Your Officemate

Your Officemate
29. Beri Batasan!


__ADS_3

Andai saja Erika bisa menangis, mungkin perasaannya akan lebih ringan. Sayangnya, tak setetes pun air mata keluar. Matanya malah terbuka lebar menatap langit - langit kamar. Rasa lelah yang teramat pun, tetap tak sanggup membuat matanya terpejam.


Sementara Hans? Ya. Dia terlelap sambil memeluk pinggang Erika. Wajahnya tampak nyaman dan tanpa dosa.


*****


Sungguh tak enak, tertidur dengan banyak beban pikiran di dalam otak kita. Saat bangun, hati, tubuh dan kepala terasa begitu berat.


Begitulah Erika pagi ini, dia memaksa kakinya melangkah ke dapur untuk menyiapkan sarapan, dan ASI untuk Aaron. Apapun beban yang ada dipikirannya, life must go on.


Sementara tangannya sibuk menyiapkan makanan, hatinya terus berperang. Apakah sebaiknya bertanya mengenai foto dan kecurigaannya. Ataukah berlaku seperti biasa? Seolah tak pernah melihat apapun.


"Pagi, Moms" Hans mencium pipinya.


Hans muncul dengan penampilan yang benar - benar fresh. Kemeja slimfit warna hitam lengan pendek, menampakkan sedikit otot lengannya, dipadukan dengan celana cream. Erika mengakui, suaminya terlihat jauh lebih mudah dari usianya.


"Pagi, Kak. Rasanya hari ini aku jatuh cinta lagi sama kamu." Erika menggombal sambil memberi Hans morning kiss seperti biasa.


"Kamu beruntung...", jawab Hans, tangannya mengambil sepotong roti dan segelas teh hangat.


"Beruntung?" Erika mengangkat sebelah alisnya.


"Iya, beruntung. Dapat suami setampan aku."


"Tak perlu laki - laki itu tampan, asalkan setia. Itu saja sudah cukup."


Erika mendengus kesal, mendengar jawaban narsis suaminya. Dan, ditanggapi dengan senyum iseng Hans.

__ADS_1


"Moms, aku berangkat dulu. Tolong hari ini kamu antar anak - anak." Hans mengambil blazer yang tadi diletakkan disandaran kursi.


"Lho? Kenapa mendadak? Aku kan belum mandi, belum siap sama sekali. Mana Aaron belum kepegang." protes Erika.


Memang setiap berangkat sekolah, anak - anak selalu diantar Hans. Lalu pulang sekolah, Erika atau sopir kantor akan menjemput mereka. Kecuali Hans ada urusan diluar kota, Erika yang akan menggantikan Hans untuk mengantar mereka di pagi hari.


"Please, hari ini aja. Mr. Lee mendadak ingin bertemu pagi ini."


"Mr. Lee atau Mrs. Lee?" Sindir Erika.


Mendengar nama Mr. Lee, Erika langsung seperti diingatkan dengan foto semalam.


"Mr. Lee, Moms...mana ada Mrs. Lee? Kan dia duda." Jawaban Hans terdengar tenang tapi matanya tak mau menatap kearah istrinya.


"Mrs. Lee yang cantik dan sexy, yang semalam makan sama kamu itu lho..." sahut Erika.


Hans nampak sedikit terkejut, alisnya berkerut. Tak pernah menduga sedikitpun kalau Clara akan menggunggah foto dinner di media sosial miliknya. Sialnya, Erika malah langsung melihat.


"Semalam, Clara tagged kamu. Kulihat ternyata sebuah foto. Kalian sepertinya habis makan di restaurant tertentu." Erika menjelaskan.


Tak peduli akan reaksi Hans, dia terus melanjutkan serangannya.


"Sejak kapan kamu berteman dengan Clara di media sosial?"


"Clara sendiri yang mengirimkan permintaan pertemanan, dan Clara sendiri yang menerimanya." Hans bingung harus menjawab apa. Semakin dia menjawab ternyata semakin mengundang pertanyaan lainnya.


"Clara mengirim dan menerima sendiri? Itu artinya, kamu memberinya kebebasan untuk menyentuh dan membuka isi ponselmu. Apa kamu lupa kalau ponsel adakah privacy, kak Hans?"

__ADS_1


G* SH! Hans menelan air ludah, sadar dia salah memberi jawaban.


"Kak Hans, tolong kamu kasih batasan yang jelas antara Clara dan dirimu sendiri." Erika tak mau menunggu jawaban dari Hans. Dari reaksi Hans, Erika tahu kalau tuduhannya benar.


"Moms, dia dan aku tak ada apa - apa. Kami hanya berteman. Tak lebih. Tak kurang." Hans mencoba menjelaskan.


"Karena teman. Itulah sebabnya harus ada batasan. Lagipula, sebelumnya kamu bilang kalau kamu membencinya. Bagaimana bisa kamu sekarang berteman dengannya?"


..................................................................................


"Morning Moms, Dad" suara ceria Abbey dan Manda menyelamatkan Hans dari serangan Erika.


"Morning, Kids"


Benar kan? Nada suara Erika langsung berubah manis dan ramah. Hans tahu Erika tak pernah mau anak - anaknya melihat mereka bertengkar.


"Morning, Kids. Buruan sarapan yuk, trus kita berangkat." Hans mencium anaknya satu per satu. Kemudian, dia duduk di kursinya.


Serta merta Erika menoleh, bukannya tadi bilang ada janji dengan Mr. Lee?


Hans tak menyadari kalau istrinya sedang melihatnya dengan pandangan menyelidik.


Sampai jumpa di episode berikutnya


Sedikit tambahan untuk hari ini ya Gaes...


Besok sambung lagi 😁

__ADS_1


__ADS_2