Your Officemate

Your Officemate
63. Aku Menerima Keputusanmu


__ADS_3

Setiap kali ada masalah, sering kali orang - orang berkata, "Dengarkanlan kata hatimu."


Apa jadinya kalau kata hati yang ditunggu - tunggu tak juga bersuara? Lalu bagaimana kabar logika yang sepertinya juga tak mau bekerja sama ditengah situasi yang menjengkelkan seperti ini? Ataukah lebih baik membiarkan semua mengalir dan mencari jalannya sendiri?


"Kamu setuju kalau kita menunggu sampai anak - anak cukup besar? Atau setidaknya, sampai aku bisa memberi pengertian kepada mereka hingga mereka paham akan keputusan kita. Aku mohon padamu. Aku tak mau meninggalkan rasa pahit dihati anak - anak gadisku." Hans menatap Erika dengan memelas.


"Atau... paling tidak tunggulah sampai Aaron bisa disapih. Saat itu kalau kamu masih ingin pergi dariku, aku akan merelakanmu." Hans mencoba sekali lagi bernegosiasi meski tak ada jawaban dari Erika.


Erika memandang Hans masih tanpa sepatah kata pun, hingga detik ini dia masih juga belum bisa memahami apa keinginan hatinya. Hans mengerti dan sangat paham apa yang berkecamuk dihati Erika.


"Ayo, kita isi dulu perutmu. Setelah itu, kita bicarakan lagi. Aku kuatir kamu bertambah sakit, kudengar semalam pun kamu tak makan banyak." Hans berkata setenang yang dia bisa untuk menutupi kegelisahannya.


Mencium aroma yang sedap memasuki penciuman, Erika tersadar dari lamunannya. Ternyata sumber harum itu sudah ada dipangkuannya. Dia begitu tenggelam dalam lamunannya, hingga tak sadar sebuah meja kecil dengan makanan dan lauk pauk lengkap diatasnya sudah tersaji diatas sebuah meja kecil. Tepat di hadapannya.


"Maafkan aku Moms. Minumlah teh hangat ini dulu sebelum makan." Hans menyodorkan segelas teh sambil meminta maaf. Tak peduli kapan maaf itu akan datang tapi dia akan terus mencobanya.


Erika menerimanya, dan dalam sekejap teh itu sudah habis. Ternyata dia haus dan perutnya benar - benar kosong. Sesaat setelah dia meminum teh, perutnya terasa hangat dan langsung meronta minta diisi. Pantas saja dia sampai pingsan karena mandi berjam - jam dalam kondisi perut kosong ditambah kondisi pikiran yang tak stabil.


"Apa perlu aku membantumu makan?" Hans menawarkan bantuan saat melihat Erika kembali termenung.


Erika tersentak, dan menjawabnya dengan langsung mengambil sendok, mengisinya dengan makanan lalu menyuapkan makanan itu kedalam mulutnya. Hans tersenyum kecut karena dari tadi tak satu pun pertanyaannya dijawab.


BRAKKK!!!


"Mommyyyy, I miss you."


Terdengar pintu kamar terbuka bersamaan dengan suara pekikan seorang anak gadis. Erika tak perlu menoleh. Suara itu telah dia kenal seumur hidupnya. Terdengar suara langkah kaki mendekat dan Abbey langsung memeluk Erika dengan posesif.


Abbey tak menangis tapi Erika tahu ada bahagia dan haru terselip dalam pelukan anak gadisnya.

__ADS_1


Berbeda dengan Manda yang langsung berkaca - kaca. Namun matanya langsung tertuju pada sebuah meja kecil berisi makanan di pangkuan Erika.


"Kak Abbey, serius deh. Nanti makanannya tumpah semua." ucap Manda kesal.


Abbey tidak mengacuhkannya. Erika mencium kepala Abbey sebelum melepaskan pelukannya, lalu merentangkan tangan untuk memeluk Manda dan mencium keningnya. Erika membelai rambut Manda dan juga mengelus punggungnya menyampaikan rindu dan sayangnya.


Tak jauh dari situ, Hans menelan tangisnya sambil memandang interaksi antara Erika dan kedua anaknya. Betapa berdosanya dia, secara tak langsung telah membuat seorang ibu meninggalkan anak - anaknya.


