Your Officemate

Your Officemate
40. Perang Medsos


__ADS_3

Hati wanita mana yang tak sedih saat mendengar suaminya tergoda. Tapi bukan Erika namanya kalau menampakkan kesedihannya. Seolah tak terjadi apa - apa, dikaitkannya tangan dilengan Hans. Kemudian, berjalan anggun disebelah Hans dengan percaya diri.


Apapun yang sedang dikatakan Hans tadi, Erika tetap meyakini bahwa dialah Nyonya Hans sebenarnya. Biarkan yang melihat merasa iri dan cemburu melihat keharmonisan mereka. Apalagi Hans nampaknya juga bekerja sama dengan baik, bahasa tubuhnya pun terlihat begitu hangat terhadap istrinya. Masa bodoh kalaupun sikap Hans saat ini adalah palsu atau hanya untuk menjaga image saja. Erika memutuskan tetap fokus pada misinya.


Ah ya, dekorasi di photo booth memunculkan sebuah ide dikepala Erika. Background bertema outdoor, dengan rumput - rumput dan sebuah sepeda. Tentu saja, Erika tak mau melewatkan session ini. Erika pun mengajak suaminya untuk mengambil gambar disana.


Setelah antri beberapa saat, mereka berpose diatas sepeda. Hans berdiri diantara setang dan sadel depan sepeda. Matanya memandang Erika mesra, dengan tangan diatas bahu istrinya. Sementara Erika duduk miring dibangku belakang, lalu berpose, siap difoto.


"OKE? Siap? Satu... Dua... Tiga..."


CEKREK!!!


Erika tersenyum ceria sambil mengedipkan sebelah mata, tangan kanan membentuk pistol ke arah Hans sedangkan tangan kiri memegang tulisan "SOLD OUT".


Ditempat duduk, Erika memandang hasil foto mereka dan tersenyum puas. Benar - benar kebetulan sekali, properti photo booth mendukung idenya. Selanjutnya Erika mengutak utik layar ponselnya, dan senyumnya kian mengembang.


"Done!!!"sorak hati Erika.


"Kak Haaannsss."


Haduuuh!!! Suara makhluk, yang namanya tidak boleh disebut, menyapa Hans. Hans merespons dengan mengangguk sopan, sedangkan Erika diam saja karena toh dirinya tak disapa oleh makhluk itu.


Sial!! Wanita itu malah duduk dimeja yang sama dengan mereka. Dia memilih duduk tepat disebelah bangku Hans yang kosong. Posisi Hans sekarang diapit oleh Erika dan Clara.


Erika mematung, belum apa - apa dirinya sudah kehilangan selera makan. Tangannya meremas serbet dipangkuannya. Padahal kalau mau Clara masih bisa sedikit berjarak dari Hans, dua bangku dari Hans juga kosong.


"Mommy, ayo tukar." bisik Hans lembut.


Ah, ternyata Hans cukup tahu diri. Dia menawarkan Erika untuk bertukar tempat, supaya wanita bersebelahan dengan wanita. Melihat Hans yang masih tahu etika, letupan di hati Erika sedikit meredup.


"Silahkan Moms." Hans sudah berdiri dan menarik kursi untuk istrinya.


Erika berpindah duduk dengan sikap anggun, dan tersenyum tipis ke Clara sekedar sopan santun. Seorang wanita bermartabat tak perlu bersikap buruk untuk membalas sebuah perlakuan tak menyenangkan dari seseorang. Biarkan kualitas dirimu dan kenyataan yang menamparnya.


"Kak Rika, masih cemburu ya sama aku? kata Clara sambil memutar bola mata tak senang.


Erika berpura - pura tak mendengar, dia sibuk merapikan gaun dan serbet diatas pangkuannya.


"By the way, saat ini aku sedang dekat sama seseorang loh. Jadi Kak Rika tak usah curiga - curiga lagi sama kak Hans. Juga tak perlu lagi cek - cek ponsel Kak Hans." ujar Clara lagi.


"Darimana dia tahu aku cek ponsel kak Hans?"

__ADS_1


Erika tak menjawab, matanya melirik Hans, mencoba mencari tahu reaksi Hans. Dan disambut Hans dengan usapan lembut dibahunya.


"Mungkinkah Kak Hans tak mendengar atau hanya mengalihkan perhatianku?"


"Mommy, ayo dimakan." Hans malah menyodorkan appetizer yang sudah diambilnya dari tengah meja mereka.


