
"Kamu suka aku pakai baju model apa?" Clara bertanya dengan wajah tanpa dosa sambil memasang puppy eyes.
Hans tak tahu apakah Clara sengaja atau tidak dengan tingkahnya. Yang jelas, Hans tadi sempat merasakan darahnya mengalir deras ke kepala karena sepasang bukit kembar yang tampak jelas dari kejauhan. Dan sekarang Clara memasang wajah polosnya.
"D**n it!! She's so cute." Hans memaki dalam hati, sambil berusaha untuk menjaga kewarasannya supaya tak hanyut dalam kegilaan Clara.
Hans menyadari sepenuhnya, ada banyak hal yang tak boleh dia rusak. Ada hati Erika yang harus dijaga, ada masa depan anak - anak yang menjadi tanggung jawabnya dan juga reputasi dirinya yang tak boleh hancur begitu saja. Belum lagi kepercayaan dari Pak Johan selaku pemilik perusahaan, sekaligus direktur utama. Tidak. Hans tak mau kehilangan satu pun dari apa yang telah dicapainya hari ini. Terlebih lagi, Hans mencintai keluarga dan anak - anaknya
"Dasar bodoh. Ke HRD sekarang!" perintah Hans akhirnya setelah sempat merasa terlena dengan pesona kecantikan Clara.
Kali ini suara Hans terdengar tegas dan tak bisa dibantah. Dia ingin segera menyelesaikan urusannya dengan Clara hari ini.
"Untuk apa?" tanya Clara polos.
Tanpa banyak bicara, Hans membuka pintu dan mendorong Clara keluar. Hans sudah tak peduli apa yang akan dipikirkan Clara padanya. Dia berusaha menyingkirkan Clara yang begitu absurd dan berbahaya bagi kesehatan mental dan matanya.
Mau bagaimana lagi? Sebagai makhluk visual, lalu disodori pemandangan indah dihadapannya. Apakah salah kalau dirinya turn on? Hans berusaha membela dirinya.
Turn on? Apakah dirinya sudah gila? Hans terkejut sendiri dengan pikirannya yang mesum. Cepat - cepat diusirnya semua bayangan yang berkelebatan tak jelas di otaknya.
Hans menghempaskan punggungnya ke kursi, lalu menghirup napas dalam - dalam dan segera memencet extension HRD.
"Sekarang Clara menuju ruanganmu. Ajari dia cara berpakaian yang sopan!" perintah Hans tanpa basa basi.
"Satu lagi, awasi CCTV semua lantai, dan setiap hari. Pastikan tak seorang pun karyawan wanita berpakaian seperti Clara hari ini! Beri sangsi pada siapapun yang melanggar." lanjut Hans dengan nada tak mau dibantah.
Lusi HRD mengiyakan perintah random Pak Boss. Meski dalam hati, dia bertanya - tanya apa yang dilakukan Clara sampai Pak Hans yang biasanya sabar begitu murka. Sampai - sampai mengeluarkan aturan dadakan.
Sudahlah, tidak banyak kepo adalah yang terbaik. Apapun sebabnya, yang pasti adalah pekerjaannya bertambah, yaitu mengawasi CCTV dan menemukan siapapun yang berpakaian tak sopan.
"Dan ini berlaku setiap hari!!" gumam Lusi sambil memutar bola matanya.
****
Setelah urusannya dengan Lusi selesai, Hans kembali tenggelam dalam laptop dan dokumen - dokumen yang berserakan di mejanya.
__ADS_1
Kesibukan dan pekerjaan yang menumpuk selalu membuat waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa langit mulai gelap, seperti biasa Hans menghubungi Erika sebelum pulang dari kantor.
"Moms, aku pulang..."
"Ada cerita apa hari ini?" suara lembut Erika terdengar dari seberang sana.
"Sibuk seperti biasa, Mom. Kamu ngapain aja seharian? Miss you Moms" manisnya Hans saat berbicara dengan Erika membuat siapapun yang tak sengaja mendengar pasti akan meleleh.
"Aku masak ayam goreng, sayur asam, sama tempe" Erika sengaja menyebutkan menu kesukaan Hans, supaya Hans merasa lapar dan cepat pulang.
