
Pagi harinya King, Zeline dan Nafeesa sudah duduk bertiga di meja makan.
King menyandarkan tubuh ke sandaran kursi sambil melipat tangannya didada.
Dengan tatapan tak terbaca pria itu mendengar semua penuturan Nafeesa tentang Rangga.
"Ga mungking, Sha... Ka Rangga itu pria baik, ga mungkin dia gituin kamu, palingan kamu yang mancing-macing!" sela Zeline tidak terima kalau Pangerannya dijelek-jelekan.
"Ya Tuhan, Lin... Aku berani sumpah!" tak kuat Nafeesa menangis karena tuduhan sang sepupu.
King menatap tajam sang istri, "Apa?" Zeline mengendikan dagu membalas tatapan tajam King.
"Aku tuh trauma sama kejadian Ken sama Azalea, jangan-jangan ini kebohongan juga! Soalnya aku tau banget Ka Rangga itu gimana!" seru Zeline sambil memandang King dan Nafeesa bergantian.
"Masa kamu ga percaya sama sepupu sendiri, malah belain orang lain?" King membela Nafeesa, selain itu ada maksud terselebung karena memang King tidak begitu menyukai Rangga
"Ya udah pulang kuliah kita ke rumah Rangga... " Zeline beranjak dari duduk kemudian masuk kedalam kamar untuk berganti pakaian.
"Kamu sabar ya Sha... Nanti aku coba bantu Zeline ngebujuk Rangga agar mau nikahin kamu!" King memegang pundak Nafeesa sebelum pergi meninggalkan ruang makan menyusul Zeline.
"Kamu jangan jutek gitu donk sama Nafeesa, kasian dia lagi kena musibah" King berujar dari walk in closet, pagi ini dirinya pun ada meeting yang tidak bisa dititinggalkan.
Zeline tidak menjawab, gadis itu terlihat sibuk membereskan tasnya kemudian mengganti pakaian tapi ekspresi wajahnya seperti sedang berpikir terlihat dari kerutan diantara alisnya.
King memeluk Zeline dari belakang, dagunya ia sandarkan di pundak sang istri.
"Bicaralah, baby! Jangan disimpan sendiri, aku gak mau kamu gelisah, aku tak mau dirimu resah, aku tak mau kamu sedih... Jangan pernah disimpan sendiri, hati mu hati ku juga, jiwa mu adalah belahan jiwa ku, yang harus aku jaga sebagaimana menjaga diri sendiri ... Kita harus saling berbagi apapun yang kita jalani setiap hari agar sepanjang keadaan bisa selalu saling peduli dan menyayangi"
(a'yat khalili)
Bisik King lembut ditelinga Zeline, kemudian sang istri melepas pelukan King dan memutar tubuhnya menghadap King.
Zeline memeluk King dan menenggelamkan kepalanya didada bidang sang suami yang hanya memakai kaos dalam.
"Aku tuh kesel, kenapa sih perempuan segampang itu memberikan kehormatannya? Gampang banget dirayu untuk dinikmati tubuhnya! Kalau udah hamil gini kan semua repot, pas lakinya ga mau tanggung jawab kaya gini mau gimana coba? Udah mah dianya dirugikan trus keluarga yang dipermaluka!!" tutur Zeline dalam pelukan King.
Ternyata dibalik kekecewaannya pada Nafeesa, Zeline juga mengkhawatirkan sepupunya itu.
"Lagian kamu juga, kenapa sok-sokan belain Nafeesa? Tadi malem nanya dia juga nggak!" kini Zelinenya merajuk.
King terkekeh, kemudian menjauhkan tubuhnya dari Zeline. Kedua tangan King membingkai wajah cantik istrinya.
"Nanti aku anter kamu ketemu sama Rangga ya!" pria itu mencium bibir Zeline sekilas.
"Aku takut Kake anfal lagi, King" Zeline terlihat resah, kini Zeline mengungkapkan hal yang ditakutkannya.
