
Sekarang aku tak tahu apa yang harus aku lakukan pada wanita muda dihadapanku. Dalam sekejap aku telah berubah menjadi pria br*****k. Apakah yang aku lakukan termasuk kategori pelecehan? Apa yang akan aku lakukan kalau ada pria sepertiku yang mengambil keuntungan dari Abbey atau Manda? Rasanya aku tak punya muka untuk bertemu dengan Erika.
Lalu, bagaimana perlakuanku pada Clara setelah ini? Aku sudah menyentuhnya sesukaku.
Begitu dia meninggalkanku, aku langsung memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Aku marah pada Clara yang sengaja menggodaku dari awal, dan juga pada diriku yang tak bisa menahan diri dari godaan.
Begitu mendekati rumah, aku sadar kalau hari ini aku ada janji dengan Abbey. Aku lega saat menyadari tak ada satupun panggilan dari mereka, setidaknya mereka belum mencariku.
Oh, ternyata aku salah. Saat mobilku memasuki rumah, kulihat istri dan anak - anakku bersiap berangkat. Tumben sekali mereka tak menelepon untuk menanyakan keberadaanku.
Mendengar klakson mobilku, Erika menghampiri dengan wajah penuh pertanyaan. Sayangnya, aku sedang tak mau menjelaskan apapun.
"Masuk!" perintahku singkat dan menggelegar.
Hah! Aku tak bermaksud berbicara dengan nada seperti itu. Rasa kesal yang berdesakan didadaku berhamburan begitu saja, istri dan anak - anakku menjadi pelampiasannya. Tanpa mengucapkan maaf, aku kembali memacu mobilku dengan kecepatan sangat tinggi. Anak dan istriku sangat ketakutan, tapi aku tak peduli. Aku benar - benar egois.
Kemudian aku menyadari kalau istriku tahu aku sedang berbohong. Berkali - kali aku menangkap basah dia menatapku yang tengah berlatih bersama Abbey dan Manda. Ada ponselku ditangannya. Sepertinya dia mencurigai sesuatu tapi ragu untuk menanyakannya. Dia hanya sekedar menghindari keributan, mengingat bagaimana emosiku meledak - ledak tadi.
Bagaimanapun, aku tak bisa melarangnya untuk membuka ponselku. Selama ini kami selalu terbuka, tak pernah ada satu pun rahasia diantara kami. Rasanya akan sangat aneh kalau aku mendadak tidak mengijinkannya menyentuh ponselku.
Sesuai dugaanku, bahasa tubuhnya sudah berubah saat aku menghampiri usai latihan. Dia berkali - kali memancingku untuk berkata jujur. Namun aku memutuskan untuk berbohong. Aku tak mau menyakiti hatinya.
Sampai dirumah, aku mencoba mencari apa yang dia temukan di ponselku. Tujuannya supaya aku tidak salah bicara saat dia bertanya besok. Aku tahu, istriku sedang mencari waktu yang tepat untuk bertanya padaku.
Paginya aku terjebak. Dia terang - terangan mengatakan kalau Clara tagged foto ke akun facebook milikku bahkan Erika menanyakan sejak kapan kami berteman di facebook.
Jujur aku tak tahu menahu soal pertemanan di facebook tapi siapa lagi tersangkanya selain Clara sendiri yang bermain - main dengan ponselku. Siapa yang akan mengira kalau aku bakal melupakan ponselku. Dan selama ini aku memang tak pernah memasang sandi apapun di ponselku.
Tak biasa berbohong pada Erika, aku mengatakan kalau bukan aku yang melakukannya, bisa saja Clara. Oh, bodohnya aku. Aku terperangkap dengan jawabanku sendiri.
"Sejak kapan Clara berani menyentuh ponselmu?" tanya Erika tajam.
Keringat dingin meluncur dipelipisku, sebaiknya aku segera pergi sebelum semakin salah menjawab. Dalam hati aku memaki - maki Clara. Dia benar - benar sukses membuatku menjadi seorang pesakitan dihadapan istriku.
Buru - buru aku selesaikan sarapanku, dan berangkat bersama anak - anak. Biarlah nanti kupikirkan sebuah penjelasan yang masuk akal untuk istriku.
__ADS_1
Astaga! Seolah - olah tahu kalau aku selesai mengantar sekolah, ada panggilan masuk dari Clara tepat saat Abbey dan Manda memasuki geebang sekolah mereka. Masih dengan perasaan tak enak setelah apa yang kulakukan padanya semalam, aku mengangkat panggilannya.
