
"Aku penasaran, ingin segera tahu apa yang ada didalam sini." Hans mengurai pelukannya lalu mengusap lembut perut Erika.
"Jangan bilang aku gemuk kak Hans..." lirih suara Erika terdengar sedih.
Memang Erika akui, tubuhnya tidak selangsing biasanya. Kemarin - kemarin dia tak terlalu menyadarinya. Setelah mendengar kata - kata Hans dan mengamatinya sendiri, ternyata benar pinggulnya dan dadanya membesar. Pantas saja celana jeans kesayangan dan bra terasa sedikit sesak. Meski tak terlalu besar, tak bisa dipungkiri kalau perutnya membuncit dan keras. Terutama dibagian bawah.
Hans mengelus kepala Erika lembut. Lalu mengangkat dagunya.
"Hei, apa yang kamu pikirkan? Bukannya dari dulu aku minta kamu supaya gemuk?"
Ya. Hans berkali - kali menyuruh Erika menggemukkan badan. Menurut Hans, semakin wanita berumur, dia harus makin gemuk supaya selalu terlihat segar dan tidak kuyu.
Tapi wanita tetaplah wanita, selalu saja merasa ada yang kurang dengan tubuhnya sendiri. Hadirnya Clara semakin membuat Erika melakukan berbagai exercise berat untuk pembentukan tubuh, bahkan menjaga pola makannya. Erika hanya ingin tetap cantik dan tak kalah dengan daun muda.
"Mommy...yuk, aku sudah bikin janji dengan Dokter Yosi." Hans tersenyum hangat, sambil menggandeng tangan Erika menuju ke mobil.
Dokter Yosi? Tanya Erika dalam hati. Erika mengernyitkan dahinya. Bukankah itu dokter kandungan langganan mereka. Erika memang memakai jasa dokter itu sejak kehamilan pertamanya. Dan sekarang, Hans mengajaknya kesana lagi.
OH!!!! Air mata langsung meleleh tanpa bisa dibendung lagi. Erika mendadak disergap rasa takut, cemas dan merasa bersalah. Bagaimana ini? Mengingat perubahan bentuk tubuhnya, mungkinkah dia lagi - lagi tak menyadari kalau sedang berbadan dua?
"Kenapa malah menangis?" Hans semakin yakin dugaannya benar kalau Erika hamil. Apalagi melihat swing mood-nya yang begitu cepat hari ini.
"Kak Hans, aku hampir setiap hari sit up, skipping, bahkan treadmill. Setiap hari aku pasti olahraga berat....bagaimana ini?" isak Erika pilu.
"Huuuuu... bahkan kemarin aku ikut loncat - loncat saat menemani Manda di trampolin park."
Pengakuan Erika membuat Hans memijat pelipisnya. Dia jadi ikut kuatir.
"Sudahlah, lebih baik kita cek. Tidak usah menduga - duga." Hans hanya bisa pasrah.
Perjalanan menuju ke dokter mereka lalui tanpa percakapan, dan hanya sesekali terdengar suara isak Erika.
****
Di Ruang Obgyn
"25 minggu." kata Dokter sambil menggerak - gerakkan alat diatas perut Erika yang sudah diolesi gel.
Deg! Air mata Erika kembali mengalir. Rasa menyesal kembali menyergapnya. Kehamilannya sudah sebesar ini, dan dia tak menyadari. Selama ini, dia tak memperhatikan asupan nutrisi untuk janin yang dikandungnya.
Hans menggenggam erat tangan Erika, sambil matanya tak lepas mengamati sesuatu yang aktif bergerak - gerak di layar monitor. Nampak di monitor janin mereka yang ukurannya kira - kira lebih besar dari satu telapak kaki. Meski bukan anak pertama, tapi tetap saja Hans merasa takjub melihat kehidupan baru tumbuh di tubuh istrinya.
__ADS_1
"Bayi kalian sangat sehat dan kuat, Tuan dan Nyonya. Seperti yang saya bilang tadi, usianya 25 minggu. Detak jantungnya bagus. Dan kemungkinan jenis kelaminnya laki - laki." Dokter memberikan penjelasan sambil terus mengamati layar.
"Laki - laki?" Hans memastikan.
"Ya." jawab Dokter sambil tersenyum.
Mata Hans berbinar. Kemudian mata Hans beralih menatap Erika yang sudah berhenti menangis dan nampak lega. Hans begitu bahagia, karena keinginannya mempunyai anak laki - laki akhirnya terwujud.
Kalau saja tidak malu, Hans pasti sudah meloncat dan berteriak YES!!! Akhirnya, Erika bisa tersenyum lega.
