
"Asalkan dengan bersamanya membuatmu lebih baik daripada saat bersamaku. Asalkan kamu bahagia, aku ikhlas. Aku ijinkan kamu menikah lagi." Erika mengulang kata - katanya, disertai dengan senyum.
Hans sudah tak bisa menarik kata - katanya lagi. Tampak penyesalan di raut wajahnya saat mendengar kalimat - kalimat Erika selanjutnya.
"Kamu boleh menikah lagi, kak Hans. Aku tak akan menghalanginya. Tapi ceraikan aku. Tinggalkan aku dan anak - anakmu. Pergilah bersamanya, aku merelakanmu."
Erika memilih tak memohon pada Hans untuk tetap bersamanya. Buat apa memaksa seseorang bertahan disisimu, kalau hatinya sudah bukan milikmu.
Manusia itu seperti pasir, semakin kamu ingin menggenggamnya erat, semakin banyak yang terlepas dari genggamanmu. Lebih baik biarkan saja pasir itu diatas telapak tanganmu tanpa menggenggamnya, lihatlah siapa yang akan tinggal bersamamu.
Erika juga tak mau memberi syarat supaya Hans bersikap adil, karena sudah pasti tak mungkin suaminya itu bisa bersikap adil. Apalagi wanitanya adalah Clara. Oh, tidak. Lebih baik tak usah berharap apapun daripada kecewa dan berakhir dengan perasaan sakit seumur hidup. Semakin cepat semua ini selesai, akan semakin baik. Tak perlu berlarut - larut.
Sebaliknya, kata demi kata yang diucapkan Erika justru terdengar seperti bom yang meledak berulang kali di telinga Hans.
"Aku mengerti, Moms. Aku menghargai keputusanmu."
Tak ada perlawanan dari Hans. Dia mengusap wajahnya, lalu berdiri dan berlalu dari kamar tidur mereka. Setelah itu, Hans pergi entah kemana.
Bohong kalau Erika tak merasa sedih, malam itu pun dia tak bisa tidur dengan nyenyak. Matanya terus melirik jam dinding. Apakah benar Hans tidak akan pulang? Erika tetap menguatkan hatinya untuk tak mencari ataupun menghubungi Hans. It's a gambling.
Benar. Erika sedang bertaruh dengan dirinya sendiri. Mengingat semua yang telah dilaluinya bersama Hans, Erika mencoba mempertaruhkan masa depan rumah tangganya dengan meminta Hans menceraikannya.
Hati kecilnya menyimpan keyakinan kalau masih ada sisa rasa tanggung jawab Hans pada anak - anaknya, dan juga rasa hormat terhadap dirinya sebagai seorang istri. Kalau saja Hans dari awal adalah seorang player, tentu sejak awal Hans sudah tak pulang kerumah.
•
•
Ketukan pintu membangunkan Erika yang tertidur entah jam berapa. Sisi tempat tidur disampingnya kosong, bantal dan guling masih belum berpindah tempat. Itu artinya Hans tak pulang semalam ataukah dia tidur di kamar tamu? Atau jangan - jangan dirinya sudah kalah.
"Mommy, Uncle Johan datang." teriak Abbey dari balik pintu.
"Hah? Kak Johan? Sepagi ini?"
"Sepuluh menit, Mommy turun." teriak Erika.
Secepat kilat Erika menyahut dan langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Begitu turun ke bawah, Erika sudah disambut dengan Abbey dan Manda yang sudah siap dengan seragam sekolahnya.
"Uncle Johan bilang hari ini kita ke sekolah bersama pak sopir karena Papa mendadak ada keperluan diluar kota." celoteh Manda.
Erika mengernyitkan dahinya, dan melihat kearah Johan. Kakaknya terlihat santai, menggendong Aaron di dekat kolam ikan. Erika terlalu pintar untuk dibohongi. Dia mengenal betul siapa kakaknya itu. Tak mungkin sepagi ini datang tanpa tujuan. Dan lagi, apa katanya tadi? Hans keluar kota?
__ADS_1
"Tumben pagi sekali, Kak" Erika berjalan mendekati kakaknya.
"Ayo temani aku lari pagi." ajak Johan.
"Kenapa kak Merry tak ikut?"
"Aku mau kencan sama adik kesayanganku." Johan tersenyum sambil mengedipkan sebelah mata.
Erika hanya mencibirkan bibirnya. Benar juga, Erika baru sadar kalau Johan mengenakan kaos dan celana training lengkap dengan sepatu kedsnya.
Setelah anak - anak berpamitan dan Aaron diambil oleh suster, Erika langsung bersiap - siap dan keluar mencari Johan. Tak diduga, Johan memeluk Erika dengan erat begitu Erika datang.