Kembali King membawa Zeline kedalam dekapannya, "Kakek akan baik-baik aja, baby! Jangan terlalu dipikirkan ya!" King berusaha menenangkan Zeline, pria itu tidak ingin penyakit mental sang istri kambuh.
"Makasih ya King... " Zeline mengeratkan pelukannya dan mendapat hujan ciuman dikepala dari King.
Sesuai janji, sepulang Zeline kuliah King mengantar nya bertemu Rangga.
Ternyata King terlebih dahulu dengan mengandalkan koneksinya sudah menghubungi Rangga dan membuat janji temu disalah satu restoran.
"Ka Rangga...." sapa Zeline kepada pria yang dulu sangat ia kagumi dan pria itu kini terlihat murung dan kusut.
"Zeline... " balasnya seraya menepiskan senyum.
"Ka... Nafeesa ada di apartemen aku" tutur Zeline basa-basi.
Rangga menghembuskan nafas kasar, ia tau Zeline dan King akan membahas masalah ini dari pertama kali King menghubunginya.
"Aku bingung Zeline... Saat itu aku ga sengaja hanya terbawa suasana, dan hanya sekali melakukannya... Aku ragu itu anak aku karena aku bukan yang pertama bagi Nafeesa... Jadi, bisa saja itu bukan anak aku kan?" sangkalnya tegas.
"Ka Rangga... Aku ga nyangka Ka Rangga seperti itu! Ga mungkin Nafeesa berhubungan dengan pria lain bila ia sedang menjalani hubungan dengan Kaka!!" Zeline mulai menaikan intonasi suaranya.
King memandang Rangga dengan menaikan satu alisnya lalu pria itu terlihat sedang berpikir.
"Zeliiineeee.... " Rangga menggeram, ia kesal bukan kepada Zeline tapi dengan keadaan.
Begitu bodohnya ia masuk kedalam godaan Nafeesa hingga melakukan hal itu dan kini semuanya hancur, apa yang harus ia sampaikan kepada Keluarga dan keluarga Zeline.
"Sampai detik ini aku belum kembali ke California karena aku masih ragu! Aku bukan tidak ingin bertanggung jawab tapi aku ragu kalau itu anak ku!" Rangga masih saja menyangkal membuat Zeline mendengus kesal.
Wanita itu hampir saja menampar Rangga bila King tidak menahan tubuhnya.
__ADS_1
Tidak berapa lama, Nafeesa datang dengan diantar Joe.
"Baby, kamu ajak Nafeesa makan dulu di meja lain... Ada yang ingin aku bicarakan sebentar dengan Rangga!" pinta King sambil mengusap pipi sang istri.
Zeline terlihat ragu, tapi tatapan penuh keyakinan King membuat Zeline mengiyakan perintah suaminya.
Zeline menyambut Nafeesa dan mengambil duduk sedikit menjauhi meja King dan Rangga yang kini terlibat perbincangan serius.
Entah apa yang dibicarakan keduanya, sesekali Rangga terlihat gusar tapi King dengan tenang menanggapinya.
Entahlah, Zeline menjadi semakin mencintai pria yang dulu pernah ia benci itu.
"Kamu terlihat bahagia dengan King... Harusnya aku juga ga bodoh begitu saja mau tidur dengannya!" tutur Nafeesa sambil menundukan pandangannya.
"Kamu ga tau Sha... Dibalik kebahagiaan ini, badai selalu mengintai dan tidak segan memporak porandakan rumah tangga kita! Sekuat tenaga aku dan King harus menutup rapat celah dalam hubungan kita agar badai itu tidak bisa masuk! Aku dan King harus bekerjasama dan saling percaya, dan itu kadang sangat sulit!" Zeline membatin, ia tidak bisa mengutarakannya begitu saja kepada Nafeesa.
Zeline mengusap tangan Nafeesa, "Sha... Kakek jangan sampai tau ya!" pinta Zeline dan Nafeesa langsung mengangguk sambil menghapus buliran bening disudut matanya.
Kejadian Ken kemarin sanggup membuat seluruh keluarga trauma dan tidak ingin kejadian itu terulang lagi.