Setelah dokter meresepkan vitamin untuk Erika, akhirnya mereka meninggalkan ruangan itu.
Setelah dokter meresepkan vitamin untuk Erika, akhirnya mereka meninggalkan ruangan itu.
"Tunggu disini sebentar, aku akan menebus resep." pinta Hans.
Erika mengangguk mengiyakan, lalu duduk di salah satu bangku yang terdapat di koridor rumah sakit. Duduk diam sendirian membuat pikirannya melayang ke banyak hal. Erika kembali murung.
"Ayo." tangan Hans terulur untuk membantu Erika berdiri.
Erika menyambut tangan Hans, bangkit dari duduknya, lalu berjalan keluar rumah sakit bersama Hans.
Erika tak menjawab. Pikirannya masih kemana - mana.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tangan Hans merapikan anak - anak rambut Erika, setelah sebelumnya memasangkan seatbelt di perut Erika.
"Banyak."
"Banyak?" Hans tercengang.
Bukankah seharusnya Erika senang karena akan mendapat baby boy? Sama halnya dengan Hans, Erika pun menginginkan anak laki - laki. Hanya saja karena kesibukan dan berbagai pertimbangan, akhirnya mereka memutuskan cukup Abbey dan Manda saja.
"Iya, banyak." angguk Erika mantap.
"Baiklah, aku siap mendengarkan." pinta Hans sambil melajukan mobilnya.
"Buatku, ini terlalu mendadak. Kita tak punya persiapan apapun. Dan tiga bulan lagi, dia sudah akan lahir ke dunia." keluh Erika.
Erika berhenti sejenak.
"Terus terang, aku sudah menikmati ritme kegiatanku saat ini. Anak - anak yang sudah besar, dan aku bisa lebih santai. Yoga, perawatan, sekedar makan atau nongkrong bersama mereka. Memang kadang aku kerepotan membagi waktu untuk mengurus olshop, anak - anak, dan kadang harus ke bank untuk urusan kantormu. Tapi aku enjoy dengan semua itu." lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Hmmm...aku bisa membantumu berbelanja kebutuhan bayi atau keperluan lainnya kalau kamu sibuk." sahut Hans tanpa beban.
"Bukan begitu, Kak. Setelah sekian lama tak punya anak kecil. Rasanya tak mudah untuk kembali begadang, dan menyusui." Erika memandang Hans dengan tatapan memelas.
"Kamu tau kan kalau aku selalu siap membantumu seperti yang sudah sudah? Atau kalau kau mau, bisa saja kita membayar baby sitter untuk menggantikanmu saat lelah."
Memang benar, Hans selama ini banyak membantu mengurus anak ketika dia di rumah. Mulai dari menggendong dan memandikan waktu mereka bayi. Lalu saat mereka mulai besar Hans akan bermain bersama mereka, supaya Erika bisa istirahat sejenak dan tidak kelelahan.
"Bagaimana?" Hans bertanya karena mendapati wajah istrinya tak juga kunjung cerah.
"Lalu bagaimana dengan badanku? Setelah anak ketiga, apakah masih akan tetap bagus dan kencang? Atau bertambah jelek? Bagaimana kalau kamu malah tertarik pada yang lebih bohai?"
Jawaban Erika justru memicu tawa Hans.
Hans cukup terkejut karena ternyata Erika mengkuatirkan bentuk tubuhnya. Dia juga heran sejak kapan Erika begitu concern dengan kecantikan dan bentuk tubuh.
Disisi lain, Hans juga geli karena ternyata inti kegelisahan Erika adalah diam - diam dia sedang cemburu.
Melihat suaminya tertawa, Erika mengerucutkan bibir dan menatap Hans sengit.
"Ada satu lagi kak Hans. Iya, satu lagi. Ini adalah hal yang paling aku takutkan. Aku tak mau kucing lapar mengambil milikku!!!" Erika menggebu - gebu mengeluarkan uneg - unegnya.
"Eh? Kucing lapar?" Hans melongo.
"Iya. Kucing lapar selalu mengincar sesuatu disaat pemiliknya lengah. Disaat aku sibuk mengurus baby, dia akan menggunakan kesempatan itu untuk mendekatimu. Bukankah waktumu bersamanya lebih panjang dari pada waktumu bersamaku?" sembur Erika tanpa jeda.
"What? Kucing lapar?" kali ini Hans tak bisa menghentikan tawanya. Perut Hans seperti digelitik. Hans paham sekali siapa kucing lapar yang dimaksud oleh Erika.
Bersambung...
Sampai jumpa di episode selanjutnya
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
Vote
Jangan lupa untuk klik favorite supaya mendapatkan notifikasi setiap kali ada update bab baru.
__ADS_1