Your Officemate

Your Officemate
36. Kita Perang!


__ADS_3

"Hallo, Kak Merry?" suara Hans terdengar dari seberang.


Seketika Erika seperti diingatkan akan sesuatu. Akhir - akhir ini setiap kali Erika menghubungi Hans, ponselnya selalu tidak aktif.


Pesan yang terkirim pun utuh, centang satu hingga saat ini. Padahal baru saja Merry bisa menghubungi Hans.




Flashback


Erika sudah berputar dua kali mengelilingi food court, tapi belum juga bisa menentukan pilihannya. Erika memutuskan menelpon Hans untuk bertanya ingin makan apa.


"Nomer yang anda hubungi tidak tersedia" hanya suara operator yang menjawab panggilan Erika.


"Ah, mungkin saja karena sinyal di mall jelek" gumam Erika. Setelah membeli minuman, Erika bermaksud kembali ke tempat duduk. Hans.


Tapi apa yang dilihatnya kemudian? Saat kembali menuju tempat duduk Hans, Erika melihat Hans sedang bertelpon entah dengan siapa.


Iya, sedang menelpon!




Erika menjentikkan jarinya, sekali lagi dia mencoba menghubungi Hans. Kali ini dihadapan Merry.


Masih sama! Operator yang menjawab.


"Nomer yang anda hubungi tidak tersedia"


"See?" Erika menggerakkan dagunya kearah ponselnya. Merry tak menjawab, hanya menatap Erika bingung.


Erika memang sengaja menyalakan loudspeaker supaya Merry juga mendengar. Dia bahkan juga menunjukkan pada Merry, pesan yang dikirimkannya ke Hans melalui aplikasi berwarna hijau. Tak ada satupun pesan terkirim dalam beberapa hari terakhir ini.


Buru - buru Erika menghabiskan sup yang sudah terlanjur disediakan untuknya.


"Ayo, Kak Merry. Kita cari jawabannya."


Kalau saja Erika bisa terbang, pasti dia akan terbang saat itu juga. Dirinya benar - benar tak sabar, ingin segera sampai di kantor dan menemukan jawabannya.


Begitu sampai di kantor, langkah Erika terayun cepat menuju ruangan Hans. Sapaan dari beberapa orang karyawan yang mengenalnya, hanya dijawab sekilas. Sejak mengenal adik iparnya, baru pertama kali ini Merry melihatnya begitu gusar.


"Kak Hans! Kenapa kamu memblokir nomorku." todong Erika begitu membuka pintu.

__ADS_1


"Hah?" Hans mendongakkan wajahnya.


Hans terkejut melihat Erika datang dengan wajah tak ramah, dibelakangnya sudah ada Merry yang diam dengan pandangan menyelidik.


Alarm tanda bahaya di kepala Hans berbunyi, lebih baik dia berhati - hati. Emak - emak kalau sudah marah....mengerikan.


"Kenapa kamu memblokir nomorku?" tanya Erika masih dengan nada tak enak didengar.


"Apa maksudmu?" tanya Hans tak mengerti.


"Kemarikan ponselmu!" sahut Erika tegas dan tak bisa dibantah. Tangannya mengeluarkan ponsel miliknya sendiri.


"Lihat!!! Pesanku tak pernah terkirim beberapa hari ini. Dan aku tak pernah bisa menghubungimu. Alasan apalagi selain kamu memblokir nomorku?" Erika menunjukkan layar ponselnya pada Hans.


Hans tertegun.


"Tapi aku tidak..." Hans belum sempat menyelesaikan kata - katanya.


Dengan cepat Erika sudah mengangkat tangannya, memberi kode supaya Hans tak perlu menjawab. Ditunjukkannya bukti kepada Hans. Bagaimana jawaban operator saat dirinya menghubungi Hans. Berbeda hasilnya, saat Merry yang menghubungi, langsung tersambung. Begitu pula dengan pesan Merry yang langsung terkirim.


Hans dan Merry sama - sama nampak terkejut. Rasa sungkan dan malu meliputi Hans. Malu pada Merry yang menonton drama rumah tangganya. Selain itu, terselip juga rasa sungkan. Bagaimana bisa dia memblokir nomer istrinya tanpa alasan yang jelas? Didepannya Erika memandang tajam, tak bergeming.


Hans sampai bergidik melihat sisi lain seorang Erika. Ya. Hans membangunkan singa yang sedang tidur.


