Your Officemate

Your Officemate
67. Belum Berakhir


__ADS_3

Kebiasaan baru Hans, mengamati Erika hingga tertidur. Dari sofa tempatnya tidur, Hans melihat Erika terjengit dari posisinya yang sedang terbaring. Kini Erika duduk sambil menatap ponselnya dengan ekspresi serius.


"Ada apa Moms?" tanya Hans kuatir.


Tak ada respons dari Erika. Rasa enggan bercampur penasaran melingkupi hati Erika. Jujur saja, dia tak mau berurusan lagi dengan makhluk pengirim pesan itu. Kalau saja dia bisa, sudah pasti Erika akan membuang dia keluar dari planet bumi ini. Ah, tapi ada yang menggelitik dan membuat Erika penasaran. Apa lagi tingkah Clara kali ini.


Sebuah foto terpampang dilayar ponsel Erika. Foto Clara dan seorang pria entah siapa dia. Nampak dari background-nya, mereka sedang berkencan, dinner atau semacamnya di sebuah tempat makan mahal. Seperti biasa Clara berpakaian sexy. Dia berpose dengan tubuh menempel ketat pada si pria. Pipi dengan pipi pun saling menempel. Laki - laki itu terlihat muda, stylish dan kaya.


"FYI Kak Rika. Aku sekarang sedang dekat dengan seseorang. Dan barusan kamu sudah melihatnya kan? Lihat saja, aku bisa mendapatkan lelaki manapun yang aku mau." Pesan pertama disertai gambar senyum, terkesan sombong dan tak mau kalah.


(FYI \= For your information)


Erika termenung, apakah sebaiknya dia menjawab atau membiarkan saja pesan itu. Rasanya begitu malas meladeni Clara, tapi mendadak terbersit di dalam pikirannya kalau jangan - jangan Clara belum selesai dengan semua yang telah dilakukannya. Untuk apa Clara memberitahu hubungannya dengan pria itu? Toh itu bukan urusan Erika.


"Mommy, ada apa?" Tanpa Erika sadari, Hans tau - tau sudah berjongkok dihadapan Erika.


Erika membalik posisi ponselnya supaya tak terlihat oleh Hans. Lalu dia mengangkat kepalanya dan memandang sendu pada Hans. Baru saja dirinya merasa Hans benar - benar menyesali kesalahannya, Clara sudah mengingatkannya kembali pada rasa sakitnya.


"Tidak apa - apa, Kak. Bukan apa - apa, Kak. Aku mau tidur saja." jawab Erika pelan.


Erika sedang tak ingin menyebut nama makhluk satu itu, terlebih lagi membicarakannya dengan Hans. Hatinya terasa sakit setiap mengingat kelakuan wanita itu dan juga Hans.


Setelah berusaha keras untuk membuat Erika kembali tersenyum, Hans benar - benar tak ingin melihat Erika kembali termenung apalagi murung. Namun tak ada yang bisa diperbuatnya saat ini, Hans tidak berani memaksakan apapun pada Erika. Kuatir kalau - kalau Erika semakin merasa tak nyaman dengan dirinya.


"Baiklah, Moms. Kalau ada yang kamu butuhkan, kamu tahu aku ada dimana." Hans mengalah dan dengan berat hati kembali ke sofa untuk bersiap tidur.

__ADS_1


Erika merebahkan tubuhnya dengan ponsel masih ditangan. Tubuhnya lelah tapi otaknya masih harus bekerja. Tidak, belum saatnya dia tidur.


Baru juga sekitar tujuh hari yang lalu Clara mengejar - ngejar Hans, lalu sekarang dia bilang sudah dekat dengan pria lain. Apa tujuan Clara dengan memberitahunya? Padahal Erika juga tak mau tahu apapun mengenai hidup Clara.


Selain itu, Erika sebenarnya tak berkepentingan sama sekali dengan urusan Clara. Terserah, dia mau dekat dengan siapa, pacaran atau menikah sekali pun. Apapun boleh dilakukan oleh Clara, yang penting jangan menganggu dirinya lagi. Dan juga Hans. Yang diinginkan oleh Erika saat ini adalah keluarganya kembali damai dan tanpa gangguan siapapun.


Ah, mendadak Erika menemukan kembali keinginannya yaitu keluarganya bahagia, terutama anak - anaknya. Erika tak mau anak - anaknya bersedih. Hatinya merasa tersayat setiap kali mengingat bagaimana mata Manda berkaca - kaca karena takut Mommy-nya pergi lagi. Ditambah lidah tajam Abbey yang selalu siap menguliti. Oh, tidak! Erika tak mungkin sanggup mengulang semua itu disaat perasaannya mulai terasa ringan.