Nafeesa sengaja pergi meminta bantuan Zeline karena ia merasa selain Zeline yang paling dekat dengan Rangga juga karena gadis itu adalah salah satu keluarganya yang paling peka.
Tatapan mata Zeline tak lepas dari King dan Rangga dan beberapa menit kemudian Rangga beranjak dari duduknya lalu menghampiri Zeline dan Nafeesa.
"Ayo Sha... Kamu harus pulang, aku akan melamar mu!" Rangga menjulurkan tangan sambil menengadahkan telapak tangannya.
"Ngga Rangga... Aku ga mau kalau kamu terpaksa!" Nafeesa menggeleng lemah.
Zeline berdecak, "Sha... Ayolaaah, yang penting anak kamu punya Ayah dulu, sebentar lagi perut kamu membesar, gimana kalau semua tau?" seru Zeline gemas,
"Tapi Lin... " Nafeeaa ragu kalau Rangga tidak benar-benar mencintainya.
Rangga menghembuskan nafas, "Sha... Kita nikah aja dulu, aku akan membawa mu ke California untuk menyelamatkan nama baik keluarga kamu dan anak ini" kini pria itu berlutut dengan satu kaki sambil mengenggam kedua tangan Nafeesa.
"Ayo.. Sha... Kita pulang" Rangga beranjak kemudian merengkuh tubuh Nafeesa.
Mau tak mau Nafeesa harus menurut, demi anak yang ada dalam kandungannya juga demi keluarganya.
Hari itu juga Rangga membawa Nafeesa kembali ke Bandung untuk melamarnya.
"Apa yang kamu bilang sama Ka Rangga sampe Ka Rangga berubah pikiran mau nikahin Nafeesa?" tanya Zeline sambil memicingkan matanya.
"Aaaddaaaa deehh... " jawab King santai,
"Iiihhh... " Zeline mencubit perut King yang keras itu.
"Aaawww... Sakit, baby!" King mengaduh padahal tidak terasa sakit sama saat kali.
Begitulah sekarang King yang selalu menjadi super hero untuk Zelinenya.
King sendiripun bingung mengapa ia sangat mencintai istrinya itu dan bersedia melakukan apapun untuk kebahagiaan Zeline.
"Baby... Kekantor aku dulu ya sebentar, ada berkas yang harus aku tanda tangani!" pria itu nerujar dengan tatapan fokus pada kemudi.
"Oke... " balas Zeline dengan senyumnya.
Kini perasaannya lega karena Rangga sudah akan bertanggung jawab, walau ia sangat kecewa pada Pangerannya itu.
Zeline berharap Rangga akan mencintai Nafeesa dan hubungan mereka berakhir dengan happy ending seperti cerita-cerita dalam novel.
Beberapa menit berlalu, mobil yang mereka tumpangi telah sampai digedung pencakar langit milik King.
King memarkirkan mobilnya di bassement kemudian keduanya menaiki lift khusus langsung menuju lantai dimana ruangan King berada.
Setelah pintu lift terbuka, Zeline dan King berjalan bergandengan menuju ruangan King.
Beberapa karyawan yang berpapasan mengangguk sambil tersenyum kepada keduanya.
Ada juga yang mengintip menatap Zeline diam-diam, King baru ingat kalau istrinya merupakan seorang aktris.
Tiba-tiba beberapa gadis menghampiri Zeline dan King. Terlihat name tag intern tersemat didadanya.
"Ka Zeline... Boleh minta tanda tangan?" ucap salah satu gadis sambil menyodorkan buku dan balpoint.
Zeline tersenyum kemudian mengambil buku dan balpoint tersebut lalu menanda tanganinya.
__ADS_1
Setelah selesai, King menarik pinggang Zeline dan menembus keruman para pekerja magang tersebut.
"Terimakasih Ka Zeline... " ucap para gadis itu bersamaan dan mendapat senyum manis dan lambaian tangan dari Zeline.
Setelah pintu ruangan King tertutup, King menarik kembali pinggang sang istri kemudian memojokannya ke tembok.
