
Pagi yang semula dipikir akan cerah berkat senyum Hans, mendadak berubah suram bagi Clara. Berawal dari kabar kehamilan istri Hans yang cukup memporak porandakan perasaannya. Perasaan Clara seperti ditampar oleh kenyataan dan dibangunkan dari mimpi.
Tak seorang pun tau, satu - satunya alasan Clara untuk bangun pagi dan berangkat dengan semangat ke kantor adalah Hans. Dia yang tak suka bangun pagi, selalu cepat - cepat mandi dan berdandan cantik supaya bisa sedikit saja menarik perhatian atasannya. Tapi dasar Hans, tak sekalipun matanya melirik ke arah Clara, kecuali saat sedang menjelaskan atau mengajari Clara sesuatu yang baru. Apalagi kalau bukan alasan demi tata krama berbicara.
Ternyata mood buruk Clara tak berakhir begitu saja. Hans memanggil kepala pemasaran untuk datang ke ruangannya. Tak lama, kepala pemasaran datang dengan membawa seorang gadis muda dengan kecantikan diatas rata - rata. Alis tegas berserat. Hidung mungil namun mancung. Mata bulat dengan bulu mata yang lebat. Bibir penuh nan sensual. Sementara rambut cokelatnya dibiarkan tergerai. Wanita itu memiliki tinggi hampir 170 cm yang sangat proporsional dengan berat badannya.
"Perkenalkan, ini karyawan baru yang akan bekerja satu team dengan Clara. Dia yang akan menangani proyek bersama Clara, lalu melaporkan setiap kemajuan proyek kalian ke Pak Hans." Kepala pemasaran menjelaskan.
"Namaku Jennifer. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." Wanita muda itu berkata dengan sopan sambil membungkukkan badannya. Kira - kira usianya sekitar 22 tahun.
"Dia juga akan belajar di bagian pemasaran dan administrasi karena tugasnya juga mengurusi administrasi untuk Pak Hans."
Penjelasan itu seketika berdengung di telinga Clara. Hati dan kepalanya terasa berat. Sekali lagi, dipandangnya wanita cantik dihadapannya. Dari ujung kaki hingga ujung kepala. Menerka - nerka apa maksud kak Hans memasukkan wanita ini ke divisinya. Bukankah mereka tak membutuhkan tambahan marketing?
"Lalu apa itu? Sejak kapan kak Hans memakai admin? Bukannya dia tak pernah melirik cewek selama ini? Dasar laki - laki!! Tau aja barang bagus." hati Clara berkecamuk.
Ada rasa tak terima, dan perasaan tersaingi. Selama ini, Clara merasa dipuja - puja oleh kaum adam. Apalagi di kantor ini, dia adalah artisnya.
"Kenapa kak Hans tak memberitahuku kalau bakal ada karyawan baru?" akhirnya kalimat bernada protes keluar juga dari mulut Clara.
Sebenarnya dari awal, Kepala Pemasaran tak menyukai gaya Clara yang dinilai terlalu berlebihan. Tapi apa boleh buat, omset perusahaan tetaplah yang terdepan. Mau tak mau, disingkirkannya perasaan pribadinya.
Dipandangnya Clara dengan tatapan tak suka dan balik bertanya.
"Memangnya Pak Hans harus lapor setiap keputusannya kepadamu? Lagipula, sopanlah sedikit. Panggil dengan panggilan bapak, dia bukan kakakmu. Beliau tangan kanan Pak Johan. Atasan kita."
"Cih... dasar perawan tua! Tinggal jawab saja, eh malah nyolot." kata Clara dengan suara cukup keras.
"Apa katamu? Tak sopan sekali! Apa mau kuberi sangsi?" Kepala Pemasaran tak terima dengan perkataan Clara.
Suara mereka terdengar lumayan keras.
Seketika ruang marketing hening, semua memandang ke arah Kepala Marketing dan Clara yang sedang berseteru.
Semua kepala setuju dan berpikiran sama yaitu Clara tak tau diri.
__ADS_1
"Sudahlah, aku mau keruang kak Hans. Lebih baik aku tanyakan sendiri saja." Clara langsung berlalu tanpa mempedulikan pandangan siapapun.