Drrrt... Drrrt...


Clara adalah Clara, dia tak akan berhenti sebelum benar - benar selesai.


"Suatu hari kalau kami sudah resmi berpacaran, aku akan memberitahumu. Yang pasti dia menyukaiku, dan aku juga menyukainya."


"Apakah sekarang aku sudah boleh berteman dengan kak Hans?"


Erika mengerutkan keningnya, membaca kata demi kata sambil mencoba mencerna apa yang ada dibalik pesan Clara ini. Kepalanya terasa pening. Hatinya sudah terluka, kepercayaan pun hancur. Tak akan semudah itu Erika percaya pada Clara.


Dengan perasaan gusar, Erika membaca pesan - pesan yang terus masuk beruntun ke ponselnya.


"Aku perlu berbicara dengan Kak Hans. Ini berhubungan dengan pekerjaan. Aku kesulitan menghubunginya, nomernya tidak aktif." Kali ini pesan itu disertai emoticon sedih dan menangis.


Sayangnya, tak sedikit pun Erika merasa tersentuh. Lagipula, Erika tahu kalau Hans sudah memblokir semua nomer Clara berikut dengan akun media sosialnya.


"Kalau memang soal pekerjaan, kamu bisa kirimkan pesan disini saja. Nanti aku sampaikan." Kali ini Erika ingin menunjukkan kuasanya atas Hans. Biar bagaimana pun Hans masih suaminya, Erika berhak atas apapun yang berkaitan dengan Hans.

__ADS_1


"Bukankah aku sudah minta maaf padamu, Kak Rika? Kenapa kamu masih marah?" bakas Clara.


Melihat pesan yang terkesan tak berdosa, bara api semakin menyala dihati Erika. Jantungnya berdegup lebih cepat karena amarah. Tangannya sampai bergetar saat berniat membalas pesan itu karena terlalu emosi. Erika ingin memaki dengan kata yang paling kasar yang dia tahu, sekalipun hanya melalui pesan di chat room.


"Aku tak yakin kalian akan sampai ke pelaminan." balas Erika lengkap dengan emoticon berwajah smirk.


Ah, ternyata Erika memilih membalasnya dengan pesan bernada challenge. Menurut analisanya, Clara adalah seorang yang ambisius dan tak mau kalah. Lebih baik, menantang Clara untuk membuktikan kemampuannya dari pada beradu urat syaraf apalagi beradu otot.


Tak sampai satu menit, sebuah balasan dari Clara kembali masuk.


"Cih... mudah bagiku mendapatkan pria mana pun. Jangan kuatir. Aku tak akan mengambil kak Hans. Lihatlah dalam tahun ini aku akan menikah dengan pria tadi. Lagipula, dia tampan dan kaya. Apapun yang aku minta pasti diberikan. Dia sangat mencintaiku."


Exactly!! Erika menjentikkan jarinya. Ucapan Clara benar - benar sesuai seperti yang ingin didengarnya. Semoga setelah ini, semua juga akan berjalan sesuai apa yang akan direncanakan olehnya.


"Baiklah, aku tunggu undangan pernikahanmu. Aku percaya padamu kalau sudah melihatmu menikah dan mempunyai anak."


Erika mengakhiri pembicaraan tadi, lalu kembali tenggelam dalam pikirannya. Setidaknya Clara kesal karena kesulitan menghubungi Hans. Dan itu artinya beberapa waktu ini Hans berhasil lost contact dengan makhluk yang namanya tak boleh disebut itu.


Setelah pembicaraan di chat room berakhir, Erika bertekad untuk menyelesaikan semuanya dengan tuntas. Diam - diam Erika menyusun rencana, dengan harapan setelah ini Clara akan menghilang selamanya dari kehidupan mereka. Dan sepertinya, kali ini dia membutuhkan bantuan Kakaknya.


Malam itu juga, Erika mengirimkan pesan - pesan dan foto yang tadi dikirimkan Clara kepada Johan. Untuk kali ini, Erika tak akan diam saja. Kalau memang Clara tak berniat mengakhiri semuanya, biar Erika saja yang akan mengakhirinya.


Sampai jumpa di episode berikutnya....


Come on Erika! Karungin si Clara lalu buang ke laut. 😆😆

__ADS_1


__ADS_2