol warna hijau, dan bersiap untuk menjawab dengan ketus. Kali ini Erika memutuskan untuk jual mahal.
"Hallo sayang, dimana kamu?" suara lembut seorang wanita terdengar dari seberang sana.
"Oh!!! Bolehkah aku menangis?" tanya hati Erika.
Semula, Erika berharap Hans sadar akan kesalahannya tadi pagi dan minta maaf. Ternyata, Erika salah besar. Sepertinya Hans tak sadar akan kesalahannya, ataukah malah lupa dengan istrinya.
"Iya, kak Merry?" jawab Erika lemas.
"Lho, kenapa suaramu begitu? Kamu sakit?"
"Eh... oh, tidak... tidak. Aku hanya sedang menyetir, eeem... macet, Kak." Erika gelagapan.
"Kalau gitu, aku matikan telponnya. Fokuslah menyetir."
__ADS_1
"Ooh... tak apa, Kak. Aku sudah didekat rumah." Erika meringis sendiri. Baru saja bilang macet, eh sekarang ngomong kalau sudah dekat rumah.
"Kalau gitu, langsung saja kerumahku. Ada makanan kesukaanmu, makanlah. Setelah itu, kita bisa pergi."
"Pergi? Kemana kak?" tanya Erika heran.
"Lho, hari ini kan kita harus belanja untuk panti. Rencananya minggu depan kita sudah kunjungan." dengan sabar Merry menjelaskan.
"Ya ampun! Mungkin aku mengalami penuaan dini. Dasar pikun!" Erika memarahi dirinya sendiri.
Begitu sampai dirumah Merry, wanita itu sudah menunggunya di ruang depan.
"Ayo makan dulu, baru kita belanja." ajak Merry.
"Aku sudah makan, Kak." tolak Erika karena merasa tak lapar. Padahal dari pagi perutnya belum diisi.
"Hmmm... tapi sop buntut ini masakan Mbok Mar. Kalau tak makan, bisa menyesal seumur hidup." Merry terkekeh. Kemudian, memaksa Erika masuk ke ruang makan, dan duduk dimeja makan.
"Coba telpon Hans. Bilang, kita mampir mau antar sup buntut sebelum belanja nanti." lanjut Merry, sambil menyodorkan semangkok sup untuk dinikmati oleh Erika.
Tak mau menolak Merry, Erika mendial nomer Hans.
"Nomer yang anda hubungi tidak tersedia."
Erika melongo. Segera dibuka, aplikasi percakapan mereka. Ternyata, foto yang dikirimkannya tadi pagi masih centang satu. Tunggu! Ini kan jam kerja, tak mungkin Hans mematikan ponselnya.
"Kenapa?" tanya Merry melihat perubahan wajah Erika.
"Tak apa, Kak. Mungkin kak Hans sibuk, sehingga ponselnya dimatikan. Dari pagi ponselnya tidak aktif, buktinya pesanku belum terkirim hingga sekarang! " Erika sedikit curhat pada Merry.
"Tak mungkin ponselnya tidak aktif di jam kerja begini. Lagipula, sepertinya tadi pagi aku mendengar Johan bercakap - cakap lewat telpon dengan Hans." Merry berkata berapi - api, sambil mengambil ponsel miliknya. Dicarinya nomer Hans.
"Nuuuut...." Nada sambung terdengar melalui loudspeaker ponsel Merry.
Merry melirik Erika dengan tatapan yang berkata, "See? What i said!"
"Hallo, Kak Merry?" suara Hans terdengar.
Sampai jumpa di episode selanjutnya
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
__ADS_1
Vote
Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.