"Jangan lupa sambal terasi buatan Mommy juga dong. Ya? Ya?" bujuk Hans.
Entah karena pernah hidup susah atau karena menganggap masakan istrinya lebih terjamin kebersihannya, Hans lebih suka masakan rumahan dibanding makanan restaurant. Bahkan setelah kehidupan mereka jauh lebih baik seperti saat ini, Hans tetap menyukainya.
"Benar kan? Suara kak Hans langsung terdengar bersemangat." Erika tak bisa menahan senyumnya diseberang sana.
Rasanya jerih payahnya terbayar lunas setiap kali mendengar suaminya begitu bersemangat menikmati masakannya.
"Seharian ini aku sibuk mengurus olshop, antar jemput anak - anak lalu memasak. Dan sekarang kamu menyuruhku membuat sambal terasi. Jari - jariku pasti pegal Kak Hans." Erika berpura - pura menolak, dan suaranya dibuat seperti anak kecil yang merajuk.
"Pijat plus plus special untuk Mommy nanti malam." lanjut Hans kemudian dengan suara menggoda.
"Apaan? Enak di kamu, tak enak di aku dong." Erika berpura - pura sedang marah.
Di seberang sana, terdengar suara Hans terbahak mendengar reaksi Erika. Tak lama, Hans menyudahi panggilannya.
Pembicaraan singkat yang kadang diselingi sedikit flirting seperti inilah yang seringkali membuat Hans merasa ingin segera pulang ke rumah.
Belum sedetik panggilan terputus, terdengar suara pintu terbuka bersamaan dengan masuknya sesosok makhluk yang sedang tak ingin dilihatnya.
"Kenapa tak mengetuk pintu?" tegur Hans pada sosok centil yang sudah masuk tanpa permisi.
"Urgent Kak Hans!! Urgent!" Clara berkata heboh sambil menunjukkan kearah ponselnya.
"Mr. Lee datang dan menuju kesini sekarang. Dia mau bertemu dengan Dirut." tambahnya lagi.
__ADS_1
(Dirut \= Direktur Utama)
Hans mengerutkan keningnya. Diliriknya arloji di tangannya, hampir pukul tujuh dan sudah lewat jam kerja. Semua orang tau kalau direktur utama tak pernah stand by diatas jam lima sore, kecuali dengan appointment.
Lagipula, kenapa seorang customer VVIP malah menghubungi Clara? Biasanya, Mr. Lee menghubunginya untuk membuat appointment, atau sekedar berbincang.
"Mr. Lee itu kenalannya Evan..." Clara menjelaskan, seolah tau isi kepala Hans.
"Kamu cari masalah Clara..." desis Hans kesal karena dia tahu kalau Erika pasti sedang menunggunya saat ini
"Hah? Masalah apaan? Mr. Lim on the way to A**** H**** dan katanya 10 menit lagi dia sampai" jawab Clara cepat sambil menyebut nama salah satu restaurant steak terkenal.
"Tadi katamu dia menuju sini? Trus sekarang kamu bilang dia on the way to A**** H**** ?" tanya Hans menyelidik, karena tingkah Clara dari siang tadi sungguh membuat Hans pusing.
Dan nalurinya berkata kalau dia harus waspada terhadap segala macam tingkah Clara.
"Kan Big Boss sudah pasti tak ada, jadi aku buatkan janji untuk bertemu dengan kamu...dan aku." wajahnya tersenyum manis dan tanpa dosa. Tangannya bergantian menunjuk Hans dan dirinya.
Hans benar - benar tak tahu apa yang dipikirkan Clara sehingga berani lancang mengatur pertemuan ini.
Hans menghembuskan napas kasar.
"Ayoooo..." dengan cueknya Clara langsung mengaitkan tangannya ke lengan Hans. Tanpa mempedulikan tatapan Hans yang kesal kepadanya.
Ah, janji dengan istri versus dinner dadakan dengan customer VVIP benar - benar pilihan yang sulit bagi Hans.
Semua ini karena Clara.....
Sampai jumpa di episode selanjutnya.
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
__ADS_1
Favorite