Mencium lembut bibir Zeline hingga sang istri mendorong dadanya lembut, "Cepet beresin kerjaannya setelah itu kita lanjutin di rumah" bisik Zeline dengan nada sensual.
"Kayanya kalo kita lakuin di ruangan ini rasanya akan beda, aku belum pernah... Kamu mau coba?" pertanyaan yang tidak kalah sensual King lontarkan hingga membuat Zeline meremang.
Zeline tersenyum menggoda dan King tak kuat untuk menyambar bibir ranum itu.
Tangan King sudah bergerilya menjamah tubuh Zeline sambil menuntunnya hingga ke sofa.
Ceklek...
"Oh Astagaa.... " seorang wanita cantik menginterupsi kegiatan King yang sedang menjamah dada sang istri.
King mendongak dan melayangkan tatapan tajam pada sang wanita, sedangkan Zeline berusaha mendorong King agar bangun dari atasnya.
"Ada apa? Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?" seru King dengan wajah kesalnya.
"Aaah.... Maaf Tuan, saya lupa... Saya bawakan berkas yang perlu Tuan tanda tangani" ucap wanita cantik dengan stelan blazer dan rok sangat mini dan belahan dada yang terlihat jelas.
Wanita itu mirip seorang aktris film porno yang berperan menggoda bosnya.
"Simpan di meja!" titah King kemudian beranjak menuju mejanya.
Sang wanita itu pun berjalan sambil melenggak lenggokan tubuhnya yang seksi.
Zeline membenarkan pakaiannya yang sudah setengah terbuka karena ulah King, sambil terus saja memandangi wanita cantik itu dengan seksama.
Zeline bisa melihat ketertarikan dimata wanita itu kepada suaminya karena tak henti wanita itu memandang King saat sedang menanda tangani berkas yang diberikannya.
Yang paling Zeline benci adalah wanita itu terus saja menatap dada King yang terbuka karena belum sempat mengancingkan kembali tiga kancing kemejanya yang sempat Zeline buka tadi.
King memberikan kembali berkas yang sempat ia baca lalu tandatangani itu kepada sang wanita cantik yang tidak lain adalah manager pemasarannya.
Wanita itu masih mematung sambil menatap King, "Ada lagi?" King mengangkat kedua alisnya.
"Ah... tidak ada Tuan!" jawab sang Manager Pemasaran dengan suara yang dibuat manja.
Hampir saja decihan Zeline terdengar saat itu.
Wanita itu keluar sambil melirik Zeline sekilas ketika melewatinya.
King kembali ke sofa dimana istrinya sedang melipat tangan di dada dengan wajah muram.
"Kenapa dibenerin bajunya?" ucap pria itu dengan tatapan menggairahkan sambil kembali melucuti pakaian sang istri.
Zeline menghela tangan sang suami "Siapa itu?" tanya Zeline penuh selidik.
"Siapa?" dahi King terlipat dalam
"Perempuan aktris film porno yang tadi minta tanda tangan sama kamu itu!" ujar Zeline sarkas.
King terkekeh, "Dia Indah, Manager Pemasaran disini!" jawab King santai.
"Kamu pernah tidur sama dia kan?" Zeline benar-benar sedang mengintrogasi suaminya dengan tatapan tajam.
"Dulu banget, sekali!" jawab pria itu jujur karena berbohong akan menambah masalah baru saja.
"Pindahin dia kecabang lain sekarang juga!" titah Zeline dengan penekanan diakhir kalimat.
King meraih ponselnya yang ada di meja kemudian menghubungi seseorang.
"Elgi... Pindahkan Indah Manager Pemasaran ke kantor cabang Tuan Zachery yang di Makasar mulai besok!" perintah King kepada Elgi sambil menatap lurus sang istri.
Setelah itu King mengakhiri panggilan teleponnya.
"Done.. Baby!" ucap pria itu sambil tersenyum pelik.
Zeline tertawa geli didalam hati melihat ekspresi suaminya.
Seorang King Edzard Alterio takut pada istrinya sendiri.
__ADS_1