
12 jam sudah ketiga wanita cantik itu menempuh perjalanan dari Indonesia menuju Italy, dan disini lah mereka.
Di salah satu landasan pacu pribadi milik Pangeran Ignasio, beberapa meter dari tangga pesawat sudah terparkir sebuah mobil limosin berwarna gelap lengkap dengan sopir juga satu orang pengawal berjas juga kaca mata hitamnya.
Terdapat earphone ditelinga pengawal tersebut, wajah tampan khas latin dengan rahang tegas dan sedikit bulu yang semakin menambah ke masculinan pria itu.
"Selamat sore Nyonya, saya Dexter yang akan menemani Nyonya selama di Italy... " Dexter sedikit membungkuk sambil menyimpan satu telapak tangan didada.
"Oke Dexter... Saya Azuri, yang cantik ini Rena dan itu menantu saya Azuri... Ayo bawa kami ke hotel!" Azuri berujar sambil mencondongkan tubuh untuk masuk kedalam mobil diikuti Mama Rena dan Azuri.
Dexter kemudian menutup pintu mobil setelah yakin semua wanita cantik itu masuk dan duduk manis didalam sana.
Kemudian ia memutar setengah bagian mobil dan duduk dikursi penumpang disamping supir.
"Maaf Nyonya... Kita tidak ke hotel tapi langsung menuju castle milik Pangeran Adrian... " Dexter sedikit memiringkan tubuh menjangkau pandangan kearah belakang.
"Ooooh... Oke, apa Azalea tinggal disana?" tanya Mami Azuri penasaran.
"Betul Nyonya... Putri Azalea dan Pangeran Adrian tinggal disana!" jawab Dexter cepat.
"Apa putri ku bahagia?" Azuri melirih.
Mama Rena membelai pundak Azuri dari sebelah kanan sedangkan Zeline yang duduk disisi sebelah kirinya langsung memeluk Mami Azuri.
"Mereka terlihat bahagia, Nyonya!!" jawab Dexter lugas sambil menepiskan senyum.
Azuri mengangguk samar sambil menipiskan bibirnya.
Berada jauh dengan sang putri bungsu membuat Azuri menderita, tapi ia sadar tugasnya menjaga Azalea telah usai saat sang anak mengucap janji suci bersama pasangan hidupnya.
Dan mau tak mau, ia harus merelakan Azalea dibawa suaminya.
Azuri hanya bisa berdoa agar sang anak selalu bahagia dan selalu dalam kasih Tuhan.
Hampir satu jam mereka berada didalam mobil mewah tersebut, melewati jalan-jalan dengan bangunan berarsitektur jaman Romawi kuno seolah membawa mereka kembali pada jaman tersebut.
Terlihat pagar besar menjulang dan beberapa penjaga disana, setelah pagar terbuka sang supir melajukan kembali mobilnya menuju halaman depan castle yang sangat besar milik sang menantu.
Mama Rena berdecak kagum melihat bangunan besar seperti yang selalu ia baca di buku-buku dongeng princess untuk Zeline saat gadis itu masih kecil.
Didepan pintu Castle sudah menunggu Bianca, menantu juga sang putri tercinta.
Dibelakang mereka berjejer dua orang pria juga dua orang wanita memakai seragam pelayan.
Zeline turun terlebih dahulu diikuti Mami Azuri dan Mama Rena.
Bianca merentangkan tangan sambil tersenyum, sudah lama ia tidak bertemu dengan mantan saingan yang kini menjadi sahabatnya itu.
Mereka pun saling bersalaman dan masuk kedalam castle.
Para pelayan tadi membawa koper para tamu yang baru saja tiba dari Indonesia dan menyimpannya di kamar yang telah disiapkan.
__ADS_1
Azalea bergelayut manja dilengan sang Mami, "Kamu ga nakal kan? Udah jadi istri yang baik belum? Jangan sok-sokan bikin anak kalau belum bisa jadi istri yang baik!" Mami Azuri berucap ketus tapi tidak dengan hatinya.
Mami Azuri sangat menyayangi Azalea, bahkan ia melupakan rasa kecewanya saat mengetahui si bungsu tengah hamil diluar nikah.
Sang Mami memaafkan tapi bukan berarti Azalea dibiarkan tidak bertanggung dengan apa yang telah diperbuatnya.
Azalea harus menjadi istri dan Ibu yang baik walau pernikahan mereka dipaksakan. Apalagi Azalea menyandang status sebagai istri dari putra mahkota.
"Azalea sudah menjadi istri yang baik, Mi... " bela Adrian sambil merangkul pundak Azalea.
Dan seketika Zeline merindukan sang suami yang selalu membelanya.
"Syukur lah... " jawab Mami Azuri sambil melengos berjalan mendekati sofa dan duduk disana walau belum dipersilahkan.
Mami Azuri masih tidak terima, Adrian menghamili putrinya.
Kalau saja bukan anak dari Bianca, anak muda itu pasti sudah kehilangan nyawa ditangan Papi Zachery.
Apalagi mengingat Adrian sempat tidak bertanggung jawab dan memilih meninggalkan Azalea, rasa murka itu masih ada dan belum hilang.
Bianca yang sudah tau karakter Azuri, memakluminya. Adik dari Bianco dan Ibu dari Adrian itu tau betul hati Azuri tidak seperti yang terlihat dari luar.
Sedangkan Mama Rena dan Zeline malah tidak enak hati pada sang tuan rumah.
Semua sudah duduk di ruangan besar dengan sofa besar saling berhadapan.
"Aku sudah menyusun jadwal untuk kita menghabiskan waktu seminggu disini... " ungkap Bianca dengan binar dimatanya.
