
Sejak pertama mengenal akibat dari sebuah perbuatan, aku selalu berhati - hati agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Baik kesalahanku sendiri maupun kesalahan yang dilakukan orang - orang di dekatku. Aku menyukai ide pada sebuah tulisan fiksi yang pernah kubaca. Perubahan sekecil apapun pada masa lalu akan mengubah masa depan seseorang, sebuah keluarga bahkan sebuah bangsa.
Usiaku bahkan sudah menginjak empat puluh tahun, aku tahu benar apa yang dimaksud dengan berseli-ngk-uh. Hanya dengan menghapus chat dari wanita lain, sudah merupakan salah satu bentuk perselingkuhan. Apalagi tanpa sadar, aku sudah memprioritaskan Clara lebih dari istriku.
Semua dimulai dari aku yang tidak lagi menelpon istriku sepulang kerja. Setelah makan malam, aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama Clara di chat room. Bahkan tengah malam atau pagi hari sebelum istriku bangun, aku sudah pergi ke ruang kerja. Untuk apalagi kalau bukan bertelepon atau sekedar berkirim pesan dengan Clara.
Ah, tapi sebenarnya semua itu terjadi karena aku telah melewati batasanku pada Clara.
Diruangan saat aku berencana bertemu dengan Mr.Lim, ternyata Clara yang menyambutku. Sesuatu yang kenyal menempel dibibirku. Semua berlangsung begitu cepat, namun masih ada manis yang tertinggal dibibirku. Saat aku sadar, ternyata Clara sudah berdiri dihadapanku dengan posisi menunduk. Matanya berkedip dan senyumnya menggodaku.
Ah, tapi bukan itu yang membuatku tak bisa berkutik. Seluruh syarafku menegang saat melihat indahnya pemandangan gunung yang terhampar didepan mata. Ditambah posisi yang begitu dekat membuat harum parfum yang digunakannya masuk ke indera penciumanku.
Fantasiku semakin liar. Ingin rasanya kutarik hingga lepas tali spaghetty yang menggantung dibahunya. Kemudian aku akan menjelajahi pegunungan yang terhampar didalamnya.
Sungguh memalukan! Tubuhku tak bisa diajak bekerja sama, jantungku berdegup lebih kencang, bahkan napasku pun terasa sesak. Beruntung, Mr Lim masuk keruangan. Aku segera mencari alasan untuk berpamitan ke toilet.
Si-al! Jantungku hampir copot saat keluar dari kamar mandi. Clara menungguku, didepan pintu tempatku keluar. Tanpa sempat mengelak, dia sudah mendorongku masuk kembali ke kamar mandi. Astaga! Pintu pun tertutup rapat. Alarm tanda bahaya berbunyi di otakku.
Oh! Otakku tak bisa lagi berpikir jernih saat sebuah benda kenyal dan lembut sekali lagi mendarat dibibirku. Sepasang lengan bergelanyutan di leherku, membuatku kian menunduk kearahnya. ******* demi ******* membuatku merasa tertantang untuk menaklukkannya.
D**n it!! C***an itu malah membuaiku, dan aku menginginkannya lebih. Tanganku lancang merengkuh pinggang Clara, menariknya kian merapat padaku. Kurasakan kulitnya yang tidak tertutup kain menempel dikulitku. Hangat dan lembut.
Tangan kiriku tak mau kalah, aku menahan tengkuknya, kemudian meraup bibirnya rakus. Sungguh! Aku lepas kendali.
Ah! Clara melepaskan pagutannya terlebih dahulu.
"Mr. Lim menunggu kita." bisiknya sambil mengerlingkan mata.
"Kamu gila." desisku.
Emosiku bercampur aduk, antara kesal dan menyesal. Kesal karena terpaksa harus menghentikan semua kenikmatan ini. Menyesal sekali aku telah mengkhianati istriku. Aku melakukannya tanpa cinta, hanya dengan napsu. Tapi tetap saja aku sudah tak setia. Aku kalah.
Sesaat tadi aku benar - benar lupa kalau sedang ada pertemuan dengan Mr. Lim.
__ADS_1
"Keluarlah lebih dulu. Nanti aku menyusul." kataku pelan setelah berhasil menguasai diri. Dia mengecup pipiku dan keluar.
Saat aku kembali, Mr. Lim sedang berbincang dengan Clara.
"Kamu lama sekali, kami kan sudah lapar." rengek Clara manja.
