Zeline Dan King

Zeline Dan King
Harga diri


__ADS_3

Keadaan Zeline yang hingga harus dirawat dirumah sakit walau hanya beberapa jam saja, tidak terendus oleh media.


Itu karena saat ia masuk ke dalam gedung rumah sakit melalui lift khusus yang ada di dalam basement yang membawanya ke lantai khusus dimana perawat dan dokter sudah disiapkan oleh Om Aksa.


"Bagaimana keadaanya dok?" tanya Om Aksa pada dokter yang menangani Zeline.


"Nona Zeline sudah membaik, dan sudah bisa pulang... Hanya saja perlu istirahat yang cukup banyak dan nutrisi yang banyak pula. Dengan kesibukannya yang padat, Nona Zeline harus mendapat asupan gizi yang seimbang" ucap dokter menatap Om Aksa dan Anin asisten Zeline bergantian.


"Ooh... Jadi dia kurang gizi, pantas saja kurus seperti itu" batin King


"Baik dokter, saya akan memperhatikan asupan gizi Nona Zeline lebih baik lagi mulai sekarang" ucap Anin kemudian mengambil macbook dan memasukan kedalam daftarnya.


"Terimakasih dokter Stepanus... " ucap Om Aksa.


Dokter itu pun keluar bersama suster yang telah melepaskan selang infus ditangan Zeline.


Zeline masih terbaring dengan pura-pura tidur.


"Tuan Muda, saya akan menyiapkan kebutuhan Nona Zeline untuk besok begitu juga dengan makanannya, saya akan berbelanja dulu sekarang. Apa Tuan Muda bisa mengantar Nona Zeline ke rumah?" tutur Anin dengan tatapan penuh harap.


Wajah King terlihat kesal, ia masih menimbang untuk mengantar gadis itu pulang ke rumahnya.


"Antar saja King, dia kan calon istri mu!" saran Om Aksa yang terdengar seperti perintah di pendengaran King.


King berdecak dengan memutar bola matanya malas.


"Ck... Ya sudah, sana pergi sebelum aku berubah pikiran! " usir King pada Anin.


Tanpa aba-aba Anin segera bergegas keluar dari ruangan itu bahkan tanpa berpamitan terlebih dahulu pada Om Aksa dan King.


"Ya sudah... Om tinggal ya, Om ga akan bilang apa-apa sama Mami kamu, karena kalau Mami kamu tau pasti kamu dihukum karena sudah lalai menjaga menantu kesayangannya"


Tanpa mendengar komentar King lagi, Om Aksa pun keluar dari ruangan tersebut.


Mendengar ucapan Om Aksa mengenai 'menantu kesayangan' tadi, hati Zeline terasa sakit. Juga rasa takut mulai menjalar merangsak kehatinya, takut akan menyakiti perasaan calon mertuanya itu.


"Hey... Ayo bangun, kita pulang" King menggoyang tubuh Zeline tapi gadis itu hanya diam saja.


"Zeline... Ayo bangun, kau mau pulang tidak?" Kini King menaikan nada bicaranya satu oktaf.


"Emmmhhh.... " Zeline bergumam, ia pura-pura mengerjapkan matanya.


"Ayo bangun!" titah King lagi.


"Lemes King... Gendong ya!" rengek Zeline dengan suara parau.


"Heuuhhhh" King menghela napas...


"Ya udah, tunggu disini... Aku minta kursi roda dulu!"


"Kiiing.... " panggilan Zeline menghentikan langkah King.


Pria kekar itu membalikan tubuhnya


"Apa?"


"Aku ga mau pake kursi roda, aku maunya di gendong" rengek Zeline lagi.


"Eh busyet!! Ini anak kesambet setan apaan? Kenapa tiba-tiba jadi manja gini? Hah... Nyusahin aja!" batin King.


Dengan langkah gontay dan malas King kembali menuju ranjang Zeline, ia menyelipkan tangan di kaki Zeline dan melingkarkan tangan lainnya di punggung gadis itu.


Zeline setengah melompat masuk dalam gendongan pria kekar itu, ia mengalungkan tangannya dileher King dan menegakan punggungnya. Zeline menambahkan senyum gigi putih bersih berderet rapih dengan dua gigi kelinci ditengahnya.


Kalau sudah begini, mana bisa King menolak.


