
Wow!!!
Isi kado yang diberikan oleh Clara benar - benar mengejutkan. Seumur hidup, Hans baru pertama kali menerima kado seperti ini dari seorang wanita. Kado yang sukses membuat darah Hans langsung naik ke kepala.
Selembar box*r terlipat rapi dalam kotak kado itu. Boxer dengan kualitas yang tak perlu diragukan lagi. Dari brand terkenal dan mahal, dengan David Beckham sebagai modelnya.
"Hebat sekali! It fits on you." desis Erika sinis sambil membolak balik benda mungil itu. Lalu memasukkannya kembali ke kotak.
Clara memang patut diacungi jempol. Selain pilihannya yang berkelas, ukuran box*r itu benar - benar sesuai dengan "milik" Hans. Sementara di kursinya, Hans tak berkata apapun. Wajahnya merah padam menahan marah.
Tak lama terdengar ketukan pintu, yang langsung diikuti dengan munculnya Clara. Raut wajahnya begitu santai dan tak berdosa.
"Kudengar dari staff yang menerima telpon, katanya kamu tadi marah - marah."
Astaga! Hans merasa kemarahannya hanyalah sia-sia karena orang yang bersalah tak sedikit pun merasa. Sedangkan Erika sebenarnya sudah ingin kembali ke ruko. Selain karena muak, dia juga punya beberapa urusan yang harus dikerjakan di ruko.
"Baiklah, aku kembali saja. Urusanku masih banyak."
"Tunggu Moms." Hans menarik tangan Erika supaya mendengarkan pembicaraan mereka.
"Apa alasanmu memberi barang seperti ini?" Hans melemparkan box*r tadi ke meja dekat tempat Clara berdiri. Raut wajah Hans menunjukkan rasa tak suka.
"Ooo... kamu tak menyukainya? Itu barang bagus loh. Kurasa kamu bakal s*xy seperti David Beckam." Clara begitu blak - blakan tanpa rasa malu.
Padahal Erika merasa risih membicarakan box*r suaminya dihadapan wanita lain.
Iya, memang bagi orang - orang tertentu box*r hanyalah sebuah kain penutup tubuh bagian bawah pria. Tapi tetap saja, rasanya canggung.
"Aku tak mau. Mulai sekarang jangan pernah memberiku apapun." geram Hans.
"Kamu tuh tak asyik, kak Hans. Semua semua salah. Kasih kado tak boleh. Beramah tamah juga tak boleh. Bahkan berteman pun salah"
Erika menghela napas pelan, pandangannya menatap lelah kearah Hans. Ingin segera menyudahi semua ini. Kalau menuruti kata hatinya, pastilah sudah dijambak - jambak si Clara itu. Tapi kalau dirinya berkelakuan seperti itu, apa bedanya dia dengan Clara?
Tidak! Erika mau menunjukkan kelasnya pada Clara, dan terutama pada Hans. Suaminya harus tahu apa bedanya wanita berattitude dan mana yang tidak.
"Kak Hans, aku mau pulang." singkat, padat dan jelas. Erika sekali lagi menyatakan keinginannya, dan kali ini tak bisa dibantah.
"Tak usah mengantarku, aku tadi dijemput Pak Nadi. Biar dia juga yang mengantarku pulang."
"Baiklah. Hati - hati dan jangan kecapekan. Nanti sore aku jemput kamu, aku mau mengajakmu pergi." akhirnya Hans mengalah, karena Hans merasa belum selesai dengan Clara.
Sedangkan untuk meninggalkan Clara seorang diri diruangannya sungguh sangat riskan. Oh, tidak. Hans belum sepercaya itu pada Clara. Meski hanya untuk mengantar istrinya ke lift sebentar.
*****
__ADS_1
"Jadi apa argumentmu?" Hans bertanya dengan nada tinggi.
"Tidak ada."
Hans menatap lekat kepada Clara sambil mengangkat alisnya. Menunggu penjelasan.
"Okeee..., menurutku kamulah yang salah kak Hans. Kenapa pula kak Rika sampai tahu soal kado itu. Tak semua hal harus kamu katakan ke pasanganmu kan?" Clara mengeluarkan pendapat absurdnya.
"Lagipula, bukannya yang diuntungkan adalah kak Rika? Bisa melihat suaminya memakai pakaian dalam sebagus itu. Kenapa dia yang sewot? Dan satu lagi kak Hans, banyak yang rela antri hanya untuk kencan denganku, Clara Adelia. Jadi tak perlu kuatir kalau aku bakal jatuh cinta padamu. Kriteriaku itu sangat tinggi." ocehnya sambil memandangi kukunya yang rapi dan indah.