"Wow!" Aku bersiul dalam hati, Clara benar - benar luar biasa. Tak terlihat perubahan ekspresi apapun diwajahnya. Seolah - olah apa yang kami lakukan di toilet tadi tidak pernah terjadi.
Sedangkan aku? Ya. Aku gelisah dan merasa sangat berdosa. Aku mengkhianati kepercayaan istri dan anak - anakku. Seperti yang kubilang tadi, tak ada yang bisa kulakukan untuk mengubah kesalahanku barusan. Semua sudah terjadi. Yang harus aku lakukan adalah menyelesaikan semua ini secepatnya, pulang kerumah dan jangan bertemu Clara selamanya. Aku mulai berpikir untuk tidak lagi menangani proyek yang berkaitan dengan Mr. Lim.
•
•
BLUK!
Suara pintu mobil tertutup dan terdengar dari sebelah kiriku. Aku merinding. Tak pernah kusangka parkir di basement rasanya akan horor seperti ini. Sesosok makhluk tiba - tiba masuk dan duduk begitu saja di jok sebelahku.
Clara tersenyum menggoda. Dia duduk di jok sebelah kiri, dengan posisi serong kearahku. Aku tak tahan melihat belahannya yang begitu rendah.
(Sial! Permainan belum berakhir.")
Aku mengumpat dalam hati untuk. kesekian kalinya. Dia menggigit bibir bawahnya sambil menatapku dengan sorot "Let's enjoy your meal."
(Nikmati makananmu!)
"Keluarlah, aku mau pulang!" perintahku lemah tanpa sedikitpun ketegasan.
Dan yang terjadi selanjutnya adalah kami kembali bertukar saliva. Entah siapa yang memulai duluan. Yang pasti suara decapan bercampur dengan napas yang memburu mengiringi aktivitas kami. Adrenalinku kian terpacu.
Berikutnya tanganku sudah berkelana kemana - mana hingga tali spaghetty-nya pun melorot. Aku menyentuh apapun yang ingin aku sentuh. Melahap apapun yang bisa aku lahap. Sensasinya membuatku tak mau berhenti. Aku sudah gila.
Yang lebih gila adalah dia tidak menolaknya. Bahkan terlihat menikmati sentuhanku, dan memancingku untuk melakukan lebih. Aku merasa bangga pada diriku sendiri. Sebuah prestasi tersendiri, berhasil membuat seorang gadis muda jatuh ke pelukanku. Bahkan aku tak perlu berusaha keras. Dia datang, mengejarku dan melemparkan dirinya ke dalam tanganku.
__ADS_1
Lihatlah, tangannya mulai merayap membuka kancing kemejaku satu per satu. Darahku semakin bergejolak. Aku menggeram kudorong dia kebelakang, kuturunkan sandaran kursi dengan sekali hentakan.
"Aku suka kamu." bisik Clara dengan nada sen****
DEG! Mendadak aku merasa seperti disiram air dingin. Mataku terbuka, wajah Abbey, Manda, Aaron dan Erika berputar - putar di kepalaku.
Segera aku rapikan pakaian Clara dan juga pakaianku sendiri.
"Maaf!"
Aku mengucapkannya tanpa penjelasan apapun. Lagipula apa yang perlu dijelaskan lagi? Hanya satu penjelasan untuk semua ini sebuah napsu gila.
"Pulanglah! Aku akan memesankan taxi untukmu." kataku sambil merogoh saku celanaku.
Ya ampun! Ponselku tak ada dimanapun. Kejadian bertubi - tubi membuatku melupakan ponselku.
"Kamu mencari ini?" Clara menggoyangkan sebuah ponsel itu diwajahku.
Astaga! Aku langsung menyambar ponselku dari tangannya. Apalagi ini? Kenapa ponselku bisa ditangannya. Aku mengutuk diriku yang dengan ceroboh meninggalkan benda itu saat hendak ke toilet tadi
"Sebenarnya aku tadi cuma mau mengantarkan ini. Tapi yang terjadi sungguh mengejutkanku." Clara memasang wajah polosnya.
OH!!! Bolehkah aku mencekiknya hingga dia tak muncul lagi dihadapanku? Dan aku pastikan kalau setelahnya aku akan membunuh diriku sendiri. Aku benar - benar bersalah merasa pada istriku.
Sampai jumpa di episode selanjutnya
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
Vote
__ADS_1
Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.