
Erika tak menjawab apapun, hanya menyodorkan percakapan yang di temukannya di chat room tele****.
"Iya, itu aku dan Clara." Hans tak mengelak.
Habis sudah!! Ada yang rontok dihati Erika, tapi Erika sejak awal sudah memutuskan untuk gambling dan mungkin inilah saatnya dia menyatakan mundur dan kalah. Erika memilih merelakannya.
"Kak Hans kamu menyukainya?" Entah kekuatan darimana yang membuat Erika sanggup bertanya segamblang itu. Tak ada sedikit pun getaran yang menunjukkan gejolak batinnya.
"Kamu mencintainya?" tanya Erika lagi, sambil mengulas senyum. Entah terbuat dari apa hati Erika, begitu tegar dan kuat.
"It's a lust, not love." jawab Hans dalam hati.
Hans menunduk lesu, dia menyesal dan hatinya ikut pedih. Senyum Erika seperti membunuhnya pelan - pelan.
"Jadi? Bagaimana selanjutnya?" Erika menembak Hans dengan pertanyaan yang langsung menuju kesimpulan. Tak ada pertanyaan, kenapa dan bagaimana semua ini bisa terjadi.
Oksigen di sekitar Hans seperti habis, Hans merasa sesak mendengar pertanyaan itu. Serta merta Hans berlutut dihadapan Erika.
"Maaf....maaf, jangan pergi. Bagaimana anak - anak?" suara Hans setengah berbisik, merasa putus asa.
Sekarang ketakutan mulai merayap masuk ke dalam hati Hans. Dia sadar, berapapun maaf yang diucapkan, tak ada yang bisa menghapus luka yang sudah terlanjur tertoreh. Sekalipun sembuh, luka itu akan meninggalkan bekas.
"Aku memilihmu, sudah kuputuskan kalau kamu pemenangnya. Tapi, dosa tetaplah dosa. Tak akan selesai kalau tak terungkap." lanjut Hans sambil menahan air matanya yang hampir ikut menetes.
"Semua dugaanmu dari aku yang terlalu sibuk dengan ponselku, menghilang dari kamar dimalam hari, semua itu benar. Aku tak menyangkal apapun. Aku memang berbohong padamu." Hans menghela napas sejenak, dan kembali bercerita.
"Tak ada satupun alasan yang bisa membenarkan perbuatanku. Aku bisa saja menghindarinya, tapi aku tak melakukannya. Aku tak bisa menahan rasa penasaranku terhadap kemungkinan seorang wanita muda yang notabene cantik, glamour bisa tergila - gila padaku. Niat awalku hanya satu, yaitu ingin tahu perasaannya padaku. Tapi aku terjebak sendiri, aku seperti mendapat mainan baru dan ada sebuah kebanggaan tersendiri kalau berhasil mendapatkannya. Dan....aku kesulitan untuk melepaskannya."
"Kalau kamu sudah menyentuhnya, bertanggung jawablah Kak Hans. Nikahi dia."
DEG! Jantung Hans seperti ditonjok. Matanya langsung menatap ke Erika untuk melihat perasaan apa yang ada dihati istrinya saat mengucapkan kalimat itu.
Oh! Erika tersenyum meski matanya tak bersinar. Senyum kepedihan. Astaga!! Betapa berdosanya dia sudah menyakiti wanita sebaik ini.
__ADS_1
"Tidak. Aku sudah menyelesaikan hari ini. Aku dan dia sudah selesai, aku memutuskan kembali padamu." Hans mencoba menjelaskan sekali lagi.
"Sudah selesai? Tapi kenapa ada tiga video sero-nok masuk ke ponsel kak Hans hari ini?" Erika menimbang dalam hati.
"Tak semudah itu selesai kalau berurusan dengan Clara, Kak."
"Percayalah aku sudah mengurusnya dengan baik, dan akan kupastikan kami tidak berhubungan lagi. Lagipula, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk mengakhirinya."
"Dia mengajakmu bertemu besok, tadi aku sengaja menjawab iya." Erika memberitahu.
"Untuk apa? Aku sudah memutuskan untuk selesai." sahut Hans.