Tapi King melototkan matanya, ia gengsi mau menurut begitu saja menggendong Zeline apalagi ia baru tersadar bila gadis itu hanya pura-pura lemas agar ia menggendongnya.


"Udah ga lemes ya? Sampe bisa senyum lebar seperti itu?" sarkas King.


Air muka Zeline kembali sendu, seperti ada tombol on off, secepat itu pula ekspresi wajah Zeline berubah. Ia menenggelamkan wajahnya diceruk leher King. Wangi woody bercampur musk dari parfum exclusive King memanjakan indera penciuman Zeline.

__ADS_1


King melangkahkan kaki menuju lift yang akan membawa keduanya ke basement tempat dimana mobil sportnya terparkir.


Hening menemani keduanya di dalam lift, King masih menggendong Zeline ala bridal style, sedangkan Zeline masih nyaman dengan kepalanya yang menyandar di pundak kokoh pria itu. Bibir tipis Zeline menyeringai.


"Rasain kamu... Beratkan? Hah? Repotkan? Aku akan buat kamu menyesal menikahi aku nanti!" batin Zeline


Setelah masuk kedalam mobil dan memasang seatbelt, King melirik kearah Zeline.


"Apa?" tanya Zeline menaikan kedua alisnya.


Tanpa menjawab, King membuka seatbeltnya lalu mencondongkan tubuh mendekati Zeline.


"Ka.. Kamu mau apa?" tanya Zeline terbata.


"Haduuuh... Jangan-jangan dia mau balas dendam nie, awas aja ya kalau dia sampe berani cium aku, aku tuntut ke pengadilan!!" ancam Zeline dalam hati.


Sepersekian detik wajah King sudah ada berada tepat didepan wajah Zeline, hanya menyisikan jarak 5cm saja. Untuk yang kedua kalinya, Zeline mencium wangi mint nafas King mendera wajahnya.


Nafas Zeline memburu karena jantungnya kini berdetak kencang, ia menggigit bibir bawahnya dan memejamkan mata dalam hingga kerutan jelas di sudut-sudut mata dan pangkal hidungnya.


Klik.


Tiba-tiba terdengar suara seatbelt terkunci.


Zeline membuka mata ia melihat tubuh King menjauh dengan seringai dibibir sexy pria itu dan seatbelt sudah menyilang ditubuhnya.


"Jangan ke ge'eran kamu!" desisnya membuat Zeline mengerucutkan bibir.


Ternyata King hanya membantu memasangkan seatbelt untuknya saja.


Sepanjang perjalanan kembali ke rumah, Zeline memilih untuk tidur hingga tanpa terasa mobil sport yang ia tumpangi sudah berhenti tepat di depan pintu rumahnya.


"Turun... " perintah King dengan ketus, kemudian ia turun dari mobilnya.


Ia melangkah menuju pintu rumah Papa Andra, karena walau bagaimanan pun Papa Andra adalah calon mertuanya, dan ia harus berpamitan setelah mengantar Zeline.


Lahir dari keluarga kaya raya dan berpendidikan, King diajarkan norma dan tata krama yang baik hanya saja untuk urusan kebutuhan biologis ia selalu melanggarnya.


Saat dirasa tidak terdengar langkah Zeline mengikutinya, King menoleh kebelakang dan tidak mendapati gadis itu.


Dengan kesal ia kembali ke mobil dan membuka pintu untuk Zeline.


"Turun!! " serunya lagi kini di barengi dengan tatapan tajam setajam silet.


"Gendooooong.... " ucap Zeline manja seraya menjulurkan kedua tangan tidak lupa ia memasang puppy eyesnya agar King tersentuh.


"Ga mau!! Turun sendiri, kamu masih punya kaki!!" tolak King dengan ketus.


Suara pintu dari bahan kayu jati diiringi suara Papa Andra membuat King menoleh.


"King? Zeline?" panggil Papa Andra dari pintu.


Mau tak mau kini ia harus menggendong Zeline kembali.


Masih menampakan wajah kesal, pria itu menggendong Zeline kedalam rumahnya.


"Kamu ga apa-apa kan sayang?" cecar Mama Rena dengan khawatir.


"Tadi Anin telepon katanya kamu masuk rumah sakit, tapi kata Anin kalian akan segera pulang jadi Papa dan Mama ga kesana" tambah Mama Rena lagi.


