Your Officemate

Your Officemate
55. Kita Hentikan Saja


__ADS_3

Mengetahui istriku menyerah dan memilih untuk melepasku lebih menyakitkan dari apapun. Malam itu aku pergi ke Johan. Selain butuh tempat untuk bertukar pikiran, aku mencurigai sesuatu.


Jangan tanyakan bagaimana malunya aku pada Johan saat menceritakan semua yang aku lakukan bersama Clara. Aku sudah tak peduli lagi kalau dia bakal menghajar atau menghabisiku. Aku memang pantas untuk itu.


Seorang pria tanpa ketegasan, bukanlah pria, cemoohku pada diriku sendiri. Ternyata, dia benar - benar sahabat dan saudaraku. Tak ada hinaan, caci maki apalagi pukulan darinya. Dia mengijinkan aku untuk terus bersama adiknya, dengan syarat ini adalah pertama dan terakhir kalinya aku berkhianat. Dan yang lebih penting adalah sepanjang Erika mau memaafkan aku maka Johan akan menurutinya.


Lalu, dengan gamblang dia juga menjelaskan bagaimana dia selama ini menyelidiki aku dan Clara. Dia mencurigai Clara dan aku.


Semalaman aku bersama Johan membicarakan banyak hal dan kemungkinan yang akan terjadi dalam hubunganku dan Erika kelak.




Tak mau berlarut - larut, aku langsung menghubungi Staff IT kantor keesokan paginya untuk menanyakan beberapa hal berkaitan dengan ponsel. Aku memang sedikit gaptek kalau berurusan dengan gadget, biasanya Erikalah yang lebih tahu.


Astaga! Jawabannya begitu mudah, ternyata Clara mengganti email di ponselku dengan emailnya. Sehingga apapun aktivitas yang aku lakukan dengan ponselku akan langsung masuk ke ponselnya. Termasuk linimasa tempat - tempat yang sedang aku kunjungi. Semuanya otomatis akan terekam jejaknya diponsel Clara. Terjawablah sudah kenapa dia selalu tahu kemana pun aku pergi. Aku adalah makhluk paling bodoh didunia.


Tak mau berlarut - larut, aku memutuskan menyelesaikan semua ini dengan Clara. Apapun yang akan dia lakukan, aku akan menerima konsekuensinya. Sekalipun Erika harus tahu.


Bukankah semuanya sama saja bagi Erika? Hari - hari terakhir ini, aku sudah berhasil membuatnya tak nyaman dan terlalu banyak pikiran sehingga asam lambungnya naik. Erika mencurigaiku, dia tak tenang dan aku pun selalu gelisah karena takut ketahuan.


Aku akan mencari cara untuk bicara baik - baik padanya. Meski bagaimana pun caranya aku menceritakan, tetap saja hatinya akan terluka.


Tapi Erika adalah Ibuku, temanku, istriku, partner terbaikku, sahabat sejatiku dan satu - satunya keluargaku selain anak - anakku tentunya. Aku harus berhenti menyiksa batinnya. Setidaknya dengan berani mengakui kesalahanku, aku masih memiliki sedikit harga diri untuk menemuinya.


Aku juga memohon pada Johan untuk selalu bersama Erika dan berada dipihaknya saat dia muak dan tak mau melihatku.


"Adikku selalu menutup rapat urusan rumah tangganya. Sekalipun berulang kali aku memancingnya, dia tak pernah mau bercerita." kata Johan.


"Jangan memaksanya, temani dan senangkan dia. Setelah merasa nyaman dan aman, biasanya dia akan bercerita. Jangan sekalipun kamu berkata akan melakukan ini itu padaku, karena dia justru tak akan bicara. Dia tak mau melihat kakaknya berperilaku tidak baik, apalagi demi dirinya." Aku menjelaskan pada Johan bagaimana Erikaku selama ini.


__ADS_1



Gayung bersambut, dengan alasan membawa berkas dari Mr. Lim, Jennifer mengantar Clara keruanganku. Tapi aku berjanji pada diriku untuk memastikan, kalau hari ini adalah terakhir kalinya Clara menginjakkan kakinya dikantor dan bertemu denganku.


Saat aku tengah duduk di sofa sambil memeriksa beberapa email, Clara masuk dengan penampilan yang "mengundang". Aku menghela napas, berusaha tak melihat kearahnya.


"Ada apa?" tanyaku.


"Iiisssh... kamu kok jutek gitu sih, Beb...." Clara merajuk.


