
Dan malam itu, Erika benar - benar tidak pulang. Johan mengijinkan Erika untuk tinggal bersamanya selama yang dia mau. Hans tidak bisa berbuat apa - apa selain pulang kerumah, anak - anak membutuhkannya.
"Tak ada Mommy, rumah rasanya sepi." celetuk Abbey saat mereka makan malam.
Hans tak menjawab, makanan dihadapannya terasa hambar. Dia tak tahu harus bagaimana menjelaskan semua ini pada anak - anaknya. Melihat wajah - wajah polos mereka, untuk kesekian kalinya, Hans menyesal.
"Daddy, kapan Mommy pulang?" rengek Manda pada Hans.
Hans memandang Manda dengan sedih. Manda biasanya mengekor Mommy-nya saat dia dirumah, dan sekarang Erika tidak ada, sudah tentu dia merasa kehilangan.
Tidak cukup sampai disitu, Hans juga pusing karena tingkah Aaron. Memang seorang anak dibawah setahun belum bisa mengungkapkan perasaan dengan kata - kata, tapi malam ini Aaron begitu gelisah. Hal sepele saja bisa membuatnya menangis hingga babysitter nampak kewalahan menenangkannya. Bisa jadi dia merindukan Mommynya.
"Daddy belum tahu." jawab Hans akhirnya.
"Kenapa Daddy tak tahu? Daddy kan bisa telepon Mommy dan bertanya kapan Mommy pulang." protes Abbey.
Ck! Hans tak tahu bagaimana Erika bisa begitu sabar menghadapi celotehan anak - anak mereka. Apalagi Abbey yang benar - benar kritis, Hans benar - benar kewalahan menjawab setiap pertanyaan Abbey.
"Iya, nanti Daddy tanyakan." jawab Hans lagi. Dia tak ingin memperpanjang pembahasan tentang Erika dengan anak - anaknya.
"Kenapa nanti? Daddy sudah tidak sayang sama Mommy? Bukannya Daddy paling suka pacaran sama Mommy?" tanya Abbey lagi.
Kalau disituasi normal, Hans pasti akan tertawa geli mendengar pertanyaan Abbey.
Benar sekali, Abbey suka mengatai Erika dan dirinya pacaran. Dia sering sekali mendapati Daddy dan Mommy-nya berteleponan hanya untuk bertukar kabar atau sekedar berbincang singkat di tengah aktivitas mereka sepanjang hari. Tak pernah sekali pun mereka lost contact sebelum kehadiran Clara.
Mengingat semua itu, Hans jadi semakin merindukan istrinya. Sayangnya, Hans tak berani menghubungi Erika terlebih dahulu. Hans ragu kalau Erika mau mengangkat teleponnya disaat kemarahannya sedang memuncak seperti saat ini.
"Iiissh... Daddy melamun terus kalau diajak ngomong." suara Abbey menyadarkanku dari lamunan.
Hans melihat Abbey menatapnya tajam sambil bersedekap dengan raut wajah kesal. Oh, astaga! Hans tak mendengar sedikit pun apa yang dikatakan Abbey tadi.
"Kakak tadi ngomong kalau Daddy harus suruh Mommy pulang besok." Manda mengulang kata - kata Abbey.
Ya ampun! Hans benar - benar merasa sangat berterima kasih karena Manda menyelamatkannya. Manda begitu pengertian, dia tahu kalau Abbey terlanjur ngambek dan tak akan mau mengulang pertanyaannya lagi. Maka dia berbaik hati demi Daddy-nya.
"Uuuummm...maaf Daddy, belum tahu." jawabku sedikit terbata.
"Jangan bilang kalau Daddy dan Mommy bertengkar!" Abbey berkata dengan nada menghakimi.
__ADS_1
Abbey memang sangat peka terhadap situasi disekitarnya. Kalau memang benar Mommy pergi keluar kota, Daddy-nya pasti dengan mudah bisa menjawab kapan Mommy mereka akan pulang. Lagipula, mana pernah Daddy-nya membiarkan Mommy pergi keluar kota seorang diri. Sepanjang ingatan Abbey, TIDAK PERNAH.
DEG!!
Jantung Hans seperti mau copot. Apakah sebegitu kentara hingga Abbey bisa membacanya? Hans benar - benar angkat tangan kalau harus menghadapi Abbey yang seperti ini. Dia belum lupa bagaimana Abbey pernah berkonfrontasi langsung dengan Clara karena Clara kecentilan terhadap dirinya.
"No, sayang. Daddy sama Mommy baik - baik saja. Lanjutkan makannya dan jangan banyak bicara. Tidak baik bicara saat makan." Hans mencoba mengalihkan perhatian mereka.