Menjadi seorang istri Ignasio hidupnya penuh tekanan dan protokol kerajaan.
"Ren... Ada keinginan untuk mengunjungi negara lain?" Bianca yang sudah mengenal Mama Rena tidak canggung menanyakan keinginan wanita itu.
"Aku sih ikut aja... " jawab Mama Rena merendah.
"Oke deh... sekarang kita makan malam dulu!" ajak Bianca kemudian beranjak menuju ruang makan.
Tidak tampak Ignasio diruangan makan bergaya klasik tersebut, walaupun castle yang dihuni Adrian dan Azalea sudah berumur ribuan tahun tapi interior didalamnya diperbaharui secara berkala.
"Tadi Ignasio hanya titip salam... " Bianca berujar seperti tau apa yang dipikirkan Azuri dan Rena.
Dan mendapat balasan dari Mama Rena dan Mami Azuri dengan ber Oh ria.
"Masih kuat jadi istri Pangeran?" sindir Azuri tiba-tiba.
Mama Rena melotot kemudian mengendik kearah anak-anak mereka.
Sudah menjadi pembahasan ketiganya melalui videocall tentang masalah rumah tangga Bianca dan pangeran Ignasio.
Seorang Pangeran menikah dengan Anak dan adik Mafia yang terkenal kejam didataran Eropa bukan hal baik untuk kerajaan.
Segala pertentangan mereka lalui hingga kini, tapi semua tidak bisa memisahkan cinta Bianca dan Ignasio.
__ADS_1
"Selama dokter jiwa masih praktek, aku akan tetap bertahan!" kelakar Bianca membuat ruangan besar itu penuh dengan tawa.
Dari Indonesia, King tidak berhenti menghubungi Zeline bahkan sedang rapat sekalipun pun, pria itu meminta Elgi untuk berpura-pura menjadi dirinya menanyakan keadaan Zeline.
Bila seorang Alterio sudah jatuh cinta, begitulah kelakuannya. Bahkan hal konyolpun mampu ia lakukan.
Dan saat rapat selesai, King membaca chat Elgi dengan Zeline.
Keningnya sedikit berkerut saat membaca chat Zeline yang memanggil Elgi dengan sebutan sayang, tapi ia kembali tersadar kalau Zeline tidak tau kalau bukan dirinya lah yang mengirim pesan.
King mengusap wajahnya frustasi, ia merindukan Zelinenya.
*****
Hari pertama di Italy, Mama Rena dan Zeline diajak ke berbagai tempat wisata belanja.
Apalagi yang akan dilakukan para wanita bila berkumpul kalau bukan berbelanja?
Bianca meminta kepada sang suami untuk tidak memberikan penjaga berlebihan, cukup mengawasinya dari jauh.
Setelah perdebatan panjang dan alot, akhirnya sang suami mengalah dan mengabulkan semua permintaan Bianca.
Maka Bianca pun menyamar dengan riasan alakadarnya hanya memakai kaos dengan celana jeans dan knee length boots membalut kakinya.
Walau tidak tampak seperti istri seorang pangeran, tapi penampilan Bianca cukup nyentrik.
Dengan menggunakan dua mobil yang melaju secara beriringan, mereka singgah di tempat belanja yang merupakan landmark bekas peninggalan Romawi kuno.
Bayangkan, wanita-wanita yang memiliki suami dengan jumlah materi tidak terhitung itu sedang berbelanja.
Apapun mereka beli hingga tangan para pengawal penuh dengan paper bag dan saat itu lah mereka merasakan nikmatnya duniawi.
Azalea yang sedang hamil pun seperti lupa sedang berbadan dua saat memilih barang yang tidak terlalu dibutuhkannya itu.
Setelah lelah berbelanja, mereka makan siang di restoran terkenal di Genoa.
"Zeline... Kamu kenapa sayang? Wajah kamu pucat... " Mama Rena mengusap peluh yang membanjiri kening sang anak.
"Zeline kecapean kayanya, Ma... Soalnya kerasa ga enak badan trus kepala Zeline sedikit pusing... " tukas Zeline sambil mengelap keringatnya dengan tissue.
"Ya udah kita pulang sekarang ya sayang... " ajak Mami Azuri.
"Ngga Mi... Aku pulang duluan aja, Mami, Mama dan Aunty Bianca lanjut aja jalan-jalannya.... " cetus Zeline, merasa tidak enak karena acara jalan-jalan mereka harus terhenti karenanya.
"Ya udah, aku pulang duluan sama Zeline... Kalian lanjut aja acara jalan-jalannya!" sela Azalea.
"Kamu yakin sayang?" Mama Rena terlihat ragu.
"Yakin Ma... Mama kan jarang keluar negri, Mama selalu dirumah mengurus Papa dan Zeline juga Ka Ken, memastikan rumah bersih dan rapih, memastikan makanan kita sehat dan bergizi... Sudah waktunya Mama menikmati hidup... Sekarang Mama lanjut ya jalan-jalannya sama Mami dan Aunty... " wajah pucat dan memelas sang anak membuat Mama Rena tidak tega menolaknya.
"Ya udah... Kalau gitu kamu istirahat ya!" ucap Mama Rena akhirnya sambil mengelus kepala Zeline dan mendapat anggukan kepala dari anaknya.
__ADS_1
"Yaya... Nanti minta dokter kerajaan untuk memeriksa Zeline... " pinta Aunty Bianca kepada menantunya.
Azalea mengangguk mengerti, setelah menyelesaikan makan siangnya Azalea dan Zeline kembali ke castle ditemani Dexter.