"Pak Hans, datang bersama Nyonya?." Sebuah suara berat menyapa.


"Mr. Lim?"


Erika menoleh kearah suara itu, segera berdiri dan menyambut uluran tangan Mr. Lim sambil mengucapkan salam.


"Sekarang aku tahu kenapa kamu selalu memuji istrimu. Kalau saja aku bertemu dengannya diluar, aku tak akan menyangka kalau dia sudah menikah dan beranak tiga. Langsing...dan cantik." seloroh Mr. Lim blak - blakan.


Erika hanya tersenyum sopan menanggapinya pernyataan Mr. Lim. Tangan Hans merengkuh bahu Erika supaya merapat padanya. Dari luar nampak seperti suami yang posesif. Dalam hati Erika tertawa puas, sangat puas.


Tapi, bukan karena pujian dari Mr. Lim yang membuatnya puas. Sama sekali tidak, ini bukan pertama kalinya Erika mendengar pujian seperti itu.


Sungguh menyenangkan melihat bagaimana reaksi Clara saat melihat Hans yang tampak posesif. Ya. Clara seperti ingin menelan Erika hidup - hidup.


Cih, tapi nampaknya Hans tak membiarkan Erika berlama - lama menikmati kesenangannya.


"Lho, menu utamanya saja belum keluar. Kenapa sudah pulang? Padahal aku masih ingin ngobrol sama kamu." Clara cemberut.


Hans tak menanggapi. Dia malah membungkukkan badan kearah Mr. Lim, pertanda dia menyudahi pertemuan. Tangannya langsung meraih Erika, dan mengajaknya ke panggung. Tanpa bantahan, Erika menurut saja pada suaminya.


"Aku sengaja minta sama Arif buat mendahulukan kita untuk session foto." Hans menjelaskan ketika Erika bertanya kenapa mereka bisa dipanggil nomer satu untuk foto.


"Kenapa?"


"Duduk satu meja bersama Clara akan membuatku sangat tak nyaman." Hans menjelaskan pada Erika.


"Darimana kamu tahu Clara datang hari ini? Kok tahu kalau dia bakal duduk di meja yang sama dengan kita?" cecar Erika.


"Oh, aku hanya menebaknya. Arif kan lumayan dekat dengan Clara." Hans mencoba menjelaskan.


"Hmmm...baiklah, tapi aku mau mampir di makan dulu. Aku lapar karena tadi kita tak sempat makan." Erika tak mau pusing dengan alasan - alasan Hans.


"Mau makan dimana, Moms?" tanya Hans.


"Aku mau di resto XXX" Erika menyebut nama resataurant bergengsi yang menyediakan fine dining.

__ADS_1


Meski heran dengan permintaan Erika, Hans tetap membelokkan mobilnya menuju restaurant XXX.


"Kak Hans, ayo kita foto disana." ajak Erika menuju sudut yang sangat instagramable. Sekali kamu mengambil foto disana, semua orang dikota ini akan tahu nama restauran yang kamu kunjungi.


Lagi - lagi Hans hanya menuruti permintaan Erika yang tidak biasanya. Didalam restaurant, Erika tak langsung meminta pelayan menyajikan makanan.


Melihat Erika tersenyum - senyum sendiri sambil melihat ponselnya, Hans jadi penasaran.


"Kamu sedang apa Moms?"


"Wait" jawabnya tanpa menatap Hans.


"Moms?" Hans kian penasaran.


"Dia langsung like. She's watching you." Erika terus asyik dengan ponselnya sambil mengoceh.


"Mommy, kamu mau makan atau mau main ponsel sih?" Hans tampak tak sabar.


"Taraaaaa..." katanya sambil menggoyangkan ponselnya didepan Hans.


Wajahnya benar - benar puas, dan tersenyum lebar.


"Hah?"


Hans tak bisa menyembunyikan kekagetannya saat mengetahui apa yang Erika lakukan. Ternyata Erika mengunggah foto mereka di akun media sosial milik Hans. Slide pertama adalah foto bersama Erika saat Hans lulus universitas bertahun - tahun silam. Lalu, slide kedua berisi hasil photo booth tadi dimana mereka naik sepeda.


Dan yang lebih mengejutkan adalah caption bertuliskan, "karena yang menemanimu mulai dari nol, itulah yang patut diperjuangkan." disertai emoticon peluk dan cium.


Tag Clara Adelia...


Sampai jumpa di episode selanjutnya


Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara


Like


Comment


Vote


Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.

__ADS_1


__ADS_2