
Siang itu, Erika melihat ulang video - video hasil penyelidikan Johan waktu itu. Sebenarnya Erika sudah pernah melihat video itu saat hari dimana dia pergi ke rumah Johan, setelah mengetahui Hans berkhianat.
Mungkin karena pikiran dan hatinya saat itu sedang kacau, Erika sampai melupakan video - video dan foto yang ditunjukkan Johan padanya. Fokusnya saat itu hanya pada sakit hatinya. Tapi tidak dengan hari ini.
Satu per satu dibukanya kembali file demi file, video demi video. Wajah Erika menunjukkan beberapa macam ekspresi saat melihat isinya.
Erika menyipitkan matanya, hatinya bertanya - tanya saat melihat Clara berjalan berangkulan dengan seorang pria seumuran Hans di sebuah toko di salah satu pusat perbelanjaan.
Awalnya Erika sempat menduga kalau pria tadi adalah kekasih Clara.
Ah, Erika langsung menepis dugaan itu jauh - jauh saat melihat Clara asyik menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama musik di sebuah club malam terkenal di kota ini.
Lagipula dari wajah dan usianya jelas - jelas berbeda dengan yang ada di foto kiriman Clara semalam.
Kemudian Erika membelalakkan mata ketika salah satu video itu memperlihatkan bagaimana seorang Clara sedang minum bersama beberapa pria seumuran dengannya. Dan salah satunya terlihat tanpa rasa sungkan menyentuh pinggang dan mencium Clara. Anehnya, Clara tampak tertawa lepas tanpa beban. Sepertinya dia sudah terbiasa berperilaku seperti itu. Bisa saja dia sering pergi ke party semacam itu?
Benar kata Johan, kalau Clara bukanlah wanita baik - baik. Hans saja yang bodoh sampai terjerat dalam godaannya.
Astaga! Apa yang dilihat berikutnya oleh Erika benar - benar mengejutkan. Hati Erika senang dan trenyuh di saat bersamaan.
Erika senang karena bisa memanfaatkan semua informasi yang didapat untuk menjalankan rencananya, terutama foto Clara saat memasuki sebuah hotel. Semuanya ini sangatlah cukup untuk memberi shock therapy pada wanita tak tahu malu itu.
Namun biar bagaimana pun, Erika mempunyai dua anak gadis. Sungguh dia tak ingin kedua anaknya mempunyai pergaulan buruk seperti Clara. Hati kecilnya terenyuh. Sebagai sesama wanita, Erika sangat tak ingin melihat kaumnya merendahkan diri di hadapan laki - laki hanya demi gaya hidup.
Setidaknya itulah yang dipikirkan Erika tentang Clara. Dia rela memanfaatkan tubuh dan kecantikannya demi menarik hati para pria kaya sehingga mereka mau membelanjakannya barang - barang branded.
Melihat gambar - gambar dan video yang tayang dihadapannya, Erika tidak bisa tidak berpikiran buruk tentang Clara. Apalagi mengingat gaya hidup Clara yang tetap glamour meski tanpa Evan.
Maafkan Erika yang terlalu berpikiran negatif tentang Clara.
Sebenarnya ada opsi lain dibalik kemewahan Clara, yaitu Mamanya. Mamanya memiliki jabatan yang cukup tinggi di perusahaan tempat dia bekerja. Bisa saja kalau si Mama memang memanjakan anaknya dengan barang - barang mewah sehingga kehidupannya terkesan glamour.
Ah, point penting disini bukanlah darimana Clara mendapatkan barang - barang mewah itu, tapi bagaimana perilaku tidak benar Clara di luar sana.
Drrrt... drrrt....
__ADS_1
Sebuah pesan yang sudah ditunggu - tunggu Erika masuk. Pesan dari Johan untuk melengkapi senjata Erika sebelum menjalankan misinya.
Johan mengirimkan profil pria yang katanya dekat dengan Clara, dan juga alamat serta tempat tinggal Mama Clara.
Baiklah. Sekarang Erika membungkus rapi semua copy file tersebut kedalam sebuah amplop cokelat. Lalu Erika menyuruh kurir mengirimkannya kepada Clara.
Done! Sekarang saatnya Erika duduk manis menunggu telepon dari orang yang namanya tak perlu disebut, sambil membuka - buka laporan penjualan online shop-nya.
