
"Kiiing.... " panggil Zeline lirih, saat keduanya sudah keluar dari pelataran parkir kampus.
"Yes.. Baby?" King mendesah, ia tau apa yang akan dibicarakan istrinya.
King menggapai tangan Zeline, mencium punggung tangan istrinya itu dan menyimpannya didada sambil ia genggam erat.
"Reka itu cuma menggeretak" ucapnya berbohong, hanya ingin menenangkan Zeline.
"Tapi kenapa perasaan aku ga enak ya?" gumam Zeline menatap wajah sang suami.
King tidak menjawab hanya menoleh sambil tersenyum, kemudian kembali fokus pada kemudi.
"Harusnya kemarin kamu ga datang ke apartemen Jeni... " ungkit Zeline hati-hati.
"Aku minta maaf... Tapi kemarin itu aku mutusin Jeni, walau dia ga terima... " King mengeratkan genggamannya tanda ia begitu menyesal.
"Kita akan baik-baik aja, kamu percaya kan sama aku?" King menatapnya dengan senyum.
Zeline membalas dengan menganggukan kepala kemudian menyandar di lengan suaminya.
Keduanya masih saling menggenggam hingga tiba di tempat tujuan.
Selama proses syuting istrinya, King tidak henti berkomunikasi melalui earphone bluetooth ditelinganya.
"Elgi... Suruh orang untuk memata-matai Reka dan menjaga Zeline dari jauh... Reka akan membuat perhitungan dengan ku karena meninggalkan Jeni!" titah King kepada sekertarisnya.
"Baik Tuan" Elgi menjawab cepat dari sebrang sana.
Keduanya pun memutuskan panggilan telepon.
Tapi King masih belum puas, ia menghubungi Unclenya yang merupakan seorang pemimpin Mafia yang cukup disegani di Eropa hingga Asia untuk berjaga-jaga.
King menceritakan keadaan yang sebenarnya juga ancaman yang dilontarkan Reka, walau ingin rasanya King melenyapkan Reka saat ini juga sebelum pria itu melukai Zeline, tapi ia masih mempunyai hati nurani karena didunia ini hanya Reka lah yang Jenifer punya setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan pesawat.
Uncle Bianco berjanji untuk melindungi Zeline dan mencari tau segala sesuatunya tentang Reka.
Setelah menghubungi Elgi dan Uncle Bianco, King merasa sedikit lega tapi kewaspadaannya tidak berkurang sedikitpun.
King ikut menemani Zeline syuting dengan berdiri di dekat kamera, ia bisa melihat proses syuting Zeline dilakukan dan tak henti-hentinya melempar senyum membuat para kru dan host menggoda Zeline.
Zeline tersipu malu selama berlangsungnya acara.
"King... Kenapa sih?" Zeline mencubit perut kotak-kotak King saat berjalan menuju ruang rias setelah selesai syuting.
"Aaww... " King berakting mengaduh padahal tidak terasa sakit sedikitpun.
"Apanya yang kenapa, baby?" King malah bertanya balik sambil terkekeh.
__ADS_1
Zeline mencebikan bibirnya kesal sesaat kemudian tersenyum merasa bahagia.
"Kamu bikin aku ge'er tadi selama syuting... " rajuknya manja.
"Aku terpesona melihat kamu ada di depan kamera" goda pria itu lagi.
King merangkulkan tangannya di pundak Zeline, memeluknya posesif seolah Zeline adalah miliknya dan tidak ada yang bisa memisahkan mereka.
Hari ini Zeline sangat bahagia, bagaimana tidak? ia merasa dimanja, diinginkan, didamba, disayang oleh suaminya itu.
Mulai dengan pagi panasnya di ranjang mereka, ditemani saat kuliah dan sekarang baru saja pria itu menemaninya syuting. Tinggal satu kegiatan lagi yaitu meeting bersama sepupu tapi rival suaminya itu.
"Langsung ke cafe aja ya? Anin udah kasih tau tempatnya!" ucap Zeline seraya menarik King ke pelataran parkir setelah sebelumnya mengambil tasnya di ruang rias.
"Kalian meeting di cafe?" tanya King dengan kening mengernyit dalam.
"Iya King, udah biasa itu lagian bukan cuma Kevlar, Anin dan yang lainnya juga ada disana!" tutur Zeline sambil bergelayut manja dilengan suaminya.
Seperti pria sejati, King membukakan pintu untuk Zeline, tangannya ia simpan sedikit diatas kepala Zeline untuk menghindari benturan dikepala istrinya itu.
King memutari setengah bagian mobil untuk kemudian duduk dibelakang kemudi dan mengemudikan Maybach exelero miliknya dengan kecepatan sedang menuju Cafe yang sudah ditentukan.
Sesampainya di Cafe ternyata semua sudah menunggu termasuk Kevlar dan Anin, King mengambil tempat tidak jauh dari meja dimana Zelin mengadakan meeting, tanpa menyapa Kevlar dan yang lainnya, pria itu langsung duduk disana.
King menyimoan Macbooknya di meja lalu memanggil pelayan untuk memesan kopi dan kudapan.
Sesekali netra King melirik Zeline sambil melakukan pekerjaanya dari sana.
"Kemarin-kemarin dia sibuk banget, Mba Bela... Jadi hari ini dia sempetin untuk nemenin aku!" ucap Zeline sengaja agar terdengar oleh Kevlar.