Dalam hati Hans berdoa, semoga tak ada pertanyaan lain yang akan memojokkannya. Dia tak mau berbohong pada anak - anaknya, tapi disisi lain Hans menyadari kalau tak baik bagi anak - anak untuk mengetahui masalah orang tuanya.
Abbey terlihat masih tidak terima, tapi dia menurut dan menghabiskan makanannya tanpa bicara.
Ternyata semua belum berakhir bagi Hans, Aaron berkali - kali terbangun dan menangis sebelum benar - benar tidur. Tak seorang pun bisa menenangkannya baik Hans maupun babysitter yang biasa membantu Erika merawatnya. Hingga akhirnya Aaron tertidur karena kelelahan menangis. Hans terenyuh melihat wajah jagoan kecilnya sembab dengan sisa - sisa tangisan di pelupuk matanya.
Biar bagaimanapun, Aaron masih membutuhkan sosok seorang ibu. Dan juga Abbey dan Manda. Ah tidak, keluarga ini membutuhkan Mommy Erika.
Sungguh Hans tak tahu bagaimana besok, lusa dan hari - hari selanjutnya dia akan melalui hidupnya. Baru sehari saja Erika tidak dirumah, semua terasa berantakan. Abbey dan Manda yang tak henti bertanya, Aaron yang rewel, belum lagi jadwal kegiatan sehari - hari Manda dan Abbey yang padat.
Dan barusan, babysitter bilang stock ASI untuk Aaron sudah hampir habis. Hans mengacak rambutnya frustasi. Sangat mengherankan! Bagaimana selama ini Erika bisa mengatur semua kegiatannya begitu rapi.
Tok... tok... tok....
Tok... tok... tok....
Sekali ini, suara ketukan terdengar lebih keras.
"Yaaa?" Hans menjawab.
"Daddy, ini Abbey."
Duh! Hans merasa seharusnya tadi dia tak menjawab dan pura - pura tidur saja. Sudah pasti Abbey akan mengejarnya, karena di meja makan tadi dia belum mendapat jawaban yang memuaskan.
"Daddy?" teriak Abbey.
Hans menghembuskan napas dengan kasar, dibukanya pintu lambat - lambat. Sungguh rasanya benar - benar tak enak saat menghadapi tatapan menyelidik seorang gadis remaja yang notabene adalah anaknya.
Perasaan yang meletup - letup seorang remaja bisa saja menghanguskan seorang yang bersalah sepertinya.
"Daddy, aku mau bicara!" Abbey masuk dan langsung duduk diatas tempat tidur.
__ADS_1
Meski dalam hati Hans menyukai ketegasan Abbey, tapi untuk kasus ini Hans benar - benar menyesalinya. Ketegasan Abbey yang didukung dengan kepekaan dan kritis akan membuat Hans dikuliti habis - habisan oleh anaknya sendiri. Dengan berat hati, Hans duduk disebelah Abbey.
Abbey menggeser posisi duduknya supaya menghadap kearah Hans. Dengan berani, Abbey menatap Hans lekat - lekat.
"Daddy, katakan padaku apa yang terjadi sebenarnya! Aku bukan Manda yang begitu saja percaya kalau Mommy ada keperluan diluar kota."
Lugas dan tanpa keraguan. Mungkin kalau pertanyaan ini ditujukan ke orang lain, Hans akan berdecak kagum. Tapi bila pertanyaan itu ditujukan pada dirinya sendiri, rasanya Hans lebih memilih Abbey menjadi pendiam seperti Manda.
"Daddy? Any explanation? Kenapa Mommy tidak pulang?" tanya Abbey dengan tajam.
Oh No! Hans benar - benar tak tahu harus menjawab apa.
Sampai jumpa di episode selanjutnya
β’
β’
Dear readers,
Terima kasih menemaniku hingga hari ini. Ini karya pertamaku, maafkan kalau ada salah - salah penulisan atau yang lainnya. π
Bersyukur sekali dengan like dan comment kalian yang membuatku tidak berhenti menulis. Like dan comment kalian berarti banget buatku, sehingga aku merasa dihargai.
Setiap kali mau menyerah dan berhenti menulis, selalu ada yang bilang "Lanjut, Thor."
Aku langsung merasa kalau tidak boleh mengecewakan kalian.
By the way, menjelang episode terakhir ini, aku kesulitan menulis ending yang smooth. ππDoakan aku supaya mendapat pencerahan.π
Mohon maklum π
I love you, Readers
Peluk dan cium dariku dimanapun kalian berada. πππ
Dariku yang masih harus banyak belajar.
Eyn
__ADS_1