Your Officemate

Your Officemate
17. Cerita Absurd


__ADS_3

"Aku mendengarnya dari Kak Clara." kata Jennifer. Matanya jujur, tak nampak sedikit pun kebohongan didalamnya.


Hans tak bisa menyembunyikan kekesalannya, pikirannya langsung menduga - duga ke hal - hal negatif tentang cerita Clara. Namun, Hans menahan diri untuk mengamuk di depan Jennifer.


Lagipula, Jennifer hanya sebagai pendengar. Satu - satunya kesalahannya adalah, Jennifer terlalu mudah percaya begitu saja pada Clara. Tapi tak bisa disalahkan juga, mana mungkin seorang Jennifer croscek soal gossip pada Hans. CK!!


"Boleh aku tau apa yang kamu dengar? Apa aku seseram itu? Erika mencoba berbicara selembut mungkin pada Jennifer.


Mata Erika memberi isyarat pada Hans untuk diam. Hans pun menikmati makanannya sambil pura - pura tak peduli. Padahal telinganya dibuka lebar. Ada rasa ingin tahu yang menggelitik hatinya, setiap kali mendengar soal Clara.


Erika ingin Jennifer bisa merasakan sendiri, bukan hanya percaya dengan apa yang dia dengar. Orang boleh berbicara apa saja tentangmu, dan kita pun tak perlu menjelaskan apapun. Lebih baik tunjukkan kebaikanmu. Setelah mengenalmu, mereka akan mengerti dengan sendirinya.


Awalnya Jennifer terlihat ragu - ragu. Namun, didapatinya mata bening Erika. Tak ada sedikit pun pancaran rasa marah. Sebaliknya Jennifer merasakan sosok seorang ibu disana. Perasaan Jennifer menjadi nyaman.


"Aku mendengarnya dari Kak Clara." kata Jennifer polos.


Hans tak bisa menyembunyikan kekesalannya, pikirannya langsung menduga - duga ke hal - hal negatif tentang cerita Clara. Namun, Hans menahan diri untuk mengamuk di depan Jennifer. Lagipula, Jennifer hanya sebagai pendengar. Terbersit di pikiran Hans, apa motif Clara menyebarkan cerita bohong itu.


Teringat bagaimana berkali - kali Clara selalu menekankan kalau Erika cemburu padanya. Darimana Clara mendapat kesimpulan itu? Hans hampir selalu bersama Erika setiap kali Clara dan istrinya memiliki kesempatan bertemu. Sepengetahuannya, Erika selalu menampakkan dirinya baik - baik saja dihadapan Clara.


"Boleh aku tau apa yang kamu dengar? Apa aku seseram itu? terdengar suara Erika lembut.


Erika mencoba mengambil hati Jennifer supaya tak takut untuk bercerita. Hati siapa yang tak penasaran saat tau dirinya dibicarakan.


Erika ingin Jennifer bisa merasakan sendiri, bukan hanya percaya dengan apa yang dia dengar. Orang boleh berbicara apa saja tentangmu, dan kita pun tak perlu menjelaskan apapun. Lebih baik tunjukkan kebaikanmu. Setelah mengenalmu, mereka akan mengerti dengan sendirinya.


Jennifer yakin bahwa sosok dihadapannya adalah sosok yang bersahabat. Mungkin saja dirinya salah mengerti dengan cerita Clara. Jennifer berusaha berpikir positif.

__ADS_1


"Intinya adalah saya tidak boleh terlalu dekat dengan Pak Hans. Tidak boleh pula sembarangan ke ruangan Pak Hans karena harus menjaga perasaan istri Pak Hans. Setiap kali mau ke ruangan Pak Hans atau bertemu dengan beliau, saya harus berdua dengan kak Clara. Takutnya Ibu Erika cemburu. Istri Pak Hans tak suka suaminya bekerja dengan wanita muda."


Baik Hans maupun Erika berusaha mencerna informasi yang terdengar begitu absurd. Cerita Jennifer pun terus berlanjut. Dia menceritakan semua yang didengarnya beberapa hari lalu tanpa terlewat.


