
"Mommy, apa kamu tak mau mengusap untuk Daddy?" tanya Abbey.
"Eh?"
Hans dan Erika menoleh satu sama lain, dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Untunglah, Hans cepat menguasai keadaan. Tak ingin membuat Erika merasa canggung, Hans mencium pipi Manda dan mengacak pelan rambutnya.
"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah melakukannya untuk Daddy."
Manda tertawa geli karena kumis Hans yang menempel di pipinya.
"Sama - sama, Daddy." Kemudian Manda kembali duduk dan menghabiskan esnya. Hans melihat kearah Erika sambil tersenyum.
"Kalau sudah selesai makan esnya, taruh mangkuknya di wastafel, ya." ucap Hans mengingatkan.
"Siap, Dad." jawab Abbey dan Manda bersamaan.
Begitu es dalam mangkuk habis, mereka langsung berlomba menuju dapur. Hans mengulurkan tangannya meminta mangkuk ditangan Erika. Setelah Erika memberikan mangkuk, dia juga mengambil Aaron dengan tangan satunya.
"Aku akan siapkan makan malam. Kamu duduk disini saja. Aku tahu kamu juga lelah."
Hans berdiri sambil menggendong Aaron lalu menyusul anak - anak gadisnya ke dapur. Erika tertegun mendengar ucapan Hans tadi.
Saat merebahkan tubuhnya di sofa, Erika baru menyadari kalau dirinya ternyata lelah. Walaupun Erika tidak yakin masakan apa yang akan dibuat Hans, Erika menurut saja. Dia memutuskan untuk duduk sebentar lagi. Namun ternyata tidur mengambil kesadarannya dengan cepat.
Saat membuka mata, Erika sudah berada di tempat tidur. Di sekitarnya gelap. Dia meraih dan menyalakan lampu meja yang ada di atas nakas. Tidak ada Hans di atas sofa. Erika mengerang pelan saat mendengar suara perutnya protes minta diisi.
Kamar anak - anak juga gelap, mungkin saja mereka kelelahan sehingga tidur lebih cepat hari ini. Erika turun pelan - pelan dan langkahnya berhenti saat mendengar suara isakan. Di sofa dimana mereka biasa duduk sambil menonton TV, Hans sedang duduk dengan tangan menutupi wajahnya. Mungkin berusaha meredam isakannya.
__ADS_1
Erika heran kenapa Hans menangis. Terlepas dari apapun yang dilakukan Hans, dia adalah pria yang tegar. Erika hanya pernah melihat Hans menangis ketika ada sesuatu yang berkaitan dengan dirinya. Apakah itu artinya Hans sedang memikirkan dirinya?
Erika duduk diam di anak tangga dimana Hans tak akan bisa melihatnya. Menunggu sampai suara isakan itu berakhir. Ketika terdengar bunyi langkah Hans menuju kamar mandi, Erika berdiri. Perlahan dia turun ke lantai bawah dan menuju dapur.
Saat membuka kulkas, Erika menemukan sebuah mangkuk berisi sup. Erika mengambil dan membuka plastik penutupnya, sup ayam. Erika memasukkan mangkuk itu ke dalam microwave dan mengatur waktu serta suhunya.
"Tidak seenak masakanmu." suara Hans terdengar dari ambang pintu.
"Aku tidak melihat ada sisa lain selain yang ini. Berarti habis dimakan anak - anak. Lidah anak - anak tak pernah bisa bohong. Itu artinya masakan Kakak enak." balasku.
"Ada kemungkinan lain. Aku membuangnya." Hans mencoba bercanda dengan Erika.
"Kak Hans tidak pernah membuang makanan." ucap Erika.
Mendengar bunyi microwave, Hans mengangkat tangan dan mencegah Erika berdiri. Dia mengambil mangkuk tersebut dan meletakkannya di depan Erika.
"Kamu mau makanan yang lain? Aku bisa buatkan roti isi atau telor dadar." Hans menawarkan.
"Bagaimana kalau keduanya?' tanya Erika.
"Siap, Nyonya. Apapun yang kamu minta." Hans membungkukkan tubuhnya.
Erika menghabiskan sup di mangkuknya hingga tak bersisa.
"Enak juga." Erika tanpa sadar bergumam.
"Enak atau lapar, Moms?" Hans memutar bola matanya.
Erika hanya tersenyum tipis. Hans melanjutkan kegiatannya. Dengan cekatan dia membuat roti isi tuna dan telur dadar dicampur potongan tomat dan ham. Begitu selesai, dia meletakkan kedua piring didepan Erika. Ternyata rasanya juga enak.
__ADS_1
"Aku rasa sebaiknya Kak Hans saja yang memasak untuk kami semua setelah ini." celetuk Erika.
"Apapun maumu, Moms. Asalkan kamu jatuh cinta lagi padaku." jawab Hans pelan.
"Bisakah aku memakan ini semua tanpa bicara?" tanya Erika.
"Baiklah." jawab Hans. Dia tidak bicara apapun lagi tetapi matanya tertuju pada Erika. Menatapnya lekat.
"Aku merindukanmu Moms."
Tak ada jawaban dari Erika.
•
•
Tibalah hari masuk kerja, Hans menatap Erika sangat lama saat berpamitan pada Erika. Dia masih takut meninggalkan Erika sendiri, dan kuatir Erika pergi lagi. Tak apa kalau perginya ke rumah Johan, bagaimana kalau pergi ke tempat. lain dan Hans tak bisa menemukannya lagi?
Lalu anak - anak berdatangan dan berebut memeluk dan mencium Erika sebelum berpamitan.
"Kenapa Daddy sekarang tak pernah mencium Mommy?" tiba - tiba Abbey bertanya sambil menatap tajam kearah Hans.
Manda tak mau kalah, tangannya bersedekap.
"Manda tak mau kalau Daddy membuat Mommy sedih dan pergi lagi dari rumah."
Erika tersenyum canggung. Hans pun tak kalah kikuknya. Dia tak ingin membuat Erika merasa terpaksa, tapi di sisi lain sorot mata anak - anak sedang menghakiminya.
Sampai jumpa di episode berikutnya....
__ADS_1