Your Officemate

Your Officemate
16. Prasangka Jennifer


__ADS_3

"Jennifer itu cantik, Kak. Apa kata kak Rika kalau melihatnya? Trus kalau kak Hans memberi akses langsung ke kak Hans. Apa kak Hans tak takut Jennifer ngelunjak? Bagaimana kalau dia menggodamu? Kak Hans tak takut kalau kak Rika marah lagi?" Clara benar - benar tak sadar apa yang diucapkannya tentang Jennifer adalah gambaran tentang dirinya sendiri.


"Istriku sudah tahu. Lagipula, selama ini istriku tak pernah ikut campur soal staff-ku. Sejauh inj, dia tak pusing apapun soal Jennifer. Lalu kenapa kamu yang protes?"


Jawaban Hans membuat Clara terdiam. Hati kecilnya yakin, istri Hans tak akan baik - baik saja setelah melihat bagaimana cantiknya staff baru suaminya. Hatinya saja tak baik - baik mengetahui kalau Jennifer bahkan nantinya akan memiliki akses lebih banyak ke Hans daripada dirinya.


Perasaan iri menyelusup dihatinya. Kenapa semua orang begitu mudah mendapat kesempatan untuk bersama Hans. Pertama adalah Erika, dan sekarang Jennifer.


Padahal selama ini Clara rela berangkat pagi supaya bisa segera bertemu dengan Hans. Dan akan pulang malam setelah Hans meninggalkan kantor. Lagipula, bukankah dirinya lebih lama bekerja sama dengan Hans. Kenapa Hans lebih memilih orang lain untuk mengurus administrasi dan segala ***** bengeknya.


"Bilang saja kamu ingin punya sekretaris cantik. Tapi berdalih mencari admin" cibir Clara dalam hati.


Merasa hanya buang - buang waktu dengan Clara, Hans menyuruhnya pergi.


"Clara, kembali ke ruanganmu. Lalu suruh Jennifer kesini untuk training administrasi sekarang. Aku harus pulang cepat."


"Tapi kak Hans, bukankah kamu banyak pekerjaaan? Biarkan hari ini aku yang mengajari Jennifer sekalian berkenalan dengannya." pinta Clara dengan senyum begitu manis.


Clara tetap menampakkan wajah yang biasa - biasa saja, meski kabar kehamilan Erika dan masuknya Jennifer cukup membuat hatinya jungkir balik.


"Biarlah kak Hans menjadi milik istrinya dirumah, tapi dia milikku dikantor. Aku toh tak mengganggu waktu istrinya"


Senyuman Clara mengundang tatapan curiga Hans. Pandangannya menyelidik. Sejak kapan Clara mau repot mengajari orang baru?


"Baiklah. Hari ini kamu bantu dia." Hans menepis rasa curiga itu.


Misi Hans adalah mendekatkan Jennifer dan Clara karena Hans tahu seperti apa Clara sesungguhnya. Dia tak akan dengan mudah melepas customer - customer VIP yang ditanganinya. Setidaknya dengan kedekatan mereka, Jennifer bisa memancing atau setidaknya pelan - pelan mengambil hati para VIP itu. Hans tak mau divisinya goncang saat Clara mutasi nanti karena tak ada yang menangani pekerjaan Clara. Atau jangan - jangan customernya kabur begitu tahu yang menangani proyek bukan Clara lagi.


****


Beberapa hari bekerja, Jennifer sudah bisa menyesuaikan dirinya. Terlepas dari Clara yang selalu menempel kemanapun Jennifer pergi, Hans sebenarnya sangat puas dengan pekerjaan Jennifer.


Wanita muda itu sangat cekatan dan sangat mudah memahami apa yang diajarkan padanya. Sekali saja Hans atau Clara mengajari, maka berikutnya dia sudah bisa melakukannya sendiri dengan baik. Bahkan lebih baik dari Clara yang mengajarinya.


Hal ini membuat Hans tenang, dan mulai bisa memasrahkan beberapa pekerjaan. Rencana berikutnya adalah menyuruhnya ikut serta dalam mengurus proyek bersama Clara.

__ADS_1


Siang itu, Erika datang ke kantor dengan membawa makan siang untuk suami itu. Dia tampak kalem dan lembut dengan balutan gaun selutut bermodel longgar. Dan hari ini rambut panjangnya dia ikat keatas memperlihatkan leher jenjangnya. Kalau dilihat sekilas, tak seorang pun akan menyangka, Erika sudah memiliki dua anak yang hampir remaja dan akan memiliki seorang putera lagi.