•
•
Erika bukan cenayang bukan pula seorang ahli membaca pikiran, tapi dia sangat tahu bagaimana memanfaatkan emosi seorang Clara yang suka meledak - ledak sehingga Erika pun bisa meramalkan tindakan Clara selanjutnya.
Beberapa jam kemudian, sebuah panggilan masuk ke ponsel Erika.
Clara calling
Dengan sebuah senyum kemenangan, Erika menggeser gambar telepon berwarna hijau.
"Hallo..." Erika menerima telepon dengan santai.
"Kamu sudah menerima kirimanku?" tanya Erika masih dengan nada suara tenang.
"Apa kamu sudah melihat baik - baik semuanya?" tanya Erika beruntun.
"Menurutku kalau kamu tak menyukaiku, akan lebih kalau kamu tak usah melihat wajahku. Tak usah lagi mencari tahu tentang aku dan kegiatanku. Dengan begitu, kamu tak akan bertambah sakit hati." kata Clara.
"O'ya. Sebaiknya hapus saja semua gambar dan foto - fotoku supaya kamu tak bertambah marah karena terus mengingatku, Kak." lanjut Clara lagi.
Erika tersenyum, meski tahu kalau Clara tak akan bisa melihatnya.
"Aduh, bagaimana ya? Sayangnya aku belum mau menghapus semua foto dan video itu."
Erika berhenti sejenak.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu dan pacar barumu?"
"Kamu tahu? Dia sangat memanjakanku. Black card, mobil, tas, apapun yang aku minta pasti dia kabulkan." Clara begitu mudah terpancing.
"Wow! Beruntung sekali bisa mendapatkan pria seperti itu. Aku kuatir saja kalau ternyata dia hanya bermain - main denganmu. " Erika terdengar kagum.
"Itu tak mungkin, dia sangat mencintaiku. Dia bilang kalau dia tak bisa hidup tanpa aku." Clara sesumbar.
"Bagaimana kalau dia tahu kelakuanmu? Apa dia masih tetap mencintaimu?" kali ini suara Erika terdengar dingin dan tanpa perasaan.
"Apa kamu yakin dia tak akan meninggalkanmu setelah aku mengirim video ini padanya?"
"Lalu bagaimana dengan semua fasilitas yang kamu sebutkan tadi? Apa kamu yakin masih bisa menikmati semuanya itu?"
"Menurutmu, bagaimana perasaan Mamamu kalau tahu kelakuan anaknya yang memalukan?"
"Hmmm... aku hanya kuatir Mamamu akan jatuh sakit memikirkan kelakuan anak perempuannya." kali ini Erika mengucapkan dengan nada prihatin.
Erika terus melanjutkan intimidasinya tanpa menunggu jawaban dari Clara. Dia yakin Clara pasti akan mendengarkan semua kata - katanya.
"Hmmm... Kak Rika, apa kamu mengenal Mamaku?" tanya Clara dengan nada suara yang lebih rendah.
Diam - diam ada rasa gentar mulai menyeruak di hati Clara. Bagaimana mungkin dia mau kehilangan semua kemewahan dari kekasih barunya? Bersamanya semua kebutuhan Clara tercukupi.
Lagipula, dia kuatir Mamanya benar - benar sakit seperti yang dikatakan oleh Erika. Biar bagaimanapun Mamanya sudah berumur dan dia satu - satunya keluarga yang dimiliki Clara saat ini.
"Aku tak mengenal Mamamu dan juga tak ingin mengenalnya lebih dalam. Tapi kalau sekedar mencari tahu dimana dia tinggal, dan berapa nomer telepon serta siapa dirinya. Itu bukan hal yang sulit bagiku."
Dan Erika pun langsung mengirimkan data tentang Mama Clara ke ponsel Clara.
"Cek ponselmu sekarang!" Perintah Erika pada Clara.
Selain itu, Erika juga mengirimkan data pacar baru Clara. Senyum mengembang di bibir Erika. Ada kepuasan tersendiri saat mengetahui lawannya sedikit gentar.
"Apa kamu mengancamku Kak Rika?" tanya Clara dengan nada tak suka.
__ADS_1
"Tidak. Ini bukan ancaman, ini adalah negosiasi." jawab Erika dengan ketenangan yang siap menghanyutkan Clara.
Sampai jumpa di episode selanjutnya....