
Sepertinya dia memang berniat menghukumku dengan diamnya. Erika tak mengijinkan aku tidur disampingnya, bahkan dia sampai memunggungiku yang sudah tidur di sofa. Dia tak ingin melihat wajahku.
Semalaman aku tidak bisa tidur. Bukan hanya karena tidak nyaman tidur di sofa yang ukurannya lebih pendek dari tubuhku, tapi juga karena pikiranku mengingat kembali bagaimana usaha Erika untuk mengembalikanku ke jalan yang benar.
Aku menyesali telah mengabaikan peringatannya. Dia mengingatkanku bukan hanya satu atau dua kali, tapi berkali - kali. Mulai dari dia bertanya dengan halus sedekat apa aku dengan Clara. Dan penjelasanku ditanggapinya dengan kata - kata "aku percaya padamu."
Tak lama berselang, tingkah Clara yang semakin menjadi - jadi membuatnya mengungkapkan kekuatirannya padaku. Kuatir kalau aku jatuh dalam godaan Clara. Dan aku menganggap sepele peringatannya, toh aku tak pernah menyukai Clara.
Selanjutnya dia marah besar saat mengetahui kalau nomernya diblokir olehku. Jujur, aku tak melakukannya. Tapi menyangkalnya sama saja dengan membongkar kebohonganku sendiri. Aku terlanjur berkata padanya kalau tidak pernah bertemu Clara.
Dan, astaga! Tanpa aku berkata apapun dia langsung menyatakan perang pada Clara. Sekarang jelas bagiku, kalau dia merasa terganggu dengan kelakuan Clara. Lebih tepatnya dia mencurigai aku. Aku langsung berusaha menghentikan hubunganku dengan Clara.
"Apa kamu tak malu kalau hubungan kita diketahui banyak orang? Kamu akan dicap pe-la*or." aku mencoba memancing nuraninya.
"Kita tak akan bisa menyenangkan semua orang, kak Hans. Aku tak peduli apa pandangan orang terhadapku."
"Apa kata orang tuamu kalau tahu kamu berhubungan dengan suami orang?" tanyaku lagi.
"Maksudmu Mamaku? Mau bagaimana lagi, kita ini kan berjodoh." jawabnya enteng.
"Hah!?" Aku terperangah mendengarnya.
"Kenapa kaget, Beb? Kita bertemu dalam pekerjaan yang sama lalu bekerja sama. Aku menyukaimu dan kamu juga menyukaimu. Itu artinya kita berjodoh."
__ADS_1
Hhhh... sungguh aku tak bisa memahami jalan pikiran manusia satu ini. Sepanjang ingatanku, aku belum pernah mengatakan menyukainya. Mengenai jodoh? Menurutku, jodoh adalah kalau kita bertemu disaat yang tepat dan orang yang tepat.
Dia juga mengatakan kalau dia tak peduli apabila suatu hari Erika ataupun orang lain mengetahui semuanya. Dan usahaku tak berhasil. Rasa bersalah pada Clara membuatku tak bisa tegas terhadapnya.
Kesalahan jika dibiarkan berlarut - larut selalu akan membawa dampak yang buruk. Akibatnya, Erika mengatakan akan pergi. Aku tahu dia serius dengan ucapannya, kopernya sudah siap sedia di sudut kamar. Bagaimana caranya aku hidup tanpa dia? Tetapi apa pun yang aku katakan, bagaimana pun aku memohon, dia tak mau mengubah pikirannya.
Bibirnya memang mengulas senyum, tapi jelas sekali hatinya perih. Melihatnya tak menangis ataupun marah membuat hatiku semakin sakit.
Pertama kali dalam hidupku, aku ingin melihatnya menangis, setidaknya dengan menangis dia bisa melepaskan sedikit tekanan dan beban didalam dirinya. Aku kuatir dengan kesehatan jiwanya.
Atau kalau dia mau memukulku sekalipun, aku ikhlas menerimanya.
•
•
Dadaku terasa sesak.
"Mommy..." aku tetap memanggilnya penuh harap.
Tidak ada sahutan. Sosoknya yang ceria dan tidak pernah berhenti bergerak tidak aku temukan dimanapun. Tidak ada di dapur atau kamar mandi, apalagi May shop. Hanya ada Kirana dan beberapa karyawan lain disana.
Aku sampai menajamkan telingaku untuk menunggu bunyi langkahnya. Ruang mencuci, apalagi kamar kami, tidak ada Erika dimanapun.
__ADS_1
•
•
Drrrrt...drrrrrt....
Sayup - sayup aku mendengar suara ponsel bergetar. Perlahan aku membuka mata dan melihat diriku terbaring ditempat tidur. Jam diponsel menunjukkan tengah hari.
Panggilan dari Johan. Segera aku menyadari, pasti Erika ada bersamanya. Ada sedikit lega, setidaknya istriku ada ditempat yang aman. Sebenarnya aku malu karena Johan jadi mengetahui permasalah rumah tanggaku, tapi Johanlah tempat yang aman untuk Erika saat ini.
Tapi ada yang mengejutkanku. Johan berkata kalau Clara tadi ada didepan rumahku dan sebentar lagi akan kerumahnya untuk menemui Erika.
S***!! Aku lupa sama sekali dengan Clara. Dia pasti mencariku, tapi tak bisa menghubungiku sama sekali. Semua akses sudah kututup sejak Erika menemukan bukti percakapanku dengannya. Aku juga tadi berpesan pada ART kalau tak mau menerima tamu hari ini, siapapun itu.
Dan sekarang sudah pasti Clara akan mencari Erika karena kesulitan menghubungiku. Aku tahu pasti Clara akan menuduh Erika sebagai penyebab dari semua ini. Sejak awal, Clara membenci Erika karena Erika selalu menjadi prioritasku, dia iri pada istriku.
Dadaku bergemuruh mengingat bagaimana barbarnya Clara. Segera aku menuju kerumah Johan. Ternyata aku salah, istriku benar - benar hebat. Dia berhasil membungkam Clara. Kata - kata Erika dengan telak menusuk Clara, dan juga aku.
Bagian yang tak menyenangkan adalah Erika tak menoleh padaku meski sebentar saja. Seolah - olah aku tak ada. Lebih parahnya lagi, dia dengan santai berkata akan memberikanku pada Clara
Kemudian dia berlalu dari situ. Dan aku pun tahu, kemarahannya belumlah usai.
Sampai jumpa di episode selanjutnya...
__ADS_1