"Semalam kamu berjanji akan menghubungiku, tapi kamu tak melakukannya." rengek Clara padaku begitu aku menerima panggilannya.
"Aku sibuk." jawabku singkat.
"Hmmm... Kak Hans apa kamu menyukaiku?"
Pertanyaan yang benar - benar tak bisa aku jawab. Haruskah aku berkata padanya, kalau yang kurasakan padanya hanyalah sebuah napsu?
"Heii, aku ini pria dewasa dan normal. Sangatlah wajar kalau tertarik pada wanita seperti Clara." Aku membela diri.
"Tuhan memberimu logika untuk berpikir. Kenapa tak kau gunakan logikamu dibanding menuruti napsumu? " Suara hatiku menegurku dengan keras.
Soal suka atau tidak? Jujur saja, aku tak pernah menyukainya. Apalagi mengingat sifatnya yang barbar. Tak akan ada rasa tenang dan nyaman apabila aku hidup bersamanya kelak. Kalau aku katakan penilaianku tentang dia secara terang - terangan, bisa - bisa seluruh wanita didunia ini akan membunuhku karena aku dianggap merendahkan kaum wanita.
Tak ada rasa tertarik pada Clara selain penampilan fisiknya. Kalau boleh jujur, aku memang memanfaatkan penampilan dan sikapnya yang centil untuk 'menarik' beberapa customer.
"Kak Hans? Kamu masih disitu?" suara Clara kembali terdengar.
"Kapan kita bisa bertemu lagi?" tanyanya manja.
"What? Tidak, jangan pernah sekali kali kamu menemuinya Hans! Atau habislah riwayatmu." Aku memberi peringatan keras pada diriku sendiri.
Merasa kuatir tak bisa mengatasi tingkah Clara, lebih baik aku menghindar. Aku tak mau kalau karena sesuatu yang "tidak disengaja", Clara hamil. Tidak. Aku tidak mau terjebak dalam situasi dimana aku harus menikahinya.
Andaikata hal itu terjadi, aku sudah bisa melihat konsekuensi yang akan kuhadapi kelak. Seumur hidup Manda dan Abbey tak akan menghormatiku.
"Aku sibuk." kataku.
Perasaan bersalah karena telah mengambil keuntungan dari seorang anak gadis membuatku tak berani terang - terangan menolak. Aku bahkan terpikirkan untuk memberikan kompensasi atas kerugian yang telah aku lakukan. Tapi bukankah itu sama saja dengan menghinanya?
"Kalau begitu nanti aku yang akan mampir kesana." kata Clara tanpa beban.
"Kamu gila." desisku tak percaya.
__ADS_1
"Kenapa? Bukankah kamu menyukaiku? Aku pikir kamu ingin menemuiku setelah kejadian semalam."
Ya ampun! Rasa percaya diri seperti Clara memang kunci sukses seorang marketing, tapi kalau diterapkan pada situasi yang salah bisa - bisa dia dimanfaatkan kaum lelaki. Tiba - tiba muncul rasa kasihan pada diri Clara. Mungkinkah Clara kesepian atau kurang kasih sayang?
"Jangan terlalu agresif, atau kamu akan dimanfaatkan oleh lelaki hidung belang." nasehatku padanya.
"Apa itu artinya kamu cemburu padaku?" Dia terdengar senang.
"Bukan begitu. Kamu bukan milikku, aku tak akan pernah melarangmu dengan siapapun. Pesanku hanya satu, jaga dirimu baik - baik." pesanku seperti aku menasehati Abbey dan Manda.
Tak ada jawaban disana. Aku tak bisa menebak apa yang dipikirkannya.
"Tapi kak Hans, bukankah kamu menyukaiku?" tanyanya kemudian.
Glek! Aku menelan air ludahku dan berpikir sejenak.
"Kak Hans?" suaranya terdengar tak sabar.
"Ya...?" tanyaku mengambang.
"Ya? Maksudmu kamu menyukaiku? Kalau kamu suka, katakanlah suka." suaranya sudah kembali manja.
"Aku menyukaimu hanya sebatas staf marketing. Tidak lebih. Mengenai kelakuanku semalam, aku benar - benar minta maaf. Aku lepas kendali."
Akhirnya aku memutuskan untuk memberinya batasan, terlepas dari apapun kesalahan yang aku lakukan padanya.
Sampai jumpa di episode selanjutnya
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
Vote
__ADS_1
Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.