Mulai dari bagaimana Clara merasa dirinya dicemburui oleh istri Hans. Soal pakaian, cara bicara dan masih banyak lagi. Disini Clara merasa dirinya menjadi korban. Berkali - kali teguran diberikan padanya, bahkan pernah pula kena teguran keras hanya karena sebuah janji dinner. Hans yang tak pernah mau diajak hang out, dinner bahkan visit keluar kota untuk urusan pekerjaan pun dilarang oleh istrinya. Alasan mendasarnya tak lain dan tak bukan adalah cemburu. Selalu satu kata itu yang diucapkan oleh Clara.


Yang menyedihkan dari cerita Clara adalah Hans dianggap sebagai sosok bucin (budak cinta), dan tidak profesional kalau menyangkut istrinya. Pernah suatu kali, Hans bahkan menolak berfoto hanya karena istrinya marah. Padahal itu adalah event resmi kantor, dan foto diambil di depan umum. Menurut Clara, Erika sangatlah tak logis karena mengedepankan perasaannya saat itu. Dan Hans dengan bodohnya menuruti saja kemauan istrinya.


"Menolak foto? Kapan itu?" Erika tergelitik untuk bertanya, matanya menatap kearah Hans meminta penjelasan. Tapi ditahannya semua pertanyaan itu didalam hati. Menunggu hingga Jenifer selesai bercerita.


Sungguh Erika benar - benar tercengang, mendengar begitu banyaknya fakta disampaikan oleh Jennifer padanya. Clara menggambarkan dirinya sebagai istri yang posesif dan pencemburu.


Perasaannya terasa tak enak.


Hans tak pernah sedikit pun bercerita bagaimana dia menolak sekian banyak ajakan Clara untuk dinner, hang out, lunch sampai merayakan ulang tahun Clara. Erika tak tahu apakah tidak bercerita seperti inj termasuk sebuah kebohongan.


Meski kadang jujur itu menyakitkan, Erika merasa lebih baik dia mendengarnya sendiri dari Hans.


Sepeninggal Jennifer, Erika langsung mempertanyakan kebenarannya.


"Clara berkali - kali mengajakku pergi? Iya, semua benar. Tapi aku sudah menolaknya. Kamu dengar sendiri dari Jennifer kan? Aku bucinlah, tak profesional entah apa lagi."


"Bukankah seharusnya aku marah kalau mendengar ini kak Hans?" tanya Erika.


"Salah Moms. Seharusnya kamu bangga, suamimu ini sudah menolak. Berkali - kali pula." bantah Hans.


"Tapi kenapa tak pernah cerita padaku?" Erika masih tak bisa mengusir rasa tak enak dihatinya.

__ADS_1


Mau marah, faktanya Hans memang menolak setiap ajakan Clara. Ingin tak berprasangka, tapi apa motif Clara bergossip seperti itu. Bahkan terkesan melarang Jennifer untuk berhubungan dengan Hans.


Dan juga untuk kesekian kalinya, Clara menuduhnya cemburu.


Hhhhh!!! Ingin rasanya Erika berteriak keras - keras kepada Clara.


"Maksudmu apa? Apa tak boleh seorang istri cemburu melihat suaminya didekati seorang kucing lapar seperti dirimu? Sekarang kamu play victims."


Wajah Erika nampak keruh.


"Ayolah Moms. Jangan terpengaruh dengan Clara. Bisa - bisa anak didalam perutmu ikut stress" Hans mengusap perut Erika dengan penuh rasa sayang.


"Sabar ya Moms, sebentar lagi Clara tak disini" bujuk Hans lembut.


Apa boleh buat. Erika harus sekali lagi menahan emosi demi pekerjaan suami. Sabar menunggu janji Hans.


Bersambung...


Sampai jumpa di episode selanjutnya


Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara


Like


Comment


Vote

__ADS_1


Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.


__ADS_2