"Zeline ga apa-apa mah, hanya kelelahan saja" jawab King karena Zeline terlihat pura-pura tertidur dalam gendongannya.


"Ya sudah, biarkan Zeline istirahat dulu, Ma!" ucap Papa Andra


"King... Tolong bawa Zeline kekamarnya ya di lantai dua!" pinta Papa Andra pada King.


Hek!


King menelan salivanya dengan susah payah.


"Gila aja, lantai dua? Bisa encok ini pinggang... Lagian ini cewe badan kecil tapi berat banget sih! Kebanyakan dosa apa ya?" batin King

__ADS_1


"I... Iya Pa... " King hanya bisa pasrah menerima cobaan ini.


Dengan keringat yang mengucur deras, ia pun melangkahkan kaki setapak demi setapak menaiki anak tangga.


Dalam hati, Zeline cekikikan merasa puas.


"Ga usah pura-pura tidur, dimana kamar kamu!"


Zeline melepaskan satu tangan yang melingkar di leher King, masih dengan wajah yang terbenam di leher pria itu, Zeline menunjuk kearah pintu kamarnya.


Dengan susah payah King berhasil membuka handle pintu kamar Zeline. Merasakan tangannya mulai kebas, pria itu setengah berlari menuju ranjang Zeline.


Brugh...


King menjatuhkan Zeline tepat ditengah-tengah ranjang.


"Aaaaa.... " pekik gadis itu terkejut.


Nafas King menderu berantakan dan ia pun merebahkan tubuhnya di samping Zeline sambil meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


Gelak tawa Zeline memenuhi kamar, ia merasa sangat puas karena sudah mengerjai playboy cap kampak itu.


"Sialan kamu Zeline!" geram King dengan alis menyatu.


"Language... Sayang! Kamu ga boleh ngomong gitu sama calon istri kamu!" Zeline kembali tergelak, tawanya seperti seorang pemeran antagonis dalam sinetron.


"Kamu dari tadi ngerjain aku ya?"


"Enggak... Aku memang lemes, King!" Zeline masih terkekeh.


"Makanya makan yang bener, sampe kurang gizi gitu" seloroh King sengit.


"Haha... Aku mual karena panik, kamu nyetir tadi ugal-ugalan gitu kaya metromini!" sanggah Zeline tak kalah sengit.


"Trus sampe pingsan gitu kenapa?"


"Stress!! Ngadepin kamu!"


"Ga nyambung!" King bangkit dari ranjang.


"Mau kemana?"


"Pulang!" jawab King dengan ketus.


"Eh tunggu!"


King membalikan tubuhnya


"Apa?" Kening pria itu mengkerut dalam dengan kedua alis terangkat.


"Selimutin...," suara manja Zeline kembali terdengar.


King menghembusakan nafas kesal dengan memutar bola matanya, ia juga kembali ke ranjang menyelimuti Zeline hingga menutupi dadanya.


"Kamu kesambet, setan jalan tol ya?" tanya King dengan memicingkan matanya.


"Ih amit-amit... Enak aja!" Zeline mengerucutkan bibirnya.


Pasalnya sedari tadi Zeline bersikap manja kepadanya, sedangkan yang ia tau bahwa gadis itu sangat membencinya.


King kembali membalikan tubuhnya.


"Kiiing.... " panggil Zeline panjang dan mendayu.


"Apa lagi sih?" kali ini King benar-benar kesal dibuatnya.


"Tolong nyalain lampu tidurnya, trus matiin lampu kamar udah gitu tutup pintunya ya, calon suami ku sayang..., " suara Zeline benar-benar genit, ditambah ia mengedip-ngedipkan matanya.


"Sialan... Sialan... Emang aku kacung apa?" teriak King dalam hati


Tapi kenyataannya ia hanya bisa menggeram dan menuruti perintah Zeline, seumur hidup hanya Mami dan Zeline yang bisa memperlakukannya seperti ini.

__ADS_1


Harga dirinya benar-benar tergeletak tak berdaya di atas bumi dengan mengenaskan. Entah setan apa yang merasukinya hingga ia dengan sukarela melakukan itu semua.


Setelah King keluar dari kamar yang sebelumnya mengabulkan semua perintah Zeline, gadis itu tertawa puas sambil menendang-nendang kakinya.


__ADS_2