
"Daddy? Any explanation? Kenapa Mommy tidak pulang?" tanya Abbey dengan tajam.
Tanpa sadar Hans mengusap wajahnya. Gadis remajanya ini pasti akan memberontak kalau dia tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Daddy bertengkar sama Mommy?" lagi - lagi Abbey to the point.
Hans menghela napas pelan.
"Ya." jawabnya sambil menatap Abbey.
"Pasti gara - gara Tante Clara yang kecentilan."
Hah!!! Hans tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, seharusnya Abbey maupun Manda tak tahu apapun. Mungkinkah Erika mengatakan sesuatu pada mereka?
"Bukan, Abbey. Bukan karena siapapun. Suami Istri sekali waktu bertengkar itu normal, Abbey." Hans berusaha memberi pengertian pada Abbey.
"Lalu, kenapa Tante Clara tadi siang datang kemari? Aku tak suka dia datang kerumahku."
Wow! Fakta bahwa Abbey mengetahui Clara datang benar - benar membuat Hans tercengang.
"Tau darimana Tante Clara datang kemari?"
Hans memutuskan untuk menggali sejauh mana Abbey tahu tentang masalah mereka. Ataukah dia hanya menduga - duga meski dugaannya hampir benar.
"Tadi waktu aku pulang sekolah, si Mbak cerita kalau ada cewek cantik cari Daddy. Tapi Daddy lagi tidur. Setelah Daddy bangun, Mbak mau bilang ke Daddy, tapi Daddy keburu pergi...ga jadi deh...." Abbey bercerita dengan santai.
"Truuusss... aku bilang aja ke Mbak supaya jangan bilang - bilang ke Daddy karena cewek itu genit banget." lanjut Abbey lalu tertawa penuh kemenangan.
Dari cerita Abbey, Hans masih belum bisa menyimpulkan apa yang ada di benak anak gadisnya itu. Apakah Abbey mencurigainya? Sudah tahu? Menebak? Ataukah hanya sekedar bercerita? Hans benar - benar pusing dibuatnya. Dia tak mau salah langkah, yang nantinya justru menimbulkan trauma di hati seorang anak remaja.
__ADS_1
Broken home adalah sebuah momok bagi remaja - remaja seusia Abbey, dan Hans berharap belum terlambat untuk memperbaiki rumah tangganya. Demi anak - anak, Hans berjanji dalam hati tak akan jatuh dalam kesalahan yang sama.
"Daddy janji, Daddy akan minta maaf kepada Mommy dan memohon supaya Mommy pulang."
"Tapi, Dad. Mommy tak pernah pergi dari rumah meskipun marah besar waktu kami nakal. Aku rasa Daddy sudah terlalu menyakitinya."
Duh! Sekali lagi perkataan Abbey benar - benar tepat sasaran hingga Hans tak bisa merespons selain tersenyum kaku.
"Daddy, apakah mungkin Mommy ingin bercerai sama Daddy?" Abbey memicingkan matanya, wajahnya nampak berpikir serius.
Ya ampun, Abbey! Hans merasa usianya mendadak bertambah puluhan tahun saat berhadapan dengan Abbey.
"Jangan berpikiran yang tidak - tidak. Tak mungkin Mommy kalian tega meninggalkan kalian." Hans berkata antara yakin dan tak yakin.
"Buktinya? Hari ini saja Mommy tidak pulang. Mommy bahkan tidak merindukan Aaron dan kami."
Abbey benar - benar tanpa ampun menyiksa batin Hans sampai - sampai Hans merasa dirinya telah salah dalam mendidik Abbey. Wajarkah anak seusia Abbey berpikiran sejauh itu?
Astaga! Pembicaraan macam apa ini? Oh, Hans sudah tak tahu lagi mana yang pantas dan mana yang tidak pantas untuk dibicarakan dengan anaknya. Mana yang baik dan buruk untuk diketahui. Yang pasti, Hans merasa sedang dihakimi oleh anak remajanya. Entahlah raut wajah macam apa yang sedang ditunjukkannya pada Abbey.
"Daddy, menurutku Tante Clara itu gold digger."
Aduh! Omongan apalagi ini? Hans hanya bisa menepuk jidatnya.
"Gold digger itu apaan sih?" Hans pura - pura tak tahu.
"Gold digger tuh ya cewek yang suka sama cowok karena duitnya aja, Dad. Bahasa indonesianya kalau tak salah, cewek matre. Masa gitu aja Daddy tak tahu?" Abbey terlihat berapi - api.
"Kenapa kamu anggap dia gold digger?" tanya Hans lagi.
__ADS_1
"Lho, jelas dia gold digger dong. Memangnya Daddy kira dia beneran suka sama Daddy? Dia mah kecentilan karena tahu Daddy banyak duit makanya dia mau sama Daddy. Lagian masa suka sama orang tua?"
Hans serasa ditonjok berkali - kali oleh anaknya, dia malu pada diri sendiri dan juga anaknya.
"Tapi, Dad. Kalau Daddy milih Tante Clara dan berpisah sama Mommy. Aku mau ikut Daddy saja."
"Ha?" Hans sudah sangat speechless.
Logikanya, seharusnya Abbey membencinya karena berse****kuh. Tapi ini? Abbey malah meminta untuk ikut dengannya.
"Iya, Dad. Aku mau ikut Daddy kalau Daddy menikah dengan Tante Clara." seakan bisa membaca pikiran Hans, Abbey mengangguk mantap dan mengulang kata - katanya.
Kemudian tanpa memperdulikan reaksi Hans, Abbey kembali melakukan serangan.
"Kalau aku ikut Daddy, aku berjanji akan menjadi anak yang super duper nakal dan menjengkelkan supaya membuat Tante menyesal menikah sama Daddy-ku. Dan aku bakal habisin semua uangmu, Dad. Lebih baik uangmu habis untuk anakmu dari pada dihabiskan gold digger." Abbey tersenyum puas membayangkan apa saja yang akan dilakukan pada Clara kelak.
Duh! Kalau saja Hans tidak malu, ingin rasanya menangis keras - keras mendengar semua ucapan Abbey. Anak remaja yang semula dia kira tak tahu apa - apa, ternyata menyimpan banyak "kejutan".
Meski begitu, Hans tetap bersyukur karena setidaknya Abbey berani mengungkapkan isi hatinya daripada memendamnya dalam hati dan meninggalkan rasa pahit dihati.
"Daddy memilih Mommy dibanding Clara. Jangan kuatir, Daddy tak akan menikah dengan siapapun kecuali Mommy kalian." kata Hans berusaha menenangkan jiwa muda yang sedang berontak dihadapannya. Tangan Hans terentang, dan Abbey memeluk Daddy-nya erat. Biar bagaimanapun, jauh dilubuk hati Abbey, Hans adalah idola dan cinta pertamanya.
"Kalau begitu, besok Daddy jemput Mommy dan bawa pulang kerumah."
Hans mengangguk lalu membalas pelukan Abbey dengan erat. Perasaannya membuncah, dengan banyak rasa yang tak bisa diungkapkannya. Bahkan matanya berkaca - kaca.
"Maafkan Daddy karena membuat Mommy pergi dari rumah. Daddy janji tak akan membuat Mommy marah lagi." suara Hans pelan berharap tak ada kecewa yang besar dihati anak perempuannya.
Pertengkaran orang tua sekecil apapun biasanya bisa dirasakan oleh seorang anak. Sekecil apapun pengkhianatan, kesalahan tetap kesalahan. Satu persatu harus dibereskan.
__ADS_1
Sanpai jumpa episode berikutnya...