"Aku belum melihat semua ini selesai." gumam Erika.
"Aku benar - benar sudah selesai Moms." suara Hans terdengar putus asa.
"Dia mengirimi video, ada tiga video di chat room itu."
Erika tak menjawab dan juga tak ingin menjelaskan apalagi menunjukkan video itu pada suaminya. Hatinya miris melihat video seorang anak gadis sedang menari meliuk - liukkan tubuhnya hanya dengan menggunakan selembar pakaian tidur tipis. Dan video itu dikirimkan kepada orang yang bukan pasangan sahnya. Sedihnya, bukan hanya satu video tapi tiga.
Astaga! Bagaimana perasaan orang tua anak gadis itu. Erika benar - benar berdoa jangan sampai anak - anaknya bertingkah seperti Clara.
Mengingat video itu, Erika jadi ingat akan pertanyaannya yang tadi belum dijawab Hans.
"Apa saja yang sudah kamu lakukan padanya Kak? Apa kamu sudah menyentuhnya?" Erika melontarkan pertanyaan yang hampir sama dengan tadi.
Hans terlihat berat untuk menjawab, sungguh dia tak ingin Erika merasa lebih sakit. Tapi mengakui semuanya adalah awal yang baik kalau ingin bertobat. Hans menghirup udara dalam - dalam.
"Kami hanya...berciuman." Hans berkata lambat - lambat sambil menunggu reaksi Erika.
Tak ada reaksi apapun. Mata Erika memandang langit malam dibalik jendela.
"Dia terus menggodaku, dan benar aku tergoda. Tapi saat aku menciumnya, aku seperti mendengar suaramu menangis dan menyuruhku pulang. Setiap kali aku ingin menyentuhnya ada wajah Abbey dan Manda. Bagaimana kalau kelak mereka diperlakukan seperti ini oleh pria br*****k seperti aku." Hans mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Tidak. Aku tak mau anakku hidup seperti Clara. Aku memutuskan menghentikan semua itu. Tapi ternyata tak mudah. Setiap kali, Clara selalu tahu dimana aku berada. Bahkan dia mengancam akan datang kemari kalau aku tak menemuinya. Aku tak mau membuatmu marah, lebih baik aku yang keluar untuk menemuinya."
"Dan akhirnya? Hari ini, aku lebih marah dan merasakan sakit yang lebih dalam." sela Erika dengan suara pelan.
"Maaf. Aku tahu aku bersalah, tapi hatiku merasa lega setelah kamu mengetahuinya. Sepertinya bebanku sudah terangkat. Hukum aku saja. Aku mohon. Tapi jangan anak - anak."
Erika tidak sanggup berkata - kata. Akhirnya air mata meleleh dari mata Erika dan juga Hans. Mereka menangis bersama untuk alasan yang sama, anak - anak.
Malam itu Hans tidur di sofa yang ada dikamar. Bangun tidur Erika mendapati Hans sedang menatapnya dengan seksama. Bukan hanya itu, matanya juga basah. Erika menyikat gigi dan mencuci muka di kamar mandi. Baru saja, dia membalikkan badan, Hans sudah muncul di ambang pintu.
Erika menunggu apa yang akan diucapkan atau dilakukan Hans. Tiba - tiba saja Hans berlutut dan meletakkan kedua tangannya di dinding wastafel, mencegah Erika bergerak.
"Moms, silahkan hukum aku, caci aku, laporkan aku ke polisi. Tapi jangan korbankan anak - anak kita. Mereka mencintaimu. Mereka tak akan bisa hidup tanpamu." ucap Hans memohon.
Erika hanya diam. Kalau dia menjawab, dia akan menangis karena mengingat anak - anaknya.
"Tidak adakah maaf untukku?" tanya Hans pelan.
"Ada," Meskipun itu tidak mungkin. Air mata sudah berkumpul dipelupuk mata Erika.
"Kalau kamu bisa mengembalikan semua rasa sakitku dan bisa membuatku lupa kalau ada manusia bernama Clara Adelia di muka bumi ini."
Sampai jumpa di episode selanjutnya
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
Vote
Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.
__ADS_1