"Apa yang terjadi kak Hans? Apa yang kamu lakukan diluar sana?" Erika sudah tak peduli dengan Merry yang masih ada disitu. Rasanya begitu kesal, berhari - hari terombang - ambing oleh perasaannya sendiri.


Suasana yang kian panas, membuat Merry yang merasa tak enak, lalu dia diam - diam menyingkir. Mungkin sebaiknya, dia. menceritakan ini pada Johan. Nalurinya sebagai seorang wanita mengatakan ada yang tak beres pada Hans. Hanya saja dia tak boleh mencampuri.


Sementara itu, diruangan Hans. Hans membiarkan istrinya mengutak - atik setting ponsel miliknya.


"See?"


Erika menunjukkan, kalau benar nomernya diblokir. Sekarang sudah jelas, kenapa ponsel Hans selalu tidak aktif. Tapi apa alasan Hans memblokir nomer Erika?


Cukup lama Hans terdiam, memandang ponselnya sambil berpikir. Tak tahu harus bagaimana menjelaskan ini semua.


Di depannya, Erika sudah duduk sambil bersedekap dengan pose menginterogasi.


"Apa penjelasanmu?" kali ini suara Erika sudah lebih tenang.


Tapi tetap saja, pandangannya seperti seorang guru yang menemukan muridnya sedang mencontek.


"Tak ada." Hans menjawab pelan, sambil menghembuskan napas.


Erika mengangkat alisnya tak percaya. Bagaimana mungkin tak ada penjelasan dibalik sebuah tindakan. So silly!

__ADS_1


"Iya.Tak ada. Aku tak tahu apapun soal blokir memblokir. Jujur, aku sendiri heran kenapa akhir - akhir ini pesanku pun tak pernah kau balas. Tapi karena sibuk, aku... tak terlalu...memperhatikannya, dan....lupa menanyakannya padamu" kalimat terakhir diucapkan Hans dengan hati - hati. Kuatir kalau - kalau macan betina dihadapannya kembali mengaum.


Erika memandang dalam - dalam mata Hans.


"Kalau bukan kamu, siapa lagi yang memegang ponselmu? Satu - satunya tersangka ya kamu sendiri, Kak."


"Tapi benar - benar bukan aku yang memblokirmu."


"Lalu siapa? Apa ada orang lain yang menyentuh ponselmu?"


"Eh?"


Hans membeku, dan ekspresinya tak luput dari pengawasan Erika.


"Jadi benar? Ada orang lain yang memegang ponselmu?" Erika menyimpulkan sendiri.


"Oooh...emm...tidak, bukan begitu. Aku rasa, mungkin aku tak sengaja memencet settingnya."


"Jawaban tersendat, napasnya agak tertahan, dia juga mengusap rambutnya. Erika mencatat dibenaknya, kalau Hans gugup. Dia menyembunyikan sesuatu.


Jauh dari lubuk hatinya, Erika menyadari. Sungguh mustahil memaksa seorang pria dewasa untuk jujur tanpa kesadarannya sendiri. Salah - salah dirinya semakin dibohongi. Memilih mundur selangkah untuk kemudian meloncat ke tujuan adalah pilihan terbaik saat ini.


"Baiklah, Kak Hans. Aku tak enak kalau kak Merry tahu kita berselisih. Sekarang aku mau berbelanja bersama kak Merry. Kosongkan jadwal untuk acara amal. Apa kamu bisa?" Erika tidak lagi bertanya, tapi memerintah.


Kali ini Erika sengaja menunjukkan powernya. Hans hanya mengangguk - angguk, sambil entah pikirannya melayang kemana.


"O'ya kak Hans. Kuingatkan kamu, kalau aku ini adalah cacing dalam perutmu. Apa kamu pernah dengar istilah ini?" Erika tersenyum sinis.


"Maksudmu?"


"Iyaaa..., aku ini cacing dalam perutmu sehingga kebohongan apapun yang kamu buat. Aku pasti akan tahu." ujar Erika lagi, sambil berdiri.


Erika menghela napas.


"Dengan memblokir nomorku, berarti dia mengajakku perang. Sampaikan ke dia. Ki-ta pe-rang." tambah Erika.


Erika sengaja mengeja dua kata terakhir lambat - lambat, sambil meninggalkan ruangan Hans.


Sampai jumpa di episode selanjutnya


Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara


Like


Comment

__ADS_1


Vote


Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.


__ADS_2