"Hai Kev... " sapa Zeline pura-pura baru melihat pria itu, kedua tangannya sudah bersiaga menahan tubuh Kevlar yang akan memeluknya.
Kevlar berdecak, sambil melirik King.
"Kamu ga mau nyapa kaka sepupu kamu dulu, Kev?" Zeline berbisik.
Kevlar tidak menjawab malah memutar bola matanya.
Hampir dua jam meeting berlangsung, dengan sabar King menunggu. Sudah dua cangkir kopi di meja ia habiskan, menunggu Zeline tidak begitu membosankan karena King juga bisa menyelesaikan pekerjaanya.
Seumur hidup mungkin baru sekarang, King sebucin ini pada seorang wanita.
Mengikuti kemanapun wanitanya pergi, persetan pikir King dengan omongan orang. Karena kadang kebucinan seorang pria bisa menjadi suatu pesona tersendiri dimata para wanita.
Wanita mana yang tidak ingin disayang dan dimanja juga diperhatikan? King yakin, banyak teman sesama artis dan para kru yang iri dengan Zeline karena seharian ini ditemani suaminya.
"King... " Kevlar sudah berdiri didepan King, membawa King kembali kedunia nyata, rupanya meeting telah selesai.
__ADS_1
King mendongak, kemudian menyandarkan tubuhnya. Kevlar menarik kursi didepan King dan mendudukinya.
"Aku mau minta maaf soal kemarin dan sebelumnya!" ucap pria itu dengan mengulurkan tangan.
King berdecih,
"Aku tau kamu, Kev! Kamu akan mengambil kesempatan ini untuk melancarkan ambisi mu!" King berucap dengan ketus.
"Ayolah King, aku adik sepupu mu... Dan lagi... " Kevlar menjeda kalimatnya lalu memalingkan wajahnya ke arah Zeline yang sedang tertawa sambil berbincang dengan produser dan asda juga Anin, entah apa yang mereka bicarakan.
"Zeline sepertinya sangat mencintai mu" imbuhnya kemudian dengan wajah tidak rela.
"Kalau kamu udah tau, berhenti mengganggunya!" King melipat tangannya di dada dengan jumawa, ia bangga dan merasa menang karena Kevlar sudah mengakuinya. King penasaran apa yang sudah dilakukan Zelinenya hingga Kevlar bisa mengakui hal tersebut.
"Aku tidak mengganggunya, hanya saja dia sekarang bekerja diperusahaan ku" Kevlar berusaha meyakinkan kaka sepupu tapi rivalnya itu.
"Aku pikir kau marah waktu itu saat melihat Zeline dan aku berpelukan! Tapi kalian malah makin mesra!!" Ucap pria mancung itu sambil tertawa sumbang.
King tercenung, ia semakin sadar apa yang dilakukannya beberapa waktu lalu pada istrinya itu memang keterlaluan dan Zeline yang merupakan jelmaan singa betina yang labil tidak mempermasalahkannya sama sekali.
"Ada apa dengan Zeline" batin King merasa bersalah.
King dan Kevlar tidak tau, apa yang sudah diderita Zeline setelah itu, fisik dan bathinnya terluka parah.
Kalau saja saat ini sedang berada dirumah, mungkin King sudah memeluknya erat kemudian menciumnya berkali-kali seolah jutaan kata maaf saja tidak cukup.
"Jadi bagaimana? Apa kita baik-baik saja?" tanya Kevlar kembali mengulurkan tangannya untuk King jabat.
"Buktikan kalau kita baik-baik saja!" balas King tanpa menyambut jabatan tangan Kevlar. Jangan lupakan ego dan harga diri King yang menembus langit.
Tidak semudah itu King menerima Kevlar kembali setelah menghina istrinya kemudian berusaha merebut Zeline darinya.
Tangan Kevlar yang terjulur ditarik kembali kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tertawa sumbang.
Memang tidak mudah menjadi saingan pria berkharisma seperti King, auranya bisa membuat seseorang merasa rendah, tidak berdaya dan tidak percaya diri.
"Yuk sayang... Aku udah beres!" Zeline sudah berdiri disamping King.
Pria itu menarik pinggang Zeline hingga terduduk dipangkuannya kemudian mencium bibir ranum itu beberapa saat dan Zeline tidak menolaknya.
Kevlar sontak mengalihkan pandangannya keseluruh ruangan kemudian berdekhem menghilangkan kecanggungan yang ia rasakan.
"Ekhem.... Kekanak-kanakan kamu King!" ucap Kevlar kemudian berdiri dengan ekspresi kesalnya.
Tapi sedetik kemudian, "Baiklah... Sampai bertemu kembali Zeline" Kevlar kembali berucap dengan senyum ramahnya pada Zeline dan dibalas dengan senyum yang tidak kalah ramah oleh Zeline.
Belum juga Kevlar selesai menikmati wajah cantik Zeline dengan senyumnya, tangan kekar King menarik pipi Zeline mengalihkan pandangan gadis itu agar menatapnya.
__ADS_1
King tidak rela, wajah cantik istrinya dinikmati Kevlar padahal tanpa King sadari, wajah cantik Zeline itu sudah dinikmati oleh seluruh penonton di Indonesia melalui televisi.
Akhirnya Kevlar lebih memilih pergi meninggalkan King dan Zeline dengan perasaan hancur.