"Deal!! Aku pegang kata - katamu. Jangan jatuh cinta padaku. Jangan ganggu aku selain urusan pekerjaan. Tidak ada hadiah, chat, curhat atau apapun itu."
Clara memutar bola matanya dengan sebal saat mendengarkan jawaban Hans.
"Done! Silahkan kembali keruanganmu." Perhatian Hans langsung teralih ke laptop yang ada dihadapannya.
Dia harus cepat - cepat menyelesaikan pekerjaannya hari ini, karena Hans masih penasaran dengan Erika.
*****
Sesampainya di ruko, Erika langsung menuju ruang istirahatnya dilantai dua. Sampai - sampai mengacuhkan Kirana, yang hendak menyampaikan laporan stock dan orderan.
Selanjutnya, di kamar atas Erika melepas semua bajunya dan hanya mengenakan pakaian dalam. Kemudian, memandangi bayangannya sendiri didepan kaca besar. Beberapa kali berputar dan mengamati tubuhnya dari bawah keatas, depan dan belakang. Apakah benar dirinya gemuk seperti yang dikatakan Hans?
"Rasanya tak ada yang berubah." gumamnya lirih.
Tak mau mempermalukan Bu Boss, Kirana menutup pintu pelan - pelan dan mengetuknya. Benar saja, Erika terlonjak kaget. Buru - buru dipakainya lagi pakaian yang berserakan dilantai. Kemudian cepat - cepat dia keluar.
"Mana laporannya Kirana?" Erika langsung beralih ke mode kerja, dan menuju ruangan kerjanya di lantai satu bersama Kirana.
Beberapa waktu semua sibuk dengan urusan masing - masing, sambil sesekali terdengar suara lakban dari karyawan yang sedang membungkus paket.
"Bu, apa jadi kita memberi reward kepada reseller kita bulan ini?" tanya Kirana.
"Apa sudah ada list namanya?"
"Sementara baru 3 nama, yaitu Hary As Syifa, Effie Widjaja dan Mom AJ. Nanti yang lainnya akan menyusul." lapor Kirana.
Erika mengangguk puas.
"O'ya Bu. Souvenir untuk reward-nya nanti berupa apa? Kapan kita belanja?"
Ah, pertanyaan Kirana membuat Erika kembali teringat akan souvenir, Hans dan Clara. Dan juga kata - kata Hans tentang tubuhnya.
"Aaaah... Kirana, apa tak ada ditempat ini?" Erika merengek seperti anak kecil
__ADS_1
"Apa aku kelihatan gemuk?"
"Menurutmu pria lebih menyukai wanita gemuk atau langsing?"
"Aaaaa.... Kirana, apa aku sudah tidak menarik?" kali ini sambil menggoncang - goncang tubuh Kirana.
"Ada apa dengan Bu Boss hari ini? Tadi berkaca tanpa pakaian lengkap. Dan sekarang merengek seperti ini. Apa dia kesurupan?" (Kirana)
"Kirana! Jawab aku!"
TUK!!
"Mommy, apa yang kamu lakukan?"
Sebuah sentilan pelan mendarat di dahi Erika. Hans datang. Erika langsung menoleh kearah Hans.
"Mommy...." Lalu, dia memberi kode supaya Kirana meninggalkan mereka berdua.
"Eh, kak Hans. Kok sudah sampai? Kamu boleh keluar Kirana." Erika membetulkan posisi duduknya.
"Yaaaa... mau gimana lagi? Ada yang ngambek tadi..."
"Siapa yang ngambek?" Erika melipat tangannya di dada sambil mengerucutkan bibirnya. Begitu menggemaskan.
Hans memeluk Erika dengan hangat dan menciumnya dengan lembut.
"Aku penasaran, ingin segera tahu apa yang ada didalam sini." Hans mengurai pelukannya lalu mengusap lembut perut Erika.
"Ha? Maksudnya?" Erika bertanya dalam hati.
Bersambung...
Sampai jumpa di episode berikutnya.
Terima kasih buat Hary As Syifa, Effie Widjaja dan Mom AJ yang tak henti - henti mensupport karyaku. Tau ga? Setiap komen dan like kalian membuatku ingin terus lebih baik. 😊😊😊
Meski sedikit memaksa, aku ingin masukkan nama kalian sebagai bentuk apresiasiku. 🥰
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
Vote
__ADS_1
Jangan lupa favorite-kan karya Author supaya mendapatkan notifikasi setiap kalinada update baru.