
"Kalau takut katakan padaku kalau kamu takut. Kalau sedih, kamu boleh menangis. Dan kalau ingin marah, luapkanlah." Johan berjongkok dihadapan Erika.
Oh! Pertahanan Erika runtuh seketika. Air matanya menetes satu demi satu tanpa bisa dicegah lagi. Erika sudah tak peduli lagi pada orang - orang disekitarnya, yang mungkin tengah memperhatikan mereka.
Setengah jam lamanya, Erika hanya menangis tersedu - sedu meluapkan semua emosi dihatinya. Siapapun yang melihatnya akan merasa pilu, demikian halnya dengan Johan.
Johan memeluk Erika, tangannya mengusap punggungnya hingga tangisan itu mereda.
"Kamu jelek kalau menangis." ledek Johan saat Erika sudah berhenti menangis, tangannya menyodorkan sapu tangan.
"Terima kasih, Kak." kata Erika singkat.
Hidung dan matanya masih kemerahan, tapi napasnya sudah lebih teratur. Meski ada sedikit sisa - sisa sesengukan, perasaannya sekarang terasa lebih lega.
Sekarang mereka duduk berdampingan sambil memandang danau yang tenang didepan mereka.
TUK!!
"Jangan melamun, makanlah yang teratur, dan hidup yang baik. Semua tak seperti yang kamu pikirkan." Johan menyentil pelan dahi Erika.
"Aku tidak sedang memikirkan apapun." Erika berdiri sambil menepuk - nepuk celananya. Dia tersenyum seolah tidak terjadi apa - apa, dan berjalan kearah mobil.
Johan menghela napasnya, dari tadi tak sedikitpun dia berhasil memancing Erika mengeluarkan isi hatinya. Meski menangis tersedu - sedu dihadapannya, adiknya itu tetap bungkam mengenai masalah yang dihadapinya.
"Baiklah. Ayo kita bersenang - senang saja." ajak Johan.
Kemudian mereka mengunjungi sebuah tempat ibadah terkenal di kota mereka.
"Berdoalah saat kamu merasa tak mampu berbuat apapun. Mintalah dengan sungguh - sungguh, Dia pasti memberikan yang terbaik." Johan menasehati Erika.
Selanjutnya yang dilakukan Johan adalah mengajak Erika berenang dirumahnya, dan mengajaknya pergi makan di sebuah restaurant yang juga kesukaan Erika. Johan sengaja tak bekerja hari ini hanya untuk menemani adiknya.
Agak siang, Johan menyuruh Erika berdandan. Erika menurut saja, pakaian dan perlengkapannya sudah siap dirumah Johan. Sudah pasti, Johan yang mengatur semuanya ini. Lagi - lagi, Erika merasa harus berterima kasih pada Johan yang terus menemaninya sepanjang hari ini.
Apa jadinya kalau dia dirumah saja saat ini, sudah pasti dia akan lebih banyak melamun sambil mengurus online shopnya. Kadang kala tak harus bercerita ataupun solusi. Cukup ada seseorang yang terus mendampingi dan yakin dia akan selalu ada untukmu, semua akan terasa lebih baik.
"Kita mau kemana?" tanya Erika.
"Ra...ha...si...aaaa" Johan kembali menggoda Erika.
Tangan Erika yang sudah siap melayang, berhenti diudara saat mendengar Johan berkata, "Aku lebih suka kamu marah begini, daripada terus berdiam diri."
"What?"
"Kalau kau tak bisa bercerita padaku. Lain kali datanglah ke Merry. Dia juga menyayangimu." lanjut Johan sambil terus melajukan mobilnya.
__ADS_1
Dan ternyata, mereka berhenti disebuah mall.
"Hari ini kamu harus meminta apapun padaku. Bersenang - senanglah. Harus!" perintah Johan, lalu dia keluar dari mobil, dan berjalan memutar untuk membukakan pintu bagi Erika.
"Ayo." Johan mengulurkan tangannya untuk membantu Erika berdiri.
Johan membiarkan Erika melakukan apapun, asalkan dia merasa nyaman. Meski keluh kesah yang ditunggu tetap juga tak keluar dari mulut Erika. Setidaknya, Johan tau perasaan Erika sudah lebih baik. Johan ingin menjadi bahu untuk bersandar bagi Erika. Mengingat mereka hanya berdua sekarang ini, tentunya selain dengan Merry dan Hans.
Siang itu, Johan menghabiskan waktunya untuk menemani Erika di mall. Mulai dari mampir ke toko buku dan membelikan Erika beberapa buku favoritnya, hingga makan ice cream sambil berbincang ringan. Tak lupa mereka berbelanja untuk Abbey, Manda dan Aaron.