Erika bertemu dengan Jennifer didepan lift. Wanita muda itu langsung menyapa dengan sopan meski hatinya sedang menerka - nerka apakah benar wanita dihadapannya adalah istri atasannya. Terlihat kalem dan bersahaja. Tak ada sedikit pun kesan judes.


"Mari Bu..., ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mau menemui Pak Hans"


Menilik rantang yang ada di tangan Erika, sebenarnya Jennifer menduga orang ini adalah istri atasannya. Ini adalah pertama kali mereka bertemu. Tapi sedikit banyak, Jennifer sudah mendapat gambaran seperti apa seorang Erika. Dia mendengar dari Clara tentang Erika dan bagaimana sikapnya terhadap bawahan Hans.


Tak mau mencari masalah, Jennifer segera membungkuk hormat dan memperkenalkan dirinya.


"Saya Jennifer Salim, staff marketing baru beberapa hari bekerja disini, Bu. Ibu boleh memanggil saya Jenni atau Jen."


"Saya Erika Mai, istri Pak Hans." Erika mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan sambil tersenyum.


Jennifer merasakan kehangatan dan kelembutan dari sentuhan tangan Erika. Tak ada kesan arogan maupun tinggi hati. Hati Jennifer mengatakan kalau wanita yang dihadapannya adalah sosok yang baik dan lembut.


"Mari saya antar ke ruangan Pak Hans, Bu Erika" kata Jennifer lagi sambil mempersilahkan Erika masuk kedalam lift terlebih dulu. Tangannya pun buru - buru mengambil rantang yang dibawa Erika. Jennifer tak mau dianggap tak diri oleh Erika. Biar bagaimana pun, dia masih baru disana.


"Ayuk lunch, aku sudah lapar." Hans langsung meraih tangan Erika dan menggandengnya menuju ruangannya.


"Eeehm, ayo Jen." Erika merasa tak enak karena belum sempat berterima kasih dengan Jennifer tapi Hans sudah menariknya pergi.


"Dia staff marketing baru, namanya Jennifer." Hans menjelaskan.


"Kami sudah berkenalan tadi. Ayo Jen, duduk sini."


Erika mengambil rantang dari tangan Jennifer dan mengajaknya menuju sofa. Membuka food bag dan mengeluarkan satu per satu kotak makan siang dari sana. Jennifer masih bergeming, matanya menunduk sambil sesekali melirik Erika.


"Ayo Jen. Makanlah bersama kami. Aku membawanya cukup banyak."


"Maaf Bu, saya sudah pesan makan siang, Bu." Jennifer menolaknya dengan halus karena kuatir dianggap tak tahu diri. Satu catatan lagi dari hatinya yaitu istri Hans sangatlah ramah.


Dari tempat duduknya, Hans mengamati dari bagaimana Jennifer terkesan begitu berhati - hati. Malah terlihat terlalu hati - hati. Dari matanya terkesan ragu dan banyak tanda tanya didalamnya.

__ADS_1


"Ambilah makanan dari istriku. Kamu boleh makan diruanganmu. Sepertinya istriku begitu menakutkan bagimu."


Jennifer tersentak, rasanya begitu malu dan tak enak saat seseorang bisa menebak apa yang ada didalam pikiranmu.


"Maaf Pak. Bukan begitu, saya hanya tak mau terjadi salah paham. Saya senang bekerja disini."


"Salah paham? Maksudmu apa Jen?" tanya Erika.


Jennifer menelan air ludahnya. Menimbang sejenak, apakah yang akan dikatakannya akan menyinggung orang - orang dihadapannya atau tidak.


"Maafkan saya, saya tak bermaksud menyinggung siapapun. Saya tak mau dicurigai memiliki motif tertentu. Saya bekerja karena memang membutuhkan pekerjaan ini. Tak ada niat apapun" akhirnya Jennifer justru memberi penjelasan ambigu.


"To the point. Apa yang kamu pikirkan mengenai istriku?" Hans makin curiga dengan sikap Jennifer yang dianggapnya aneh.


Ini pertama kali Erika dan Jennifer bertemu, dan Jennifer tampak seperti takut pada Erika. Setau Hans, setiap ketakutan pastilah ada sebabnya.


"Tidak ada Pak. Hanya saja menurut saya, istri anda tak seburuk yang diceritakan."


"Diceritakan? Siapa yang cerita?"


"eeeem... Kak Clara."


Nah!!! Hans seharusnya sudah menduga dari awal. Siapa lagi kalau bukan Clara, karena beberapa hari ini Jennifer selalu bersama dengan Clara.


Bersambung...


Sampai jumpa di episode selanjutnya


Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara


Like


Comment


Vote

__ADS_1


Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.


__ADS_2