****
Flashback
Beberapa hari lalu...
Hans membaca profil orang yang telah diterima oleh Lusi HRD yang diam - diam akan dipakainya untuk menggantikan Clara. Dia memang menyerahkan sepenuhnya urusan mencari pengganti Clara ini pada Lusi.
Dan ternyata, Lusi bekerja dengan cepat. Hari ini sudah ada orang yang diterima dan siap bekerja dalam waktu dekat sesuai dengan kriteria yang Hans inginkan.
Seorang wanita muda yang baru menyelesaikan pendidikannya bulan lalu. Tapi dia telah magang di beberapa perusahaan besar sebelumnya, nilai akademisnya juga diatas rata - rata.
Wanita muda itu juga menguasai tiga bahasa asing secara aktif dan beberapa bahasa lainnya secara pasif.
Kemampuan berkomunikasi yang sangat baik, dan didukung dengan penampilannya yang menarik. Sebuah paket lengkap yang tak bisa dilewatkan. Tentu saja dengan memberikan gaji yang sepadan.
Tak berapa lama, ruang kerja Hans diketuk. Lusi masuk bersama dengan karyawan baru itu.
Hans mengangkat wajahnya dan melihat kearah wanita muda itu. Seketika wajahnya tersenyum puas. Wajahnya tak jauh berbeda dengan foto, dan yang paling penting penampilannya rapi dan tutur bahasanya pun sopan.
"Belajarlah dengan cepat. Terima kasih sudah bergabung dengan kami. Semoga kita bisa bekerja sama dengan profesional." Hans berdiri dan menyalami wanita itu.
****
Tiba di ruangan Hans, Clara lagi - lagi tak mengetuk pintu. Langsung masuk dan memanggik Hans.
"Kak Hans."
Yang dicarinya ternyata sedang bertelepon dengan istrinya. Clara mengernyit mendengar potongan pembicaraan Hans dan istrinya.
"Namanya Jennifer. Pintar bahasa asing dan sopan, Moms. Hari ini dia start kerja....See you, Mommy. Clara datang."
Nah, apa kubilang? Sedikit - sedikit lapor istri. Clara nampak tak suka.
__ADS_1
Merasa terganggu, Hans langsung menegur Clara, "Kenapa tidak mengetuk pintu?"
"Ha? Bukannya tadi pagi sudah cerah ceria? Kenapa sekarang kembali lagi ke Pak Kolot yang biasanya? Banyak aturan."
Tanpa menunggu diperintah, Clara langsung duduk dikursi depan meja Hans.
"Kenapa tak memberitahuku kalau ada karyawan baru bernama Jennifer?" Clara to the point.
"Bekerja samalah dengan dia. Pekerjaanku banyak, dan sebentar lagi istriku melahirkan. Aku akan fokus mengurusnya beberapa bulan setelah dia melahirkan." Seperti biasa Hans hanya menjelaskan poin penting saja.
"Memangnya istrimu tak cemburu? Karyawanmu cantik - cantik."
Mungkin yang dimaksud Clara dengan cantik cantik adalah Jennifer dan dirinya sendiri. Hans tertawa dalam hati.
"Tidak."
"Jennifer itu cantik, Kak. Apa kata kak Rika kalau melihatnya? Trus kalau kak Hans memberi akses langsung ke kak Hans. Apa kak Hans tak takut Jennifer ngelunjak? Bagaimana kalau dia menggodamu? Kak Hans tak takut kalau kak Rika marah lagi?" Clara benar - benar tak sadar apa yang diucapkannya tentang Jennifer adalah gambaran tentang dirinya sendiri.
"Istriku sudah tahu. Lagipula, selama ini istriku tak pernah ikut campur soal staff-ku. Sejauh inj, dia tak pusing apapun soal Jennifer. Lalu kenapa kamu yang protes?"
JLEB!!! Tepat sasaran.
Clara terdiam. Tak tahu harus bereaksi bagaimana. Yang pasti, Clara menganggap munculnya Jennifer sebagai ancaman.
Bersambung...
Sampai jumpa di episode selanjutnya
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
Vote
__ADS_1
Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.