
"Sekarang jawab semua pertanyaanku ini! Apa kamu pernah terpikir, sekali saja, untuk berpacaran dengan pemuda miskin, kurus, jelek dan tidak stylish? Sanggupkah kamu hidup dirumah kos bersama suamimu? Relakah kamu meninggalkan semua perawatan wajah dan tubuhmu demi berhemat untuk kebutuhan hidup sehari - hari?Lalu, maukah kamu menghentikan kebiasaan shoppingmu demi belajar memasak untuk suami dan anak - anakmu?"
Aku tahu. Clara tak akan bisa menjawab semua pertanyaanku. Wajahnya nampak seperti bersiap untuk membantahku, tapi tak jadi. Raut wajahnya pun tak terbaca.
"Pemuda miskin itu aku. Dan bersama istriku, aku bisa menjadi diriku yang sekarang ini." lanjutku lagi.
"Apa salah kalau aku suka kamu, kak Hans?"
"Yang kamu rasakan bukan suka, apalagi cinta. Itu hanyalah obsesi." Aku menurunkan nada bicaraku.
Biar bagaimanapun, aku ingin dia pergi baik - baik dari hidupku. Bukan dengan membawa kebencian, terutama pada Erika.
"Aku hanya ingin bersamamu. Padahal aku tak pernah memintamu menikahiku. Asalkan bisa berteman, dan menemuimu meski diam - diam. Begitu saja sudah cukup....Kenapa kak Rika berlebihan?" Clara berkata pelan tapi cukup jelas terdengar di telinga Hans.
"Aku sudah berkorban banyak untukmu, sampai aku rela sembunyi - sembunyi hanya untuk bertemu denganmu."
"Maka, berhentilah. Hentikan semuanya. Carilah pria single yang mencintai dan mau memenuhi gaya hidupmu. Menikahlah dan berbahagialah. Bukankah sudah kukatakan berkali - kali kalau aku tidak cocok untukmu?"
"Kamu tak keberatan aku menikah dengan orang lain?" tanyanya.
"Sama sekali tidak. Itu harapanku." kataku tegas.
"Apakah tak pernah sekalipun kamu cemburu saat tahu aku berkencan dengan orang lain?" lagi - lagi Clara bertanya.
__ADS_1
"Tidak pernah."
"Lalu kenapa kamu menciumku?"
Pertanyaannya yang terakhir ini benar - benar menohok. Tak mungkin aku melimpahkan kesalahan padanya dengan berkata kalau semua ini terjadi karena dia yang mulai menggodaku. Aku hanya menyambut umpan. Tapi, lelaki harus berani mengakui kesalahan.
"Aku terbawa napsu." kataku sambil mengusap wajahku kasar, lalu menundukkan kepala.
"Aku benar - benar minta maaf atas setiap kerugian yang disebabkan oleh perbuatanku. Apapun kompensasinya, asal tak mengganggu rumah tanggaku, akan kuberikan."
Masa bodoh kalau Clara tersinggung, aku menyampaikan apa yang harus aku sampaikan.
Tak ada jawaban. Aku memutuskan menyudahi pertemuan ini. Aku anggap diamnya berarti setuju.
"Baiklah. Kita selesai, dan mari lanjutkan hidup masing - masing."
"Aku masih mau berteman denganmu."
Oh, ternyata Clara masih mencoba bernegosiasi denganku.
"Pertemanan macam apa yang kamu harapkan? Tidak, hubungan kita sudah cacat. Kita tak boleh berhubungan dengan alasan apapun. Lagipula, apa kamu tidak takut Tuhan menegurmu?"
"Jangan sebut Tuhan dihadapanku!! Kenapa kamu kolot sekali? Kalian berdua pasangan aneh! Yang perempuan pencemburu, dan prianya terlalu takut pada istri." sembur Clara berapi - api.
__ADS_1
Apapun anggapan Clara, terserah. Aku tak peduli. Keinginanku hanyalah menyelesaikan semua ini sekarang juga.
"Baiklah. Inti pembicaraan kita adalah dengan atau tanpa persetujuanmu, kita selesai. Aku tak akan pernah lagi menghubungimu. Maafkan aku untuk semuanya. Berkas Mr. Lim akan aku tanda tangani, setelah ini bekerja samalah dengan Jennifer."
Tanpa menunggu jawaban dari Clara, aku meninggalkannya setelah sebelumnya menghubungi Jennifer untuk mengurus Clara. Kemudian aku berusaha menyelesaikan semua urusanku dengan cepat hari ini. Selanjutnya, aku akan pulang untuk mengakui semuanya pada Erika.
Kepalaku terasa lebih ringan, perasaanku lega, dan kakiku melangkah tanpa beban menuju mobil untuk pulang kerumah. Aku rindu istriku.
"Aku pulang, Moms. Aku kembali setelah tersesat."
Perasaan bersalah, rindu dan lega bercampur menjadi satu. Begitu sampai dirumah, aku memeluknya erat - erat, semoga seluruh rasa sesalku tersampaikan.
Duh! Begitu melihat wajah Erika, aku justru terasa tak tega untuk mengatakan yang sesungguhnya. Belum apa - apa, sudah terbayang bagaimana kecewanya dia nanti padaku. Otakku blank. Aku tak tahu harus mulai darimana menceritakannya. Kemudian aku memutuskan mandi terlebih dahulu, siapa tahu suasana akan lebih bai saat itu. Dan aku bermaksud menceritakannya setelah makan malam.
Ternyata, keputusanku salah. Setelah berhari - hari banyak pikiran dan petak umpet dengan istriku, malam ini aku merasa relax lalu aku tertidur sebelum sempat mengatakan apapun. Iya, aku belum mengatakan apapun.
Begitu membuka mata, yang kulihat Erika sedang memegang ponselku. Suasana dan raut wajah Erika tak bisa aku jelaskan dengan kata - kata, terasa begitu asing dan aneh. Detik itu juga, aku tahu kalau aku sudah tertangkap basah.
Aku menyesal, seharusnya aku meminta maaf dan mengaku terlebih dahulu. Begitulah hidup, selalu ada kejutan didalamnya. Disaat aku memilih mundur dan berhenti dari Clara, Erika malah menemukan bukti. Dia wanita yang cerdas dan peka. Sedikit saja ada perubahan dalam diriku, pasti dapat dia rasakan. Cepat atau lambat, aku pasti ketahuan. Kalau bukan karena kecerobohanku, bisa saja dia tahu karena hal yang lain.
Lalu dia menyuruhku makan malam, aku makin yakin kalau setelah ini dia akan mengajakku bicara tentang Clara. Dia menemukan sesuatu di ponselku. Akhirnya aku memilih mengakui semuanya sebelum dia bertanya lebih lanjut.
Melihatnya marah dalam diam, membuatku sangat menyesali kelakuanku. Dia tidak memaki ataupun menangis, terasa lebih menyakitkan dibanding kalau dia memukulku.
__ADS_1
Terlepas dari semua itu aku menyadari, bagaimana pun aku menyesal semua tak akan sama. Hatinya terlanjur terluka. Sebanyak apa pun aku memohon maaf, kesalahanku ini telah menodai kepercayaannya.
Tak ada lagi yang bisa aku lakukan selain terus memohon maaf. Tak apa, aku mengerti perasaannya yang terluka begitu dalam. Aku akan terus meminta maaf padanya, meski harus aku lakukan seumur hidupku.