"Girls, biarkan Mommy makan dulu. Nanti kalian bisa lanjutkan lagi setelah Mommy selesai makan." Hans menyela mereka.


Manda melerai pelukannya dan langsung mengambil sendok ditangan Erika dan menyuapi Mommy-nya. Sedangkan Abbey langsung duduk disebelah Erika sambil memeluk pinggang Erika dengan posesif.


"Mommy tidak boleh pergi lagi kalau tidak bersama kami. Okay?" kata Abbey dengan suara menahan tangis.


"Iya. Mommy tidak akan pergi lagi." ucap Erika pelan.


Erika menelan makanannya, memandang kedua bola mata yang memandang penuh harap padanya.


"Janji." jawabnya pelan.


Tak berhenti sampai disitu, Manda mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Erika. Kemudian menempelkan ibu jari mereka dengan jari kelingking masih tetap terkait.


"Keep your promise, and seal it!" Manda berkata sambil tersenyum puas.


(Pegang janjimu, dan tepatilah!)


Oh! Erika melihat Hans yang berdiri tak jauh darinya, dia tersenyum penuh haru sambil tetap berdiri ditempatnya.


Setelah tenaga Erika pulih, malam itu juga Erika pamit kepada Johan dan pulang ke rumah. Apalagi tujuan utama Erika selain untuk Aaron tentunya.

__ADS_1


Astaga! Berada ditepi baby box, Erika hampir pingsan. Baby boy yang biasanya lincah, menggemaskan dan tak berhenti bergerak, sekarang dia sedang tidur terkapar di sudut tempat tidurnya dengan wajah kelelahan. Mata sembab dan bengkak karena telalu banyak menangis. Dan hidungnya pun masih ada sisa - sisa ingus yang mengering. Apalagi rambutnya, tampak kusut karena bekas mengamuk. Tidurnya pun tampak gelisah dan tidak tenang.


Erika menunduk untuk mencium tangan Aaron. Didekap dan digendongnya Aaron supaya lebih tenang. Badan Aaron terasa lebih ringan dari saat terakhir beberapa hari lalu dia menggendongnya. Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Erika. Lalu disusul tetesan berikutnya dan berikutnya.


"Maafkan Mommy sayang, Mommy melupakan perasaanmu. Ini salah Mommy."


Erika menyesali apa yang telah dilakukannya pada anak - anaknya. Dia pernah berada diposisi mereka seperti hari ini. Bagaimana rasanya kalau Mommy mengabaikan mereka demi emosi dan masalah pribadinya?


"Mommy datang, sayang. Kembalilah ceria dan lincah." ucap Erika dengan suara serak.


Ajaib sekali. Saat Aaron terbangun, dia melesakkan kepalanya ke pelukan Erika seolah mencari perlindungan. Tangannya menggenggam ibu jari Erika erat. Tak ada tangis maupun kesulitan berarti. Setelah minum ASI, berganti pakaian dengan yang setelan tidur dan diapers yang baru, Aaron langsung tidur dengan nyenyak.


Di depan connecting door pintu kamar Aaron dan kamarnya, Erika berhenti, menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Hans sedang duduk di sofa di kamar. Dia tersenyum begitu melihat Erika masuk. Erika langsung duduk di sisi tempat tidur dimana dia biasa berbaring.


"Anak - anak sudah tidur?" tanya Hans.


"Sudah." jawab Erika tanpa menoleh.


"Sekali lagi maaf atas semua yang telah aku lakukan dan terima kasih sudah pulang, Moms." ucap Hans. Erika menanggapi dengan anggukan.


Sekali lagi Hans merasa berhutang banyak pada Erika yang mau mengorbankan perasaannya demi anak - anak mereka.


"Aku tahu berat bagimu untuk pulang dan melihatku lagi." Hans berhenti sesaat.


"Aku janji, ketika Abbey dan Manda sudah mengerti dan Aaron sudah sedikit lebih besar. Kamu boleh melakukan apapun yang kamu putuskan terbaik untuk kita."


"Dan andaikata pada akhirnya kamu masih tetap tidak bisa memaafkanku. Katakan saja padaku, biar aku yang meninggalkan rumah ini. Bukan kamu." kata Hans lagi.


Sampai jumpa episode berikutnya....

__ADS_1


__ADS_2