Aku memijat pelipisku, dan hanya mengangguk saat Jennifer berpamitan. Alarm tanda bahaya kembali berbunyi saat pintu sudah kembali tertutup. Aku membulatkan tekad untuk tak tergoda sekalipun Clara membuka bajunya dihadapanku.


Sesaat setelah Jennifer keluar, dengan cepat Clara duduk dipangkuanku, tangannya bergelanyut manja dileherku.


"Jangan begitu!" kataku sambil berusaha melepaskan tangannya.


Clara mencebikkan bibirnya, tangan satunya mulai nakal menyentuh dadaku, wajahnya mendekat kearahku. Jantungku berdegup kencang, aroma sensualnya kembali masuk ke indera penciumanku.


Tubuh dan hatiku bergejolak. Aku memejamkan mata dan mengepalkan tanganku erat - erat untuk menguatkan hati. Ah, ternyata aku salah langkah. Dia malah mengecupku, dan reflex aku mendorongnya kemudian aku langsung berdiri.


"Kak Hansss!!! Apa yang kamu lakukan?" pekiknya kesal sambil menghentakkan kaki ke lantai.


Aku tak merespons apapun, merapikan kemejaku yang sedikit lecek lalu kembali ke mejaku.


"Duduklah! Aku mau bicara." perintahku tegas dengan nada tak mau dibantah.


Begini lebih baik, setidaknya ada jarak aman antara aku dan dia. Sekarang aku bisa bicara dengan aman. Dengan wajah kesal, dia menghempaskan tubuh ke kursi di hadapanku. Posisi kami berhadapan dengan meja kerja diantara kami.


"Aku kesulitan menemuimu." Clara langsung memprotes.


"Maaf, aku memang berusaha menghindarimu." Aku berkata jujur.


Clara tampak tercengang, nampaknya dia sama sekali tak menyangka aku akan mengatakan hal seperti itu padanya. Tapi berterus terang adalah hal terbaik untuk menghadapi orang seperti Clara. Dia tak akan pernah paham kalau kamu hanya sekedar menghindar.

__ADS_1


"To the point. Jangan beri celah. And then, the end." Aku memberi semangat diriku sendiri.


Aku terdiam sejenak dan berpikir akan memulai darimana penjelasanku ini.


"Begini, istriku sudah tahu soal kita." Aku sengaja menyebut kata istri untuk menunjukkan perbedaan status antara Erika dan Clara.


Erika adalah istriku yang sah, sedangkan dia... entahlah aku sendiri tak tahu apa posisinya di hatiku.


"Kok bisa? Apa kamu memberitahunya?" Suara Clara terdengar gusar.


"Tidak. Tak ada yang memberitahunya. Dia tahu sendiri, dan aku tidak mau menyakitinya lagi."


"Cih...dasar wanita posesif. Pasti dia memeriksa ponselku" Clara menuduh Erika. Tangannya bersedekap, dan dia memutar bola matanya.


"Dia tahu dari perubahan sikapku padanya selama ini, mulai dari aku yang jarang meneleponnya, hingga aku yang selalu menghilang meski kami dibawah atap yang sama. Aku diruang kerja, dan dia di kamar. Kami tidak pernah begitu sebelumnya."


"Lalu dia marah padamu? Kenapa dia suka sekali mengekang dan melarangmu ini itu?"


"Tidak. Sama sekali tidak. Erika tidak marah atau berkata apapun. Tapi aku tahu kalau dia sudah tahu tentang kita. Dan sekarang, dia sedang menunggu bukti untuk dilemparkan ke wajahku."


Clara tak menjawab tapi terlihat jelas kemarahan diraut wajahnya.


"Aku benci dia. Dia hanya beruntung karena mengenalmu lebih dulu. Andaikata aku bertemu denganmu lebih dulu, sudah pasti kamu menikah denganku. Bukan dengan dia." kata Clara dengan berapi - api.


"Itu tidak mungkin." kataku.


"Apanya yang tidak mungkin?"


"Meskipun aku bertemu denganmu lebih dulu, aku tak mungkin menikah denganmu."


"Kenapa? Apa kelebihannya dibanding aku?" tanya Clara dengan percaya diri.


"Sekarang jawab semua pertanyaanku ini. Apa kamu pernah terpikir, sekali saja, untuk berpacaran dengan pemuda miskin, kurus, jelek dan tidak stylish? Sanggupkah kamu hidup dirumah kos bersama suamimu? Relakah kamu meninggalkan semua perawatan dan kebiasaan shoppingmu demi belajar memasak untuk suami dan anak - anakmu?"

__ADS_1


Sampai jumpa di episode selanjutnya...


__ADS_2