
Benar kata orang, salah satu cara untuk membuat orang lain selalu memikirkan dirimu adalah buatlah orang itu membencimu.
"Maaf, Pak Hans. Saya kesulitan untuk exit interview Clara. Dia menangis seperti orang putus cinta. Sesenggukan parah. Hampir satu jam dia diruangan saya, tapi sayangnya saya tak mendapat apapun." lapor Lusi HRD.
•
•
"Selamat sore, Pak Hans. Maaf, Pak. Kak Clara minta tolong supaya saya mau menyampaikan kalau dia ingin menghadap Bapak. Dia mau minta maaf karena sudah kelewatan. Nampaknya, dia menyesal sekali." kata Jennifer siang tadi.
•
•
"Kak Hans, kamu tahu? Satu - satunya yang membuatku bertahan disini adalah kamu. Bisa saja aku mencari pekerjaan yang lebih baik. Tapi hanya karena kamu. Demi kamu saja, aku stay. Tak apa kalau tak naik jabatan. Tak masalah dengan gaji. Asalkan bekerja denganmu, aku sudah senang." Karena Hans menolak bertemu, Clara mencegat Hans di lobby saat pulang kerja. Setelah kejadian tadi, seharian ruang kerja Hans juga terkunci.
Mata Clara sembab dan hidungnya juga merah. Wajahnya kuyu, lalu rambutnya kusut. Make up yang biasa dipakainya sudah luntur sedari tadi. Ini pertama kalinya penampilan Clara begitu berantakan. Benar kata Lusi, seperti orang putus cinta.
•
•
"Moms, akhirnya sudah selesai." Hans menelpon Erika.
"He? Maksudmu, kak Hans?"
"Iya. Clara sudah resign.... Lebih tepatnya, aku mengeluarkannya." ada rasa gamang tersirat dinada suara Hans.
"Hmmm..., apa semua baik - baik saja?" seperti biasa Erika dengan sabar menanggapi suaminya.
"Tidak ada yang lebih baik dari ini, Moms. Ya, semua baik - baik. Hanya saja aku tak tahu, apakah keputusan ini tepat. Aku tadi begitu emosi melihatnya. Liar dan tak terkendali" lirih Hans.
"Aku benci dia." lanjut Hans sambil menghembuskan nafas.
•
•
"Malam, Pak Hans. Security lapor kalau tadi dia sampai mengingatkan Clara untuk meninggalkan ruangan. Katanya, saat itu hanya tersisa Clara disana. Dan sedang menangis. Kasihan Jennifer yang terpaksa menemaninya di ruang marketing."
__ADS_1
Sebuah pesan masuk dari kepala marketing di ponsel Hans.
Dalam hati, Hans mentertawakan dirinya sendiri. Tawa sinis. Hanya seorang Clara, tapi dia tak bisa mengatasinya. Bahkan, disaat terakhir pun dia tetap membuat kontroversi. Inilah hebatnya Clara, dia selalu berhasil membuat fokus menjadi kearah dirinya.
*****
Tadi sepulang dari kantor, wajah Hans nampak begitu lelah. Tak banyak bicara dia langsung menuju ke kamar. Diambilnya masker, jaket dan legging untuk Erika. Dipakaikannya semua benda itu untuk Erika. Hans ingin menenangkan diri dengan berkeliling disekitar perumahan. Dan tentu saja, bersama Erika.
Mengetahui Hans banyak pikiran, tanpa banyak pertanyaan Erika menuruti ajakan suaminya. Biarlah disimpannya dulu setiap pertanyaan yang muncul, meski ekspresi Hans sepulang kerja membuat hatinya terusik.
Saat ini, Hans menyetir dengan satu tangan. Sementara tangan satunya memegang tangan Erika yang memeluk erat dirinya. Kepala Erika menyandar di punggung Hans. Angin malam sepoi - sepoi menerpa wajah Hans. Menentramkan hati.
"Ingat waktu kita boncengan dulu? Waktu malam tahun baru?"
"Aku tak mungkin lupa." jawab Erika sambil tertawa kecil. Kalau mengingat saat itu, Erika selalu malu sekaligus geli.
"Dulu kita boncengan waktu kamu hamil Abbey." Setiap kali mengingat peristiwa itu, Hans selalu memulai ceritanya dengan kalimat ini.
