
"Lho kok malah kesini?" tanya Erika heran.
Padahal tadi Hans bilang mau makan di restaurant steak yang baru buka. Tapi nyatanya? Hans malah masuk ke food court.
"Terlalu full, Moms" jawab Hans singkat, dan nampak terburu - buru mencari tempat duduk.
"Lho? Belum juga mampir kesana, eeeh sudah bilang full." Erika bersungut - sungut dalam hati karena batal makan steak kesukaannya.
"Pesanlah apapun yang kamu mau, Moms!" Hans menyodorkan dompetnya dan langsung duduk.
"Apa - apaan ini?" gusar Erika. Biasanya Hans yang memesankan makanan, atau setidaknya menemani Erika memilih makanan.
Sambil menahan perasaannya, Erika mengambil dompet Hans. Akhirnya Erika berkeliling food court, dan sendirian. Menyebalkan sekali!
Mungkin saja karena moodnya yang sudah jelek, atau bisa jadi karena sudah terlanjur berangan - angan makan steak tadi, Erika tak kunjung menemukan makanan yang menggugah seleranya.
Dua kali berkeliling food court, dan tak mendapatkan apapun. Erika memutuskan membeli segelas minuman, lalu kembali ke Hans.
Baru saja Erika sampai di meja dimana Hans duduk. Dan, belum juga Erika sempat menempelkan pant-atnya di kursi.
"Moms, tolong pesankan aku noodle hotplate." pinta Hans dengan wajah tanpa dosa.
"Ha? Kenapa tak bilang dari tadi?"
Mata Erika rasanya ingin meloncat keluar saking kesalnya. Tapi yang dipelototi, malah asyik bermain ponsel, LAGII!!
Meski kesal, Erika pergi juga ke counter hotplate untuk memesan makanan Hans.
Tapi, apa yang dilihatnya? Dari kejauhan, Hans nampak sedang asyik menelpon seseorang.
Merasa dikerjain, Erika memperlebar langkahnya supaya cepat sampai. Dadanya bergemuruh karena emosi. Bagaimana bisa suaminya malah menyuruhnya memesan makanan? Sedangkan dia santai - santai bertelpon dengan siapapun itu.
"Mungkin lain kali, lebih baik aku berkencan dengan sopir. Dia bisa menungguku dimobil, sementara aku berjalan sendiri memilih makanan." sindir Erika, begitu sampai dihadapan Hans.
Sesaat sebelum Erika sampai, Hans memang sudah lebih dulu menyudahi teleponnya.
__ADS_1
"Baiklah, baiklah. Kamu tunggulah disini. Aku pesankan makanan untukmu." Hans mengalah, saat melihat raut wajah Erika yang tanpa senyum.
Hhhh!!! Kalau orang lain, pasti Hans sudah mendapatkan umpatan dan makian. Beruntungnya, Hans berhadapan dengan Erika. Meski kesal setengah mati, Erika tak pernah memaki.
"Cih!! Kencan apaan? Malah sepertinya dia sengaja membuatku sibuk. Toh, akhirnya dia malah pergi sendiri kan?" Erika bersungut - sungut dalam hati.
"Mommy, ini ice cream kesukaanmu." Hans datang , menyodorkan es cream pada Erika. Diatas nampan juga sudah ada salah buah, dan beberapa makanan favorit istrinya. Tak lupa dia tersenyum lembut.
Hati wanita memang gampang disentuh, sedikit perhatian dan sebuah senyum maka lenyaplah amarahnya.
"Thanks, Kak." Erika mulai tersenyum.
Ya ampun! Seharusnya Erika tak secepat itu melunak. Baru beberapa kali Erika memasukkan suapan es krim ke mulut, Hans sudah asyik lagi dengan ponselnya.
Dan, ini sudah benar - benar mengganggu Erika!
Srettt!!
Dengan wajah siap menerkam, Erika menyambar ponsel Hans. Hilang sudah image kalem dan anggun yang selama ini melekat pada dirinya.
Hans memandang Erika dengan tatapan tak terbaca. Tanpa mempedulikan tatapan Hans, dibukanya aplikasi - aplikasi diponsel itu. Sayangnya, dia tak menemukan apapun.
Seharusnya Erika lega, tapi tidak. Rasa penasaran yang kian besar, semakin tumbuh di pikiran dan hatinya. Dia yakin ada yang salah dengan Hans. Tapi, apakah itu?
"Kamu tidak happy diajak nge-date?" tanya Hans pelan, sambil membetulkan anak - anak rambut didahi Erika.
Erika diam saja, berusaha meredam api yang terlanjur menyala dihati.
"Biasanya wanita suka shopping, kalau lagi kesal. Setelah ini, kamu bisa shopping sepuasnya."
Hans tak sadar, kata - katanya justru makin membakar hati Erika.
"Jangan samakan aku dengan wanita lain." Erika menjawab dengan nada dingin.
"Wanita suka shopping? Wanita yang mana? Apa Hans tak mengenal wanitanya yang ini?" lanjut Erika dalam hati.
__ADS_1
"Moms, ada apa denganmu?"
Hans berpindah duduknya ke sebelah istrinya, diusapnya lembut rambut Erika.
"Kamu mau aku bagaimana supaya kamu happy?"
"Tak ada. Cukup bersikaplah normal, kak Hans. Sungguh aku merasa tak mengenalmu beberapa hari ini."
Tentu saja semua ini dikatakan Erika dalam hati saja.
"Kamu cemburu, Moms?"
"Cemburu sama siapa? Tak ada."
"Clara itu hanya anak kecil, Moms. Jangan berpikir yang tidak - tidak. Coba logika saja. Wanita muda, cerdas apalagi single. Apa mungkin dia mau sama aku? Sudah tua, jelek, tidak gaul, kuno, dan yang parahnya lagi, aku sudah beristri."
"Hah? Apa hubungannya dengan Clara?" tanya Erika.
"Hmmm...bukannya kamu berpikir kalau aku ada sesuatu dengan Clara? Aku hanya tak mau kamu berpikiran yang tidak - tidak."
"Aku tak pernah cemburu pada Clara sebelumnya. Dan kalau aku merasa terganggu dengan sikapnya, itu wajar. Tapi yang lebih menggangguku adalah sikapmu akhir - akhir ini."
Erika berhenti sejenak, ditatapnya mata Hans dalam - dalam seakan ingin menguak sesuatu didalam sana.
"Terutama sikapmu hari ini. Terlebih lagi saat ini. Aku tak menyebut Clara sedikit pun. Kamu sendiri yang mengkaitkan sikapmu dengan Clara." tambah Erika.
Sampai jumpa di episode selanjutnya
Tolong dukung Author supaya semangat dalam berkarya dengan cara
Like
Comment
Vote
__ADS_1
Jangan lupa klik favorite untuk mendapatkan notifikasi setiap ada update baru.