
Brugh!!!
Jenifer membuka pintu ruang rias disalah satu kantor majalah remaja ternama. Saat itu Zeline telah selesai melakukan pemotretan dan wawancara untuk cover majalah tersebut.
"Jenifer?" gumam Zeline.
Ia tak menyangka gadis licik itu akan berani menemuinya.
"Aku minta kamu membantalkan pernikahan kamu dengan King! King itu pacar aku, kita saling mencintai dan gara-gara kamu... Aku harus menunda pernikahan aku dengan King!" ucap Jenifer dengan geram sambil mengacungkan jari telunjuknya kearah Zeline.
Setelah malam itu, King benar-benar menjauhinya. Pernah King memintanya untuk bertemu, tapi pria itu tidak datang dan malah membuatnya menunggu hingga pagi.
"Heuh?" mata Zeline membulat sempurna.
"Laaah... Bukannya ini semua ulah dia ya? Eeeh... Tapi ko dia malah...,"
Tiba-tiba bibir kecil Zeline menyeringai, dalam hati ia merasa kesal tapi ada kelucuan yang menggelitik hatinya.
Entah kenapa ia merasa menang padahal belum melakukan apa-apa.
Bagaimana tidak? Jesica yang berbuat buruk kepadanya tapi kini gadis itu pula yang marah-marah karena gara-gara sikap tamak dan tidak terpujinya itu membuatnya kehilangan King.
Tidak perlu mengotori tangan, Tuhan sudah langsung membalas orang berhati busuk dan licik seperti Jenifer.
"Enak aaajaaaa... Cowo ganteng dan tajir mampus gitu, ga akan aku lepasin gitu aja laaaah! By the way thanks ya Jen, udah ngejebak aku malam itu! Kalau ngga,mungkin aku sudah melewatkan cowo se Hot King" Zeline terkekeh.
Jenifer mendecak kesal, wajahnya sudah merah padam menahan amarah. Bila diibaratkan film kartun, ada kobaran api diatas kepala Jenni saat ini.
"Kamu?!!! Dasar jalang!" teriak Jenifer frustasi.
"Siapa? Aku? Bukannya kamu? Jalangnya King? Haha" Zeline kembali tergelak.
"Eh... Tau ga Jen, King belum menyentuh aku loh, katanya... Aku terlalu berharga untuk dia rusak, dan kita akan melakukannya setelah menikah. Dia tidak akan merusak wanita yang sangat ia cintai... So sweet, ya Jen... Manis banget itu mulut si ganteng!" Zeline mengedipkan satu matanya, ia merasa puas melihat kekesalan wanita yang dulu menjadi sahabatnya itu.
Jenifer mengetatkan rahang, terdengar suara gemeretak gerahamnya.
"Oh Ya, selamat ya... Harapan kamu buat melenggang masuk dalam kandidat Miss Universe akhirnya terkabul, walau dengan cara licik... Karena hanya cara itu yang kamu bisa!" Zeline mendesis dengan senyum melecehkan.
Menghela nafas...
"Sayang banget, kamu ga bisa datang ke pernikahan aku dan King nanti... " Zeline pura-pura menampilkan wajah sendu..
".......... " Jenifer kehabisan kata-kata, ia menyesali keputusannya untuk mendatangi Zeline.
Seharusnya ia tidak perlu mendatangi Zeline karena memang semua ini adalah kesalahannya, ia cukup diam-diam menjerat kembali King dalam pelukannya.
Jenifer hanya terlalu takut untuk kehilangan King, pengorbanannya selama 10 Tahun ini akan sia-sia.
Tangan Jenifer sudah mengepal terlihat dari buku jarinya yang memutih, pundaknya naik turun dengan nafas memburu menahan emosi. Ia ingin sekali menjambak dan mencakar wajah cantik Zeline.
Tapi ia tidak punya keberanian sebesar itu. Ia lebih memiih untuk pergi dan membanting pintu.