"Iya. Aku pengen naik motor itu lagi." Mata Erika menerawang, mengingat motor ninja Hans. Salah satu kenangan saat awal - awal mereka menikah. Motor pertama Hans.
"Waktu itu ada bumil nekat bonceng motor ninja, minta ke mall. Pake acara ngambek pula. Hanya karena ga dituruti. Begitu sampai sana, eeeh taunya malah kalap lihat barang sale."
"Hahaha..." Hans malah tertawa puas.
"Sialnya, malah menang lucky draw. Hadiahnya dispenser. Ampun deh! Kamu bonceng cewek, dispenser dipangkuan, kantong belanja ditangan. Hujan lagi." ledek Hans sambil terus terkekeh.
(Bonceng cewek \= bonceng motor, duduknya miring karena waktu itu perut Erika sudah besar).
Erika ikut tertawa geli mengingat tingkah konyol mereka saat itu. Bagaimanapun konyolnya, asalkan dilakukan bersama orang tercinta, maka semua akan terasa membahagiakan. Apa yang semula dipikir berat pun, akhirnya akan terlalui juga.
"Aku lapar, Moms" sela Hans ditengah tawa mereka.
"Ayolah mampir ke dekat campus. Sepertinya hari ini ada festival makanan." ajak Erika. Dalam hati, Erika lega karena sikap Hans sudah kembali seperti biasanya. Wajahnya sudah tidak segelap saat pulang tadi.
Di area dekat campus, ada semacam alun - alun. Beberapa waktu sekali, akan ada festival makanan. Mulai dari makanan berat, hingga sekedar camilan. Mie ayam, jagung bakar, jus, kopi, kentang, dimsum dan semuanya harga mahasiswa. Erika menyukainya. Hitung - hitung membantu mahasiswa, karena sebagian besar penjualnya adalah mahasiswa campus itu.
Hans memarkir motornya, dan menggandeng Erika mencari tempat duduk.
"Duduk disini." ucap Hans. Tangannya menepuk tikar yang terhampar diatas rerumputan dengan meja lesehan diatasnya. Erika duduk dengan nyaman disana, sembari meluruskan kakinya.
__ADS_1
Sambil menunggu Hans memesan makanan, Erika mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Hari ini tak begitu ramai, mungkin karena bukan weekend. Ah, ternyata ada lampu - lampu hias yang dikreasi menjadi berbagai macam bentuk.
Romantis! Kekeh Erika dalam hati. Duduk diatas rerumputan dikelilingi lampu.
"Senyum - senyum sendiri, awas kesambet." Hans datang membawa sate lilit, dimsum, dan jagung serut kesukaan Erika.
"Lampunya bagus." jawab Erika cepat. Sambil matanya langsung melirik kearah makanan dihadapannya. Tanpa permisi, langsung dilahapnya semua makanan kesukaanya.
"Kak Hans, beli mie ayam tapi bagi dua dong sama kamu. Aku ga sanggup kalau makan satu mangkok." bujuk Erika dengan mata berbinar - binar.
Hans mencebikkan bibirnya.
"yaaa.... yaaa... jangan sampai Johan ngomong adiknya kurus kering karena ga aku kasih makan."
Erika tertawa pelan, sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Melihat bagaimana istrinya bahagia menikmati semua yang sederhana ini, diam - diam Hans terharu. Dari dulu, Erika tak pernah menuntutnya apapun.
"Kamu tau, Moms? Andaikata yang aku ajak adalah Clara, sudah pasti dia tak mau makan ditempat seperti ini. Naik motor saja, dia gengsi. Apalagi duduk lesehan diatas rumput." Hans berkata pelan sambil memandangi Erika yang sudah mulai menikmati mie ayamnya.
"Eh?"
Erika mendongak, melihat ke mata Hans. Ada sesuatu yang tak bisa dibacanya didalam sana. Entah kenapa, laki - laki dihadapannya seperti bukan "Kak Hans-nya" lagi.
Ah....sekarang mie ayam yang tengah dinikmatinya, rasanya sudah tak seenak tadi.
"Kenapa disaat menyenangkan begini, harus ada nama Clara yang terselip"
Sampai jumpa di episode selanjutnya
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
Vote
Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.
__ADS_1