Setelah makan siang, yang lagi - lagi di tempat favorite Erika, Johan mengajak Erika menonton salah satu film yang sedang ditayangkan di bioskop saat itu. Mereka menonton salah satu film laga lalu pulang.
"Percayalah pada suamimu." saat mobil Johan berhenti, dan Erika bersiap turun.
Erika tertegun, "Kak Johan berkata begitu karena dia tak tahu bagaimana kelakuan Kak Hans terakhir ini."
"Dia setia. Percayalah padaku." lanjut Johan.
"Aku butuh bukti bukan hanya kata - kata, Kak." lagi - lagi Erika membantah Johan dalam hati.
Johan memandang Erika dengan sayang. Dia tahu Erika tak akan membuka apapun tentang masalah rumah tangganya. Biar bagaimanapun, Erika harus tahu kalau Johan ingin yang terbaik untuk Erika.
"Dia memang tergoda, tapi aku tetap percaya kalau dia itu setia." Johan mencoba meyakinkan adiknya.
"Aku yang menjaminnya. Aku berjanji padamu. Kalau sampai dia tak bisa dipercaya, aku sendiri yang akan turun tangan. Setidaknya percayalah pada kakakmu ini, aku tak mungkin menjerumuskanmu."
Drrrrrt....drrrrt....
Nama Hans muncul dilayar ponsel Erika, jantung Erika berdegup lebih cepat. Hatinya berperang antara tak mau menerima dan penasaran kemana Hans pergi semalam. Dan apa maksud Johan berkata demikian. Kakaknya bukanlah orang yang suka mengumbar janji.
"Terima saja telponnya. Tolonglah temanku yang bodoh itu." Johan menangkap keraguan dimata Erika.
"Jadi benar, kak Johan tahu sesuatu. Kenapa tak memberitahuku?"
"Halllooo....Mommy?"
Erika akhirnya menerima panggilan itu, meski tak mengeluarkan sepatah katapun.
Erika masih belum mau menjawabnya.
"Aku pulang, Moms. Aku pulang." suara Hans terdengar sedikit serak.
Erika memberi kode kalau dia akan keluar dari mobil dan masuk kerumah. Johan menganggukkan kepala, dan meninggalkan Erika.
"Kamu dimana?" tanya Erika singkat karena tak melihat mobil Hans dimanapun.
__ADS_1
Bluk! Suara mobil ditutup, begitu Erika menoleh ternyata Hans sudah dihadapannya. Sebelum Erika bereaksi apapun, Hans memeluknya erat.
"Kamu pemenangnya, Mom. Kamu pemenangnya." bisik Hans ditelinga Erika.
Ada penyesalan, rindu dan sedih di nada suara Hans, ataukah ini hanya perasaan Erika?
"Ada apa Kak?"
"Maafkan aku. Aku memilihmu." Hans mengurai pelukannya.
Memang benar Hans nampak kuyu, dan sisa - sisa bau asap rokok masih tercium dari pakaian Hans.
"Sejak kapan kak Hans merokok?"
Akhirnya Erika menyuruh Hans membersihkan diri dahulu, masih ada waktu untuk berbicara nanti.
Dibantu oleh ART, Erika menyiapkan makan malam untuk suami dan anak - anaknya. Tapi Hans yang ditunggu tak kunjung turun keruang makan. Erika menjelaskan pada anak - anaknya untuk makan lebih dahulu, karena mungkin saja Daddy mereka kelelahan.
Ternyata Hans sedang tertidur di kamar. Nampaknya dia sudah mandi, wajahnya terlihat lebih bersih dan sudah memakai pakaian rumah. Pelan - pelan, Erika mendekat pada suaminya. Lalu dia mengamati wajah itu, dengan perasaan yang tak bisa digambarkan.
Eh! Ada suara getaran halus, lalu disusul cahaya menyala dari ponsel yang ada digenggaman tangan Hans. Ada dorongan kuat untuk mengambil ponsel itu.
"Hmmm... pesan dari Lia"
Mendadak perasaan Erika tak menentu, apalagi nampak gambar hati
"Lia siapa lagi ini?"
Ingin rasanya Erika mencabik - cabik pria dihadapannya. Ini adalah kesekian kalinya Hans membuatnya terombang - ambing.
"Ya Tuhan! Apapun ini, hatiku siap hancur asal semua ini berakhir dengan baik. Kumohon supaya semua yang terbaik, untukku, kak Hans dan juga anak - anakku. Terbaik untuk keluargaku." bisik Erika dalam hati.
Sampai jumpa di episode selanjutnya
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
Vote
Vote
Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.
__ADS_1