Jenifer melewati beberapa orang disana dengan wajah berantakan dan lelehan air mata luruh membanjiri pipinya.
Sedangkan di dalam sana, Zeline memegang dadanya. Ia merasa sakit atas perlakuan sahabatnya itu, padahal ia sangat menyayangi Jenifer, tak menyangka sahabatnya akan melakukan hal sekejam itu kepadanya.
Tak bisa ia bayangkan, bila malam itu Jenifer berhasil menjebaknya, melakukan hubungan badan dengan Tuan Bayu karena dalam pengaruh obat perangsan dan wartawan meliputnya. Entah apa jadinya sekarang, dalam hatinya ia merasa bersyukur karena King lah yang masuk kekamarnya malam itu.
Tiba-tiba air mata jatuh begitu saja.
"Jen... Kenapa kamu tega?" lirihnya.
Tok.. Tok.. Tok..
Ceklek...
"Nona? Anda tidak apa-apa?" suara Joe mengambil alih kesadaran Zeline.
"Tadi aku lihat Nona Jenifer di sekitar sini, Anin dimana?" tanya Joe khawatir.
"Aku tidak apa-apa Joe... Anin sedang berbicara dengan editor"
Joe melihat air mata dipipi Zeline, tapi ia tidak bisa memaksa Zeline untuk bercerita kepadanya.
"Baiklah kalau begitu, aku kembali ke mobil... " pria itu membalikan tubuhnya lalu menutup kembali pintu ruang rias.
Joe mengambil telepon genggam dari dalam saku celana dan membuka aplikasi pesan singkat.
[Tuan Elgi, baru saja Nona Jenifer mendatangi Nona Zeline dan membuatnya menangis ~ Joe]
__ADS_1
[Terimakasih, Joe! Kabari terus mengenai keadaan Nona Zeline ~ Elgi]
[Baik Tuan Elgi, terimakasih! ~ Joe]
Elgi memang sengaja meminta Joe juga Anin mengabarkan segala sesuatu tentang Zeline, sebagai sekertaris dan tangan kanan King, ia harus mengetahui dengan detail setiap orang yang berada disekeliling Tuannya.
Ceklek...
"Yu... Udah siap?" tanya Anin tiba-tiba
"Siap kemana?" dahi Zeline terlipat dalam, rasanya hari ini ia sudah menyelesaikan semua jadwalnya.
"Beli cincin kawin!" saut Anin sambil membereskan semua barang Zeline termasuk perlengkapan make up.
"Oooo... Sama si playboy cap kampak itu?" Zeline menaikan satu alisnya.
"Zeliiiinneeeee! Itu calon suami kamu, bukan minyak angin!" pekik Anin gemas.
Zeline hanya tergelak.
*Di dalam mobil.
"Huft.... Aku males, Nin!" celetuk Zeline.
"Apaan?" tanya Anin tapi matanya masih fokus pada macbook ditangannya mengatur jadwal Zeline.
"Kawin sama si playboy itu!" Zeline menatap kosong keluar jendela.
"Tapi aku ga enak sama Mami dan Papi!" tambahnya lagi.
Joe melirik Zeline dari kaca spion mobil.
Menghembuskan nafas kasar
"Huft.... Ga ada ruginya kamu nikah sama Tuan Muda King, Zeline! Dia itu incaran cewe-cewe dinegri ini!" tutur Anin dengan penekanan.
"Tapi aku ga cinta sama dia..."
"Kamu belum bisa move on ya? Masih mikirin cowo brengsek itu?"
Kembali Joe melirikan matanya pada spion tengah, ia mencuri dengar. Dan teringat kejadian beberapa tahun lalu saat menjemput Nonanya di bandara. Zeline tak ingin pulang ke rumah dan malah meminta Joe untuk membawanya ke Villa keluarganya di Puncak selama beberapa hari untuk menenangkan diri.
Dan selama beberapa hari itu, Joe menemaninya walau tidak dibilang menemani karena Zeline lebih memilih mengurung diri di kamar.