"Aku semakin yakin pasti ada yang ingin dikatakan oleh kak Johan." gumam Erika dalam hati.
"Ayo." Johan mengurai pelukannya, lalu merangkul bahu Erika dan mengajaknya pergi. Tak ada pembicaraan apapun, Erika sibuk menerka - nerka apa maksud kedatangan Johan kali ini.
"Ayo, turun." Johan menghentikan mobilnya di tempat penjual bubur kesukaan Erika.
"Katanya mau lari pagi, eeeh malah mampir kesini. Gimana sih?" protes Erika sambil memajukan bibirnya.
Sebenarnya Erika sedang tak ingin makan apapun. Pikiran yang kalut karena masalah rumah tangga, membuatnya hilang selera makan.
"Hah? Darimana dia tahu?"
Fix! Erika langsung yakin kalau Johan mengetahui sesuatu. Hans yang bercerita atau ada sesuatu yang dia ketahui? Erika bertanya - tanya dalam hati.
"Apa perlu aku suapi?" pertanyaan Johan mengusik Erika dari lamunan.
"Ada apa Kak? Apa ada yang mau dibicarakan?" Erika to the point.
"Tak ada, makanlah." Johan menjawab dengan lembut, tangannya mengacak kepala Erika lembut.
Sentuhan di kepala itu terasa hingga ke dalam hati Erika. Sisi melankolisnya tersentuh. Ada rasa aman dan terlindungi saat melihat mata Johan. Ingin rasanya Erika berlindung dibalik punggung Johan seperti saat dirinya kecil dulu. Matanya memanas dan hatinya tergugu. Cepat - cepat disuapkannya bubur itu kemulut. Lehernya terasa sakit menahan tangis.
Tapi Erika tak ingin membuat kakaknya kuatir dengan melihatnya menangis. Kepalanya terus menunduk berpura - pura asyik menikmati buburnya. Johan hanya memperhatikan adiknya tanpa berkomentar apapun. Dia tahu, Erika tak akan semudah itu menceritakan isi hatinya. Percuma Johan memaksa, lebih baik menemani dan menghiburnya. Dan menunggu saat yang tepat untuk bicara.
Johan mengambil mangkok bubur kosong, berpura - pura tak melihat wajah sendu Erika.
"Siap lari?" tanya Johan.
"Yaaah...baru makan, mana boleh lari." sahut Erika tak bersemangat.
__ADS_1
"Kalau gitu ayo jalan santai disekitar danau itu." ajak Johan pada Erika.
Erika menganggukkan kepala, dia tahu Johan bermaksud menghiburnya. Diam - diam Erika bersyukur Johan tak memaksanya untuk bercerita. Sekali saja dia menceritakan tentang Hans, sudah pasti air matanya akan tumpah.
Johan berjalan lambat - lambat sambil memperhatikan Erika yang sedang berjalan dengan mata menerawang.
"AWAS!!! ULAT." teriak Johan mengagetkan Erika.
"Aaaaaaa...mana? Mana? Usir kak, usir dia." jerit Erika sambil meloncat - loncat dan memeluk Johan yang sedang tertawa terbahak - bahak melihat reaksi Erika.
"Hadooooh!!!" teriak Johan kesakitan.
Perutnya dicubit oleh Erika karena kesal sudah dikerjain.
"Awas kamu, Kak!" Erika marah dan mengejar Johan yang berlari menjauh.
Berkat rutin berolahraga, meski usianya sudah menginjak 40 tahun, stamina Johan masih bagus. Dengan mudah dia berlari menghindari pukulan Erika yang bertubi - tubi.
Johan berhasil melenyapkan mendung diwajah adiknya. Dia rela meski harus menerima cubitan dan pukulan dari Erika. Apapun akan dilakukan demi kebahagiaan adik kesayangannya. Johan sudah berjanji pada mendiang Papanya untuk menjaga adiknnya.
"Capek?" tanya Johan saat melihat Erika menjatuhkan pant-atnya di rerumputan.
Erika tak menjawab, dia meluruskan kaki sambil mengatur napas. Perasaanya terasa lebih ringan setelah berlari mengejar Johan tadi. Ah, Erika merasa harus berterima kasih pada kakaknya nanti.
"Kamu usil, Kak" keluh Erika.
"Kalau takut bilang padaku kalau kamu takut. Kalau sedih, kamu boleh menangis. Dan kalau ingin marah, luapkanlah." Johan berjongkok dihadapan Erika.
Oh! Pertahanan Erika runtuh seketika. Air matanya menetes satu demi satu tanpa bisa dicegah lagi.
Sampai jumpa di episode selanjutnya
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
Vote
Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.
__ADS_1