"Itu mah biasa Zeline, teman artis kamu kan banyak yang melakukan itu, bahkan yang umurnya masih muda dari kamu. Kamu aja yang masih tetep mempertahankan kesucian kamu! Gooooood!!" Anin mengangkat jempolnya.
"Kamu bukan jijik kaliii, kamu ga mau merasakan sakit hati dan kecewa lagi! Ya khaaaan? Makanya cintai secukupnya aja Zeline ga usah berlebihan jadi biar ga sakit hati!" imbuh Anin.
"Ogah ah... Sakit tau dikhianatin!" sautnya cuek.
"Kalo dulu, si cowo gebetan kamu itu kan bukan playboy dan bahkan kalian tidak ada ikatan kan? Naaaah, sekarang... Kamu sudah tau Tuan muda King seperti apa, jadi kamu bisa antisipasi sayang!" tutur Anin memberi saran.
"Iya antisipasinya ga nikah sama dia, udah tau playboy masih aja mau nikah sama dia!" sanggah Zeline.
"Kamu emang ga mau bales Jenifer, hah?"
Zeline mencebik, ia menggelengkan kepalanya.
"Nggak biarin ajalah..., "
Beberapa detik kemudian.
"Tapi ide bagus tuh!" sambung Zeline lagi.
"Balas dia melalui Tuan Muda King! Pikat hatinya sampai jatuh cinta dan bertekuk lutut sama kamu...,"
"Trus?" tanya Zeline masih setia mendengar saran Anin.
"Ya kagak terus-terus Lin, kan kalian suami istri! Dengan Tuan muda nikah sama kamu aja, itu si jenifer udah kecewa, sakit hati, kalah telak, mampus aja dah dia!" tambah Anin murka.
"Tapi aku ga cinta sama dia, Anin! Sama sekali ga cinta!" kini Zeline mulai merengek.
"Belooom, ntar juga cinta!" Anin menaikan kedua alisnya berkali-kali.
Zeline membuang nafas kasar, semua orang menyukai King padahal mereka juga tau semua kelakuan King terhadap wanita.
"Apa mereka ga kasian sama aku?" batin Zeline.
*Toko perhiasan terbaik dan termewah di Jakarta.
__ADS_1
"Kamu pilih tuh mau yang mana?" ucap Anin menatap satu persatu cincin emas bertahtakan berlian yang terpajang cantik di dalam etalase kotak dengan kaca disetiap sisinya.
"Yang mana aja... " saut Zeline yang sibuk dengan handphonenya. Ia sedang membalas pesan di grup keluarga Mama Rena.
Para sepupu heboh membahas keberangkatan mereka ke Perth untuk menghadiri pesta pernikahan Zeline.
"Zeline... Pilih dulu, sebentar lagi Tuan King datang, ayo cepetan!!" seru Anin
"Kenapa harus tanya aku? Kenapa ga tanya dia juga? Kan yang mau nikah bukan aku aja? Kenapa dia ga datang coba?" cecar Zeline dengan kesal.
"Ini aku datang..., " ucap King dengan suara rendah yang tiba-tiba dari arah belakang.
Anin langsung menjauh dari Zeline dan pelayan toko yang rata-rata usia muda, berbinar menatap King.
Sontak Zeline menengok kearah suara, pria itu melangkah dengan santai mendekatinya sambil mengembangkan senyum manis, kedua tangan dimasukan kedalam saku celana kain dengan lengan kemeja yang dilinting hingga sikut. Kemeja yang dikenakan sangat pas ditubuhnya seperti memang sengaja dibuat khusus untuk tubuh indah itu, mencetak setiap otot ditangan hingga perut kotak-kotaknya.
Entah kenapa saat itu King terlihat tampan dimata Zeline, belum lagi bulu halus yang mulai tumbuh dirahang tegas milik pria itu. Membuat Jantung Zeline mempercepat lajunya.
Tak sadar ia menatap King dengan intens tanpa berkedip.
"Aaah... Sial!! Kenapa sih dia selalu datang, harusnya dia ga perlu datang setiap kita mempersiapkan keperluan pernikahan ini!! Trus kenapa dia jadi ganteng gini sih?" batin Zeline.
Lagi-lagi Zeline labil, baru saja ia menanyakan King, sekarang malah ia tak menginginkan pria tampan itu datang.
"Yang mana, Hem?" tanya King lembut saat sudah berdiri tepat di depan Zeline dengan mata abunya yang menatap hangat.
"Trus ini kenapa jantung jadi overacting gini? Apa karena tatapan bola mata abu itu? Aarrgghh... Jangan becanda, Zeline!!" batin Zeline
Karena dirasa Zeline hanya menatapnya dengan intens tanpa mengatakan sepatah katapun, maka King mulai mengangkat tangannya dan menyentuh pipi mulus Zeline.
Gadis itu terhenyak, ia memalingkan wajah agar tangan King lepas dari pipinya.
"Yang paling mahal ya...," ucapnya seketika pada pelayan toko yang memakai stelan jas dan sarung tangan putih
Pelayan toko itu menunduk tanda mengerti, kemudian berjalan menjauh kebalik dinding mengambilkan apa yang Zeline minta.
King menarik kedua alis keatas dengan senyum devilnya.
ia melingkarkan satu tangan dipundak Zeline, menarik sedikit agar tubuh mereka menempel.
"Pilihlah sesuka mu, karena itu tidak gratis! Kau akan membayarnya nanti!" Bisik King tepat ditelinga Zeline hingga gadis itu meremang merasakan nafas King dilehernya.
"Hah? Sial!! "
Gadis itu menyesali ucapannya.
Zeline membalikan tubuh, ia menyimpan kedua tangannya di dada King dan mendorong tubuh kekar itu untuk memberi jarak.
Tapi kedua lengan King malah melingkar dipinggang Zeline.
"Bagaimana kalau aku yang membelikan cincin kawinnya?" balas Zeline dengan wajah setenang mungkin.
King tergelak bahkan membuat beberapa pelayan toko termasuk Anin menoleh kepada keduanya.
Diam-diam pelayan toko ada yang mengambil gambar King dan Zeline dengan posisi hampir berpelukan tersebut menggunakan kamera ponselnya.
"Tidak!! Aku yang beli!" tegas King, air mukanya berubah kelam, tatapan hangat itu berubah tajam dengan alis menaut diatasnya.
King melepaskan tangannya dari pinggang Zeline kemudian mendudukan tubuhnya di sofa.
"Fiuuuhh....," Zeline bernafas lega, akhirnya pria itu melepaskannya juga.
Kini ia merutuki mulutnya bodohnya yang dengan lancar meminta dibelikan cincin termahal di toko ini.
Beberapa menit kemudian pelayan toko membawa cincin yang Zeline minta dan memberikannya kepada King, ada tiga jenis cincin dengan harga yang sangat fantastis.
King mencobanya satu persatu.
"Yang mana?" King mendongak menatap Zeline yang sedari tadi hanya diam di kursi dekat etalase.
"Ga jadi... Yang paling murah aja, ada?" saut Zeline dengan santainya.
Semua menatap Zeline heran.
"Ee... Ee.. Maksudnya, itu...," Zeline terbata.
Aaah... Kenapa Zeline jadi gugup gini sih? Biasanya dia cepat tanggap dalam situasi apapun.
King sudah mulai kesal, lalu ia menunjuk asal salah satu cincin yang dibawa oleh pelayan toko tadi dan meminta nya untuk membuat ukuran untuk Zeline.
__ADS_1
Zeline pasrah saat pelayan toko itu melingkarkan cincin dijari Zekine untuk mendapatkan ukuran sempurna.
Setelah selesai, Elgi yang sedari tadi berdiri dipintu langsung menuju kasir untuk membayar cincin yang Tuannya pesan.